
Rutinitas rutin di setiap akhir pekan antara Rara dan Nicholas, yaitu membuat sarapan bersama, kali ini karena wanita dengan daster batik itu belum berbelanja, jadi hanya pancake yang mereka buat.
kegiatan itu membuat ibu dan anak tiri itu semakin akrab, tentu tanpa adanya Fernando, kalau tidak terpaksa, lelaki itu mana mau melakukan pekerjaan rumah.
Dengan alasan menjaga Arana, Fernando lebih memilih bermain dengan putrinya di kamar.
Karena hanya membuat pancake sederhana, kegiatan memasak itu selesai dalam waktu singkat.
Dan disinilah mereka berkumpul, di meja makan dengan empat kursi, dan satu kursi khusus untuk balita.
Fernando dan Rara duduk berdampingan, bersebrangan dengan Nicholas juga Tamara.
Awalnya mereka diam, sibuk dengan sarapannya masing-masing, hanya Rara yang sesekali mengajak Arana bicara.
Hingga, "kamu tau Nicho, Daddy paling suka sandwich buatan mommy loh, setiap mommy membawakannya, pasti langsung dihabiskan,"ucap Tamara angkat bicara.
"Ra, besok aku aja yang buat sarapan ya! Nando pasti kangen sama Sandwich buatan aku,"pintanya pada Rara.
Yang diajak bicara hanya menanggapinya dengan senyuman lalu mengangguk.
Fernando tak menanggapi, ia lebih fokus menikmati sarapan buatan istrinya.
merasa tidak ditanggapi oleh Fernando, Ibu kandung dari Nicholas kembali membuka mulut, "Yang buat mommy senang, Daddy lebih memilih mengantarkan mommy pulang dari pada main basket bersama sahabat-sahabatnya, saat itu kami saling mencintai, coba kita lebih dulu ketemu Daddy mungkin kita bertiga sudah bahagia,"
mendengar hal itu, Fernando mulai kesal, ia melirik istrinya, namun seolah tak terpengaruh dengan ucapan itu, Rara tak bereaksi apapun.
hingga sebuah sentuhan di paha Fernando membuat lelaki itu hilang kesabaran, ia membanting garpu dengan keras, lalu bangkit menuju ke ruang kerjanya.
Tak cukup sampai disitu, dengan tak tau malunya, Tamara, bercerita tentang masa muda dirinya dengan Fernando, bagaimana saat itu keduanya menjalin kasih.
Lama kelamaan, Nicholas mulai risih dengan tingkah mommy-nya, ia melirik Ibu sambungnya yang masih menyuapi Arana.
"bisakah mommy diam,"ujar remaja itu pada Tamara.
"mommy hanya ingin kamu tau, jika kami saling mencintai,"ujarnya.
__ADS_1
"tapi itu dulu mommy, sekarang nyatanya Daddy sudah punya istri, tolong hargai itu,"
"kenapa kamu tidak mendukung mommy? bukankah kamu ingin memiliki keluarga utuh? mommy hanya berusaha untuk kebahagiaan kamu,"
Malas menanggapi, Nicholas lebih memilih menghabiskan sarapannya.
Selesai dengan sarapannya, Rara mulai membereskan peralatan bekas makan, untuk dicuci, namun Nicholas mencegahnya,
"biar aku aja, uma jaga Arana,"ucapnya sambil mengambil alih tumpukan piring.
Rara mengucapkan terima kasih lalu menggendong Arana menuju kamarnya.
Untuk mengalihkan rasa kesalnya, Fernando lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Hingga pintu ruang kerjanya terbuka, Fernando yang terlalu fokus, tak menyadari siapa yang masuk.
Lelaki itu pikir itu putranya, "kata Uma, Senin depan kamu ujian semester? belajar lebih giat Son, akan Daddy beri hadiah jika nilai kamu bagus,"
Bukan jawaban yang terdengar melainkan, rangkulan dilehernya, sebuah benda kenyal nan basah mendarat di pipinya.
Fernando sedikit terkejut, karena terlalu fokus bekerja, ia tak menyadari bukan putranya yang datang tapi Tamara.
Tamara jatuh terduduk, terdengar suara mengaduh dari mulut wanita itu.
"kamu kasar sama aku sih?"keluhnya.
Fernando bangkit dari duduknya, ia menatap tajam mantan pacarnya itu, "dari semalam, aku nahan untuk nggak mencekik kamu, apa kamu lupa, pernah menandatangani perjanjian bahwa setelah kamu menerima uang kompensasi dari aku, kamu tidak akan mengganggu keluarga aku, bisa saja aku membawa masalah ini ke pengadilan sesuai dengan perjanjian yang tertera, dan kamu akan dikenakan denda juga hukuman kurungan penjara,"
Tak mudah menyerah, Tamara bangkit, lalu memeluk Fernando erat, "aku hanya berusaha mewujudkan impian putra kita, dia butuh keluarga utuh,"
Fernando melepaskan pelukan dari mantan pacarnya lalu mendorongnya cukup keras,
Lelaki itu menyunggingkan senyumannya kesal, "kamu tidak perlu sampai seperti itu, sepertinya di usia Nicholas tidak lagi butuh mommy macam kamu, Nicholas sudah cerita kelakuan kamu dulu pada dia,"
"Aku tau kamu melakukan ini, agar aku menyuntikkan sejumlah dana ke perusahaan papa kamu bukan? tau begini, dulu aku buat gila saja papa kamu ya!"
__ADS_1
Tamara yang mendengarnya dengan jelas, terkejut dengan ucapan Fernando.
"jadi itu perbuatan kamu? kenapa kamu lakukan itu? kenapa ini balasan kamu setelah aku membesarkan anak kita dengan baik?"tanya Tamara tak terima.
"dengar ucapan aku baik-baik, siapapun akan aku singkirkan jika mengganggu ketenangan keluarga aku, terutama istri aku,"
"kalau kamu mau hitung-hitungan itu tidak sepadan dengan apa yang aku lakukan buat kamu, apa kamu lupa siapa yang membiayai pengobatan kangker kamu hingga sembuh? apa kamu pikir itu uang yang sedikit? belum lagi biaya hidup kamu selama menjalani pengobatan, dan uang kompensasi yang aku berikan, harusnya sepadan karena kamu telah melahirkan dan membesarkan Nicholas,"
"kenapa kamu jahat banget do? apa kamu lupa bagaimanapun aku pernah mengisi hari-hari kamu?"
"Apa aku dulu pernah meminta, kamu mengejar-ngejar aku, apa aku pernah menyatakan cinta sama kamu? bukankah masalah tidur bersama, kamu yang merayu aku, apa aku pernah memintanya? kamu yang melemparkan diri ke aku, sebagai remaja labil tentu aku tergoda saat itu, aku normal, tapi tidak dengan sekarang,"
"ini peringatan terakhir dari aku, jika kamu mengusik keluarga aku lagi terutama Rara, aku tidak akan segan membuat keluarga kamu jadi pengemis di jalanan, jangan kamu pikir aku tidak bisa melakukannya,"
"jadi silahkan enyah dari sini, aku tidak mau melihat kamu lagi, aku kasih waktu lima belas menit, bereskan semua barang-barang kamu,"
Merasa usahanya sia-sia, Tamara keluar dari ruang kerja Fernando sambil menangis.
Sepeninggal mommy dari Nicholas, Rara masuk melalui pintu penghubung,
"aku dengar semua pembicaraan kalian, aku nggak nyangka kamu sekejam itu, demi kepentingan pribadi kamu tega membuat orang lain jadi pengangguran, jahat kamu,"ucap Rara kesal.
"Dia yang mengusik aku dulu,"Fernando membela diri.
"kalau kamu merasa terusik, seenggaknya, cukup mbak Tamara yang kamu beri pelajaran, kenapa jadi orang yang tak tau apa-apa?"
Fernando menghela nafas, "oke aku salah, aku minta maaf, sekarang puas bukan?"
"salah alamat kamu minta maaf ke aku, pokoknya sekali lagi kamu berbuat jahat lagi, aku akan pergi dari kamu,"ancam Rara sambil berlalu menuju kamar.
Dilain sisi di kamar yang ditempati Tamara, wanita itu masih terisak sambil membereskan baju-bajunya,
"bukankah Nicho sudah peringatkan ke mommy, untuk tidak mengusik keluarga Daddy?"ujarnya memperingati wanita yang melahirkannya.
"mommy hanya ingin kamu mendapatkan kasih sayang yang lengkap Nicho,"
__ADS_1
"itu udah nggak perlu, saran Nicho, hiduplah dengan baik tanpa menyinggung Daddy, maaf Nicho tidak bisa bantu mommy,"
Selesai membereskan barang-barangnya, Tamara keluar dari apartemen tanpa berpamitan dengan empunya, ia hanya diantar oleh putranya.