Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus dua puluh lima


__ADS_3

"Siapa sebenarnya kamu?"


Sebuah pertanyaan dari istrinya yang menghentikan langkah Fernando.


Lelaki itu berbalik menatap istrinya yang terbaring di ranjang rumah sakit.


Ia menghampiri ibu dari putrinya, ia bisa melihat tatapan penuh tanya dari wanita itu.


"Apa maksud kamu nanya kayak gitu, kamu tau jawabannya Amara, aku Fernando Wolfer suami kamu, apalagi memangnya? Jangan memancing amarahku Amara,"ucapnya dengan tatapan tajam penuh peringatan.


Entah keberanian dari mana, Rara menatap suaminya balik, bahkan ia tersenyum seolah mengejek lelaki itu.


"Kamu pikir aku bodoh dan tak tau apa-apa?  Aku memang selama ini diam, karena aku hamil anak kamu, lalu berharap kamu menyadari jika apa yang kamu jalani itu salah, ternyata hingga semalam, aku baru sadar jika sebaiknya kita tak bersama lagi,"ungkap Rara teringat apa yang dilihatnya semalam.


Fernando mengurung tubuh istrinya dan mencengkeram kedua sisi ranjang, jarak mereka hanya beberapa centi saja.


Rara yang ditatap tajam sedekat itu, menjadi sedikit takut, ia bisa melihat tatapan penuh amarah itu, tapi sudah terlanjur, ia tak boleh gentar, ia jadi mengerti sekarang jika hal yang selama ini mengganjal dalam hatinya, bisa jadi hal yang ia lihat semalam dan beberapa malam-malam saat mereka masih berada di Lembang.


"Aku tegaskan Amara, sampai matipun aku tidak akan melepaskan kamu, tak peduli apapun yang terjadi, kamu milik aku, apa ini gara-gara Dikta yang katanya sahabat kamu? Kalau ia, jangan salahkan aku, jika dia tak akan bisa kamu temui selamanya,"


Rara mendorong kuat tubuh yang mengurungnya, walau tak berpengaruh apapun untuk lelaki itu,


"Ini tidak ada hubungannya dengan Dikta, ini tentang kamu, aku tau selama ini pekerjaan yang kamu jalani bukan hanya satu, tapi bukan berarti segala pekerjaan kamu lakukan, aku tidak mau mempunyai suami yang mencari nafkah tidak halal,"


Fernando bangkit berdiri, tatapannya masih tajam, ia terdiam.


"Maaf sebelumnya, bukannya aku tidak menghargai privasi kamu, tapi aku tidak sengaja melihat i-pad milik kamu semalam, dan beberapa malam sebelumnya usai kita melakukannya, saat kamu tertidur,"


"Maaf, aku hanya berniat mematikan i-pad kamu yang menyala, tapi aku malah melihatnya,"


Fernando tercengang, istrinya mengetahui rahasia yang selama ini ia pendam, ia mengumpat didalam hati, bodoh sekali dirinya, kenapa bisa ceroboh lupa mematikan i-pad miliknya.


"Aku nggak nyangka anak dari umi Fatimah memiliki pekerjaan seperti itu, dan sialnya suami aku sendiri, aku yang orang biasa tak menyangka dekat dengan orang seperti itu,"


Rara bisa melihat raut terkejut suaminya, sejujurnya dirinya takut setengah mati berhadapan dengan lelaki itu, tapi setelah ia melihat putrinya lahir, ia memberanikan diri demi ketenangan hidup dirinya dan putrinya kedepannya.


"Awalnya aku pikir itu hanya ulah iseng orang yang mengirimi kamu pesan, tapi beberapa kali aku tak sengaja membaca pesan yang sama, dan semalam aku menyadari siapa sebenarnya suami aku,"


"Pantas saja kamu mukulin Dikta nggak mikir dua kali, bahkan kamu mengancam akan membunuh dia, apa jika aku melakukan kesalahan, kamu akan membunuh aku?"


Mendengar hal itu Fernando menggelengkan kepalanya,

__ADS_1


"Aku mau hidup tenang bersama Arana, aku tidak mau hidup dalam ketakutan jika terus bersama kamu, untuk itu setelah ini tolong lepaskan aku, kamu tidak akan kehilangan hak kamu sebagai ayah dari Arana, tapi tidak untuk hidup bersama, aku tidak mau suatu saat ada yang mengancam nyawa anak aku,"


Lagi-lagi Fernando menggelengkan kepalanya, ia tak terima jika istri dan putrinya pergi.


"Ra..."tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan permohonan, "dengar penjelasan aku,"


Rara tersenyum miris, "tidak usah menjelaskan, itu tidak akan mengubah keputusan aku,"


Fernando memejamkan matanya, ia mengatur nafasnya, ia tak boleh emosi, otak cerdasnya mulai bekerja.


"Kamu mau pergi dari aku Amara? Silahkan kalau itu mau kamu, tapi jangan bawa putri aku,"


Rara terkejut mendengar ucapan suaminya, bisa-bisanya lelaki itu akan memisahkan dirinya dengan putrinya.


"Arana butuh aku susui, jadi tidak mungkin dia jauh dari aku, secara hukum aku lebih berhak,"


Fernando tertawa, "bukankah sekarang kamu tau siapa sebenarnya suami kamu Amara? Apa kamu pikir aku akan membiarkannya begitu saja, aku punya uang dan kekuasaan kalau kamu lupa, masalah itu mudah bagi aku,"


Lelaki itu mendekat dan menunduk, ia berbisik tepat di samping istrinya, "aku bisa buat orang di sekeliling kamu dalam kesulitan, atau bisa membuat mereka menghilang tanpa jejak,"


Rara menegang, rasa takut itu muncul kembali.


"Jadi istriku, silahkan kamu beristirahat, jangan melewati batas dan jadilah istri yang penurut, kamu mengerti ?"


Fernando menyunggingkan senyumannya melihat raut ketakutan istrinya, ia kembali mendekat, lalu mencium kening wanita itu lembut, tak lupa mengecup bibirnya.


"Salahkan diri kamu, karena buat aku jatuh cinta,"usai mengatakan hal itu Fernando berlalu menuju kamar sebelah, ia harus menyelesaikan pekerjaannya.


Fernando dan Benedict bergabung dengan salah satu organisasi keamanan di Amerika, bukan tentara atau polisi,


Troy mengajaknya bergabung sejak lulus kuliah, setiap ada kesempatan, ia bersama sahabatnya berlatih fisik dibawah bimbingan Troy.


Awalnya hanya untuk iseng semata, bukan karena uang, karena dari pekerjaan utama keduanya, sudah lebih dari cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka.


Mereka juga bukan anggota tetap, hanya kalau ada misi khusus, yang membutuhkan kemampuan keduanya.


Biasanya Fernando dan Benedict, mencari buronan negara yang sulit ditemukan, jika sedang menjalankan misi, menghilangkan nyawa merupakan hal yang biasa dan tak mungkin bisa menghindari.


Hanya saja mereka nyaris tak berjejak, apa yang dilakukan dituntut bersih, buronan kebanyakan akan berakhir mati dan mayatnya akan ditenggelamkan ke dasar laut dengan pemberat, atau dikubur terkadang juga dibakar, kalau memungkinkan bisa ditangkap hidup-hidup, agar bisa diinterogasi lebih lanjut.


Hanya dirinya, Benedict dan Troy yang tau tentang pekerjaan itu,

__ADS_1


Fernando juga jarang melakukannya, semenjak bertemu dengan Rara ia tak lagi menerima pekerjaan itu, hanya saja beberapa minggu yang lalu, Troy kembali meminta bantuannya dan Benedict untuk memburu pimpinan mafia di selatan Amerika yang berkali-kali mengancam keamanan negara.


Mungkin semalam Istrinya melihat detail dari target yang dikirimkan oleh Troy.


Tapi jika malam-malam sebelumnya, apa mungkin laporan mami tentang keuangan Club' atau masalah yang timbul di sana.


Rasanya ia ingin mengumpat, ia pikir, setelah putrinya lahir, istrinya tak akan meminta berpisah darinya, karena mau bagaimanapun anak perempuan membutuhkan sosok ayahnya, ternyata dugaannya salah, wanita itu malah memintanya melepaskannya.


Fernando mengirimi pesan ke sahabatnya, dan mengatakan jika istrinya telah mengetahui pekerjaan mereka.


Tak lama pintu ruang rawat itu diketuk, ada Benedict muncul dibalik pintu.


Rara yang belum tidur, terkejut dengan kedatangan suami dari Ayudia.


Benedict menyapanya, dan menanyakan keberadaan Fernando,


Belum sempat Rara menjawab lelaki yang dimaksud memunculkan batang hidungnya.


"Kunci Ben,"perintahnya pada sahabatnya.


Benedict mengunci pintu, lalu mengikuti Fernando berjalan menuju wanita yang kini tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Jadi bini Lo udah tau do?"tanya Benedict, tatapan tajamnya mengintimidasi Rara, "lalu apa yang harus kita lakuin?"


Fernando menyunggingkan senyumannya, "kalau tentang dia, biar jadi urusan gue Ben, mending kita kerjain keluarganya, kalau sampai dia buka mulut,"


Tubuh Rara menegang,


"Rara sama Ayu itu sebelas dua belas senengnya kabur-kaburan, kalau bukan karena cinta, abis nih cewek,"lanjut lelaki dengan mata hijau itu.


"Makanya Ra, jangan ingin tau urusan laki, jadi repot kan?"


Benedict menyahuti ucapan sahabatnya.


"Saran saya ya Amara, tutup mulut rapat-rapat, jangan beri tau siapapun, anggap aja kamu tidak pernah tau, kecuali jika kamu ingin kehilangan keluarga satu per satu,"


Fernando mendekat, ia menunduk, "kamu dengar itu Rara sayang, jadi mulai sekarang lupakan rahasia kami, tetaplah jadi istri penurut,"


Usai mengatakannya, Fernando mencium bibir istrinya.


Lalu ia mengajak Ben ke ruangan sebelah, "gue terima misinya Ben,"

__ADS_1


Benedict menunjukan jempolnya.


__ADS_2