Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tiga puluh dua


__ADS_3

Kalender baru saja berganti kemarin, dan sampai saat ini Fernando tak mengabarinya, apakah lelaki itu selamat ataupun mati.


Manusiawi jika seorang istri penasaran dengan keadaan suaminya, walau saat terakhir hubungan keduanya tidak dalam keadaan baik-baik saja, tetapi harus kemana Rara bertanya?


Tidak mungkin dirinya menanyakan keberadaan pada sahabat suaminya, karena setau Rara, hanya Benedict dan lelaki asing bernama Troy yang mengetahui pekerjaan itu.


Sama halnya dengan mertuanya, wanita paruh baya itu tak tau apa-apa tentang kelakuan putra semata wayangnya diluar sana.


Putra sambung Rara sudah dijemput oleh Mang Hendi sebelum tahun baru, tepatnya sekitar empat hari yang lalu, jadi kini dirinya harus melewati harinya hanya berdua dengan Arana.


Rara memutuskan untuk mengunjungi Mbah Sarmi, ia memesan tiket kereta dengan tujuan salah satu kota di jalur selatan pulau Jawa.


Ia mulai merapihkan baju-baju miliknya dan Arana.


Sore nanti kereta berangkat dari stasiun di pusat kota, dirinya tak pamit dengan siapapun, termasuk pada mbak Narti yang datang setiap pagi, tetapi, Rara berpesan untuk hari kedepannya, cukup datang dua atau tiga hari sekali.


Bukan untuk menghilang, ia hanya merasa sepi berdua dengan putrinya yang masih bayi.


Bukan juga istri durhaka yang tak ijin pada suaminya, bahkan ponsel lelaki itu sudah lama tidak aktif.


Ia tak ingin berfikiran buruk, ia berharap lelaki itu dalam keadaan baik-baik saja.


Ia tak memberitahu siapapun tentang kepergiannya, toh jika dia memberitahu, hanya akan mendapatkan banyak pertanyaan yang tak mungkin bisa ia jawab, sebagian dari mereka pasti akan menanyakan keberadaan suaminya, tak mungkin bukan, jika dirinya mengaku, jika suaminya sedang memburu salah satu mafia berbahaya, karena alasan itulah ia memilih tak memberitahu siapapun.


Tentang alasannya pergi ke rumah Mbah Sarmi, karena di sana dirinya tak akan ditanya tentang ini itu, sama seperti saat dulu ia pertama kali menginjakkan kakinya di desa itu, pasca dirinya mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia kehilangan anak pertamanya.


Meskipun orang desa, mereka tidak pernah mau tau urusan pribadi orang lain, tapi jika ada yang membutuhkan, mereka tak segan membantu.


Rara rindu suasana di sana,


Berbeda jika dirinya pulang ke Malang, Dika dan Laras pasti akan mewawancarainya layaknya wartawan pada narasumber.


Dirinya tak mau membongkar aib suaminya sendiri.


Ia juga tak mau jika harus berkumpul dengan mertuanya, ia tidak ingin lebih banyak berbohong dengan wanita yang telah melahirkan suaminya itu.


Bukan untuk mencari masalah, hanya saja, ia benar-benar ingin sejenak bersembunyi.

__ADS_1


Rara menyadari jika dirinya tak pandai berbohong, jika didesak terus menerus, ia pasti akan membongkar aib suaminya sendiri.


Ia tau betul seperti apa dirinya itu.


Rara berangkat usai shalat asar, ia memesan taksi online yang akan mengantarkannya ke stasiun.


Bawaannya tidak banyak, hanya koper besar dan stroller juga ransel yang tak terlalu besar berisi laptop, baju cadangan dan diaper milik Arana, serta barang pribadi miliknya.


Beruntung jalan kota tak terlalu padat, sehingga lima belas menit sebelum keberangkatan kereta, ia sudah berada di Stasiun.


Ia mencetak tiket terlebih dahulu, lalu menuju petugas pengecekan tiket juga KTP.


Ini perjalanan pertama Arana, ia berharap putrinya tidak rewel selama perjalanan yang akan ditempuh selama hampir lima jam.


Ini bukan kereta yang biasa ia naiki, beda harga beda waktu tempuh perjalanannya, juga kenyamanannya.


Ia hanya ingin bayinya merasa nyaman selama perjalanan.


Kereta tidak terlalu ramai, mengingat liburan telah usai, juga bukan akhir pekan, bisa dibilang hanya ada beberapa penumpang saja, termasuk dirinya.


Sore itu langit masih cerah, ketika roda kereta mulai berputar meninggalkan ibu kota, Rara bisa melihat dari ketinggian pemandangan gedung-gedung tinggi, menit berlalu pepohonan rimbun terlihat diantara perumahan elit ibu kota.


Melihat Arana yang terlelap, Rara membuka laptopnya, ia memeriksa laporan yang dikirim oleh Fitri tadi siang.


Selama bulan Desember, omsetnya naik, terutama dress yang belum lama dipasarkannya.


Hal itu membuat Rara semakin bersemangat.


Awalnya, dirinya ragu saat hendak menjual dress, ia juga tidak pandai menggambar, ia hanya menyebut bentuk dress seperti apa pada Fitri, dan gadis itulah yang menggambarkannya, lalu mengirimkannya ke penjahit yang sudah hampir empat tahun bekerja sama.


Rara tak menyangka jika dress itu laku keras, bahkan beberapa kali mereka harus kehabisan stok.


Senang sekali rasanya saat bisnis kecil-kecilan miliknya berkembang pesat, ia bersyukur atas segala yang telah diperolehnya.


Rara tetap menjalankan usahanya, meski telah memiliki suami kaya raya, ia tak ingin berpangku tangan, ia harus mandiri secara finansial, karena ia tak akan tau apa yang akan terjadi kedepannya.


Bukan bermaksud mendahului takdir yang digariskan, hanya saja, mengingat rekam jejak suaminya, bisa saja tiba-tiba ia ditinggalkan, ya walau lelaki itu bilang tak akan melepaskannya, tapi hati orang siapa yang tau.

__ADS_1


Seperti halnya fisik, rasa cinta juga bisa saja hilang, entah karena faktor eksternal ataupun internal.


Orang ketiga atau pengaruh lingkungan merupakan faktor eksternal yang paling banyak memicu keretakan dan pudarnya rasa cinta seseorang.


Sedangkan faktor internal, alasan jenuh, bosan, dan apapun pengucapannya, itu juga bisa membuat komitmen diantara dua orang bisa hancur seketika.


Apalagi setau Rara, suaminya dulu sering bergonta-ganti wanita seperti berganti pakaian.


Kalau dilihat-lihat perempuan yang ia tau pernah dekat dengan suaminya, kebanyakan dari mereka adalah perempuan cantik dan seksi, sementara dirinya?


Ya meski sejak kehamilannya, ia menjadi lebih berisi, apalagi sejak Arana lahir, buah dadanya semakin membesar, mungkin karena adanya Asi.


Tapi tetap saja, dirinya tidak bisa dibandingkan dengan mantan-mantan teman kencan suaminya, sangat bertolak belakang.


Karena itulah, sebisa mungkin Rara menjalankan usaha kecil-kecilan nya.


Ia tidak ingin jika Fernando meninggalkannya, ia mendadak jatuh miskin dan tidak bisa memberi kenyamanan pada anaknya, ya meskipun mungkin kedua kakaknya akan menopang hidupnya, tetapi ia tak ingin membebani mereka.


Rara berencana akan menabung untuk masa depan putrinya kelak, agar nantinya Arana tak kekurangan apapun.


Intinya ia tidak bisa sepenuhnya percaya pada suaminya.


Selesai memeriksa laporan dari Fitri, ia menutup laptopnya lalu melihat ke arah stroller, putrinya telah bangun tapi tak menangis, bayi itu sedang memainkan tangannya.


Rara menggendong putrinya, untuk disusuinya, setidaknya sebelum bayi itu menangis kelaparan, ia harus memberi ASI dulu, supaya tetap tenang, tak lupa ia memeriksa diaper-nya.


Di luar langit terlihat berwarna oranye, indah sekali, Rara mengabadikannya melalui kamera ponselnya.


Teringat dulu, dirinya pernah menyaksikan matahari terbenam disalah satu pantai di Malang.


Untuk pertama kalinya lelaki itu mencium dirinya, ah.... Rara jadi merindukan lelaki itu.


Tatapan mata hijau yang membuatnya berdebar, rasa rindu yang membuatnya sesak.


Rara menggendong kembali putrinya, benar-benar fotokopian lelaki itu, versi cantik.


Mata dan rambut yang sama, Rara memeluk juga mencium aroma khas bayi, wanginya iya suka.

__ADS_1


Sambil melihat pemandangan yang dilewati ular besi itu, Mata bulat itu menerawang jauh, mungkinkah lelaki itu sedang memikirkannya?


Rasanya ingin menangis tetapi dirinya malu menunjukan kesedihannya pada dunia, cukup ia pendam dalam hati.


__ADS_2