Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
48


__ADS_3

Siang itu, Fernando sedang dalam perjalanan menuju bandara, ia akan mulai bekerja kembali, mendadak ponselnya berbunyi, si penelpon mengatakan agar dirinya ke rumah sakit, tempat dimana Istri sahabatnya diperiksa.


Sesampainya di sana, ia mendapati wanita hamil itu terbaring di ranjang ruang bersalin, bersiap akan melahirkan, beberapa saat mereka mengobrol, tak lupa ia berpesan kepada wanita itu agar membalas dendamnya pada sahabatnya.


Tak lama setelah ia keluar dari ruang bersalin, terdengar suara tangis bayi, Fernando tersenyum membayangkan jika yang didalam itu kekasihnya.


Lagi-lagi ia hanya bisa menahan rindu, kekasihnya sampai detik ini tak diketahui keberadaannya, bahkan orang suruhannya, tidak mendapatkan hasil apapun.


Fernando memundurkan jadwal kerjanya, hingga acara pemberian nama anak kembar sahabatnya.


Entah bagaimana bayi perempuan milik sahabatnya sangat dekat dengannya, saat bayi itu menangis keras, jika Fernando menggendongnya, maka bayi yang diberi nama Aileen itu menjadi tenang, sepertinya ucapannya benar, bahwa anak dari Ayudia dan Benedict lebih dekat kepadanya.


Fernando jadi teringat mimpi, seorang anak perempuan yang mengaku bernama strawberry, buah cintanya dengan Rara, ah... Lagi-lagi ia harus menahan rindunya.


Dua bulan berlalu saat dirinya tengah meresmikan pembangunan taman bermain di kota Malang, ia mendapati Rama menelponnya, sahabatnya itu mengatakan jika Ayudia kembali menghilang kali ini bersama si kembar.


Benedict kalang kabut mencari istri dan anak-anaknya.


Sesuai dugaannya, Ayudia dan si kembar berada di rumah rahasia milik Anna.


Lagi-lagi ia membujuk wanita itu untuk kembali kepada sahabatnya.


Sebenarnya ia kesal juga mendengar alasan Ayudia kabur dari suaminya.


Benedict yang cemburu buta, memperlakukan istrinya dengan kasar di atas ranjang, hingga Ayudia berakhir pingsan.


Fernando seolah tau resiko yang dihadapinya setelah untuk kedua kalinya Ayudia bersamanya.


Dan benar saja Rama memberitahukan jika Benedict mengirimkannya ke salah satu pulau milik lelaki itu.


Bukan berwisata di pulau pribadi, tapi bekerja membangun resort milik sahabatnya itu.


Selama setahun ia berada di pulau itu, dari pulau kosong hingga berdiri bangunan megah resort di kepulauan samudera Pasifik.


Ya meskipun selama setahun ini ia harus menghentikan pencariannya terhadap wanita yang hingga detik ini masih ia cintai.


Pulang dari pulau, tanpa diberi jeda untuk libur, Benedict menjejali nya dengan pekerjaan yang tiada hentinya, bahkan di hari umi Fatimah pensiun, ia tidak bisa mendampingi wanita yang melahirkannya.

__ADS_1


Hingga sebuah berita dari orang kepercayaannya memberitahukan jika calon mertuanya mengalami kecelakaan nahas.


Tanpa pikir panjang, ia yang sedang berada di Bali, langsung bertandang menuju kota Malang.


Di sana, ia bertemu dengan kakak pertama dan kedua berserta istri juga anak-anaknya.


Dari Andi ia mendapatkan informasi jika, kedua orangtuanya yang sedang berboncengan motor, tersenggol truk gandeng,


Keduanya koma, dan ditempatkan di ruang ICU rumah sakit.


Semua biaya dibayarkan oleh Fernando, walau keluarga kekasihnya menolak keras, lelaki itu tidak peduli, bahkan ia meminta dokter untuk melakukan yang terbaik untuk kedua orang tua Rara.


Hingga selang sehari, bapak menghembuskan nafas terakhirnya, disusul ibu keesokan harinya.


Tangis pecah keluarga mengiringi pemakaman kedua orang tua itu.


Disela-sela pemakaman, ia tak mendapati Rara diantara para pelayat, entah mengapa ia kesal sendiri, kemana sebenarnya wanitanya.


Tak sengaja ia berpapasan dengan seorang wanita bercadar saat sedang berada di makam tadi, ada getaran tak biasa, namun ia berusaha untuk mengalihkan pikirannya, ia harus fokus dengan mendiang orang tua kekasihnya.


Sejak bertemu dengan Amara Cahyani, sikapnya sedikit demi-sedikit berubah, ia tak lagi bernafsu dengan wanita-wanita seksi yang terkadang menghampirinya.


Ia lebih memilih menghindar, ia ingin jika suatu saat ia bertemu dengan kekasihnya, tak akan ada lagi wanita lain yang tiba-tiba mengganggunya.


Waktu cepat berlalu, sudah tiga tahun ia tak bertemu dengan kekasihnya, masih sama rasanya, hingga detik ini, ia masih mencintai wanita itu, bahkan setiap malam jika akan tidur, ia akan memeluk piyama milik Rara.


Fernando masih berharap ia bisa bertemu dengan wanita itu,


Lelaki itu masih sama, mondar-mandir antar kota juga antar pulau untuk mengurusi bisnis milik sahabatnya.


Hingga suatu ketika, sahabat sekaligus bosnya memanggilnya untuk kembali ke Jakarta, dikarenakan lelaki itu akan bekerja membangun resort di pulau milik rekan bisnisnya asal timur tengah.


Dan disinilah Fernando sekarang, Benedict menjemputnya di rumah milik umi Fatimah, ia sendiri heran sahabatnya yang menyebalkan itu bertandang setelah belasan tahun berlalu, terakhir sahabatnya berkunjung saat kerja kelompok sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA.


"Ngapa Lo, rajin banget sampai jemput gue segala?"tanya Fernando pada sahabatnya itu.


Benedict yang mulai mengemudikan mobilnya, melirik sekilas, "lagi pengen aja, kan Lo doang yang lagi jadi pengangguran,"ujarnya asal.

__ADS_1


"Ben kayaknya udah lama kita nggak ribut, kayaknya kalau sebelum ke pulau Lo bonyok dulu, bakal keren tuh,"celetuk Fernando.


Benedict hanya mendesis kesal, lalu berucap, "gue mau ngikutin Ayu, dia lagi minta waktu sendiri, sebelum berangkat ke pulau, gue takut dia ketemuan sama cinta pertamanya,"


Fernando menggeleng, "memangnya kenapa sih Ben? Kan Ayu udah jadi bini Lo, ngapain Lo masih khawatir aja sih? Lagian udah ada si kembar yang menguatkan hubungan kalian, nggak usah segitunya kali,"


"Lo belum ngerasain gimana takutnya Lo, saat kehilangan orang yang benar-benar Lo cintai, rasanya mau gila do,"curhat lelaki dua anak itu.


Dalam hati Fernando berucap, "gue bahkan udah tiga tahun nungguin cewek yang gue cintai, apa dia masih hidup atau bahkan udah mati, gue juga mikirin gimana masih anak gue,"


Melihat diamnya sahabatnya, Benedict melirik juga berucap, "kenapa Lo? Kayak lagi galau sih? Bukan Lo banget,"


"Mendingan Lo udah bisa miliki dan selalu ada disampingnya, nah gue? Tiga tahun gue nunggu dia, bahkan saat terakhir gue bareng dia, cewek gue lagi hamil tiga bulan, mungkin seumuran sama anak-anak Lo,"


"Mungkin itu balasan buat lo yang sering mainin cewek,"bukannya menghibur Benedict malah membuatnya kesal.


"Gue udah tobat Ben, sejak ketemu dia, tanya Alex sana, gue bahkan udah tiga tahun nggak gituan,"


"Wah pening pasti tuh,"ejek Benedict.


"Nggak pening lagi Ben, bahkan gue kadang mimpi main sama cewe gue sampai keluar sendiri itu lendir,"ungkap Fernando tertawa.


"Kasian juga lo ya! Tapi kok gue rasanya seneng banget dengernya ya!"ejeknya lagi.


"Ben, Lo gue sumpahin, bakal merasakan yang sama kayak yang gue alami, Bahkan lebih lama dari gue yang baru tiga tahun,"ucap lelaki dengan rambut kecokelatan itu.


Benedict tertawa, "gue tunggu deh hasilnya,"


Mobil berhenti tak jauh dari tukang bakso, kata Benedict, istrinya ada di sana, bedasarkan GPS yang tertera dilayar ponselnya.


Kedua lelaki tampan itu memasuki warung sederhana itu, sebagai bawahan tentu Fernando sadar diri, memesankan makanan untuk sahabatnya.


Hingga penjual memberikan nampan berisi dua porsi bakso pesanannya, terlihat sahabatnya duduk dengan dua wanita berhijab.


Fernando duduk berseberangan dengan sahabatnya, ia duduk bersebelahan dengan perempuan berhijab maroon.


Namun saat mendengar suara itu ia mengalihkan pandangannya, suara yang ia masih terekam baik dalam ingatannya, suara yang ia rindukan selama tiga tahun ini, rasanya ia ingin berteriak kegirangan, namun dirinya harus bisa mengendalikan diri dihadapan Benedict juga Ayudia.

__ADS_1


__ADS_2