
Fernando duduk di sofa sambil memangku laptopnya, ia memutuskan bekerja di kamarnya saja.
Sesekali ia akan melirik istrinya yang ada dibalik selimut tebal miliknya.
Setelah berkali-kali ia menggauli istrinya, akhirnya wanita itu meminta ampun padanya, sembari memohon agar dirinya menghentikan kegiatan panas itu.
Namun seolah tuli, Fernando terus saja melakukannya hingga istrinya tak sadarkan diri.
Itu hal yang ia harapkan, ia ingin menunjukan siapa yang memegang kendali.
Fernando memang cinta mati pada istrinya dan akan melakukan apapun untuk kebahagiaan wanita itu tapi tidak dengan perpisahan.
Sejak mengenal dan mulai dekat apalagi saat tau dirinya mendapatkan mahkota istrinya, ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan satu wanita yaitu Amara Cahyani.
Tak peduli apapun, wanita itu akan jadi miliknya selamanya.
Untungnya saat tadi keduanya berperang peluh, putrinya sama sekali tidak terganggu dengan teriakan dari wanita itu.
Fernando berhasil membuat alat vital milik istrinya membengkak bahkan lecet, mungkin nanti setelah wanita itu bangun, dia tak bisa berjalan dengan normal.
Ia tak peduli jika setelah ini, wanita itu membencinya,
Tadi ia sempat menelpon Natasha untuk datang ke Bali, untuk mengobati Rara sekaligus meresepkan obat penyubur kandungan.
Salah satu cara, agar istrinya tak bisa pergi darinya adalah dengan membuat wanita itu hamil.
Tak lupa ia mengambil dompet milik istrinya dan menyembunyikan di brankas pribadi miliknya.
Ponsel wanita itu juga tak luput dari incarannya, ia menyembunyikan ponsel itu.
Fernando jadi teringat tentang nasehatnya pada Benedict agar tidak membatasi pergerakan Ayudia, dan sekarang ia malah melakukan hal yang sama dengan sahabatnya.
Dirinya baru tau, setelah mengalaminya sendiri, istrinya membuatnya marah, karena wanita itu meminta untuk berpisah.
Mungkin ini alasan Benedict berbuat seperti itu pada Ayudia, bedanya saat kejadian beberapa tahun lalu, cinta sahabatnya masih bertepuk sebelah tangan.
Berbeda dengannya, Rara mengaku mencintainya, tak ada istilah cinta bertepuk sebelah tangan diantara hubungannya dengan sang istri.
Dirinya juga tau, alasan utama istrinya meminta berpisah, tentu karena mantan pacarnya yang bertindak seolah-olah mengetahui tentangnya.
Kalau boleh jujur, setiap dulu melakukan dengan mantan-mantan pacar atau wanita penghibur, ia hanya menyalurkan hasratnya, tak lebih, hanya sebatas itu, bukan bercinta seperti yang diucapkan para wanita-wanita itu.
Fernando menganggap mereka layaknya alat, kejam memang pemikiran lelaki brengsek seperti dirinya, tapi memang itu kenyataannya.
Berbeda dengan Amara, ia melakukannya karena cinta, setiap selesai melakukannya, ia merasa ada perasaan membuncah,
Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu.
Terdengar suara lenguhan di ranjang miliknya, Fernando menutup laptopnya.
Ia melirik ke arah putrinya yang tengah bermain sendiri, lalu menghampiri istrinya yang sedang menggeliat.
"Sudah bangun sayang,"sapanya sambil mengelus kepala dan mencium kening istrinya.
__ADS_1
Mata bulat itu menatapnya, lalu mengaduh, mungkin wanita itu baru menyadari keadaannya.
"kok perih banget ya!"keluhnya.
"tenang aja, sebentar lagi Asha datang untuk memeriksa kondisi kamu,"ucap lelaki itu.
"mbak Asha bukannya di Jakarta?"tanya Rara bingung.
"mumpung weekend, Asha mau liburan ke sini sama Kama, sekalian saja aku suruh periksa kamu,"jawab Fernando.
"Aku malu,"
"kenapa malu? Asha juga pernah mengobati Ayu beberapa tahun yang lalu, lebih parah malah,"
Terlihat raut terkejut dari wajah Rara, mungkin ia tak menyangka bukan hanya dirinya yang mengalami hal seperti ini.
"itu cara kami mendidik istri agar tidak membangkang, kamu mengerti Amara, jadi mulai sekarang jangan pernah berfikir dan mengatakan untuk berpisah dari aku,"
Rara diam tak menanggapi ucapan suaminya, sementara Fernando berjalan menuju kamar mandi, ia akan menyiapkan air hangat di bathtub agar istrinya bisa berendam.
Menjelang Senja, Natasha baru datang bersama Kama, lelaki yang berstatus mahasiswa semester tiga.
Fernando mengajak Kama berbincang di ruang kerjanya sementara Natasha memeriksa Rara.
Tak lama, wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu, datang sambil menggendong Arana.
"Gila Lo ya do, sebelas dua belas sama Ben? dulu aja pinter banget nasehatin Ben supaya nggak gitu sama Ayu, sekarang Lo melakukan hal yang sama, jahat Lo berdua,"ungkap Natasha marah.
Fernando menceritakan tentang alasan ia berbuat kasar pada istrinya, dan juga tentang bertemunya ia dengan salah satu mantan pacarnya.
"gue nggak ada pilihan lain, salah sendiri dia mau minta pisah,"
"Gara-gara kelakuan Lo gini, gue jadi males menjalin hubungan sama cowok, bisanya pada nyakitin doang,"keluh Natasha.
Fernando terkekeh, "nggak semua Sha, tuh sebelah lo, sejauh ini aman kan? dia nggak pernah nyakitin elo?"
Natasha melirik sekilas pada Kama yang sedang memangku Arana, "Dia kan beda, nggak brengsek kayak Lo, udah dari SMA nggak bener,"
"wah, entar Kama gue ajarin supaya jadi brengsek kayak gue,"
"jangan ngadi-ngadi Lo,"
Fernando mengambil sesuatu dari laci kerjanya, ia melemparkannya pada Kama.
Dengan sigap lelaki yang sedang dekat Natasha menangkapnya.
"biar nggak hamil pas lagi unboxing,"
Sebuah bungkusan dari brand ternama sebuah alat kontrasepsi untuk laki-laki.
Natasha melototi sahabatnya, "sahabat laknat Lo, ngajarin yang enggak-enggak,"
Tak menanggapi sahabat wanitanya, Fernando berucap, "Asha masih perawan kalau Lo mau tau, dan Rasa perawan itu luar biasa, Lo bakal ketagihan,"ujarnya pada Kama.
__ADS_1
Natasha menutup kedua telinga Arana, lalu mengumpat pada lelaki blasteran itu.
Sedangkan Fernando tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal dokter kandungan itu.
"kalau Lo masih bingung caranya, entar gue ajarin, dijamin Asha bakal bertekuk lutut sama Lo,"
"Diem Lo Fernando, gesrek lo ya, nyesel gue datang kesini,"
"Gue ijinkan Lo buat unboxing sahabat gue, tapi setelah itu gue pastikan Lo hanya akan nikah sama Asha, Lo ngerti kan Kamajaya,"
Yang bersangkutan hanya mengangguk, sembari menunjukkan satu jempolnya.
Waktu hampir menunjukan tengah malam, Fernando masih bekerja di sofa kamarnya, sedangkan Rara sedang menyusui Arana yang terbangun karena haus.
Karena masih merasakan perih di bagian vitalnya, Rara hanya berdiam di atas kasur, hanya saat ke kamar mandi itupun digendong oleh suaminya.
"Mas, bisa tolong pindahkan Arana lagi,"ujar Rara.
Fernando meletakan Laptopnya di sofa, ia bangkit menghampiri istrinya lalu menggendong Arana agar tidur di boks disebelah ranjang.
Lelaki itu kembali bekerja, terlihat raut serius dari wajahnya.
"Mas kalau aku disini sampai pergantian tahun, lalu siapa yang akan mengambil rapot Nicholas?"tanya Rara sambil berbaring miring menghadap suaminya.
"Aku udah ngomong sama Umi, jadi biar beliau yang ambil,"
"tapi umi sibuk,"
"Umi bilang mau kok, apa masalahnya?"
"tapi aku wali Nicholas, kenapa nggak aku aja?"
"Terus abis itu kamu kabur lagi begitu? aku nggak mau kehilangan kamu yang keempat kalinya,"
"siapa yang ngilang sih?"
"kamu lah siapa lagi? lagian kenapa kamu minta pisah dari aku sih? aku suami yang setia selama kita berhubungan sekalipun aku tidak pernah menduakan kamu, kita juga bukan orang yang kekurangan secara ekonomi, walau resikonya kita LDR, tapi setiap saat kita video call, tau kegiatan masing-masing, okelah masa lalu aku kelam, tapi aku sudah berhenti, kenapa kamu masih meragukan aku?"ungkap Fernando yang menghentikan aktivitasnya untuk berbicara pada istrinya.
"coba kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu lihat aku dirangkul oleh mantan teman tidur masuk ke dalam kamar berdua saja?"
"aku akan merebut kamu, dan menghajar orang yang membawa kamu,"jawabnya.
"Apa menurut kamu selama kita saling mengenal, aku pernah melakukan tindakan kekerasan pada mantan teman tidur kamu? aku bukan kamu yang menyelesaikan masalah dengan berkelahi,"
"ya itulah aku, suami kamu, hari ini kamu harus bisa mengambil pelajaran, bahwa aku nggak main-main dengan ucapan aku, sekali lagi kamu minta kita berpisah, aku benar-benar akan membawa kamu ke pulau tak berpenghuni, kita akan hidup hanya berdua saja sampai mati, urusan anak-anak, kamu tau bukan sebanyak apa uang dan harta yang aku miliki yang tak akan habis hingga mereka suatu saat punya keluarga sendiri,"
Rara menghela nafas, ia tak menyangka suaminya akan seperti ini, "mas kamu itu nggak cinta sama aku, tapi terobsesi, cinta itu nggak menyakiti, cinta itu menjaga,"
Fernando menutup Laptopnya, ia bangkit sambil melepas pakaiannya dan menyisakan bokser berwarna hitam, ia menaiki ranjang, lalu memeluk istrinya dari belakang.
"dengar baik-baik Amara, aku sangat mencintaimu, masalah obsesi itu betul, aku terobsesi sama kamu, maka dari itu, aku selalu memimpikan, hanya hidup berdua sama kamu di suatu tempat yang sepi, aku bisa sepuasnya memeluk kamu, mencium kamu, dan berhubungan intim kapanpun, tapi untuk menuju itu, aku harus bekerja lebih keras, agar bisa membeli tempat itu,"
Fernando membalikkan tubuh istrinya lalu mengangkatnya dan keduanya saling berhadapan dengan posisi Rara diatas tubuhnya.
__ADS_1
"Jadi jangan berfikiran untuk berpisah, kalau kamu masih ingin bersama Arana, kamu lebih tau dari siapapun tentang suami kamu bukan? aku tidak akan berfikir dua kali meskipun itu kamu,"
Setelahnya Fernando mencium istrinya, dan melanjutkan kegiatan panas sebelum tidur, seolah tak peduli keadaan istrinya yang belum pulih sepenuhnya.