Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
delapan


__ADS_3

Pagi hari tepat pukul delapan pagi, Fernando turun menuju lobi, ia menunggu gadis yang memiliki kesukaan sama dengannya.


Lelaki itu mengenakan celana pendek selutut berwarna hitam senada dengan kaos lengan pendek, ada jaket Hoodie dengan warna yang sama juga ransel dibelakang punggungnya.


Penampilannya hari ini serba hitam, yang menambah kadar ketampanan pria blasteran itu, beberapa kali perempuan yang melewatinya sampai dua kali memandanginya, mungkin terpesona dengannya, hal yang sudah biasa ia alami.


Fernando melihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu sudah berlalu lima belas menit, tapi gadis itu tak kunjung datang.


Apa gadis itu menipunya? Kenapa rasanya kesal sekali?


Biasanya perempuan yang menunggu Fernando, kenapa sekarang malah dia yang menunggu? Ia merutuki dirinya sendiri, bodoh sekali, mau-maunya ditipu oleh gadis asing itu.


Hingga tiga puluh menit berlalu dari waktu yang ditentukan, Fernando memutuskan untuk keluar dari lobby, ia berjalan menuju parkiran motor, namun baru beberapa langkah, suara itu memanggilnya.


Suara yang sepanjang sore hingga malam kemarin terdengar di kedua indera pendengarannya.


Fernando melihat ke arah sumber suara, terlihat seorang gadis dengan kaos lengan panjang berwarna maroon dengan celana jeans hitam menggendong tas ransel yang sama seperti kemarin ia lihat, datang terengah-engah Sambil menenteng plastik bening berisi dua bungkus Styrofoam,


"Maaf mas, saya telat, tadi saya ngantri belikan sarapan buat kamu,"ujarnya masih mengatur nafasnya, gadis itu bahkan memegang lengan kekar milik lelaki itu.


"Apa kamu habis berlari kesini?"tanya Fernando.


"Iya mas, saya takut telat, padahal saya sudah berangkat dari pagi, tapi di tukang bubur ayam langganan saya, ngantri banget, mau menghubungi kamu, saya lupa nggak minta nomor hape kamu, maaf ya, kamu marah ya!"jawab gadis itu panjang lebar.


Fernando lagi mengumpat dalam hati, betapa bodohnya ia, sampai lupa memberikan nomor ponselnya pada gadis itu.


"Nggak kok, saya nggak marah,"dustanya, "lalu apa sebaiknya kita berangkat sekarang?"tanya Fernando.


"Lebih baik cari tempat buat sarapan bubur dulu mas,"jawab Rara.


Fernando berjalan menuju parkiran dimana motor yang ia sewa terparkir, sedangkan Rara mengikutinya dari belakang.


Keduanya mulai meninggalkan hotel dengan berboncengan, mereka sempat berhenti sejenak untuk menikmati bubur yang dibeli oleh Rara tadi.


Setelahnya mereka kembali berboncengan menuju ke arah selatan kota, ketempat wisata mata air  yang luar biasa jernih, dengan jarak tempuh sekitar empat puluh menit dari pusat kota.


Rara menunjukan jalan dengan rute tercepat.


Dan sampailah keduanya disalah satu tempat wisata alam terkemuka di kota Malang.


Setelah membayar biaya masuk yang menurut Fernando sangat murah, keduanya mulai berjalan semakin masuk ke dalam tempat indah itu.


Keduanya berpisah, menuju ruang ganti sesuai gender masing-masing,


Suasana tempat wisata itu, terlihat sepi, mengingat ini bukan masa liburan ataupun weekend, hanya terlihat beberapa orang saja.


Fernando hanya mengenakan celana pendek di atas lutut, lelaki itu bertelanjang dada memperlihatkan tubuh kekarnya, dengan six pack pada perutnya, kulit kecokelatan akibat berjemur semakin menambah kesan manly pada lelaki itu.


Tak lama, Rara keluar dari ruang ganti, mengenakan baju renang dengan panjang setengah lengan juga setengah pahanya.

__ADS_1


Keduanya saling pandang ketika tatapan mereka bertemu,


Rara bergumam pelan, "awake apik tenan, kekar nan gagah,"


Sedangkan Fernando mengumpat dalam hati, "****.. bodynya seksi banget,"


Lelaki itu menggelengkan kepalanya, bahkan sampai menepuk kepalanya sendiri untuk mengusir pikiran mesum itu.


Keduanya mulai memasuki kolam dengan air super jernih itu, terlihat disisinya ada tanaman ganggang berwarna hijau, juga ada ikan-ikan kecil yang terlihat berenang, berlalu lalang, indah sekali.


Mereka berenang juga menyelam, airnya terasa segar sekali, benar-benar surga dibawah air.


Fernando yang biasa diving di laut, sampai terkagum-kagum melihat keindahan dibawah sana,


Sayangnya ia  tidak bisa mengabadikan keindahan itu dibalik lensa kameranya, pada perjalanan kali ini, ia lupa tidak membawa kamera anti air miliknya.


Walau kesal, setidaknya keindahan ini akan terekam dalam ingatannya, apalagi ia berkunjung kesini dengan seorang gadis yang sepertinya akan jadi incarannya.


Bisa jadi gadis ini akan jadi pelabuhan terakhirnya nanti, tempatnya pulang dari segala aktifitas yang ia lakukan, entahlah ada sebuah bisikan jika gadis penyuka strawberry itu akan jadi istrinya kelak.


Sudah tiga puluh menit, Fernando berada di air, ia hanya muncul ke permukaan untuk mengambil nafas, ia benar-benar menikmati liburannya kali ini.


Sepertinya ia sudah melupakan sepenuhnya tentang Cristy, bahkan berpuluh telpon dan pesan dari wanita itu tak ia tanggapi sedari dua hari yang lalu.


Lelaki seperti Fernando pantang berbalik ke belakang, ia tak akan menjilat ludah yang telah ia buang, tak peduli apapun yang terjadi.


Diantara kelima laki-laki itu, hanya mereka berdua yang mempunyai hobi bermain wanita, paling Rama yang terkadang khilaf jika didesak oleh mereka sedangkan Benedict dan Oscar hanya sekedar jalan bareng tapi tidak sampai tidur bersama.


Saat sedang menikmati keindahan bawah air itu, ia menyunggingkan senyumannya, betapa brengseknya dirinya, dan sekarang ia berharap mendapat gadis baik-baik untuk dijadikan istri, apakah bisa?


Ada yang menepuk punggungnya saat Fernando sedang asyik berenang, lelaki itu melirik, gadis dengan bibir berbentuk hati itu memberikan kode kepadanya untuk segera naik ke permukaan.


Fernando menurutinya, ia berenang mengikuti gadis dengan baju renang berwarna hitam, betis gadis itu terlihat cerah ada bekas luka yang memudar, sepertinya luka bakar terkena knalpot kendaraan bermotor.


Gadis itu naik terlebih dulu ke pinggir kolam, Fernando masih diam memperhatikan, di paha belakang gadis itu ada bekas luka memanjang, mungkin sekitar sepuluh sentimeter, entah karena apa, tapi itu tak masalah untuknya.


Lagi-lagi Fernando menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran mesum di otaknya setelah melihat pantat semok itu.


Keduanya duduk berdampingan di kursi yang disediakan, Rara memberikan teh manis hangat untuknya, tak lupa senyuman bentuk hati yang menghiasi bibir merah jambu miliknya.


Andai Fernando khilaf, mungkin ia sudah ******* habis bibir itu.


"Kamu kenapa liatin aku segitunya sih? Memangnya ada yang aneh ya sama aku?"tanya Rara bingung, lelaki disampingnya sedari tadi menatapnya terus menerus.


Fernando mengedipkan matanya sejenak, ia mengingat dirinya sendiri untuk tidak agresif dengan gadis yang mengaku masih perawan itu, ia harus perlahan juga bersabar untuk mendapatkan sesuatu yang indah diakhir.


"Kamu cantik,"tanpa sadar Fernando berucap, hingga tersadar ia merutuki mulutnya sendiri, "maaf aku nggak bermaksud menyinggung kamu,"ucapnya tak enak.


Lagi-lagi gadis itu tersenyum memperlihatkan bentuk hati bibir sedari tadi mengganggu otaknya.

__ADS_1


"Gombal kamu, mantan calon suami aku aja nggak pernah bilang aku cantik, bahkan calon suami aku yang sekarang juga sama, mereka selalu bilang aku baik,"ucap gadis itu mulai menggunakan bahasa yang lebih akrab.


"Mungkin mereka perlu memeriksakan mata mereka ke dokter mata,"tutur Fernando asal.


Rara tertawa, lagi-lagi bibir itu membuat Fernando salah fokus,


"Kamu bisa aja, oh ya kamu mau pesan mie rebus pakai telur nggak?"tawarnya, Fernando mengangguk.


Hampir dua puluh menit, lelaki itu hanya terdiam menikmati pemandangan sekitar, air dihadapannya sangat jernih Bahkan dari tempatnya duduk terlihat dasar dari kolam itu.


Gadis itu memberikan mangkok putih bergambar ayam jago berisi mie rebus dengan telur potongan cabai juga sawi, ada saus disisi mangkok.


Fernando menerimanya tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Gimana pendapat kamu soal tempat ini?"tanya Rara sambil menikmati mie rebus beraroma ayam bawang itu.


"Indah banget, nggak sia-sia saya liburan ke tempat ini,"jawabnya sambil mengaduk makanan yang sedang ada di mangkuk itu.


"Memangnya biasanya kalau jalan-jalan kamu kemana?"


"Lebih sering ke laut sih,"


"Apa kamu jadi fotografer pemandangan bawah laut?"tanya Rara penasaran.


Fernando menggeleng, "saya lebih sering diving atau sekedar snorkeling,"


"Aku pikir kamu fotografer pemandangan bawah laut juga,"


"Sesekali saya mengambil foto juga, hanya saja kali ini, diluar rencana saya mengunjungi tempat ini, bahkan saya baru tau ada tempat seindah ini di Malang, saya menyesal tidak membawa kamera bawah air, padahal indah banget dibawah sana,"


"Ya mungkin lain kali, kamu bisa mengunjungi tempat ini, dengan pasangan kamu,"celetuk Rara.


Fernando masih menikmati mie rebus miliknya, ia hanya menyunggingkan senyumannya.


"Setelah ini apa yang akan kita kunjungi selanjutnya?"tanya Fernando,


"Bagaimana jika nanti sore kita ke pantai melihat matahari terbenam?"saran Rara.


"Oke, kalau kamu tidak keberatan, bagaimana jika kamu menemani aku bertemu kolega di Batu? Itupun kalau kamu tidak lelah,"


"Tidak sama sekali, tapi bolehkah nanti aku pulang dulu untuk berganti baju, tidak enak kan, kalau ketemu kolega kamu, dengan penampilan tidak rapih,"


"Baiklah, apa kamu mau aku antar pulang?"


"Tidak usah, aku menemui kamu di lobby hotel saja, seperti tadi,"


"Baiklah, kalau begitu kita berganti baju dulu,"


Keduanya mandi sekaligus berganti baju.

__ADS_1


__ADS_2