
Usai berhubungan intim di seluruh tempat yang ada di rumah baru itu, Fernando dan Rara baru kembali ke Apartemen malam harinya.
Masih ada sahabat putranya yang membantu menjaga Arana.
Menurut pengakuan mereka, balita itu tidak rewel sama sekali.
Keempat remaja itu heran dengan perbedaan raut wajah kedua orang dewasa yang baru datang itu.
Dani sampai menanyakan mengapa Rara terlihat kelelahan, sedangkan Fernando terlihat segar dengan senyum tak luntur dari wajah blasteran itu."Nanti kalau kalian sudah menikah, kalian akan tau jawabannya, ingat ya harus nikah dulu,"sahutnya.
Fernando juga menawarkan liburan untuk keempat remaja itu,
Sedangkan keempatnya kompak menatap Rara yang duduk bersandar di Sofa,
"kenapa pada ngeliatin Uma?"tanya Rara heran.
"Uma Rara kan yang selalu berinisiatif ngajak kita-kita liburan, kita mah ikut aja,"jawab Lucky.
"Yang jelas jangan ke resort , aku nggak mau kejadian dua tahun lalu terjadi lagi,"sela Nicholas teringat saat dirinya kehilangan uma-nya selama tiga hari.
"Itu tidak akan terjadi son,"sahut Fernando yang duduk bersebelahan dengan istrinya.
"Bagaimana kalau ke tempat Nini di Sukabumi?" Dani angkat bicara.
"Boleh tuh, eh tapi kalian berdua nggak apa-apa pergi sama kami terus, bagaimana dengan orang tua kalian?"tanya Rara pada Dani dan Lucky.
Dani menunduk sedangkan Lucky menghela nafas, hal itu membuat Rara heran.
Nicholas memberi kode pada Uma-nya supaya tidak menanyakan hal itu kepada kedua sahabatnya.
Namun tiba-tiba Dani berucap, "Aku di rumah suntuk Uma Rara, kedua orang tuaku selalu ribut, aku nggak tau alasannya, rumahku kayak neraka,"
Rara mengangguk lalu menatap Lucky,
"Sebenarnya alasan aku selalu meminta bayaran ke Uma ketika liburan, karena ayah aku sedang terlilit masalah hukum, di rumah beliau marah-marah kepada kami anak-anaknya, adik-adik aku sampai sering mengungsi ke rumah Tanteku yang ada di komplek sebelah, tetapi aku sebagai anak tertua tak mungkin selalu menumpang di rumah Tanteku,"jawab Lucky jujur.
"Masalah hukum apa? boleh Daddy tau?"tanya Fernando.
"Papa dituduh menggelapkan dana perusahaan, aku tidak tau persis masalahnya, yang jelas kata papa, sedikitpun beliau tidak pernah memakai uang itu, rekan kerjanya yang melakukan penyelewengan dana itu, tapi sekarang orangnya kabur, Papaku harus mengganti dana yang dipakai oleh rekannya kalau tidak ingin dibawa ke pengadilan,"jelas Lucky panjang lebar.
"Berapa uang yang harus dibayarkan?"tanya lelaki dewasa bermata hijau itu.
"kata papa sekitar sepuluh milyar, sementara rumah kami nilainya tidak sampai satu milyar, aku pusing Daddy, papa marah-marah terus, adik-adik ketakutan,"keluh remaja itu.
"oke, coba bilang ke papa kamu, suruh temui om Alex, nanti beliau yang akan urus, jadi kamu bisa tenang liburan bersama sahabat-sahabat kamu,"
Ketiga remaja itu, kompak menatap Xander, seolah berharap sesuatu.
__ADS_1
"iya nanti aku bilang papaku, puas kalian,"ucap Xander.
"kenapa gue nggak kepikiran papa Lo Xander, beliau kan pengacara plus detektif handal kan,"ujar Lucky menepuk jidatnya.
"Lo kan cuman cerita tapi nggak pernah minta tolong ke gue, terus salah gue gitu?"sahut remaja dengan usia paling muda itu.
"Ya Lo inisiatif lah, yang namanya temen lagi kesusahan,"celetuk Dani.
"iya entar gue bilangin, jadi kita liburan di tempat Nini Fatimah ya,"
Sisanya mengiyakan ucapan Xander.
"oke kalau gitu, Daddy akan mengantar kalian lusa,"
"nggak usah mas, kan kerjaan kamu banyak mendekati tahun baru,"ucap Rara.
Fernando menghela nafas, kesal tapi tak ada pilihan lain, tanggung jawab pekerjaan membuatnya tak bisa selalu bersama keluarga kecilnya.
Ya begitulah kehidupan Rara, karena sering berjauhan dengan suaminya, ia lebih menghabiskan waktu bersama anak-anaknya dan ketiga remaja itu.
Entah Saat sehari-hari atau liburan, supaya dirinya tak merasa kesepian.
Rara sendiri yang mengemudikan mobil menuju Sukabumi mengunjungi mertuanya juga mengawasi remaja itu liburan.
Sedangkan suaminya seperti biasanya, akan sangat sibuk dengan pekerjaannya ketika mendekati pergantian tahun.
Umi Fatimah menyambut suka cita kedatangan menantu beserta cucu dan ketiga remaja itu.
Selain menghabiskan waktu liburan di rumah umi Fatimah, mereka juga mengunjungi villa dan tempat wisata alam di kabupaten Sukabumi.
Sebenarnya keempat remaja itu ingin naik gunung, namun Umi Fatimah melarang dikarenakan curah hujan yang cukup tinggi.
Tak terasa waktu berlalu, liburan usai semua kembali ke aktivitas masing-masing.
Rara masih tinggal di Apartemen, pagi-pagi ia akan menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, mengantar Nicholas sekolah, sambil menunggu putranya pulang, terkadang masih menemui Cristy atau mengunjungi rumah barunya, guna berbaur dengan para pekerja yang sudah menempati rumah itu.
Ada sedikit yang membuatnya bingung, Cristy akan mengundurkan diri mengurusi bisnisnya, ada orang asing yang menawarinya sebuah pernikahan, wanita berwajah oriental itu merekomendasikan mbak Cici yang sering membantunya mengurusi bisnis online.
Rara sedih, namun tak mungkin menghalangi kebahagiaan sahabatnya.
Dua pekan setelah pergantian tahun, Fernando baru kembali.
Lelaki itu mengundang Umi Fatimah, serta sahabatnya untuk makan bersama sebagai bentuk rasa syukur, rumah miliknya telah jadi dan siap untuk ditempati.
Fernando juga membagikan makanan kepada para tetangga dilingkungan rumah itu.
Akhirnya rumah hasil pemikiran anggota keluarga kecil itu telah mulai ditempati.
__ADS_1
Umi Fatimah menempati kamar di lantai satu, Nicholas dan Arana menempati kamar Lantai dua, sedangkan Sang Tuan dan nyonya rumah menempati kamar dilantai paling atas.
Awalnya Rara sempat meminta Arana untuk sekamar dengannya memakai boks bayi seperti biasa, namun Fernando tak mengijinkan, karena walau beda lantai, keduanya masih bisa memantau balita itu dari CCTV yang terpasang, juga ada tangga penghubung di kamar Arana menuju kamar orang tuanya.
Terkesan egois memang, lelaki blasteran itu, karena lantai tiga dikhususkan hanya untuk dirinya dan istrinya.
Kolam renang yang dilantai tiga terinspirasi dari resort yang di Bali, hanya saja atap bisa dibuka dan tutup, jika istrinya ingin berenang maka privasinya masih bisa terjaga, dikarenakan tak jauh dari rumah ada gedung perkantoran yang lantainya lebih tinggi dari rumah miliknya.
Usai acara makan bersama, Umi Fatimah ijin pulang Sukabumi, sebenarnya Rara lebih senang jika mertuanya tinggal bersama seperti dulu tapi perempuan paruh baya itu mengatakan dirinya harus mengurusi kebun dan kolam ikan miliknya.
Alhasil hanya ada keluarga kecil itu juga para pekerja yang tinggal di rumah belakang.
Fernando sedang mengajukan pengunduran dirinya pada Benedict, lelaki itu menginginkan untuk menetap di ibukota bersama istri dan anak-anaknya, namun belum juga dapat jawaban dari sahabatnya itu.
Fernando melakoni perannya dengan baik, ia mengajari putranya menaiki motor juga mengemudikan mobil, terlambat memang, tapi tak apa, setidaknya Nicholas sudah siap secara umur.
Sesuai saran Rara, putranya boleh membawa motor ke sekolah jika sudah memiliki surat ijin mengemudi.
Malam itu usai melakukan kegiatan berperang peluh, kedua suami istri itu melakukan pillow talk,
"Makasih ya Ra, kamu benar-benar melengkapi hidupku, kamu istri dan ibu yang baik untuk anak-anak, kamu nurut sama aku, selalu mengerti dan setia meskipun aku nggak setiap saat sama kamu,"
Ucapan Fernando terhenti, ia mencium kening istrinya lalu menatap wanita yang berhadapan dengannya, "aku juga terima kasih karena kamu mau menerima masa lalu aku yang kelam, yang paling aku salut dari kamu, adalah saat kamu mau menerima dan menganggap Nicholas sebagai anak kandung kamu,"
Fernando membelai rambut panjang milik Rara, "aku jadi tau maksud Umi, kenapa dulu kekeh banget dalam memilih calon menantunya, aku nggak boleh asal hanya karena nyaman lalu menjadikan wanita yang sedang berhubungan dengan aku sebagai istri, ternyata semua itu tidak cukup, wanita yang Soleha, yang taat beribadah, dan mencintai aku dengan tulus, bukan karena wajah dan uang yang aku punya,"
"Seperti kamu yang sama sekali nggak silau dengan harta yang aku miliki, kamu mencintaiku tulus dan menerima aku apa adanya, terima kasih ya Amara, semoga kehidupan kedepannya kita selalu bersama hingga maut memisahkan,"
Rara mengangguk, wanita itu mencium punggung tangan suaminya, "Iya mas, aku juga terima kasih, berkat kamu aku bisa lebih berani, hidupku juga lebih berwarna,"
"Dan maaf ya aku yang masih suka ngambek,"
Fernando tertawa, selama ini memang istrinya suka ngambek dan beberapa kali mengomel, apalagi saat mereka berada di Amerika.
"Iya Rara sayang, aku juga minta maaf kalau waktu aku sedikit buat kamu, dan aku selalu memaksa kamu untuk menerima keinginan aku,"
Rara mengangguk lalu memeluk suaminya erat, karena tubuh keduanya masih polos, sesuatu yang tadinya lemas kembali berdiri tegak.
Keduanya melihat kearah bawah, "kamu membangunkan dia lagi Amara,"
Semudah itu hasrat Fernando bangkit ketika bersama istrinya, hanya wanita itu yang membuatnya begitu tergila-gila dan ketagihan ingin melakukannya lagi, padahal ini udah beberapa tahun dirinya mengenal Amara.
Wanita terbaik yang paling ia cintai setelah umi Fatimah, setiap malam sebelum tidur, ia berucap syukur karena memiliki kehidupan membahagiakan setelah bertahun-tahun hidup dalam jurang kemaksiatan.
Kemarin sebelum uminya kembali ke Sukabumi, dirinya berucap terima kasih, karena dulu cerewet dalam masalah calon istri, hingga ia membawa Amara Cahyani gadis asal Malang, untuk pertama kalinya Umi Fatimah menyetujui pilihannya.
Selain sebagai Istri, Amara adalah partner diskusi yang menyenangkan, berfikiran luas dan yang utama mau menerima segala kekurangan juga kelebihannya.
__ADS_1
Sebuah keberuntungan yang menghampirinya sepanjang ia hidup, menikah dengan wanita yang ia cintai.
Amara untuk Fernando.