Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tiga puluh lima


__ADS_3

Pukul dua pagi, Fernando baru sampai didepan rumahnya, terlihat lampu teras menyala, sementara gerbang di gembok.


Lelaki itu memanjat lalu melemparkan kopernya terlebih dahulu, agar dirinya bisa melompat, beruntung sedang tidak ada hansip yang berkeliling.


Fernando mengambil kunci cadangan yang selalu ia bawa dari dalam tas ransel miliknya.


Rumah terlihat sepi, walau masih terlihat bersih dan rapih.


Ia menggeret koper miliknya, menuju kamar, dimana dirinya berharap ada Rara dan putrinya yang tengah tertidur lelap.


Namun harapan tinggal harapan, ia tak menemukan kedua sosok yang selama ini dirindukannya.


Ia menyentuh ranjang dimana istrinya biasa berbaring, terasa dingin sangat dingin, ia duduk di sana dan melihat ke seluruh penjuru kamar, hingga pandangannya tertuju pada boks bayi berwarna putih, kosong tak berpenghuni.


Hening hanya suara nafasnya yang terdengar ditelinga nya sendiri.


Dirinya mulai resah, apa ia harus kehilangan wanita itu yang ketiga kalinya?


Namun disisi hatinya yang lain menepis prasangka buruk itu, mungkin istrinya sedang berkunjung ke Sukabumi.


Tak membuang waktu, Fernando mengambil kunci mobil miliknya, ia akan berangkat ke sana sekarang juga.


Rasa rindu pada istrinya lebih besar dibandingkan lelahnya, ia tak mempedulikan dirinya sendiri.


Lelaki itu keluar dari rumah, membawa kembali koper dan ransel miliknya.


Ia membuka gembok pintu gerbang dengan kunci cadangan yang ia ambil di laci kabinet ruang tengah.


Ia memanaskan mobilnya sejenak, sambil melihat foto-foto putrinya, lucu dan menggemaskan sekali.


Setelah mobilnya siap, ia mengeluarkan mobilnya tepat di depan pagar, tak lupa ia turun kembali untuk mengunci pintu gerbang rumahnya.


Sebelum berangkat, ia berharap, agar istrinya ada bersama umi dan putranya.


Entah mengapa ia tidak merasa lelah sama sekali, walau harus mengemudi dari Jakarta ke Sukabumi.


Mungkin rasa rindu pada istrinya mengalahkan rasa lelah fisiknya.


Waktu perjalanan lebih singkat, karena jalanan lenggang, tepat saat azan subuh, mobilnya memasuki halaman rumah umi Fatimah.


Tidak langsung masuk rumah, ia lebih memilih menuju masjid tak jauh dari rumah uminya.


Usai shalat ia bertemu dengan mang Hendi, keponakan dan paman itu saling berjabat tangan, menanyakan kabar masing-masing.


Mang Hendi mengikutinya hingga ke rumah,


Umi Fatimah yang baru selesai mengaji, terkejut dengan kedatangan putra semata wayangnya,


"Kamu kesini kenapa nggak bawa mantu dan cucu umi sih?umi kangen sama mereka, mana Rara nggak bisa dihubungi lagi, ganti nomor nggak ngomong sama umi,"


Fernando terkejut dengan perkataan uminya, namun berusaha menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


"Iya mi, Rara ganti nomor, dia kirim salam sama umi kok,"ucapnya berbohong.

__ADS_1


Umi Fatimah terlihat percaya saja dengan ucapan putranya, tak ada rasa curiga.


"Nicholas mana mi? Kok nggak kelihatan,"tanyanya.


"Paling lagi mandi, siap-siap berangkat sekolah, umi siapkan sarapan dulu,"ujarnya sambil berlalu menuju dapur.


Mang Hendi menawarinya kopi yang ia buat di dapur.


"Makasih mang, tapi taruh dulu di meja, aku mau lihat Nicholas dulu, terus entar aku aja yang antar ke sekolah ya!"


Mang Hendi mengangguk tanda setuju.


Tepat jam enam pagi, Fernando mengantarkan putranya menuju sekolah.


"Tante Rara sama Rana kenapa nggak ikut?"tanya Nicholas saat keduanya dalam perjalanan menuju sekolahnya.


Fernando yang sedang mengemudi meliriknya sekilas, "apa kamu mengatakan hal yang membuat istri Daddy sakit hati?"tanyanya balik.


Nicholas menggeleng, "hubungan kami baik-baik saja, bahkan Tante Rara mengantarkan aku ke gereja saat misa kemarin,"jawabnya.


Fernando terdiam.


"Apa Tante Rara pergi dari rumah?"tanya remaja itu.


Fernando menghela nafas, "Daddy tidak tau son, tak ada kabar apapun darinya,"jawabnya.


Tak lama mobil memasuki lingkungan sekolah, Fernando mengikuti putranya.


Sontak sekolah heboh dengan kedatangan dua lelaki berbeda usia yang wajahnya sama hanya berbeda tingginya saja.


Fernando mengantar hingga ruang kelas dan berkenalan dengan beberapa teman sekelas putranya, tak lupa menitipkan beberapa lembar uang pada bendahara kelas untuk mentraktir teman-teman Nicholas.


Dari ruang kelas putranya, Fernando menyambangi ruang guru, dan memperkenalkan diri sebagai ayah dari Nicholas.


Ada beberapa guru wanita yang masih muda menatapnya dengan tatapan berbinar, hal itu sudah biasa baginya.


Setelah berbasa-basi sejenak, Fernando pamit undur diri.


Kantuk mulai menyerang, ia butuh tidur, ia segera melajukan mobilnya menuju rumah umi Fatimah.


Sepertinya ia akan tidur sebentar untuk memulihkan tenaganya agar bisa mencari keberadaan istrinya.


Sesampainya di rumah umi Fatimah, ia langsung memasuki kamar dan membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya, tak sampai lima menit, dengkuran halus mulai terdengar.


Fernando terbangun ketika ponselnya terus berdering, dengan mata masih terpejam, ia mengambil ponsel miliknya tanpa menatap siapa yang menghubunginya, ia mengangkat panggilan itu.


Terdengar suara jeritan anak balita perempuan memanggil namanya sambil menangis.


Fernando terkejut dan menjauhkan ponselnya, ia melihat layar ponsel miliknya, tertera nama Tante Anna di sana.


"Do, kamu kemana sih? Kenapa nggak balik-balik, Aileen nangis nanyain kamu,"jelas Anna.


"Nando lagi di Sukabumi Tante, coba aku video call dan ngobrol sama Aileen,"

__ADS_1


Fernando mengubah mode video, terlihat wajah bule dengan Mata biru itu berkaca-kaca, bibir balita itu manyun, "Papa Nando kenapa pelgi? Apa Papa sama seperti ayah yang tinggalin Ai?"


Fernando yang masih merebahkan diri, tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan Aileen, "Ai sayang, papa Nando mau ketemu Nini Fatimah dulu sehari aja, besok papa ketemu Ai lagi ya!"


Aileen menunjukan jari kelingkingnya, "janji besok Dateng ya, bunda juga nanyain papa,"


Fernando menunjukan kelingkingnya, "iya Ai sayang, besok papa kesitu ya! Ai mau dibawain apa?"


"Bawain Ai sama bunda cokelat yang banyak, papa jangan kasih ke Ain ya, Ain nakal,"


Fernando mengangguk lalu tersenyum melambaikan tangannya, ia mengakhiri panggilan video itu.


Lelaki itu menghela nafas, ia jadi ingat mendiang putrinya dulu, mungkin sekarang sudah seumuran Aileen, janin dua bulan yang ia yakini berjenis kelamin perempuan, ia beri nama Strawberry.


Ah rasa sesal itu menyiksanya, dan sekarang putri keduanya tengah menghilang bersama istrinya, kemanakah sekarang ia harus mencari.


Pikirannya kusut, entah mengapa otak cerdasnya mendadak sulit berfikir, rasanya kesal sekali, kenapa harus disaat seperti ini?


Ia melihat waktu di ponsel miliknya, sudah lewat tengah hari, cukup lama dirinya tertidur.


Ia memutuskan mandi terlebih dahulu, tadi ia berjanji pada putranya, akan menjemputnya.


Sepuluh menit berlalu, Fernando telah siap, dengan kaos oblong hitam dengan celana Chino berwarna khaki.


Ia berpamitan pada uminya yang tengah menyiapkan makan siang bersama bibi Imas.


Tepat saat mobil Fernando berhenti di pinggir jalan didekat sekolah putranya, bel pulang berbunyi.


Tak lama Murid-murid keluar dari sekolah, cukup lama ia menunggu, hingga ia melihat putranya berjalan dengan seorang gadis dengan seragam sekolah yang sama.


Sepertinya putranya tengah berdebat dengan gadis itu, Fernando hanya diam memperhatikan.


Ia teringat dulu masa sekolah, banyak gadis mengejar-ngejarnya, ternyata putranya juga sama.


Fernando yang tak sabaran akhirnya memilih turun menghampiri putranya.


"Please Nicho, aku suka sama kamu, aku harus bagaimana supaya kamu percaya kalau aku benar-benar suka sama kamu,"


"Terserah aku nggak peduli,"ujar Nicholas dingin.


Fernando menyapa gadis bernama Aurelia, "sekarang saya bawa Nicholas dulu ya, jadi ngobrolnya dilanjutkan besok ya!"ucapnya berusaha ramah.


wajah gadis bernama Aurelia itu mendadak memerah, saat disapa lelaki dewasa dengan wajah yang sama dengan Nicholas, gadis itu tersenyum ramah bahkan mencium tangan Fernando.


Diperjalanan pulang, Nicholas mengeluh jika ia muak dengan gadis-gadis yang mengejar-ngejarnya.


"Tak usah dipedulikan son,"


"Aku risih dad, apa tawaran untuk bersekolah di ibukota masih berlaku dad?"


"Tentu saja,"


Senyum mengembang di wajah remaja itu.

__ADS_1


__ADS_2