
Fernando tau dirinya salah, harusnya ia tak membantu Kelly, namun apa daya jiwa player-nya belum sepenuhnya hilang dari dirinya.
Rasanya susah sekali ketika ada perempuan cantik yang mengajaknya untuk berciuman, ia menyesal sungguh menyesal, sedari tadi tangannya memang bekerja memeriksa laporan keuangan yang belum selesai ia kerjakan sedari tadi sore, tapi hatinya memaki dirinya sendiri.
Untuk menutupi kesalahannya, ia hanya diam, saat wanitanya memintanya untuk memberikan Sling bag itu, tentu ia tak akan memberikannya,
Fernando tak akan membiarkan wanita yang ia cintai pergi dari sisinya,
Disela-sela pekerjaannya ia melirik wanitanya, yang sedang duduk di sofa, Rara hanya diam bersandar juga melihat ke arah langit-langit ruangan itu, sesekali wanita itu juga menghela nafas.
Fernando tau, wanita itu sedang memaki dirinya dalam hati, tapi ia tak peduli, baginya yang terpenting, wanita itu ada disisinya.
Hingga wanita itu beranjak meninggalkannya dengan membawa paper bag menuju pintu penghubung kamarnya.
Dengan segera Fernando menyelesaikan pekerjaannya, ia berniat menyusul wanitanya.
Ia membuka pintu penghubung itu, terlihat Rara sedang duduk termenung dan bersandar di head board ranjang, Fernando hanya meliriknya, lalu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Usai mandi, Fernando keluar hanya dengan celana bokser yang ia kenakan, kebiasaannya ketika tidur.
Rara masih diam ditempatnya, sisi kosong disebelahnya terisi oleh lelaki blasteran itu, ia melirik sekilas, Fernando berbaring miring menghadapnya, lelaki itu tengah menatapnya.
Ia mencoba mengatur nafasnya, ia mengatakan pada dirinya sendiri, agar lebih berani mengeluarkan isi hatinya,
Rara mengepalkan tangannya dibalik selimut tebal berwana putih, ia memejamkan matanya sembari mengatur nafas, ia benar-benar sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya.
Ia harus berani kali ini, karena bagaimanapun ini menyangkut masa depannya.
Rara menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Mas, aku mau kita mengakhiri hubungan ini,"
Tak ada reaksi apapun dari lelaki itu,
Kembali Rara menarik nafas, "sepertinya aku tidak bisa terus bersama kamu, maaf aku benar-benar nggak bisa,"ucapnya lagi, namun lelaki itu belum memberikan reaksinya.
Lagi-lagi ia menarik nafasnya, "tolong kembalikan tas aku, besok aku akan pulang ke Malang,"
Fernando masih tak bereaksi, lelaki itu hanya menatap wanita disebelahnya dengan tajam, tatapan yang seolah menggambarkan isi hati lelaki itu sekarang ini.
Rara mulai kesal sendiri, lelaki itu hanya diam, ia berfikir mungkin Fernando senang dengan permintaannya.
Perempuan itu memutuskan untuk merebahkan diri, membelakangi Fernando.
Hingga ada pergerakan disampingnya, pinggangnya ditarik, Fernando memeluknya dari belakang, erat....
Rara bisa merasakan tubuh kekar yang tengah memeluknya, ia juga merasakan hembusan nafas di tengkuknya, hangat juga wangi mint.
Fernando tak berucap sepatah katapun, seolah ia hanya ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan,
__ADS_1
Melalui pelukan itu ia memberitahukan jika dirinya akan tetap memeluk wanitanya dan tak akan melepaskannya.
"Mas, aku besok pulang ya!"ujar wanita itu lagi, bukan menjawab, Fernando semakin mengeratkan pelukannya.
Rara memutuskan untuk berbalik, menghadap lelaki itu, tatapan mereka bertemu,
Wanita itu menyentuh salah satu sisi rahang tegas milik Fernando, "mas, maaf sejujurnya aku tidak sanggup jika harus seperti ini, aku bukan orang yang berjiwa besar menerima masa lalu kamu, aku cemburu melihat kamu dekat dengan wanita lain, dada aku rasanya sesak sekali,"akhirnya ia bisa mengungkapkan isi hatinya.
"Aku cinta sama kamu, tapi aku tidak mau tersakiti terus menerus, maaf aku bukan orang yang ikhlas, lelakinya dipeluk bahkan dicium oleh wanita lain, jadi aku ingin mengakhirinya,"
Mata Rara berkaca-kaca, tangannya masih berada disisi rahang tegas itu, ia mengelusnya lembut, lalu sedikit bangkit, mencium kening lelaki itu dalam,
Fernando bisa merasakan ciuman di keningnya sebagai wujud rasa cinta wanita itu untuknya.
Lelaki itu memeluk tubuh dengan wangi sabun miliknya, ia mengeratkan pelukan itu, menenggelamkan kepalanya diarea dada milik kekasihnya.
Rara membalas pelukan itu, ia juga mengelus rambut kecokelatan milik lelaki itu, "mas, aku perlu waktu untuk menerima semua ini, tolong biarkan aku pergi,"
Wanita itu terlebih dahulu melepaskan pelukan itu, ia menatap mata hijau itu lembut, ia juga menyentuh dahi, alis, pipi, hidung mancung, dan berakhir dibibir milik lelaki itu, ia memberikan senyuman khasnya, senyuman bentuk hati, yang membuat Fernando terpana.
"Mas, terkadang sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir dengan baik, kita bisa saling menyakiti kalau begini terus,"
Jari Rara masih menyentuh bibir penuh lelaki itu, "beri aku waktu untuk menerima kamu apa adanya, jika suatu saat nanti kita berjodoh, kita pasti akan bersatu lagi,"
Fernando mencium lembut jari yang sedang menyentuh bibirnya, mata hijau miliknya menatap bola mata bulat itu lalu turun melihat bibir yang beberapa hari ini membuatnya candu, ia mengecupnya.
Lelaki itu menatap kembali Rara, ia menghembuskan nafasnya kasar, "Ra, kasih aku waktu beberapa hari lagi untuk merelakan kamu, karena ini pertama kalinya aku benar-benar jatuh cinta, aku merelakan kamu, bukan berarti aku melepaskan kamu, aku hanya memberikan kamu waktu untuk berfikir dan pada akhirnya kamu harus tetap bersama aku,"
Fernando mengelus rambut hitam milik wanita dihadapannya sambil menatap mata bulat itu, "Ra, aku akan tunggu kamu disini, kapanpun kamu ingin kembali, aku siap sedia disini, aku beri kamu waktu satu tahun, dan saat itu kita langsung menikah,"
Rara mengangguk, keduanya berciuman, lembut dan dalam sebagai bentuk ungkapan cinta keduanya.
Keesokan paginya, usai sarapan Fernando mengajak wanitanya beranjak dari kawasan resort itu menuju bagian Utara, menuju resort yang ia kelola,
Rara baru tau, ternyata ada pantai dengan pasir warna hitam di pulau itu, setau dirinya, pulau ini terkenal dengan pantai berpasir putih.
Meskipun begitu, pemandangan di sana tak kalah indah, dengan pantai berpasir putih.
Sesampainya di sana, Fernando kembali bekerja, dan seperti biasa Rara akan berada disisinya untuk menemaninya.
Seharian memeriksa laporan keuangan resort juga mengajak Rara berkeliling, di sore hari keduanya duduk di atas pasir berwarna gelap itu sambil menikmati pemandangan sore menjelang senja.
Fernando menggenggam tangan wanitanya, sambil sesekali menciuminya, "Rara sayang, nanti kalau kamu lagi nggak sama aku, kamu nggak boleh melirik laki-laki lain ya, pokoknya kamu nggak boleh berpaling dari aku,"pesannya.
Rara melirik sekilas laki-laki disampingnya, lalu menatap langit yang mulai berubah oranye, "harusnya aku yang ngomong begitu, kebalik mas,"
"Ya aku juga, hanya ada kamu di hati aku,"
__ADS_1
Wanita itu tersenyum miris, "hati sih bisa mas, bagaimana dengan fisik kamu?"
"Aku laki-laki dewasa sayang, aku sehat, aku butuh menyalurkan kebutuhan biologis aku, sementara kamu nggak ada di samping aku, masa aku harus memanjakan adik aku dengan tangan aku sendiri,"ungkap lelaki itu jujur.
Rara menghela nafas kasar, ia mengelus dadanya sendiri, ia memutuskan untuk bangkit dan saat ia mulai melangkah, tangannya ditahan oleh lelaki itu,
"Kamu mau kemana?"
"Aku malas, ngobrol sama penjahat kelamin,"
Fernando menarik tangan itu, agar duduk kembali disebelahnya, "sayang aku hanya bercanda, aku akan mencoba setia, jadi jangan marah,"
"Kenapa sih, kamu nggak bisa nahan nafsu kamu? Kalau kamu begitu terus gimana kalau misalnya kamu kena penyakit kelamin, terus nantinya bakal menulari aku, ih ngeri.. masa kamu yang dosa, aku ikutan nanggung,"
"Aku kalau main sama mereka selalu pakai pengaman, jadi akan aman,"
"Tetap saja aku geli membayangkannya, tapi tunggu deh, ngomong-ngomong soal pengaman, bukannya kamu nggak pernah memakainya saat bersama dengan aku kan?"
Fernando tersenyum, "lalu?"tanyanya sambil menaikan sebelah alisnya.
Rara diam sejenak, ia gunakan jari-jarinya untuk berhitung, bibirnya komat-kamit, mata bulatnya melihat ke langit, dahinya berkerut, cukup lama dan akhirnya, "mas, kayaknya ada yang salah deh,"
"Maksud kamu?"tanya Fernando.
"Mas, Minggu ini, aku lagi masa subur, dan kita berkali-kali melakukannya tanpa pengaman, bagaimana kalau aku hamil?"Rara merutuki dirinya sendiri, ia memukuli kepalanya,
"Hey, apa yang kamu lakukan? Kepala kamu bisa sakit nanti,"ujar Fernando menahan tangan milik wanita itu.
"Mas, cariin nanas muda sama soda, aku nggak mau hamil sebelum menikah,"ujarnya panik.
Fernando memeluk wanita itu dan mengelus rambutnya, "sayang, kalau kamu hamil, ada aku yang akan menikahi kamu, nggak usah panik gitu, dan aku nggak ijinkan kamu untuk membunuh benih aku, kalau kamu melakukan itu, aku akan mengurung kamu selamanya disisi aku,"ujarnya memperingatkan.
"Tapi aku nggak mau hamil sebelum menikah,"
"Kamu mau aku nikahi besok saat kita kembali ke Malang?"
Rara menggeleng, "jangan dulu mas, bapak aku bisa ngamuk, aku takut,"gumamnya
"Maksud kamu? "
Lagi-lagi Rara menggeleng, "nggak apa-apa mas, aku bilang bapak aku galak,"
Fernando diam berfikir lalu berkata, "aku tarik ucapan aku, yang memberi kamu waktu setahun, aku kasih kamu waktu satu bulan dari sekarang, dan setelahnya aku akan datang menemui bapak kamu untuk melamar dan menikahi kamu,"
"Kok dipercepat si? Kan bilang setahun,"
"Kalau setahun lagi, anak kita udah lahir,"
__ADS_1
"Lihat sebulan lagi, kalau ternyata aku hamil, aku kasih tau kamu,"
Fernando mengangguk, lalu dibawah cahaya senja, Fernando mencium bibir wanita yang ia cintai itu.