Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus lima puluh delapan


__ADS_3

Sebuah suara tawa yang amat sekali dikenalnya, membuat mata hijau itu terbuka.


Namun rasanya kepalanya begitu berat saat dirinya hendak bangkit, Lelaki itu mengaduh sambil memegangi kepalanya.


Ia melihat ke sekeliling, ah.. dirinya ada di kamarnya sendiri, seingatnya semalam ia bersama salah satu mantan pacarnya mengobrol, ia mendengarkan curhatan wanita itu, tentang suaminya yang ketauan selingkuh dengan sekretarisnya.


Dirinya yang sedang kecewa, akibat penolakan dan kaburnya istrinya memilih menjadi pendengar yang baik dari mantan pacarnya, sambil meminum red wine.


Sebatas itu ingatannya, sejak kapan toleransinya terhadap alkohol menurun?


Diantara sahabat-sahabatnya hanya dirinya dan Benedict yang kuat dengan minuman beralkohol itu.


Masa hanya dengan beberapa gelas wine dirinya bisa mabuk?


Lalu siapa yang memindahkannya?


Apa Bagus?


Seingatnya ia menyuruh asistennya untuk mengurus tamu yang ada di lobby ketika dirinya bertemu dengan Kelly.


Memikirkan hal itu membuat kepalanya semakin pusing,


ia memilih bangkit menuju kamar mandi, walau jalannya masih sempoyongan, tapi ia butuh mengosongkan kandung kemihnya.


Didalam kamar mandi, ia teringat, tadi ia terbangun karena mendengar suara tawa putrinya.


Apa Alkohol yang semalam ia minum masih berefek hingga sekarang? sehingga ia sampai berhalusinasi mendengar suara putrinya.


Fernando memutuskan untuk mandi, rencananya pagi ini ia akan pulang ke ibu kota untuk mencari keberadaan istrinya, namun ia kesal karena hari sudah siang.


Kenapa Bagus tidak membangunkannya?


Awas saja, ia akan memotong bonus akhir tahun untuk asistennya itu.


Usai mandi Fernando beranjak menuju lemari dimana pakaiannya berada, namun alangkah terkejutnya ia, mendapati di atas ranjangnya, telah tersedia baju serta dalaman yang akan dikenakannya.


Bukan hanya itu, di kabinet disisi ranjang ada cangkir yang ia tau itu air madu untuk mengurangi pengar.


Apa asistennya yang menyiapkannya?


Kalau baju mungkin Bagus biasa melakukannya, tapi air madu, sepertinya tidak mungkin.


Apa itu Kelly?


Apa semalam terjadi sesuatu antara dirinya dan mantan pacarnya itu?


tapi tadi sewaktu ia bangun, ia masih memakai baju lengkap minus Dasi dan jas.


Fernando memilih meminum air madu itu, ia duduk ditepi ranjang sambil mengingat apa yang terjadi.


hingga, "kok bajunya belum dipakai? kenapa kamu kayak bingung gitu? kamu nyari mbak Kelly, ada tuh di kamarnya, mau aku antar kesana?"ujar Rara sambil mengendong putrinya yang baru saja menyelesaikan makan camilan pagi menjelang siang di balkon kamar itu.


Fernando yang duduk membelakangi balkon menoleh mendengar suara wanita yang kemarin membuatnya kecewa.


Melihat tak ada reaksi dari suaminya Rara menghela nafas, "kamu kecewa karena istri kamu yang ada dikamar ini? bukan mantan pacar kamu yang seksinya bukan main,"


"Ya, aku sadar diri, aku jauh berbeda dari mbak Kelly yang katanya jago di ranjang itu, dia bisa puaskan kamu, beda sama aku yang pasif kalau di ranjang,"lanjutnya.

__ADS_1


Masih tak ada reaksi dari suaminya, lelaki itu terdiam menatapnya.


Rara mendudukkan putrinya di boks sambil memberi mainan, ia melirik suaminya sekilas.


"Jadi ini kelakuan kamu kalau kita berjauhan, bilang muak dengan cewek-cewek kayak gitu, apaan malah pasrah aja tuh diapa-apain sama mbak Kelly,"


Rara masih melanjutkan ocehannya, karena hingga detik ini tak ada tanggapan dari suaminya.


"Kamu kecewa bukan mbak Kelly yang ada di kamar kamu? malah istri dan anak kamu yang ada disini? apa perlu aku panggilkan mbak Kelly untuk mengurus kamu disini ?"


Rara membereskan barang-barang putrinya, dan memasukannya ke dalam travel bag, mungkin kejutan yang direncanakannya gagal total, karena tak ada reaksi apapun dari suaminya.


Fernando menghabiskan air madu, berharap pengar-nya hilang, supaya halusinasinya tentang kedatangan istrinya bisa hilang.


Ia tak ingin kecewa, namun hingga air madu itu habis, dan dirinya menatap ke arah dimana ada bayangan istrinya yang sedang mengomel, namun kenapa bayangan itu tak kunjung hilang?


Apa ini nyata?


Amara sedang menggendong putrinya, lalu menaruh travel bag diatas koper berwarna merah itu.


Wanita itu mengambil alih tangan kanannya dan mencium punggung tangannya, "aku pamit ya, sepertinya kamu nggak suka aku datang,"


Fernando melebarkan matanya, benar ini nyata, istri dan putrinya ada dihadapannya, ini bukan ilusi.


Lelaki itu mengumpat, lalu bangkit mengejar istrinya, seraya memanggilnya.


Kenapa mendadak dirinya menjadi bodoh begini?


Kenapa ia tidak bisa membedakan mana nyata dan ilusi?


Tak peduli dengan penampilannya yang hanya mengenakan handuk melilit di pinggangnya, Fernando keluar kamar, terlihat istrinya sedang menunggu lift.


"Kamu mau kemana?"tanya Fernando panik.


Rara menepis tangan yang memegangi pundaknya, wanita itu melirik suaminya sinis,


"aku mau pulang, bukankah kamu tidak mengharapkan kehadiranku? maaf mengganggu kesenangan kamu,"


belum sempat Fernando menjawab, seseorang memanggil namanya.


Itu Kelly, mantan pacar yang semalam berbincang dengannya, "akhirnya kamu keluar kamar juga, dan wow, kamu makin seksi do, andai semalam tidak ada yang mengganggu, mungkin kita sudah melalui malam panas, seperti yang biasa kita lakukan dulu,"ujarnya sambil meraih lengan kekar Fernando.


Rara tersenyum miris, dan melirik keduanya sinis, "kalau gitu, selamat bersenang-senang, aku pulang dulu mas,"


Suara dentingan terdengar dan pintu lift terbuka, Rara hendak masuk ke kotak yang dikelilingi kaca itu, namun tangannya ditahan oleh suaminya.


"kamu mau kemana Ra?"tanya Fernando.


Rara melirik sinis lengannya yang ditahan oleh suaminya, "aku mau pulang mas, mau ketemu bang Alex,"jawabnya.


Fernando menepis tangan Kelly kasar, "ngapain kamu ketemu Alex?"tanyanya dengan tatapan tajam.


"apa kamu lupa siapa bang Alex? aku ingatkan ya, bang Alex adalah seorang pengacara yang akan aku minta bantuannya untuk mengajukan gugatan ke pengadilan, agar aku dan kamu berpisah lalu kamu bisa bersama perempuan seksi itu dan melakukan kegiatan yang biasa dulu kamu lakukan bersama dia, bukankah aku baik?"


Fernando melotot, ia tak menyangka istrinya akan berkata seperti itu, ia menggelengkan kepalanya, "kamu lupa Amara, apa yang pernah aku katakan pada kamu, sekali lagi aku katakan, sampai matipun aku tidak akan melepaskan kamu, tanamkan di otak kamu, jangan berharap aku akan melepaskan kamu,"ujarnya mengambil paksa putrinya dari gendongan istrinya.


Mata bulat itu melebar, "Kembalikan anak aku, dan silahkan kamu bersenang-senang dengan dia,"

__ADS_1


Fernando menatap mantan pacarnya yang berdiri disebelahnya, "Kelly bisakah kamu pergi dari sini?"ujarnya.


"Oke, aku tunggu di kamar,"ucap Kelly, saat hendak wanita itu mencium pipi Fernando, lelaki itu menghindar.


Rara menggelengkan kepalanya tak percaya, suaminya berkata lembut pada biang masalah kali ini.


"kasih aku Arana, dan silahkan kamu penuhi undangan dari wanita seksi yang sesuai tipe kamu, tentu akan memuaskan kamu di ranjang,"


Fernando diam tak menanggapi ucapan istrinya, ia lebih memilih kembali ke kamarnya sambil menggendong putrinya.


Terpaksa Rara mengikutinya sambil menggeret kopernya.


Fernando meletakan dengan hati-hati putri kecilnya, lalu menatap tajam ke arah istrinya yang baru saja memasuki kamar.


"Apa kamu lupa Amara, aku paling tidak suka kamu menyodorkan aku untuk wanita lain? kenapa kamu lakukan lagi?"tanyanya marah.


Rara duduk di sofa, ia mengambil ponselnya dari kantong gamisnya, ia memainkannya tanpa menanggapi ucapan suaminya.


Fernando yang tak sabar mengambil paksa ponsel milik istrinya, dan membantingnya ke ranjangnya.


"Suami kamu sedang berbicara Amara, apa kamu tidak mau menjawab pertanyaan aku?"


Rara membuang nafasnya kasar, ia berdiri tepat didepan suaminya dan mendongak menatap mata hijau itu, "Aku hanya berbaik hati karena sepertinya kamu ingin bernostalgia dengan dia, bukankah itu menyenangkan untuk kamu?"


"siapa yang bernostalgia Amara? aku tak sengaja bertemu dia semalam,"


"Dan kalian minum bersama hingga mabuk, kira-kira apa ya yang akan terjadi seandainya aku tidak datang dan memergoki kalian berdua? wah, Arana bakal punya saudara selain Nicholas,"sindirnya.


Fernando terdiam menyadari kesalahannya,


"kenapa diam? dengerin aku ya mas, sejujurnya aku sudah muak dengan sikap kamu, didepan aku kamu menolak mereka, tapi dibelakang aku, kamu bahkan hampir tidur bersama perempuan lain, sekarang aku harus bagaimana?"


Mata bulat itu mulai berkaca-kaca, "aku capek mas, aku ingin hidup tenang, bisakah kamu melepaskan aku saja? tolong ijinkan aku pergi, kamu tenang aja, aku tak akan mengembalikan harta atas nama aku, dan kamu bebas bertemu Arana kapanpun,"


Fernando mencengkram kedua lengan istrinya lalu menatap mata bulat itu tajam.


Tidak ada kasih sayang, hanya amarah yang terlihat di mata hijau itu.


"Apa kamu tuli Amara? sampai matipun aku tidak akan melepaskan kamu,"


Setelahnya, Fernando mencium bibir yang sedari tadi terus melontarkan kata-kata pedas itu.


Tak terima Rara memberontak, ia menginjak kaki lelaki itu dengan sneaker yang dipakainya.


Dan tautan itu terlepas, "Apa Lo udah gila, gue muak sama Lo brengsek, gue jijik sama Lo, semalem Lo pasti udah ciuman sama cewek itu kan?"Makinya.


Air mata Rara luruh sudah, dari semalam ia menahan diri untuk tidak menangis, wanita mana yang tidak cemburu melihat suaminya memasuki kamar hotel dengan wanita lain.


"Gue mau pisah sama Lo, gue muak sama Lo,"makinya.


Fernando menatap istrinya tajam, ia tidak menyangka istrinya marah besar, namun apapun yang terjadi ia tak akan melepaskan wanita ini.


Fernando memeluk paksa istrinya dan pukulan yang ia terima bertubi-tubi di dadanya juga makian yang keluar dari mulut wanita itu menandakan Amarah yang begitu besar.


Kali ini Fernando memilih untuk mengalah, ia membisikan kata maaf tepat ditelinga istrinya.


Hingga pukulan itu berkurang dan akhirnya melemah, namun makian itu masih saja keluar dari mulut istrinya,

__ADS_1


"aku benci kamu, aku muak sama kamu, aku jijik kamu disentuh oleh wanita lain, aku benci seperti ini,"ujar Rara sambil memukuli dada suaminya.


Fernando memeluk erat istrinya, "iya aku layak dibenci, aku minta maaf, pukul aku Amara, maki aku, sampai kamu puas, asal jangan pernah meninggalkan aku,"


__ADS_2