
Rara mulai menjalani peranannya sebagai seorang istri, ia melayani dan mendampingi kemanapun suaminya pergi.
Ia juga mulai memasak sendiri untuk disajikan kepada suaminya, beruntung lelaki blasteran itu tidak pilih-pilih makanan.
Wanita itu juga mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, Fernando sempat keberatan, lelaki itu bilang, "aku cari istri bukan cari pembantu, kamu cukup layani aku, kalau memasak oke lah, tapi kalau beberes biar orang lain yang melakukannya,"
Dengan terpaksa akhirnya Rara meminta tolong istri mang Ujang untuk mencarikan Art yang akan datang dua hari sekali, itupun seorang ibu berumur hampir setengah abad, untuk sekedar mencuci dan menyetrika pakaian juga membereskan rumah.
Fernando yang meminta agar ART lepas itu, orang sudah berumur, ia tidak mau jika Art masih muda, karena tidak ingin ketenangan rumah tangganya terganggu.
Tidak seperti beberapa hari setelah menikah, kehidupan pasutri itu sempat berpindah-pindah, namun sepertinya untuk waktu yang lama, keduanya akan menetap di daerah yang sejuk itu.
Meskipun Fernando tak sepenuhnya melepas pengawasan resort yang di pulau Dewata ataupun di Lombok juga taman bermain yang ada di Malang, hampir setiap malam, lelaki itu akan melakukan rapat virtual dengan Bagus atau pak Imam.
Disela kesibukannya Fernando mulai menggambar design baik di atas kertas atau di laptop miliknya.
Tak lupa lelaki itu meminta pendapat istrinya, masukan dari Rara membuat pekerjaannya lebih cepat selesai, ia tak menyangka, ia mendapatkan istri yang ia cintai sekaligus partner diskusi yang cocok dalam hal pekerjaan,
Sebuah anugerah yang tak pernah terpikirkan olehnya, ia memiliki istri yang berwawasan luas juga pandai membaca peluang.
Selain dari segi bentuk bangunan, Rara juga memberi masukan soal konsep wisata kebun strawberry, katanya ia pernah melihat salah satu kanal video yang memperlihatkan wisata petik buah strawberry dan bisa langsung dinikmati ditempat.
Karena lahan masih tersisa cukup luas, Rara juga memberikan masukan tentang penanaman buah juga sayuran yang lain,
Wanita itu juga memberi masukan untuk menjadikan area pepohonan Pinus tak jauh dari villa, untuk dijadikan tempat camping dengan tenda-tenda yang sudah berdiri, jadi pengunjung bisa langsung menggunakannya, ini bisa disewakan untuk murid-murid sekolah nantinya.
Fernando benar-benar mendengarkan saran istrinya, dan langsung membicarakan rencana itu kepada kedua sahabatnya yang sudah kembali ke ibukota.
Segala perizinan sudah ditangan, Rama yang mempunyai langganan kontraktor , segera menghubungi pihak terkait untuk memulai kerja samanya.
Pembongkaran mulai dilakukan setelah pekerja datang dari ibu kota beserta alat-alat penunjangnya, semuanya dibawah pengawasan Fernando didampingi istrinya.
Untuk rencana argo bisnis, lelaki itu bekerja sama dengan petani setempat atas saran mang Ujang, namun akan mulai dilakukan jika pekerjaan pembangunan villa selesai sekitar delapan puluh persen.
__ADS_1
Sebulan lebih pasutri itu tinggal di sana, kebetulan umi Fatimah datang berkunjung, katanya ia merindukan menantu dan putranya.
Adanya Umi Fatimah, Fernando tak membawa istrinya ke lokasi proyek, ia percaya Rara tak akan lari karena ada umi yang menjaganya.
Menjelang sore, menantu dan mertua itu sedang berada di dapur untuk membuat kue kering, keduanya mengobrol.
"Ra, sudah dua bulan kamu menikah sama anak umi, apa tidak ada tanda-tanda?"tanya umi Fatimah yang sedang memasukan loyang berisi kue ke oven.
"Tanda-tanda apaan mi?"tanya Rara bingung.
"Kamu kan pernah mengalami masa kamu nggak ngerti maksud umi,"
Rara yang sedang mengoles kuning telur di atas kue kering bulat itu, mengernyit dahinya bingung dengan ucapan mertuanya,
melihat kebingungan diraut wajah menantunya, Umi Fatimah menghela nafas, dan berkata, "maksud umi, apa kamu sudah hamil atau belum?"
Rara menghentikan kegiatannya, ia berfikir keras, hingga ia mengambil ponsel di saku dasternya, ia melihat Periode menstruasinya, lalu melotot kaget, "mi, Rara udah nggak haid sejak ketemu lagi sama mas Nando, tapi kok Rara merasa biasa aja, terus nggak mual atau pusing, tiga tahun lalu Rara ngerasain mual, walau Rara sangka itu hanya masuk angin,"
"Beli testpack dulu kali ya mi, nanti kalau ternyata garis dua, Rata baru kasih tau mas Nando,"jawabnya.
Usai meminta ijin pada uminya untuk menuju apotek tak jauh dari rumah, Rara berjalan sendiri, ada beberapa tetangga menyapanya, wanita itu balik menyapa ramah tetangganya.
Setelah selesai membeli beberapa testpack, Rara yang baru keluar dari apotek tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita dewasa dan remaja laki-laki berwajah blasteran.
Rara tertegun melihatnya, remaja itu mirip dengan suaminya, entah mengapa ia teringat ucapan Citra saat di cafe tempo hari.
Ada perasaan gelisah melingkupinya, ia memilih duduk di kursi panjang di teras apotek, matanya menerawang jauh, banyak pikiran buruk yang mengganggunya.
Hingga tak lama, wanita dewasa itu duduk bersebelahan dengan dirinya, Rara hanya diam, dan sesekali melirik ke arah wanita juga remaja itu.
Rara menguping pembicaraan keduanya.
"Mommy, kata aunty Citra, Daddy aku ada disini, bahkan sudah seminggu kita disini, aku tak kunjung bisa bertemu Daddy, apa mungkin aunty berbohong,"
__ADS_1
keluh remaja dengan Hoodie berwarna army itu.
Mendengar keluhan remaja itu, Rara terkejut, ternyata benar, mereka mencari Fernando, ia meyakini sebab ada nama Citra disebutkan.
"Sabar Nicho, mommy juga lagi usaha cari Daddy kamu,"jawab wanita dewasa itu.
Ibu dan anak itu membicarakan seseorang yang dibilang Daddy kandung anak remaja itu.
Sedangkan Rara hanya mendengarkan, hingga ponselnya berdering, terlihat user name my husband di layar ponselnya.
Sempat ragu, akhirnya Rara mengangkatnya, usai saling mengatakan salam, Fernando menanyakan keberadaannya, karena saat pulang, lelaki itu tak mendapati istrinya juga uminya berada di rumah.
Rara mengatakan akan segera pulang, ia beralasan sedang memakan bakso yang berada di depan Apotek,
Panggilan berakhir, Rara masih betah menguping pembicaraan ibu dan remaja disampingnya.
Benar sesuai dugaannya, wanita dewasa itu adalah Tamara, cinta pertama suaminya dan remaja lelaki bernama Nicholas itu adalah anak dari suaminya bersama Tamara, persis seperti apa yang dikatakan oleh Citra.
Rara tak menyangka, secepat ini bom waktu itu akan segera meledak, rasanya tak rela, rumah tangga yang baru dibinanya, terancam hancur oleh kehadiran kedua orang disebelahnya.
Tak mau menangis, Rara memilih mendongak tinggi-tinggi, ia juga memilih bangkit, meskipun rasanya kakinya terasa lemas, mengetahui fakta itu.
Melangkah beberapa meter dari teras apotek, akhirnya air matanya tak lagi bisa ia bendung, wanita itu memilih menunduk sambil berjalan, hingga tak sengaja kepalanya membentur sesuatu yang keras dengan aroma sangat ia kenali,
Rara mendongak, ternyata itu dada milik suaminya, ia melebarkan matanya, ia terkejut, "kamu ngapain disini?"tanyanya panik.
"Jemput istriku lah, aku kangen sama kamu,"jawabnya sambil memeluk istrinya.
Rara yang panik, mendorong tubuh kekar suaminya, "kita pulang mas,"pintanya tergesa-gesa.
"Tunggu, kenapa kamu nangis?"tanyanya sambil memegang dagu istrinya, Fernando melihat mata istrinya berkaca-kaca,
"Ayo pulang sekarang nanti aku jelasin,"jawab Rara sambil menarik tangan suaminya.
__ADS_1