
Rara duduk berhadapan dengan Ayudia di ranjang rumah sakit, ibu dari Arana merasa perlu bicara berdua saja dengan sahabatnya.
Dirinya tau betul karakter suaminya sendiri, apapun gangguan untuk hubungan mereka, Fernando akan bertindak di luar kendali, bahkan pernah ia dengar umi Fatimah bercerita, jika putranya tak mau menghubunginya sampai setengah tahun lamanya, gara-gara ia menghilang, juga aduan Nicholas padanya terkait ancaman daddy-nya.
"Di, sebelumnya gue minta maaf atas nama mas Nando, dan tolong jangan pojokan dia soal kenapa gue bisa sama dia,"
Rara mengambil tangan sahabatnya, "gue juga minta maaf, kalau gue nggak cerita soal hubungan gue sama mas Nando dulu, sejujurnya gue meninggalkan dia empat tahun yang lalu, karena gue merasa bersalah tidak bisa menjaga bayi kami,"
Wanita berhijab itu bangkit menuju jendela kamar, matanya menerawang jauh ke luar sana, "Di, dari awal ini pilihan gue, saat gue sakit hati karena gagal nikah yang kedua kali, dia dateng, menawarkan cinta dan kenyamanan, ya walau gue tau dia laki-laki brengsek, sempat beberapa kali gue bilang akan meninggalkannya, tapi dengan tegas dia bilang nggak akan melepaskan gue,"
"Tapi kenapa mesti a Nando sih Amara?"protes Ayudia.
"Iya gue tau di, tapi mau gimana lagi, kemarin waktu gue abis lahiran gue mau minta pisah karena ada masalah diantara kami, tapi dia mengancam akan bawa Arana dan mencelakai abang-abang gue,"
Ayudia seolah tidak terkejut mendengarnya, "nggak jauh beda sama laki gue Ra, sekarang gue malah ditinggalin,"ujarnya menunduk.
"Kenapa nasib kita kayak gini ya Di? Gue mau tanya dong, Lo cinta sama mas Ben nggak sih?"
"Cinta Lah,"jawab Ayudia cepat.
"Terus sama Dikta?"
"Ra, Dikta cinta pertama gue, ada sisi hati gue yang udah jadi milik Dikta, tapi sisi lebih banyak ya buat laki gue lah,"
"Rencana Lo setelah ini apa?"tanya Rara.
"Gue mau tinggal di rumah mertua yang di Bogor, oh ya bilang ke laki Lo, jangan mengundurkan diri dari ngawasin resort, gue minta tolong banget, Lo tau kan, gue nggak ngerti yang kayak gitu,"
"Gue coba deh,"
"Ra, sorry ya, kemarin-kemarin gue ngerepotin laki Lo, tapi entar kalau gue udah pindah ke Bogor sebisa mungkin gue nggak bakal gangguin kalian,"
"Iya di, nggak masalah, pesan gue, Lo jangan nyuruh dia pisah dari gue ya, gue takut dia marah sama Lo, sebenarnya gue nggak masalah, dia itu sensitif banget kalau udah menyangkut hubungan kami, dia bahkan berani sama uminya sendiri,"
"Gue bisa lihat segitu cintanya AA sama Lo, gue nggak nyangka player kayak dia bisa bucin sama sahabat gue yang kalem dan penakut ini,"
Rara kembali menghampiri sahabatnya dan memeluknya, "Di, Lo yang sabar ya, gue harap Lo bisa balik lagi sama laki Lo,"
__ADS_1
"Lo juga Ra, sabar-sabar menghadapi sifat laki Lo, eh tapi dia nggak pernah kasar sama Lo kan?"
Rara melepaskan pelukan itu, "nggak pernah, paling beberapa kali bentak gue, itupun karena salah gue,"
Obrolan mereka terhenti ketika Fernando masuk dengan menggendong Arana, ia menghampiri istrinya lalu memeluk dengan sebelah tangannya, "Rara sayang pulang yuk,"
Ayudia menggelengkan kepalanya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Besok aku jemput kamu dan si kembar, aku anterin ke Bogor, kamu siap-siap aja, aku balik dulu yu,"pamit lelaki blasteran itu sambil mengendong putrinya dan merangkul istrinya.
Fernando mengemudikan mobilnya dengan istri dan anaknya di jok belakang dengan alasan keamanan juga kenyamanan,
"Ra, apa Ayu ngomong yang nggak baik soal aku?"tanyanya.
Rara yang sedang menyusui Arana melirik sekilas lelaki yang sedang mengemudi, "ya kayak masih nggak percaya, aku mau sama kamu,"jawabnya jujur.
"Dia nggak cerita apa-apaan soal masa lalu aku kan?"tanyanya lagi.
"Memangnya masa lalu yang mana lagi, bukankah kamu itu lelaki yang hobi ganti-ganti teman tidur, pemilik club' malam sama anggota mafia, ada yang aku belum tau tentang kamu?"
"Aku bukan anggota mafia Ra, aku hanya membantu salah satu organisasi keamanan di Amerika,"jelasnya.
"Beda Rara sayang,"
"Terserah masa bodo, yang penting aku sama anak-anak aman,"
"Itu pasti, aku akan jamin keamanan kamu sama anak-anak, lalu besok aku mau ke Bogor antar Ayu, kamu mau ikut nggak?"
"Nggak, aku ada urusan sama mbak Cristy, sekalian aku mau pinjam kamera kamu dong,"
"Kenapa sama dia lagi sih Ra?"
"Memangnya kenapa sih, lagian mbak Cristy udah berubah kok,"
"Hati orang nggak ada yang tau, aku belum pernah cerita, dia pernah bunuh diri gara-gara aku tinggalin,"
Rara yang sudah selesai menyusui Arana, terkejut mendengar pengakuan suaminya,
__ADS_1
"Masa sampai kayak gitu sih mas?"
"Kalau nggak percaya kamu tanya yang bersangkutan atau Oscar,"
"Ya deh aku percaya, tapi aku nggak niat batalkan kerja sama aku sama dia, yang penting kamu nggak bersinggungan langsung sama dia, cukup kan?"
Tak mau berdebat, Fernando memilih diam.
Keesokan paginya, Fernando menjemput Ayudia dan si kembar di Rumah sakit, sementara Anna sudah berangkat terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan, Aileen cemberut karena tau bahwa lelaki itu telah memiliki seorang putri, mungkin cemburu karena perhatian Fernando tak lagi terfokus padanya.
"Bun, Ai ngambek gara-gara papa Nando udah punya anak cewek, takut kalah saing kayaknya,"celetuk Ainsley yang duduk dibelakang bangku kemudi.
Ayudia menoleh kebelakang, melihat bibir putrinya manyun, ia tersenyum kecil, "aa ngambek tuh,"
Fernando yang sedang mengemudi melirik sekilas ke jok belakang, melalui kaca, "kenapa mesti cemburu? Tidak akan ada yang berubah princess nya papa, Aileen kan jadi punya adik perempuan, nanti kalau Arana udah agak besar, kalian bisa main bareng, lebih seru kalau ada temannya loh,"
"Emang benel Bun?"tanya balita itu pada Ayudia.
"Iya, kayak bunda sama aunty Anin,"jawabnya.
"Belalti kayak Ain sama layan ya Bun?"
"Iya kurang lebih sama,"
"Wah belalti, nanti ada yang Ai ajak main macak-macak ya, telus main boneka Balbi,"
"Jadi princess nggak boleh ngambek lagi ya, terus kalau papa nggak bisa sering-sering main sama Ai, itu karena papa harus bantu bunda Ayu cari uang buat beli mainan, nanti kalau Ai kangen papa, minta bunda video call ya!"
"Ya udah, pokoknya ental beliin cokelat ya papa,"
Fernando mengangguk sambil tersenyum.
Disisi lain, Rara mengajak serta Arana mengunjungi rumahnya yang ditempati oleh Cristy.
Semalam Rara mengabari Cristy jika hari ini akan ada barang yang datang.
__ADS_1
Mereka juga merencanakan akan mengunjungi beberapa objek wisata di ibu kota untuk membuat foto dengan beberapa model baju.