Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
lima puluh satu


__ADS_3

Pagi harinya, Fernando mengajak  Aileen berjalan-jalan sekitaran komplek, balita dua tahun itu terlihat tertawa lepas saat berjalan pada rumput di taman komplek, telapak kakinya kegelian ketika menginjak rumput yang hijau.


Mungkin Anaknya akan tertawa senang ketika ia mengajaknya bermain di taman, membayangkan itu, Fernando tersenyum sendiri.


Namun ia sadar, kali ini ia butuh kesabaran untuk kembali mendekati kekasihnya itu.


Puas bermain di taman, Fernando mengajak Aileen untuk pulang ke rumah,


Fernando baru masuk dengan menggendong Aileen, ia melihat sahabatnya sendirian, "Ben, Ayu mana? Gue mau ngomong,"tanyanya sambil menghampirinya.


"Emang semalam nggak cukup buat Lo ngobrol sama bini gue?"tanya Benedict kesal.


"Gue belum selesai ngomong, Lo keburu dateng,"


"Kalau niat Lo mau nanya-nanya soal Amara mendingan Lo nggak usah banyak berharap deh, kayaknya Ayu nggak setuju,"


"Kenapa emang?"


"Lo kan brengsek Do,"


"Kayak Lo nggak aja,"Fernando menimpali sahabat sekaligus bosnya.


"Tapi setelah gue kenal bini gue, gue udah nggak kayak gitu,"


Fernando memberikan Aileen pada salah satu maid dan menarik tangan sahabatnya hingga ke halaman samping rumah.


"Bukan cuman Lo sama Rama, yang pengen dapat cewek baik-baik dan menjalani rumah tangga yang normal pada umumnya, gue juga mau, Lo harusnya paham maksud gue, Lo ngalamin juga kan?"


Benedict menghempas tangan sahabatnya kasar, "bangsat, gue beda sama Lo, seenggaknya gue nggak mainin cewek, nggak celup sana sini,"tunjuknya.


Fernando tersenyum sinis, "jangan mentang-mentang Lo bos gue, Lo bisa seenaknya sendiri, apa Lo lupa, dua Kali gue bawa bini Lo buat balik ke Lo lagi, setelah apa yang Lo lakuin ke dia? Apa Lo mau gue bikin bini dan anak Lo pergi dari Lo selamanya? Gue itu paham banget sifat bini Lo, dan gue pegang kartu As Lo,"


"Bangsat,"Benedict memaki Fernando dan memberikan satu bogem mentah ke pipinya hingga tersungkur di rerumputan.


Lagi-lagi Fernando tersenyum sinis, ia memainkan lidahnya didalam pipi yang terkena pukulan, lumayan sakit.


"Sini bikin gue babak belur, biar Ayu liat kelakuan Lo kayak apa, terus gue tinggal bongkar kartu AS Lo,"tantangnya.


Benedict mencekik leher sahabatnya, "Lo ngancam gue, bangsat, Lo tau siapa gue kan?"


"Terusin kayak gini Ben, dan siap-siap Ayu bakal ninggalin Lo, dia lebih percaya gue dibanding Lo,"ucap Fernando dengan susah payah.


Benedict melepaskan sahabatnya yang terbatuk-batuk karena ulahnya,


"Apa mau Lo bangsat?"


"Gue cuman minta buka akses gue buat deketin sahabatnya ayu, buat Gimana caranya, Amara bisa Deket sama gue secara alami,"


Benedict menghela nafas, "oke tapi setelah gue sama Ayu pergi dari sini, selama gue nggak disini Lo bisa berusaha deketin dia, kalau Lo serius, sebelum gue sama Ayu balik, Lo harus udah nikah sama dia, ngerti Lo, dan sekarang mending Lo balik, jangan sampai Ayu liat muka Lo,"


Senyum sumringah terlihat di wajah Fernando, "dari tadi kek Ben, ribet Lo, gara-gara Lo wajah tampan gue jadi jelek,"


"Berisik, cabut Lo!"usirnya.


Fernando meninggalkan sahabatnya, ia tersenyum sendiri, ya tidak masalah wajah tampannya memar, lehernya sakit, toh dia bisa mendekati kembali kekasihnya.

__ADS_1


Namun sepertinya ia harus membuat perhitungan dengan Benedict, ia kesal sekali, ia mendapati kekasihnya malah berkerja di rumah sakit tempat Oscar dan Natasha bekerja.


Hari terakhir sahabatnya berada di ibukota, membuat Rara mau tak mau mengunjungi Ayudia sepulang berkerja dari rumah sakit, sudah tiga hari ini ia mulai bekerja di sana.


Kedua sahabat itu mengobrol di kamar balita kembar itu, melihat nuansa kamar, Rara teringat akan bayinya yang telah tiada mungkin jika bayinya masih hidup, sekarang sudah sebesar si kembar,


Matanya berkaca-kaca mengingat itu, ia mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin sahabatnya tau masa lalu kelam yang ia alami, ia malu.


Dengan segera Rara berhasil mengubah ekspresinya,


"Di, gue nggak nyangka laki Lo sekaya ini? Terus ngapain Lo mau jadi TKW?"tanya Rara heran, ketika keduanya, sedang berbaring dengan Aileen yang berada diantara mereka.


"Kan gue ngikutin laki gue kerja keluar negeri, bukannya sama aja kaya TKW ya!"


"Ya beda lah Dia, kalo TKW Lo mesti ditempat penampungan dulu, sebelum siap kerja di luar negeri, nah Lo kan ngikutin suami Lo kerja, sama kaya liburan alias honeymoon,"


"Tapi gue nggak tega ninggalin anak-anak gue, ini pertama kalinya gue jauh dari mereka dalam waktu yang lama, jujur aja, gue males berangkat, apa gue kabur aja ya!"


"Jangan gila Lo Di, dosa pergi tanpa ijin suami,"ujar Rara mengingatkan.


"Abisnya gue heran sama laki gue, masa dia mau nyari duit, bininya diajak, kan ada anak-anak yang lebih butuh kasih sayang ibunya, laki gue kan udah gede, bisa ngurus dirinya sendiri,"


"Ya mungkin laki Lo punya alasan khusus sehingga istrinya harus ikut bekerja,"


"Lo nggak tau sih laki gue kek apa, badan gede, tapi kelakuannya kayak bocah,"


"Bersyukur aja dia, banyak orang yang pengin diposisi Lo, punya anak kembar, laki Lo kaya lagi,"


Ujar Rara menasehati sahabatnya. "Eh gue mau cerita, gue kapan hari ketemu sama Dikta, dia nanya ke gue, apa gue udah ketemu Lo, ya gue jawab, udah ketemu, kayaknya dia masih sayang banget sama Lo deh,"lanjutnya bercerita.


"Gue ketemu pas lagi makan siang di kantin rumah sakit tempat gue kerja,"jawab Rara


"Di rumah sakit? Emang siapa yang sakit?"


"Tante Arini dirawat, katanya abis operasi, tapi gue lupa nanya abis operasi apaan,"


Rara bisa melihat wajah tidak tenang sahabatnya.


"Kenapa Lo? Kok kayak nggak tenang gitu sih? Oh ya besok Lo jalan jam berapa?"


Seketika perempuan dua anak itu berusaha menutupi rasa gelisah nya, "gue nggak kenapa-napa kok, gue belum nanya laki gue kapan berangkat, pas gue mau siapin barang-barang, katanya nggak usah, cukup bawa diri aja katanya,"


"Emang laki Lo bakal kerja dimana? Kok santai banget, harusnya kalau mau pergi keluar negeri kan sibuk packing-packing, ini malah santai banget, kayak nggak kemana-mana," ucap Rara heran.


"Gue nggak tau tepatnya dimana, yang jelas kata laki gue, kerjanya di pulau mau bangun resort,"


"Emang laki Lo kuli bangunan?"


Ayudia tertawa, "bukan, Laki gue Arsitek,"


"Arsitek tapi bisa punya rumah mewah kayak gini, hebat banget laki Lo,"


"Kerjaannya Bukan Arsitek doang Ra,"


"Emang kerjaan yang lain apaan?"tanya Rara, sebenarnya ia sudah tau jika suami sahabatnya adalah bos dari lelaki itu, namun ia pura-pura tidak tau apa-apa.

__ADS_1


"Dulu jadi CEO, sekarang udah nggak, cuman kerjaan ngawasin aja,"


"Pantes bisa punya rumah mewah kayak gini, beruntung Lo Di, tapi ngomongin soal Dikta, laki Lo tau soal cinta pertama Lo nggak?"


Ayudia mengangguk, "bahkan laki gue tau, gue pernah menangisi Dikta,"


"Kok bisa?"ucap Rara terkejut, "jangan bilang Lo masih sayang sama Dikta?"


"Itu dulu Ra, waktu awal gue baru nikah, sekarang gue sayang kok sama laki gue,"


"Syukur deh, jangan main api Di, kasihan anak-anak Lo,"


"Iya gue tau, makasih ya, tidur yuk,"ajak Ayudia merebahkan diri diantara Aileen dan Ainsley.


Keesokan paginya setelah subuh, Ayudia meminta ijin pada suaminya untuk mengajak anak-anak berjalan-jalan disekitar taman kompleks bersama Amara.


Ayudia menaiki motor matic  Ainsley berdiri didepannya sedangkan Aileen bersama Amara memboncengnya dibelakang.


Dari lantai atas Benedict bersama sahabatnya melihat kepergian istri dan anak-anaknya.


"Tumben Lo izinin Ayu pergi dari rumah, nggak khawatir Lo?"tanya Fernando angkat bicara.


"Ya anggap aja, lagi pamitan sama kota ini, bilangnya cuman sekitaran taman komplek kok,"jawab Benedict terlihat santai.


"Masa ke taman komplek sampai naik motor, bukannya jalan kaki kan bisa?"ujar Fernando lagi.


"Ngapain si do, Lo sengaja memanaskan suasana ya,"sahut Alex.


"Ya gue cuman pengen ngomong aja, emang kenapa? Lo ngerasa panas Ben?"tanya Fernando lagi.


"Nggak kapok Lo abis ditonjok belum lama,"Oscar menyela.


Fernando tertawa, "kagak, sebelum Ben penuhi permintaan gue,"


"Emang permintaan apaan? Emang bonus yang diterima Lo masih kurang gede?"giliran Rama yang berbicara.


"Ini bukan masalah duit Rama, ini menyangkut masa depan gue," ucap Fernando.


Benedict menghela nafas, "Do kan gue bilang, nanti tunggu gue sama Ayu cabut dari sini, gue nyari aman, Ayu nggak setuju kalau Lo sama dia, katanya dia terlalu bagus buat Lo yang brengsek,"


Alex, Oscar dan Rama mengernyit heran, bingung apa yang dimaksud kedua sahabatnya itu.


"Entar kalau diambil sama yang lain, Lo mau tanggung jawab?"tanya Fernando tak terima.


"Berarti belum jodoh,"jawab Benedict santai.


"Lo ngomong begitu, artinya gue bakal bikin Ayu ninggalin Lo, siap-siap aja Ben,"ujarnya menepuk bahu sahabatnya sambil berlalu keluar dari ruang kerja sahabatnya.


Namun belum sampai pintu Benedict berteriak, "berani Lo ngelakuin itu, abis Lo sama gue,"


Fernando berbalik, "silahkan, dan Lo bakal kehilangan anak bini Lo selamanya, ingat Ben, Ayu lebih percaya gue dibanding Lo suaminya sendiri,"


Benedict yang memang orang yang gampang emosi jika menyangkut istrinya, menghampiri Fernando dan memberikan satu pukulan di perut lelaki itu,


"Gue nggak akan biarkan Ayu pergi dari gue, gimanapun caranya, ancaman Lo nggak berefek apapun bangsat,"

__ADS_1


Fernando tertawa, "kita lihat Ben, apa yang akan terjadi kedepannya,"ujarnya bangkit keluar dari ruangan itu.


__ADS_2