Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
tiga belas


__ADS_3

Kereta tiba di Surabaya setelah menempuh perjalanan hampir dua setengah jam.


Fernando mengajak Rara, membeli roti disalah satu outlet yang ada di Stasiun, untuk mengganjal perut mereka selama perjalanan menuju tempat janjian dengan salah satu kolega bisnisnya.


keduanya menaiki taksi dari stasiun, tidak sampai setengah jam mereka tiba disalah satu hotel di kota itu, keduanya memasuki restoran mewah yang masih didalam area hotel.


Rara sempat menolak masuk, Karena malu dengan penampilannya, tapi mana bisa ia menolak permintaan Fernando.


Yang membuat Rara terkejut, lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai calon istrinya kepada koleganya itu.


Fernando mulai serius membicarakan tentang bisnisnya,


Dari pembicaraan itu, Rara baru tau, jika Fernando adalah seorang CEO dari salah satu resort terkenal di Bali, lelaki paruh baya bernama pak Renaldi akan memakai hotel untuk kegiatan perusahaan miliknya.


Rara hanya mendengarkan sambil memakan steak yang rasanya lumer di mulut, kualitas daging impor dari negara sakura tak diragukan lagi, ia sempat mendengar chef yang mengantar langsung saat steak disajikan,  seumur-umur ia baru makan daging selezat ini.


Dalam hati, Rara bersyukur, setidaknya sekali seumur hidupnya ia sudah memakan daging mahal itu.


Pembicaraan bisnis itu berlangsung lebih dari tiga puluh menit, dan Rara juga telah menghabiskan desert beberapa menit yang lalu.


"Sayang, apa kamu mau desert lagi?"tanya Fernando yang membuat Rara sempat terkejut.


Gadis itu menggeleng sembari tersenyum memperlihatkan bibir berbentuk hati itu.


Setelah kesepakatan kerjasama itu selesai, Fernando dan pak Renaldi berjabat tangan, tak ketinggalan sekretarisnya, Rara juga diajak untuk berjabat tangan.


Sepeninggal lelaki paruh baya itu, Fernando melihat jam tangan di pergelangan tangannya, "sepertinya kita harus segera berangkat ke bandara,"ujarnya berjalan menuju pintu keluar hotel, dan menghentikan taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan lobby.


Rara mengikuti lelaki itu menaiki taksi yang akan membawa keduanya menuju bandara.


Didalam perjalanan, Fernando membuka tab miliknya, entah apa yang lelaki itu kerjakan, karena saat Rara melirik, lelaki blasteran itu  terlihat sibuk.


Hingga, "mana KTP kamu, aku pinjam sebentar,"ucap lelaki itu tanpa menatap gadis disampingnya.


Rara mengambil tanda pengenalnya dari dompet yang ia  ambil dari Sling bag berwarna hitam itu dan memberikannya kepada Fernando.


Rara melirik apa yang dilakukan lelaki blasteran itu, sepertinya ia dipesankan tiket pesawat oleh lelaki itu.


Dalam hati Rara bertanya, bukankah tadi, lelaki itu akan bertanya tentang pendapatnya, tapi lihatlah, lelaki itu membelikan tiket pesawat tanpa mendiskusikan dengan dirinya terlebih dahulu, ingin bertanya, takut lelaki itu marah.


Bagaimanapun Rara belum tau sepenuhnya, temperamen lelaki itu ketika marah.


Hingga setengah jam menuju waktu keberangkatan pesawat, taksi sudah tiba di bandara.

__ADS_1


Fernando menggendong tas ransel milik Rara, tangan kirinya menggeret koper miliknya, sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan gadis itu.


Rara diam saja, ketika lelaki itu mengajaknya menuju tempat pengecekan barang-barang bawaan juga tiket pesawat.


Hingga keduanya tepat di tangga pesawat, Fernando masih menggandeng tangan Rara, seolah takut, gadis itu akan lari darinya.


Tak ada obrolan diantara keduanya hingga pesawat lepas landas, Fernando terdengar menghela nafas lega, dan baru melepaskan genggaman tangan itu.


"Mas, kenapa baru dilepas sekarang?"tanya Rara seolah tau maksud dari sikap lelaki itu.


"Kan udah sampai pesawat, apa kamu mau aku genggam tangan  kamu terus menerus?"


"Tidak perlu, bukankah seharusnya saat kita masih di lobby hotel, kamu bertanya terlebih dahulu, aku mau ikut kamu atau tidak, dan sedari tadi kamu sibuk sendiri seolah tidak ingin mendengar pendapat aku,"


"Lalu apa mau kamu sekarang? Apa kamu loncat dari pesawat? Kalau iya silahkan," ujar lelaki itu menyeringai.


"Apa kamu sengaja?"


"Kalau iya kenapa? Dan aku tidak peduli kamu marah atau tidak, yang jelas kamu sekarang bersama aku,"


"Kamu licik ya!"


"Yes, it's me, dan kamu sudah tidak bisa mundur, kamu harus selalu bersama aku,"


"Aku bisa balik begitu sampai bandara,"


Rara mengernyit, "maksud kamu?"


Fernando menyunggingkan senyumannya, lalu mendekati telinga gadis disampingnya, "kamu tak akan bisa mundur lagi, sejak kamu mengikuti aku, itu artinya kamu milik aku, kamu salah mengikuti lelaki,"


Rara melebarkan matanya, ia menatap Fernando yang mengangkat bahunya sambil tersenyum yang terlihat menyebalkan di mata gadis itu.


Ada rasa sesal muncul pada gadis itu, kenapa ia begitu bodoh mau mengikuti lelaki asing itu, hanya karena patah hati mengetahui calon suaminya sudah beristri dan memiliki anak.


Terkadang perempuan jika sudah patah hati tidak bisa berfikir jernih dan cenderung berbuat nekad.


Sebenarnya tadi saat Rara mendatangi hotel, tempat dimana Fernando menginap, ia hanya ingin memastikan apa laki-laki itu masih ada atau tidak.


Mungkin saja jika berjalan-jalan dengan lelaki tampan itu, bisa mengobati patah hati yang hanya ia ketahui sendiri.


Bapak, ibu dan kakaknya tidak ada yang tau, jika calon suaminya diam-diam telah menikah secara siri dan memiliki seorang anak, bahkan tadi pagi, Rara bertemu dengan istri dan anak calon suaminya, mereka sempat mengobrol dan sarapan bersama.


Rara baru mengetahui, jika calon mertuanya tidak menyetujui pernikahan mereka dikarenakan perempuan itu hanya lulusan SMA dan berasal dari keluarga tak mampu.

__ADS_1


Bimbang melanda pikiran Rara saat itu, disisi lain ia tak tega merebut kebahagiaan perempuan itu dan anaknya, tapi disisi lain ia tak ingin keluarganya menanggung malu karena dirinya gagal menikah yang kedua kalinya.


Karena alasan itulah ia memilih untuk melarikan diri dari rumah, saat Fernando menawarkan diri untuk mengajaknya keluar kota.


Ia pikir lelaki itu hanya mengatakan omong kosong soal betapa brengseknya dia, walau beberapa hari yang lalu, lelaki itu berani mencium bibirnya, namun saat itu Rara berfikir, keduanya hanya terbawa suasana saja.


Tapi mengapa dirinya merasa terjebak sekarang, niat hati ingin menghindari masalah, malah menambah masalah.


Rara terdiam melihat pemandangan diluar jendela, terlihat langit yang mulai gelap, sebenarnya ini baru pertama kalinya dirinya menaiki moda transportasi ini.


Dahulu saat masih kuliah, ia jalan-jalan ke Bali menaiki bus pariwisata yang disewa pihak kampus.


Ada beberapa hal baru yang ia alami saat bersama lelaki disampingnya, berkenalan dengan lelaki blasteran, ciuman pertama, makan di hotel mewah dan menaiki pesawat.


Mungkin akan ada lagi hal baru yang akan ia alami kedepannya, entah apa, Rara hanya membiarkan semuanya mengalir saja, ada sedikit harapan jika lelaki itu hanya mengatakan omong kosong soal akan menidurinya.


Tangan kanan milik gadis itu digenggam oleh Fernando, lelaki itu menciuminya, entah apa maksudnya, yang jelas hal itu membuat Rara sempat terkejut.


"Kamu kenapa diam aja, apa kamu takut sama aku?"tanya lelaki itu.


Rara menggelengkan kepalanya, "aku hanya bingung kenapa aku bisa berada disini, bersama lelaki asing yang beberapa hari yang lalu baru aku kenal,"


"Apa kamu menyesal?"tanyanya lagi.


"Aku tidak menyesali apa yang aku lakukan dan kemana kaki ini membawaku,"ujarnya sambil melirik celana kulot berwarna krem yang ia kenakan, "aku hanya tak percaya, aku melakukan hal sejauh ini,"


Fernando kembali mencium tangan gadis itu dan menatap bola mata hitam milik gadis disampingnya, "akan ada banyak yang kita lakukan setibanya di Bali, persiapkan diri kamu sayang,"


"Kenapa sedari tadi kamu memanggil aku sayang dan memperkenalkan aku sebagai calon istri kamu kepada kolega kamu, bukankah tidak ada kesepakatan diantara kita?"


"Bukankah aku pernah bilang kalau kamu calon istri aku dimasa depan?"


"Kenapa kamu yakin sekali? Kita baru bertemu beberapa hari yang lalu, kamu belum tau siapa aku, dan aku juga tidak tau siapa kamu, kita hanya orang asing yang kebetulan bertemu,"


"Ra, hati aku yang mengatakannya, kalau kamu akan jadi istri dan ibu dari anak aku,"


"Kenapa kamu percaya diri sekali sih? Kamu tau kan kalau sepulangnya aku dari Bali, aku akan menikah,"


"Tapi kamu tidak akan menikah dengan lelaki selain Fernando,"


"Terserah kamu mas, kamu boleh mengatakan apapun yang ada dipikiran kamu, toh semuanya akan terjawab seiring berjalannya waktu,"


"Pintar kamu sayang, nanti aku jatuh cinta beneran sama kamu gimana?"

__ADS_1


"Hak kamu mas bule, oh ya seminggu lagi hari pernikahan aku, mungkin aku ikut kamu sampai besok, aku harus segera pulang untuk mempersiapkan diri menjelang hari H,"


"Kita lihat nanti sayang,"ucap Fernando dengan seringainya.


__ADS_2