Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tiga puluh


__ADS_3

Keesokan harinya saat ada mbak Narti, Rara menitipkan Arana yang sedang tidur di boks bayi, sementara dirinya akan mengajak Nicholas menuju pasar  tradisional, ada beberapa keperluan dapur yang akan dibelinya.


Remaja itu belum bisa menaiki motor, selama di Sukabumi, umi Fatimah melarang,


Sehingga Nicholas hanya membonceng Rara dibelakangnya.


Ini pengalaman Nicholas pertama kalinya menginjakan kakinya di Pasar Tradisional.


Di tempat Nini-nya belum pernah sekalipun ia diajak mengunjungi pasar yang ada di sana.


Bukan pasar yang becek, seperti pasar tradisional di perkampungan.


Nicholas hanya mengikuti kemana perginya ibu sambungnya.


Akan ada acara nanti malam di rumah, bukan acara khusus, hanya sekedar makan bersama.


Rencananya akan diadakan barbeque di halaman belakang,


Ini pertama kalinya, untuk sekedar mengakrabkan diri.


Semua keperluan nanti malam sebagian sudah didapatkan, perut Rara mulai lapar, dirinya belum sempat sarapan tadi.


Ia menawari Nicholas untuk sarapan disalah satu penjual bakso yang kata orang-orang pasar terkenal enak.


Rara memesankan untuk Nicholas, lalu mengajaknya duduk di bangku kayu panjang, berbagi dengan pengunjung lain.


Karena wajah bule Nicholas beberapa orang sampai menengok dua kali hanya karena ingin melihat remaja bule nyasar di pasar.


Bakso pesanan keduanya telah tersaji, mereka mulai memakannya, sembari makan Rara mengajak remaja itu berbicara.


"Nicho, apa ini pertama kalinya kamu makan ditempat seperti ini?"tanya Rara disela-sela makannya.


Remaja itu mengangguk, "pengalaman pertama, tapi seru juga, meskipun berisik sekali,"


Rara tertawa, "maaf ya, setelah diajak ke mall, Uma malah mengajak kamu ke tempat seperti ini,"


"Aku suka, tak masalah,"


Mereka melanjutkan makannya hingga tandas.


Tak lupa membungkus untuk mbak Narti


Sebelum pulang, Rara membeli beberapa kue tradisional yang kebetulan ia lewati saat berjalan menuju parkiran motor.


Di parkiran motor, Rara bertemu dengan Irwan yang sedang duduk di bangku panjang menunggu Arini berbelanja.


Rara menyapanya Ramah,


"Maafkan Om, belum sempat mengunjungi kamu, setelah kamu melahirkan,"ucap Irwan merasa bersalah.

__ADS_1


"Nggak apa-apa om, Dikta bilang om lagi ada kerjaan diluar kota,"


"Iya Ra, abisnya kalau diem di rumah om suka bosan, jadi om ikut kerja sama temen, iseng aja,"


"Yang penting jaga kesehatan om, jangan kecapekan,"ujar Rara mengingatkan.


Menyadari Rara tidak sendiri, Irwan menanyakan remaja yang wajahnya mirip sekali dengan lelaki yang pernah memukuli Pradikta.


"Oh ya om, Rara lupa, kenalin Anak aku, namanya Nicholas,"


Kedua lelaki beda generasi itu saling bersalaman.


Tak lama Arini datang membawa beberapa kantong plastik berisi belanjaan.


Rara memeluk wanita paruh baya yang rajin sekali mengiriminya kue untuknya.


Arini pernah datang bersama Pradikta untuk melihat Arana dan membawakan hadiah untuk bayi itu beberapa hari setelah kepergian Fernando.


Mereka berbicara hanya sebentar dikarenakan hari semakin siang, sehingga Rara pamit pulang terlebih dahulu.


Rara dibantu Nicholas menyiapkan makanan yang akan dimasak nanti malam.


Sore hari, Sinta dan Rama datang terlebih dahulu bersama Rayan,


setelah magrib, Oscar datang bersama Anindia juga Ainsley dan Aileen.


Natasha dan kama datang hampir bersamaan dengan Cristy.


Ketiga sahabat Benedict sempat terkejut dengan kedatangan mantan pacar Fernando, mereka tak menyangka Cristy begitu akrab dengan Rara dan tak segan menggendong Arana.


Bagian bakar-bakar adalah tugas ketiga lelaki dewasa itu, sesekali direcoki oleh dua remaja dengan gender yang sama.


Sedangkan para wanita menyiapkan tempat dan minuman untuk mereka.


Para wanita bercerita tentang hari mereka secara bergantian


Sinta bercerita jika dirinya dan Rama sudah menemukan rumah yang cocok tak jauh dari kediaman Benedict.


Anindia bercerita jika dirinya sedang membuat skripsi dibantu Oscar.


"Ra, dress yang kamu kirim itu, ada beberapa temen kantor nanyain, katanya mereka mau beli, aku kasih tau aja akun olshop kamu,"ujar Sandra.


"Makasih banyak mbak udah bantu promosi dagangan aku,"


Sandra mengangguk dan tersenyum.


Hanya Cristy yang lebih banyak mendengar, bersuara jika ditanya, itupun Rara dan Anindia yang bertanya.


Para lelaki bergantian membakar daging dan jagung tak  ketinggalan sosis.

__ADS_1


"Itu nggak salah Amara ngajak Cristy? Kalau Nando tau, kira-kira ngamuk nggak ya!"ujar Oscar.


"Sandra cerita sama gue, Amara ngajak join Cristy buat jadi model baju yang dijual gitu,"sahut Alex.


"Mudah-mudahan nggak sampai ngamuk,"ungkap Rama.


"Lo berdua udah dapat kabar, dari Ben sama Nando?"tanya Oscar.


Rama menggeleng sedangkan Alex mengangkat bahunya.


"Tumben akurnya lama itu orang, heran gue,"ungkap Oscar.


"Ya bagus OS, dari pada berantem Mulu, kita yang pusing gimana cara melerai,"ucap Rama.


"Lo berdua liat deh, Nicho sama Xander akrab ya? Kayak gue sama Nando, kira-kira brengseknya sama nggak ya?" Tanya Alex yang melihat keakraban dua remaja itu.


"Gue rasa mereka bukan tipe cowok yang seneng mainin cewek, kayak Lo,"sahut Rama, "kalau gue lihat, mereka anak baik-baik, kayaknya cenderung dingin sama cewek deh,"lanjutnya.


"Gue rasa juga gitu ram, mereka nggak kayak Alex apalagi Nando, mungkin emak-emaknya mendidik jangan sampai kayak bapaknya,"ujar lelaki yang berprofesi sebagai dokter bedah itu.


"Ngomong-ngomong Lo masih datengin mami OS?"tanya Alex.


"Kenapa bahas itu disini sih Lex, kalau Anin denger bisa bahaya,"


"Tinggal Jawab aja OS, apa susahnya, lagian gue ngomong juga pelan,"


"Kalau butuh pelampiasan doang Lex, Lo tau bukan, gue nggak mungkin berani ngapa-ngapain Anin, bisa abis gue sama Ben,"ucap Oscar jujur.


"Lo main aman Oge, cuman sekadar make out doang, yang penting jangan sampai ngambil keperawanannya,"saran Alex.


"Tapi gue nggak tega Lex, kayaknya kok sayang banget ya, kalau mau gue rusak,"


"Dari pada Lo khianati Mulu, kalau sampai Anin tau, Lo sering sewa ******, gue rasa dia nggak bakal mau sama Lo,"giliran Rama berucap.


"Gue nggak sampai tidur kok, cuman ** doang, yang penting hasrat gue tersalurkan,"ujar Oscar membela diri.


"Sama aja pak dokter, judulnya Lo sama cewek lain, apalagi Anin bisa dibilang masih labil, saran gue Lo berhenti deh, sebelum tambah runyam,"


"Kalau gue berhenti, kepala gue pening, apalagi setiap abis jalan sama Anin, gue nahan hasrat gue mati-matian,"


Alex mendekati Oscar dan berbisik, "kocok sendiri bro, apa perlu gue beliin boneka dari jepang?"


Oscar mengumpat keras, hingga membuat para wanita menoleh,


Mendapatkan tatapan bertanya pujaan hatinya, Oscar menjadi malu, wajahnya memerah.


Usai semua  matang, mereka makan bersama di ruang tengah,


Saling melontarkan candaan mewarnai acara makan-makan sederhana itu.

__ADS_1


__ADS_2