
Fernando memutuskan menuju ruang kerjanya, untuk memeriksa apa yang terjadi selama ia tidak berada di Apartemen.
Bisa saja ia mengecek melalui ponselnya, tapi tidak akan ia lakukan jika sedang berada di apartemen, bisa-bisa istrinya marah, gara-gara selalu ia awasi.
Dirinya juga tau, keakraban yang terjalin antara istri dan putranya, tentu saja ia cemburu meskipun itu anaknya sendiri, kalau boleh jujur, ia lebih suka Rara hanya untuknya, semua perhatian milik wanita itu harus tertuju padanya.
Namun itu tak mungkin, mengingat ada anak-anak dan tanggung jawab pekerjaan yang harus dirinya lakoni.
Andai boleh, mungkin ia hanya ingin hidup berdua dengan istrinya di sebuah pulau tak berpenghuni.
Tetapi untuk sekarang ini, hal itu tak mungkin ia lakukan, mungkin nanti ketika anak-anak telah dewasa dan ia sudah pensiun, ia akan hidup berdua hanya dengan wanita itu.
Sebenarnya ada pintu penghubung antara kamar miliknya dan ruang kerja, tetapi ia memilih keluar dari kamar, untuk membuat kopi terlebih dahulu.
Namun belum sampai ditempat yang ia tuju, dirinya dikejutkan dengan sesosok wanita yang berpakaian seksi sedang duduk di sofa.
Fernando sudah bertemu, mengenal Bahkan berkencan sekaligus tidur dengan banyak wanita.
Mungkin dulu dirinya akan dengan senang hati, menghampiri, bahkan berhubungan intim saat itu juga.
Namun sejak mengenal Amara Cahyani, ia seolah muak serta jijik dengan para wanita yang menyodorkan diri padanya.
Bahkan ia bisa sampai muntah-muntah jika ada yang menggodanya, seperti saat dirinya bersama Benedict melakoni misi hampir setahun lalu.
Dan sekarang, Mantan pacar sekaligus ibu dari putranya melakukan hal yang membuatnya muak.
Andai tidak ingat istrinya dan anak-anaknya yang sedang tidur, mungkin dirinya tak segan menyeret, menghajar Tamara, atau mungkin mencekiknya sampai mati.
Jangan dipikir Fernando tak bisa menyakiti wanita, mungkin sebelum dirinya bergabung dengan organisasi itu, ia tak akan tega melakukan kekerasan pada mahluk yang katanya lemah itu.
Namun sekarang Fernando berbeda dengan masa dia SMA dulu, yang hanya menghajar laki-laki, beberapa kali ia bahkan menghajar anggota mafia berjenis kelamin perempuan hingga meregang nyawa.
Seolah tak kasat mata, ia berlalu menuju dapur untuk membuat kopi instan yang biasa tersedia disalah satu lemari penyimpanan di dapur.
Ia sadar jika wanita yang tengah mengenakan lingerie berwarna merah itu melangkah padanya, tapi sekali lagi ia tak mempedulikannya.
__ADS_1
Mungkin nanti setelah istrinya terbangun, ia akan menanyakan kenapa mantan pacarnya bisa berada di apartemen mereka.
Hingga pelukan di pinggangnya, membuatnya tersadar dari lamunannya,
"Do, aku kangen sama kamu,"suara yang dibuat selembut mungkin oleh wanita itu.
Fernando melepaskan kasar pelukan itu, andai tak ingat istri dan anak-anaknya, mungkin kopi dengan air mendidih itu, sudah ia siramkan ke wajah Tamara.
Lelaki itu berlalu dari dapur menuju ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti karena tarikan dari Tamara.
Dengan tak tau malu, wanita itu memeluknya erat, dan yang membuatnya mengumpat, disaat bersamaan Rara keluar dari kamar dan melihat ia dipeluk wanita lain.
Yang membuatnya semakin bingung adalah sikap dari istrinya, bukannya marah atau menangis, Rara justru bersikap seolah tak apa-apa.
Istrinya berjalan melewatinya mengambil air minum yang ada di teko meja makan.
Fernando melepas paksa pelukan itu, ia meletakan kopinya di meja makan, lalu memeluk istrinya yang tengah minum dari belakang.
"Maafkan aku Amara, dia yang memeluk aku duluan, sumpah,"
Rara tak menanggapi ucapan suaminya, ia menghabiskan segelas air minum, lalu meletakkan gelas itu dengan sedikit kasar di meja.
Hal itu membuat Fernando semakin khawatir, lebih baik ia dimaki atau dipukul dari pada harus didiamkan seperti ini.
Ia menatap tajam Tamara, tanpa berucap apapun, lalu mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar.
Fernando mengunci kamar supaya tamu tak diundang itu, tidak menggangu dirinya dan istrinya.
Rara membaringkan tubuhnya di ranjang, setelah memastikan putrinya, masih tidur dengan nyenyak, di boks bayi berwarna putih itu.
Fernando bergabung dengan istrinya, lalu memeluknya dari belakang, "Uma Sayang, aku bersumpah dia yang memeluk aku duluan, itu juga tiba-tiba dan aku tidak sempat mengelak, sehingga kamu melihat hal itu,"jelasnya tepat di telinga wanita yang ia cintai.
Rara terdiam, memejamkan mata, jujur saja ia terluka, ia cemburu, melihat suaminya dipeluk oleh wanita yang dulunya pernah menjalin kasih dengan lelaki itu, ditambah lagi ada penguat hubungan mereka yaitu Nicholas.
Putra sulung suaminya, bukannya ia mengkhawatirkan warisan yang akan diterima anak kandungnya, tetapi pada umumnya, anak lelaki lebih dibutuhkan untuk meneruskan nasab dan warisan dari ayahnya.
__ADS_1
Meskipun Rara tau betul tentang hak anak diluar nikah, tetapi tetap saja ia khawatir.
"Amara, please jangan marah, jangan tinggalkan aku,"
Fernando masih berusaha membujuk istrinya yang sedari tadi diam saja.
Tak sabar, Fernando membalik tubuh istrinya untuk berada di atasnya, sehingga keduanya bisa bertatapan.
Mata bulat itu tak menatapnya, Fernando tau betul, istrinya menghindarinya, ia memegang kedua sisi wajah wanita itu, lalu mengecup bibir yang menjadi candunya.
"Ra, kamu tau bukan, aku hanya mencintaimu, kamu bisa merasakan sekarang, betapa kencangnya debaran di dada aku, ini masih sama dari pertama aku ketemu kamu, hanya dengan kamu aku begini, jadi tolong percayalah, aku tidak akan mengkhianati kamu,"
Setelah mendengar ucapan suaminya, Rara menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, ia bisa merasakan debaran kencang melebihi normalnya jantung berdetak.
Benar, ia tau suaminya berkata jujur, hanya saja, entah kenapa ia masih kesal dengan apa yang dilihatnya.
Dirinya tak berani menatap suaminya, bisa-bisa air mata yang sedari tadi ia tahan, bisa tumpah seketika .
Fernando menepuk punggung itu, rasanya selalu menyenangkan hanya dengan memeluk istrinya, sesuatu yang hilang seminggu ini, karena tuntutan pekerjaannya di Bali, rasanya energi yang hampir drop kini mulai terisi penuh, selain kegiatan panas mereka yang dilakukan beberapa menit yang lalu.
Teringat ada yang terlupakan, Fernando kembali memegang kedua sisi wajah istrinya, "aku tanya, kenapa dia ada di apartemen kita?"tanyanya.
"Apa kamu lupa dia adalah ibu kandung Nicholas?"tanya Rara balik.
"Aku juga tau, tapi kenapa kamu ijinkan? Apa Nicholas yang memintanya?"
Rara menggeleng, "setau aku, Nicholas tidak pernah meminta mommy-nya datang, aku bisa bicara begini, karena, semua isi chat mereka Aku diberitahu oleh Nicholas, bahkan aku membacanya,"
"Jadi Dia yang meminta untuk menginap disini? Kenapa kamu ijinkan?"tanya Fernando kesal.
"Memangnya menurut kamu aku berhak memisahkan seorang ibu dengan anaknya sendiri? Aku juga seorang ibu jadi aku tau rasanya jika hal itu terjadi,"
"Tapi dia sudah bertindak kurang ajar sama aku, apa dia pikir aku akan tergoda olehnya, bahkan tadi aku ingin mencekiknya, aku muak dengan wanita seperti itu,"ungkapnya kesal.
Rara sampai menganga mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya, ia menggeleng seolah tak percaya, "kamu akan membunuhnya? Apa kamu nggak berfikir, apa yang akan terjadi dengan Nicholas jika tau Daddy-nya ingin membunuh mommy-nya?"
__ADS_1
Fernando bangkit untuk duduk dan bersandar di head board, ia membelai rambut istrinya yang sekarang duduk di pangkuannya, "aku nggak peduli Amara Sayang, dia sudah mengganggu ketenangan hidup aku, terutama kamu,"
"Dan jika kamu melakukan itu, maka kamu akan mendapati aku dan Arana juga Nicholas, pergi dari sisi kamu, aku nggak mau punya suami pembunuh,"setelah mengatakannya Rara bangkit dari pangkuan itu, lalu membaringkan tubuhnya membelakangi suaminya.