
Ini Part tentang kejadian di Bali yaa....
Cristy tau betul tatapan mata dari mantan kekasihnya saat tadi dirinya membuka pintu kamar yang ditempatinya.
Tatapan tak mau dibantah, dulu saat masih menjalin hubungan, beberapa kali Fernando memberikan tatapan yang sama.
Mata hijau yang dulu membuatnya terpikat untuk pertama kalinya ketika mereka bertemu.
Seiring berjalannya waktu ia jadi paham makna setiap tatapan lelaki itu,
Saat sedang senang, lelah, biasa saja, menahan amarah hampir sama seperti tak mau dibantah, Cristy tau betul soal itu.
Maka dari itu, saat pertama kali ia bertemu Rara yang merupakan pacar baru Fernando usai putus dengan dirinya, ia tau betul tatapan cinta yang hanya ditujukan pada Rara.
Selama mereka berhubungan tak sekalipun Fernando memberikan tatapan seperti itu, walaupun dirinya telah berusaha maksimal memuaskan hasrat lelaki itu.
Fernando hanya melihat Rara, perempuan yang benar-benar dicintai sepenuhnya oleh lelaki itu.
Meskipun tau, Fernando tak mungkin kembali padanya, tak apa menjadi yang kedua, yang penting saat dirinya berhubungan dengan lelaki itu, ia merasa aman dari kejaran penagih hutang, bukan hanya soal materi tapi ia tau jika diam-diam ada bodyguard yang ditugaskan menjaganya dari jauh.
Setelah lelaki itu meninggalkannya, ia tak lagi mendapatkan keduanya, sehingga kehidupan tenangnya hanya berjalan satu tahun, setelahnya ia harus merelakan semua kompensasi yang diberikan Fernando untuk menutupi semua hutang maminya.
Cristy menghela nafas, ia sudah ikhlas merelakan lelaki itu, sejak Rara yang notabene istri dari mantan kekasihnya, menolongnya, memberikan uang untuk menutupi kekurangan hutang.
Bukan hanya itu, Rara memberinya tempat tinggal secara gratis dan menawarinya join di usaha online, selain menjadi model dirinya juga menerima pesanan yang ia pasarkan lewat media sosial miliknya.
Hasilnya diluar perkiraan, baju yang ia pasarkan hampir selalu sold out.
Bonus yang diberikan Rara lumayan besar, untuk pertama kalinya, dirinya bisa menabung dari hasil jerih payahnya sendiri.
Plus liburan secara gratis bersama Fitri yang sepenuhnya dibayari oleh Rara.
Ketulusan dari Rara yang membuatnya ikhlas melepas masa lalunya.
Lamunannya terganggu saat seorang pria asing memanggilnya.
Cristy yang sedang duduk diatas pasir pantai itu menoleh, "Ada apa?"tanyanya.
"mau minum bir?"tanya balik George sambil menunjukan kaleng bir dingin.
Cristy menerima kaleng yang telah dibukakan segelnya, ia meminumnya sedikit,
ah... sudah lama sekali dirinya tak meminumnya, sejak dekat dengan Rara tempatnya.
"Dimana kita menginap malam ini? apa kamu punya rekomendasi tempat yang bagus?"ucap lelaki bule dengan pengucapan bahasa Indonesia yang sedikit berantakan.
"Pakai bahasa kamu aja, aku bisa sedikit, sepertinya kamu sedikit kesulitan,"
Wajah bule dari lelaki itu terlihat memerah, bisa Cristy lihat karena sorot lampu tak jauh dari tempatnya duduk.
"apa kamu sudah mengantuk?"tanya Cristy.
George menggeleng.
"Apa kamu sedang liburan kesini?"tanya Cristy lagi.
"ya, Fernando dan Alex mengajakku kesini, mereka ingin mengenalkan aku pada wanita-wanita cantik di negara ini, katanya supaya aku kembali normal,"jawab George jujur.
"Lalu setelah sampai disini, apa tanggapan kamu tentang para wanita disini?"
"cantik, aku suka,"ucap George sambil menatap ke arah wanita disampingnya.
"maaf aku hanya ingin bertanya, misalnya kamu tidak ingin menjawab, juga tidak masalah, apa benar tuduhan mereka tentang kamu?"
"kenapa kamu ingin tau? apa kamu ingin menguji aku?"
Cristy berdecak, "aku hanya bertanya, bukankah aku sudah bilang jika kamu tidak ingin menjawab, tak masalah, itu privasi kamu,"
"Lalu bagaimana dengan kamu? Kenapa menurut saja ketika Fernando mengusir kamu?"pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakan pada wanita itu.
"apa aku punya kuasa untuk tetap bertahan di sana? bukankah seharusnya kamu tau sifat Fernando?"tanya Cristy balik.
"aku bertanya kenapa kamu malah balik bertanya?"
"sudahlah aku malas berdebat, kita hanya orang asing yang terpaksa bersama,"ungkap Cristy, "begini saja, aku akan mengantarmu ke resort dimana Fernando bekerja,"lanjutnya sambil berdiri.
George menggeleng, "apa aku membosankan sehingga kamu ingin segera pergi?"tanyanya sambil menahan tangan Cristy.
__ADS_1
Wanita itu menghela nafas, "terserah kamu,"jawabnya sambil menepis tangan pria bule itu lalu berlalu menuju parkiran mobil.
George mengejarnya, hingga saat Cristy hendak membuka pintu kemudi, lelaki itu menahannya, "tunggu, apa aku bilang setuju dengan ucapan kamu?"
Cristy berbalik menatap lelaki berambut pirang itu,
"hai orang asing, hari ini aku ingin sendiri, tapi tenang saja, aku akan bertanggung jawab untuk mengantarkan kamu ke resort,"setelah mengatakannya, Cristy berbalik hendak membuka pintu kemudi.
Lagi-lagi George menahannya,
Cristy kesal langsung berbalik dan cup...
George mencium bibirnya sambil merengkuh tubuhnya.
Setelah bertahun-tahun ini kali pertama ia berciuman dan dipeluk oleh lelaki, terakhir adalah saat malam, Fernando memutuskan dan meninggalkannya.
Entah apa yang ada dipikiran Cristy, ia justru membalas ciuman yang diberikan George,
Apa dirinya sudah gila?
Kenapa seperti ini?
Bukankah ia telah berjanji pada dirinya sendiri, tak akan berhubungan dengan lelaki manapun? kenapa justru secara otomatis, dirinya seolah menyambut ciuman dari pria asing ini?
Tersadar, Cristy mendorong tubuh besar lelaki bule itu, "apa kamu biasa seperti ini dengan orang asing? kenapa kamu kurang ajar sekali?"tanya kesal sambil menghapus bekas ciuman itu dengan punggung tangannya.
George tersenyum, "kamu membalas ciumanku kalau Kamu lupa, lalu apa masalahnya? bukankah kita sama-sama menginginkannya?"
Cristy memutar bola matanya malas, mungkin dulu ia akan senang jika ada lelaki tampan seperti itu padanya, namun tidak kali ini, "maaf, aku hanya terbawa suasana, sudah malam, sebaiknya aku mengantarkan kamu ke resort,"
George menahannya, "biar aku yang menyetir, kamu cukup tunjukan jalannya,"
Malas berdebat, Cristy berjalan memutari mobil menuju pintu sebelah kemudi.
George mulai melajukan mobil, dengan Cristy sebagai penunjuk jalannya,
"apa kita hanya akan berakhir seperti ini?"tanya George sambil mengemudi.
"memangnya harus bagaimana?"tanya balik Cristy.
"bolehkah kita bersama khusus malam ini saja,"
"Bagaimana? Apa kamu mau?"tanya George lagi.
Cristy menghela nafas, sejujurnya ia ingin segera ke bandara dan beristirahat di sana, hari ini setelah sekian lama, ia merasa kelelahan terutama hati dan pikirannya.
Namun sepertinya tidak buruk, untuk hanya sekedar mengobrol dengan lelaki asing ini hingga pagi menjelang, sambil menunggu keberangkatan pesawat di pagi hari nanti.
"Oke, akan aku tunjukan hotel bagus di dekat bandara,"ujar Cristy.
Senyum mengembang, menghiasi wajah George.
Mobil memasuki parkiran hotel, Cristy berjalan terlebih dahulu menuju lobby guna menemui resepsionis.
George meminta kamar terbaik di hotel lalu mengeluarkan kartu hitam miliknya, dirinya tak semiskin itu untuk menggunakan kartu sahabatnya.
Walau dirinya payah dalam memimpin perusahaan, tapi saham warisan kakek dan Daddy-nya lebih dari cukup untuk menghidupinya.
George menawari Cristy makan malam, tapi wanita itu menolak, dengan alasan tidak lapar.
Memasuki kamar mewah itu, Cristy langsung menuju toilet, sedari tadi dirinya menahan buang air kecil.
Namun saat di toilet tanpa sengaja, celana jeans-nya basah, ia jadi teringat jika kopernya masih berada didalam mobil, tak membawanya kesini, ia merutuki dirinya sendiri.
Cristy memutuskan untuk membersihkan diri lalu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bath robe, ia menelpon layanan hotel untuk laundry bajunya.
"Maaf tadi celanaku basah,"ujarnya tak enak pada lelaki asing itu.
"tak masalah,"ucap George yang berjalan menuju kamar mandi dan melakukan hal yang sama.
Namun bedanya, lelaki itu hanya mengenakan selembar handuk yang terlihat kekecilan untuk badannya yang besar.
Tak lama petugas layanan mengambil baju yang akan di laundry.
"bagiamana kalau kita minum?"tanya George sambil menunjukkan sebotol wine yang tersedia di kamar hotel itu.
keduanya duduk di sofa bersebrangan terhalang meja kaca, George menuangkan cairan berwarna merah gelap itu ke dalam gelas berkaki tinggi.
__ADS_1
George menggoyangkan gelas, lalu meminumnya secara perlahan, sambil menatap wanita yang ada di seberangnya.
"Apa kamu percaya jika sebenarnya aku lelaki normal?"tanya lelaki bermata biru itu tiba-tiba.
"itu bukan urusanku, kita hanya orang asing yang kebetulan terpaksa bersama Karena permintaan Fernando,"jawab Cristy santai.
"Kapan terakhir kamu tidur dengan pacar atau lelaki random?"tanya George frontal.
Cristy terkejut dengan ucapan lelaki asing itu, "kamu bertanya hal pribadi, itu tidak sopan, aku tidak suka,"jawabnya ketus.
George tertawa, ia tau pertanyaannya memang tidak sopan, "tinggal jawab apa susahnya?"
"maaf aku tidak ingin menjawab, aku lelah aku ingin tidur,"Cristy menenggak habis sisa wine dalam gelasnya, dan berjalan menuju ranjang.
George bangkit lalu mengikuti Cristy, ia menahan tangan wanita itu, "Apa kamu marah?"tanyanya.
"tidak, aku hanya lelah, dan tolong lepaskan tangan kamu,"jawab Cristy sambil berusaha menepis genggaman tangan besar lelaki itu, tetapi tak kunjung berhasil.
George menarik tangan Cristy, lalu merengkuh tubuh wanita itu, "aku menginginkan kamu sekarang,"bisiknya.
"bukankah kamu tidak normal?"pertanyaan yang harusnya tidak ia lontarkan dari mulutnya, Cristy menyesalinya, tapi terlambat, mulutnya telah dibungkam oleh lelaki itu.
Cristy yang memang sudah lama tak melakukannya, menjadi terbuai dan membalas ciuman itu.
Suasana semakin panas, keduanya terbakar gairah, George menggendong tubuh wanita itu tanpa melepas tautan bibirnya, menuju ranjang.
Lelaki itu mulai mencumbui wanita yang baru dikenalnya belum sampai dua puluh empat jam, ia membuka tali bath robe lalu menciumi dan meninggalkan jejaknya di tubuh putih mulus itu.
keduanya semakin terbuai hingga lupa daratan, mereka berhubungan intim dengan panasnya, tak peduli apapun yang terjadi diluar sana.
Fakta baru yang diketahui Cristy, bahwa lelaki yang sedang berada diatasnya adalah lelaki normal, seratus persen normal, Karena dirinya sendiri yang merasakan bagaimana lelaki asing itu menyetubuhinya.
Bukan hanya sekali, seolah tak lelah, George mengulangi kegiatan yang sedari dulu hanya menjadi angannya, meskipun bukan yang pertama bagi wanita itu, namun ia tak masalah, yang terpenting ia bisa puas.
Ponsel George berdering, hal itu membangunkan lelaki itu, ia melirik ke sebelahnya, ah semalam ia benar-benar menghabisi wanita itu.
Tangan George meraih ponsel diatas kabinet, tertera nama Fernando di sana, sahabatnya melakukan panggilan video.
George mengangkatnya, terlihat wajah Fernando dan Alex dilayar,
Mereka menanyakan keberadaannya, George mengubah mode ponselnya menjadi kamera belakang, dan menunjukan seluruh isi ruangan disekelilingnya, hingga kamera menangkap wajah Cristy yang tengah tertidur lelap disampingnya, terlihat pundak polos yang tak tertutup apapun.
Terdengar umpatan dari seberang sana,
"****, dia mantanku George, kau tidur dengannya?"tanya Fernando.
"oh.. lalu apa masalahnya? apa kau cemburu Fernando?"tanya balik George.
"tidak sama sekali, tunggu... jadi kau normal?"tanya Fernando lagi.
"kapan aku mengakui kalau aku gay? apa kamu pernah mendengarnya dari mulutku sendiri?"
"Jadi Fernando silahkan bilang ke Benedict dan Frederic, bahwa aku akan menikahi wanita di sebelahku segera,"tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara, George mengakhiri panggilannya.
Cristy sedari tadi bangun, ia mendengar seluruh ucapan George dengan Fernando.
"kamu tak peduli meskipun aku mantan pacar sekaligus teman tidur dari Fernando?"
George menggeleng lalu mencium kening Cristy lembut.
"satu lagi, aku tidak bisa memberikan kamu anak, aku mandul,"
"sudah ada pewaris untuk keluarga Wright, tak masalah, jika aku tidak memiliki anak, Daddy tak akan mendesak ku, yang penting fakta bahwa aku normal itu yang utama,"jelasnya panjang lebar.
"Cristy Lim, mungkin ini terlalu cepat untuk kamu, jadi maukah kamu menikah denganku? menghabiskan sisa umur kita secara bersama-sama, sejujurnya saat kemarin aku melihat kamu pertama kali, aku sudah merasakan getaran yang tak biasa, aku jatuh cinta pada pandangan pertama,"
"akan aku jawab setelah aku kembali ke Jakarta nanti,"
Akhirnya Cristy menemukan kebahagiaannya sendiri, lelaki bule berambut pirang bermata biru, jatuh cinta padanya, rasanya seperti mimpi, tapi inilah kenyataannya, George Wright yang dikenal sebagai penyuka sesama jenis nyatanya pria normal, tidak sesuai dengan apa yang dirumorkan.
George memang hampir setiap hari mendatangi club' khusus gay, namun untuk bekerja sebagai bartender, bukan untuk bersenang-senang.
Kebahagian akan menghampiri setiap orang, mungkin bukan sekarang tapi nanti, jadi jangan berputus asa dan menyerah.
Kali ini, Istri untuk Fernando
benar-benar tamat, terima kasih bagi para pembaca, baik yang sudah like dan komentar.
__ADS_1
Ada cerita baru lagi, masih ada hubungannya dengan Benedict and the Genk, jadi silahkan dibaca, jangan lupa like dan jadikan favorit ya, syukur-syukur dikasih hadiah, Terima kasih banyak.....😍