Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
enam puluh tiga


__ADS_3

Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, entah apa Rara tidak tau, ia pusing sendiri.


"Kamu udah tau kan biang keroknya siapa? Dia memfitnah aku,"ungkap Fernando ketika memasuki Kembali ruang kerjanya,


Rara yang masih duduk di kursi kebesaran lelaki itu mendadak bangkit, ia memilih untuk keluarga dari ruangan itu.


Fernando mengikuti istrinya keluar dari ruang kerjanya.


Wanita berjilbab itu berjalan menuju restoran, ia memesan nasi campur khas Bali beserta jus strawberry juga air mineral, ia bahkan tak bertanya pada suaminya, ini diluar kebiasaannya.


Fernando yang merasa istrinya masih marah, langsung bertanya, "kamu masih marah sama aku?"


Rara menaikan bahunya, seolah menegaskan ia tak peduli.


"Kalau kamu masih nggak percaya sama aku, kamu bisa tanya ke Bagus, karena kemanapun aku pergi, aku selalu sama dia,"


"Nggak perlu, nggak penting juga, malas, capek, gobloknya aku nggak mikir panjang beberapa hari yang lalu,"keluhnya.


"Kamu menyesal menikah sama aku?"tanya Fernando tak sabar.


"Kalau itu pasti, tapi mau bagaimana sudah terlanjur, mungkin karena masih baru aku bisa mengajukan pembatalan pernikahan, alasannya jelas kok,"


"Ra, itu fitnah, aku sudah berhenti sejak tiga tahun yang lalu,"


"Masa??? Itu urusan kamu, aku nggak peduli, yang aku takutkan jika aku masih jadi istri kamu, aku tertular penyakit, kan lagi banyak tuh cerita, istrinya kena HIV, padahal bukan pemakai narkoba dan hanya berhubungan intim dengan suaminya, nggak taunya suaminya hobi jajan diluar, kan nyesek kalau kayak gitu,"


"Kamu berfikir aku kotor Ra? Aku tegaskan, aku udah nggak pernah main-main Ra, kalau kamu masih nggak yakin sama aku, kita bisa ke rumah sakit sekarang, aku akan general check up, dan memastikan kalau aku bebas penyakit berbahaya,"


Pembicaraan mereka terhenti saat pelayan mengantarkan makanan yang keduanya pesan.


Saat Fernando hendak berbicara, Rara melarangnya, dengan alasan ingin menikmati hidangan yang tersaji dan tidak ingin diganggu.


Usai makan, Rara memanggil pelayan dan meminta bill pembayaran, "kamu apa-apaan sih, aku yang bayar, ambil uang kamu,"ucap Fernando ketika istrinya mengambil uang untuk membayar pesanannya.


"Aku masih mampu buat bayar makan aku sendiri,"ujar Rara tak mau kalah.


Fernando buru-buru menyodorkan kartunya pada pelayan, sedangkan pelayannya bingung, bosnya memberikan kartunya, namun karena mendapat tatapan tajam dari Fernando akhirnya pelayan itu berlalu untuk menggesek kartu milik bosnya.


"Setelah ini apa kamu mau jalan-jalan ke sekitar resort, dulu kamu belum sempat jalan-jalan kan?"tawar Fernando mencoba mencairkan suasana.


Rara mengangguk tanda persetujuannya, tak lama pelayan mengembalikan kartu milik Fernando.


Tak ada pembicaraan didalam mobil selama keduanya menuju tempat tujuan.


Fernando mengajak istrinya menuju pasar seni yang menjual berbagai pernak-pernik, kerajinan serta karya seni khas pulau dewata itu.


Lelaki itu menawarkan kepada istrinya untuk berbelanja, namun wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa sih Ra? Kamu masih nggak percaya sama aku?"tanyanya saat keduanya dalam perjalanan pulang menuju resort,


Rara hanya mengangkat bahunya dan memandang jalanan yang mereka lalui.


Fernando mengembuskan nafasnya kasar, lelaki itu mulai tak sabar diperlakukan dingin oleh istrinya.


"Amara, aku harus apa supaya kamu kembali seperti biasa? Aku bingung, kasih tau aku,"mohonnya.


"Nggak tau, aku malas sama kamu,"ungkap wanita itu.

__ADS_1


"Aku serba salah tau nggak, kamu buat aku bingung, setidaknya jangan diamkan aku,"


"Aku lagi malas ngomong mas,"


Fernando menggelengkan kepalanya, lelaki itu masih mengemudi, "oke kalau memang mau kamu begitu, tapi tetap selalu disamping aku,"


Rumah tangga yang baru dibangun beberapa hari itu terasa dingin, tak ada kehangatan didalamnya, bahkan hanya sekedar merangkul saja, Rara menolaknya, seakan jijik dengan suaminya sendiri.


Malam dan pagi harinya, tak ada kegiatan panas yang biasa dilakukan pasangan itu seperti dulu saat mereka belum menikah.


Rara menunjukan kemesraannya hanya saat bersama keluarganya, hingga tiga hari kemudian saat kakaknya berpamitan untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.


Setelah mengantar keluarganya ke bandara, pengantin baru itu kembali ke resort yang ada di selatan pulau Bali.


"Aku mau ada keperluan bisnis di Jakarta, apa kamu mau ikut?"tanya Fernando ketika keduanya sedang makan siang bersama.


Rara yang sedang menikmati hidangan hanya menggelengkan kepalanya, wanita itu berniat untuk mengunjungi Mbah Sarmi tanpa sepengetahuan suaminya.


"Mungkin aku seminggu di sana, kalau kamu bosan disini, kamu bisa susul aku, selama di sana aku akan tinggal ditempat Umi" jelasnya.


Rara hanya mengangguk.


Sejak kejadian ia difitnah pekerjanya sendiri, istrinya begitu dingin padanya, membuat Fernando tidak nyaman, lelaki yang paling tidak sabar itu, hanya bisa menghela nafas, jujur saja baru kali ini dirinya diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita, sayangnya wanita itu adalah istrinya sendiri, wanita yang paling ia cintai setelah uminya.


"Ra, aku harap setelah kita berjauhan selama seminggu, kamu bisa berubah seperti dulu, aku rindu senyuman kamu,"


Rara hanya menunjukkan reaksi dengan menaikan bahunya,


Fernando menghela nafas lagi, ia pusing, kenapa setelah sah menjadi suami istri malah jadi begini, apa ini hukuman dari perbuatan dosa yang selama ini ia lakukan? Rasanya sesak sekali, ia juga tak bisa menyalahkan istrinya, karena baik buruknya seorang istri itu tergantung didikan suaminya.


"Ra, bisakah aku mencium dan peluk kamu sebelum aku pergi,"pinta Fernando memelas.


Fernando lalu menyelesaikan makannya, dan bangkit mengikuti istrinya.


Tapi ia heran melihat istrinya sedang berbicara cukup akrab dengan seorang lelaki.


Fernando mendekati istrinya, ia berdiri mendengarkan pembicaraan itu.


"Jadi kamu sedang apa disini?"tanya lelaki itu.


"Aku lagi jalan-jalan lah,"jawab Rara, Fernando tak bisa melihat ekspresi istrinya.


"Jujur aku menyesal Amara, andai waktu bisa diulang aku tidak akan melakukan itu, oh ya aku turut berduka, aku dengar bapak sama ibu udah nggak ada,"ungkap lelaki itu.


"Iya nggak apa-apa Bim, udah berlalu kok, terus Ranti apa kabar?"


"Aku nggak tau Ra, kami bercerai setelah anak kami lahir,"


Rara terkejut mendengarnya, "kenapa mesti cerai sih Bim? Kalian nggak mikirin anak kalian?"


"Kamu tau kan Amara, aku sama Ranti tidak pernah ada rasa cinta, semua itu terjadi karena kami berdua mabuk, setahun menikah kami hanya bertengkar, Ranti juga sebenarnya punya pacar saat itu, karena kejadian itu ia diputuskan sama pacarnya, sehingga dia menyalahkan aku, dan harusnya kamu tau siapa yang aku cintai, walaupun dulu aku player, sejak kejadian itu aku jadi sadar akan perbuatan dosa yang aku lakukan sehingga aku nggak pantas buat kamu, jujur saja setelah aku bercerai dengan Ranti, aku bekerja keras supaya suatu saat aku pantas untuk menemui kamu dan meminta kamu kembali, aku sempat ke rumah kamu dua tahun lalu, tapi kata mbak Laras kamu sudah setahun menghilang, kamu kemana Ra?"ucap lelaki yang bernama Bimo.


Rara menghela nafas, "aku dijodohkan sama anaknya teman bapak, tapi ternyata dia diam-diam sudah punya istri siri dan seorang anak, sehingga aku nekad kabur dari rumah,"


Bimo yang duduk bersebelahan dengan Rara, menggenggam tangan mantannya itu, "Amara, maafkan aku ya, aku benar-benar merasa bersalah sama kamu, andai dulu aku tidak mabuk mungkin kita sudah menjalani rumah tangga yang bahagia dan memiliki seorang anak,"


Rara melepaskan tangan mantannya, ia berpura-pura membetulkan jilbabnya, "sudah berlalu Bim, aku udah maafin kamu, lalu apa yang kamu lakukan disini?"

__ADS_1


"Aku ada urusan pekerjaan di resort ini, apa kamu sudah makan siang?"


"Baru saja aku selesai makan siang, ini aku mau ke kamar,"


"Boleh aku meminta nomor ponsel kamu?" Pinta Bimo sambil menyodorkan ponsel miliknya.


Rara menerimanya dan mengetikan beberapa digit angka, setelahnya ia memberikan ponsel milik lelaki itu.


Bimo menghubungi nomor milik Rara, dan wanita itu mengambil ponselnya di saku gamisnya, lalu menunjukan layar ponselnya.


"Tolong angkat telpon dan balas pesan aku ya Amara, setidaknya aku berharap kita bisa berhubungan baik,"


Rara mengangguk, "tentu saja"


Keduanya bersalaman, lalu berbalik menuju tempat tujuan masing-masing,


Namun betapa terkejutnya Rara ketika mendapati suaminya berdiri tepat dibelakangnya, rahang lelaki itu mengeras dengan tatapan mata yang tajam,


"Siapa dia Amara? Kenapa kamu akrab sekali?"tanya Fernando mengintimidasi.


Rara yang masih kesal dengan suaminya menatap balik, "dia mantan calon suami aku yang pertama,"jawabnya.


"Kenapa kamu memberikan nomor ponsel kamu?"tanya lelaki itu lagi.


"Memangnya tidak boleh, aku hanya ingin berhubungan baik dengan dia, toh dia juga sudah meminta maaf sama aku, apa salahnya?"


"Aku nggak suka Ra,"


"Itu hak kamu, aku tidak peduli,"


"Aku suami kamu Amara kalau kamu lupa,"


"Sekarang memang masih suami aku, nggak tau besok," setelah mengatakan itu, Rara berlalu menuju kamar.


Fernando tak tinggal diam, ia mengikuti istrinya, setibanya dikamar, ia memojokkan istrinya, lalu mencium paksa wanita itu.


Tentu saja Rara memberontak, ia mendorong suaminya, "apa yang kamu lakukan?"


"Aku hanya ingin mengajari istri yang membangkang pada suaminya, apa aku salah?"tanya Fernando menyunggingkan senyumannya.


"Dasar gila,"umpat Rara, lalu berlalu menuju kamar mandi.


Beberapa menit berlalu, Rara keluar dari kamar mandi, wanita itu baru saja selesai mandi, ia hanya memakai bath rob, betapa terkejutnya ia mendapati suaminya berada didepan pintu kamar mandi sambil bertelanjang dada.


Fernando sengaja menghalangi jalan istrinya, "aku minta hak sebagai suami kamu sekarang,"ungkapnya tegas tak menerima penolakan.


"Aku menolak,"


"Rara apa kamu lupa  hukumannya jika menolak hak suami?"


"Aku malas sama kamu,"


"Tidak ada bantahan Ra, aku meminta hak itu sekarang,"


"Kenapa kamu memaksa sih? Aku nggak mau dipaksa,"


"Aku nggak peduli, aku menginginkannya sekarang,"

__ADS_1


Tanpa berbicara lagi, Fernando memulai aksinya, seperti sudah naluri alami Rara selalu terbuai dengan perlakuan lelaki yang sekarang telah sah menjadi suaminya.


__ADS_2