
Dengan sangat terpaksa, Rara akhirnya mengemasi barang-barang miliknya, dan ikut bersama suaminya pergi dari rumah Irwan dan Arini.
Didalam mobil, ketiga sahabat itu masih menunggu Rara yang masih berbicara dengan Sinta dan Arini di teras.
"Do, Lo bisikin apaan sama Rara, kenapa dia yang awalnya nolak jadi mau ikut pulang sama Lo?"tanya Alex penasaran.
Fernando yang ada di kursi belakang kemudi berucap, "rahasia dong, entar sebelah Lo ikut-ikutan cara gue, enak banget abis bikin kesalahan fatal, dengan mudahnya Sinta balik gitu aja, nggak bakal gue kasih tau,"
Rama yang mengerti maksud Fernando, hanya bisa terdiam pasrah, ia menyadari kesalahannya memang cukup fatal.
"Lo kasih tau Napa do, nggak liat mukanya Rama kek kanebo kering,"ungkap Alex yang iba dengan keadaan ayah baru itu.
"Gue pikir-pikir dulu deh, nggak janji juga gue, muka alim kek dia bisa gitu ke goda sama mantan lont* nya yang udah berkali-kali nipu dia, apa karena udah biasa main sama yang longgar, dikasih yang sempit jadi bingung cara mainnya, jelas-jelas punya permata yang bagus, bisa-bisanya batu krikil dipungut kan g*blok,"ucap Fernando frontal.
Alex yang berniat menanggapi ucapan dari Fernando mengurungkan niatnya ketika pintu mobil dibuka, Rara masuk setelah sebelumnya ber-cipika-cipiki dengan Sinta juga Arini.
Memastikan istrinya duduk dengan tenang, Fernando lalu berucap, "gue ijin cuti tiga hari Ram, tapi tenang kerjaan di Lembang tetep gue pantau,"
Mau tak mau Rama menyetujui ucapan sahabatnya dengan anggukan.
Hening sejenak didalam mobil ketika kendaraan roda empat itu melaju meninggalkan komplek perumahan,
Keempat orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing,
"Mas Rama nggak pengen nanya ke Rara soal mbak Sinta sama baby R? Mumpung aku mau jawab nih kalau ditanya,"ucap wanita hamil sudah tidak tahan dengan keheningan ini.
"Gue Pengen tanya banyak Ra, masalahnya laki Lo bolehin gue ngomong sama Lo nggak?"ungkap Rama,
__ADS_1
"Kenapa nggak boleh? Setiap orang punya hak bertanya, apa hubungannya sama mas Nando? Ini soal sikap mas Rama sama mbak Sinta, Sebenarnya Rara pengin marah dan Jambak rambut mas Rama loh, cuman aku pikir buang energi dan nambah dosa aja, dan nggak guna juga, rasa sakit hatinya mbak Sinta nggak mungkin terobati hanya karena aku buat mas Rama kesakitan,"
Ucapan Rara membuat ketiga lelaki itu terkejut, walau terkesan kata-kata yang biasa tapi cukup menunjukan amarah dari wanita hamil itu.
"Rara sayang kamu lagi hamil, jangan sampai kamu benci sama Rama, nanti anaknya mirip dia, ih jangan sampai,"sela Fernando.
Wanita hamil itu, melirik suaminya sinis, "dan kamu mas, udah selesai urusannya dengan cinta pertama kamu? Aku udah cukup kasih waktu selama aku nggak sama kamu, aku tau dia masih menginginkan kamu kembali bersama membentuk keluarga bahagia dengan anak kalian, jadi apa keputusan kamu? Mumpung ada bang Alex disini, kali aja kamu ingin bernasib sama seperti mas Rama,"
Lagi-lagi ucapan Rara membuat ketiga lelaki itu terkejut,
"Kok jadi aku? kan lagi bahas Rama sama istrinya,"ujar Fernando menunjuk dirinya sendiri.
"Sekalian aja mas, aku nggak mau berakhir seperti mbak Sinta, yang dengan bodohnya, kabur dari rumah hanya bawa diri sama handphone bahkan nggak pake sandal, aku mau ambil harta kamu setidaknya untuk biaya melahirkan dan hidup bayi aku setelahnya, karena aku nggak tau tindakan apa yang akan dilakukan oleh mantan pacar kamu,"
Fernando menggeleng, "itu nggak akan terjadi, aku pastikan hanya kamu satu-satunya istri aku, tidak ada yang lain, kita akan bersama-sama merawat anak kita, dan nggak ada kata cerai diantara kita, aku nggak akan biarkan itu terjadi, siapapun yang berani mengusik hubungan kita, tak akan aku biarkan hidup tenang,"
"Gara-gara tingkah sialan Lo nih Rama, bini gue jadi berani, awas aja kalau Sampai Lo bertingkah lagi,"lanjut lelaki blasteran itu.
"Lex, tolong turunin gue ke hotel terdekat, ada yang perlu gue omongin secara pribadi dengan bini gue,"
Rara yang sedari tadi melihat pemandangan di luar, langsung menoleh menghadap suaminya, ia membulatkan matanya, ia teringat bagaimana jika suaminya marah.
"Mas mending kita ke rumah si kembar aja, aku kangen mereka,"bujuk Rara ada suaminya.
"Iya sayang, kita pasti ketemu si kembar, tapi setelah urusan kita selesai,"
"Nggak ada yang perlu diselesaikan dari kita mas, yang lagi ada masalah kan mas Rama sama mbak Sinta jadi biar kita bantu mereka,"
__ADS_1
"Rupanya istriku lupa apa yang beberapa menit lalu diomongin, apa perlu aku ulang setiap kata yang keluar dari mulut kamu?"
"Nggak perlu mas, aku minta maaf jika perkataan yang tadi menyinggung kamu, tapi please jangan lakuin hal sama, kamu lupa kalau aku lagi hamil,"
"Sayangnya aku nggak peduli, aku hanya ingin mendidik istri, yang selalu mendorong aku untuk bersama wanita lain, aku hanya ingin menunjukan, seberapa cintanya aku sama kamu, dan apa yang akan aku lakukan untuk mempertahankan semua itu,"
"Iya aku percaya, jadi tolong jangan begini, ini yang terakhir aku mendorong kamu untuk wanita lain, rumah tangga kita nggak akan kayak mereka, aku akan nurut dan percaya sama kamu, aku mohon jangan lakuin itu lagi,"ungkap wanita hamil itu panik.
Mobil memasuki parkiran sebuah hotel, hal itu membuat Rara semakin panik, wanita itu memohon pada suaminya untuk membatalkan niatnya.
"Rara sayang, lebih baik kita masuk, kalau kamu tidak mau berjalan dengan kaki kamu, apa kamu mau aku gendong?"
Rara menggeleng, seraya terus memohon pada suaminya, namun seolah telinga lelaki itu tak mau mendengar permohonan istrinya.
Alex yang sudah menarik tuas rem, hanya saling melirik dengan Rama, keduanya bingung dengan sikap suami istri di jok belakang.
"Lex buka bagasi belakang, gue mau ambil koper bini gue,"
"Dan Lo Rama, jangan ganggu gue selama tiga hari ke depan, apapun yang terjadi, ngerti Lo!"
Rama menunjukan jempolnya tanda setuju.
Rara masih duduk terpaku di kursi mobil, ia menyesali ucapan yang keluar dari mulutnya, bisa-bisanya setelah sekian lama tidak bertemu dengan suaminya, ia mengucapkan kata-kata yang seharusnya ia tidak ucapkan.
Hingga pintu disisi wanita hamil itu berada dibuka oleh Fernando, "Rara sayang mau turun sendiri atau aku gendong?"
Mendengar suara suaminya, Rara menegang, saatnya eksekusi untuk dirinya yang salah berucap, lelaki itu paling tidak suka jika disuruh menjauhinya, Rara seolah lupa kejadian beberapa bulan lalu di villa milik umi Fatimah..
__ADS_1