
Tepat tengah hari, Rara sampai di lobby hotel, dengan kemeja salur berwarna navy dipadu dengan celana kulot hitam, sepatu sneaker putih juga Sling bag hitam, penampilannya terlihat rapih.
Gadis itu duduk di lobby menunggu kedatangan lelaki yang sedari kemarin bersama dengan dirinya.
Tak lama Fernando datang menghampirinya lelaki itu mengenakan kaos putih ketat dilapisi blazer juga celana panjang berwarna navy.
Lelaki itu terlihat tampan juga berwibawa dengan penampilannya,
Rara menyambutnya dengan senyuman khasnya, membuat Fernando terpana sejenak dengan bibir berbentuk hati itu,
Lagi-lagi lelaki itu berpikiran mesum saat melihat bentuk bibir itu, rasanya ingin menyeret gadis itu ke kamar hotelnya dan mencium bibir itu sepuas hati.
Fernando menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotornya, ia mengajak gadis itu menuju parkiran,
Tadi setelah pulang dari berwisata air, Fernando sempat meminta tolong kepada pihak hotel untuk menyewakan salah satu mobil, untuk berkeliling kota Malang.
Bukan mobil mewah, hanya mobil biasa, tapi tak apa, toh hanya sementara.
Fernando mulai mengemudikan mobil sewaan itu menuju arah kota Batu, sepanjang perjalanan, seperti biasa Rara akan bercerita tentang tempat-tempat yang mereka lalui, dan lelaki itu hanya beberapa kali bertanya balik atau sekedar berdehem.
Berkat penunjuk jalan yang tau betul seluk beluk kota itu, perjalanan hanya memakan waktu tidak sampai satu jam.
Mobil memasuki area villa, yang di pagar depan tertulis pengumuman dijual.
Fernando menghubungi koleganya, dan memberitahukan jika dirinya sudah sampai di villa.
Keduanya turun dari mobil ketika ada dua orang laki-laki keluar dari pintu utama villa.
Fernando menjabat tangan kedua orang itu secara bergantian, Lalu dirinya dipersilahkan masuk dan dimulailah room tour didalam villa itu, juga kebun disekitar villa.
Kedua orang itu secara bergantian menjelaskan keunggulan villa yang akan dijualnya, Fernando diam mendengarkan, sesekali menanggapi, kurang lebih selama lima belas menit, mereka berdiskusi, hingga Fernando merasa cukup mendengar penjelasan mereka.
"Kamu mau beli Villa itu?"tanya Rara saat keduanya baru saja masuk ke dalam mobil.
Fernando memasang sabuk pengaman dan melirik gadis itu sekilas, ia mengemudikan mobilnya keluar villa.
Sambil mengemudikan mobil, Fernando menghubungi salah satu sahabatnya,
"Halo Lex, tolong Lo cari tau villa alamatnya di jalan Xx,"
"...."
"Di kota Batu Malang,"
"..."
"Nggak usah ditanggepin, Lo cukup kasih ke dia apa yang gue bilang di video dua hari lalu,"
"...."
"Bodo amat,"
"....."
__ADS_1
"Ribet Lo, ingat jangan kasih tau gue ada dimana,"
"..."
"Iya gue tunggu kabar Lo secepatnya,"
Fernando mengakhiri panggilannya,
Lelaki itu melirik gadis disampingnya, yang sedang memandangi jalanan.
"Aku belum tau jadi beli atau tidak, sahabat aku yang mau cari tau dulu, tanah atau surat-suratnya resmi atau tidak, kalau menurut kamu gimana?"Tanya Fernando.
"Sebenarnya lingkungannya bagus, tapi kalau nggak salah, ada gosip jika villa itu ada penunggunya, jadi kalau memang villa itu mau disewakan, mungkin agak susah ya,"jawab Rara.
Fernando tertawa, "kamu percaya hantu?"tanyanya.
"Jin aku percaya ada, tapi ini dilihat dari segi keuntungan dimasa depan, kayaknya villa itu kurang menjanjikan, bukankah masyakarat disini masih percaya dengan hal mistis? Tapi saran aku, kalau villa disini sudah banyak, bagaimana jika kamu cari lahan untuk membuat semacam taman bermain atau taman untuk sekedar berfoto, kayaknya bakal menguntungkan di masa depan,"
"Aku terima pendapat kamu, terima kasih ya!"
Rara mengangguk, lalu gadis itu mulai bercerita lagi tentang pantai yang akan mereka kunjungi, yang katanya merupakan spot terbaik melihat sunset seperti yang ada di pulau Dewata.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, mobil mulai memasuki tempat wisata di selatan kota malang,
Pantai yang langsung berbatasan dengan samudera itu, terdapat pura yang dibangun di atas batu karang yang menjorok ke laut, persis seperti yang ada di tanah lot pulau Dewata, hanya saja ada jembatan panjang untuk menuju pura tersebut.
Keduanya menenteng sepatu masing-masing, dan berjalan menuju pinggir pantai,
Suasana pantai lumayan ramai, meskipun bukan weekend, sepertinya mereka sengaja datang untuk menyaksikan sunset.
"Kamu sering kesini?"tanya Fernando ketika keduanya memutuskan duduk menghadap pantai dengan sepatu yang menjadi alas mereka duduk.
"Waktu masih kuliah, lumayan sering kesini, sama temen-temen, naik motor, kalau kamu kayaknya rajin berjemur ya! Apa kamu sering ke Pantai?"jawab gadis dengan rambut yang di kuncir kuda, lagi-lagi dengan ikat rambut berbentuk strawberry.
Lelaki itu menopang tubuhnya dengan kedua tangannya, kaki panjangnya ia luruskan, ia duduk berdekatan dengan gadis yang sedari tadi menemaninya.
"Mungkin sebagian waktu aku, dihabiskan di pantai, dari sunrise sampai sunset,"ujarnya.
"Apa selain fotografer kamu menjadi penjaga pantai? Kalau boleh tau di pantai mana?"tanya Rara mulai penasaran.
Fernando menyunggingkan senyumannya, "apa suatu saat kita bisa berjemur berdua di pantai? Ditempat aku bekerja."tanyanya balik.
"Kok kamu nanya balik? Lagian kalau pantainya masih ada disekitar Malang, mungkin akan aku pertimbangkan,"
"Sayangnya pantainya tidak disini, bukankah aku pernah bilang, kalau aku baru pertama kali mengunjungi kota ini,"
Rara mengernyit bingung, "lalu kamu jadi penjaga pantai dimana? Apa di Bali?"tebaknya.
Fernando tersenyum, "iya aku menghabiskan sebagian waktu aku di Bali, dipinggir pantai, terkadang di pedesaan juga, tergantung ada pekerjaan dimana, asal itu menghasilkan uang, maka akan aku datangi,"
Rere mengangguk seolah paham apa yang lelaki itu katakan, "pekerjaan fotografer memang begitu ya! Lalu kamu mencari villa di Batu untuk apa? Bukannya kamu hanya fotografer?"tanyanya heran.
Langit mulai berubah, tapi keduanya masih asik mengobrol,
__ADS_1
"Fotografer hanya hobi aku, pekerjaan utama aku bukan itu,"
Rara diam berfikir, sambil melihat langit senja berwarna oranye indah sekali, ia meminta salah satu pengunjung untuk mengambil gambarnya menggunakan kamera ponselnya.
Usai mengucapkan terima kasih, Rara menunjukan foto di ponsel miliknya, terlihat siluet keduanya, yang sedang menyaksikan langit berwarna oranye.
"Bagus deh mas, eh tapi maaf ya, tadi aku lupa nggak ijin kamu, buat ambil gambar kamu,"
"Sebanyak apapun kamu menginginkan foto aku, silahkan ambil sebanyak yang kamu mau,"ujarnya sambil tersenyum, "karena aku lebih banyak ambil foto kamu sedari kemarin,"lanjutnya dalam hati.
"Makasih ya, lumayan buat kenang-kenangan, kalau aku punya teman cowok bule,"
Fernando tertawa, "tapi aku kulitnya kan lagi nggak putih, jadi nggak kayak bule lah,"
"Tapi rambut, warna mata, hidung kamu itu bule banget,"
"Masa sih?"
"Kamu gimana sih, masa dirinya sendiri nggak paham, rambut kamu kecokelatan, terus mata kamu juga warnanya hijau, hidungnya mancungnya, kalau dipikir-pikir, Dua hari ini, aku beruntung loh bisa jalan-jalan sama orang setampan kamu, kalau sampai teman-teman aku tau, bisa heboh tuh, apalagi sahabat SMA aku, dulu aku sama dia pernah punya keinginan buat cari pacar orang bule,"oceh gadis itu antusias.
"Lalu sampai saat ini, apa kalian berdua pernah dekat dengan bule?"
"Kalau Dia, aku nggak tau, karena sejak lulus SMA aku lost kontak sama Dia, tapi kemungkinan sahabat aku nggak mungkin bisa berpaling dari cinta pertamanya, ya walau sampai kami lulus, dia tidak pernah ada kata jadian, mungkin mereka akan langsung menikah, begitu cowok yang disukainya mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar,"Rara bercerita panjang lebar.
"Kalau kamu apa sudah pernah dekat dengan bule? Atau sekarang ini ada keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang bule?"
"Kan tadi aku bilang, kalau aku baru kali ini temenan sama orang bule, ya kamu ini,"
Fernando menolehkan kepalanya kesamping, ia tau wajahnya memerah, mendengar ucapan gadis disebelahnya, ia tersenyum senang.
"Oh ya mas, mataharinya udah nggak kelihatan, mulai gelap juga, balik yuk,"ajaknya.
Fernando melihat jauh ke langit tepat di atas lautan, ada sedikit sisa kemerahan di sana yang sebentar lagi pudar berganti langit kelam.
Pandangan keduanya bertemu, Rara tersenyum padanya, memperlihatkan bentuk hati bibirnya, mata lelaki itu tertuju pada bibir yang sedari kemarin mengganggu otaknya, hingga tanpa sadar Fernando berucap, "apa kamu tau, bibir kamu kalau tersenyum, seperti bentuk hati? Indah sekali, aku suka sekali, kayak buah strawberry,"
Usai berucap, Fernando perlahan mendekat, semakin dekat, tatapan mereka saling bertaut, seperti sihir, bibir keduanya bertemu, mata mereka terpejam,
Bibir itu saling bertaut, meski Fernando merasa gadis itu terlalu kaku untuk sebuah ciuman,
Lelaki itu memegangi kedua sisi wajah gadis itu, ia memasukan lidahnya, ah.. sesuai dengan apa yang ada dipikirannya sedari kemarin, lebih nikmat, terasa manis, rasanya tak ingin berhenti, namun kegiatan mengasyikkan itu terganggu ketika ponsel milik Fernando berbunyi, dari nada deringnya ia tau betul itu siapa, siapa lagi kalau bukan sahabat brengseknya Alex.
Gara-gara bunyi ponsel sialan, kegiatan yang dari kemarin ia tunggu berhenti, gadis itu mundur dan beranjak meninggalkannya.
Berbagai umpatan keluar dari mulutnya, setelah gadis itu menjauh, ia mengangkat panggilan itu sambil berjalan cepat mengejar gadis itu.
"Bisa nggak Lo kirim pesan, ganggu aja Lo bangsat,"makinya kesal.
"....."
"Lo nggak perlu tau,"
"...."
__ADS_1
"Kirim aja bangsat, entar malam gue telpon balik," tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Fernando mematikan ponselnya.