
Rencana awal suami istri itu berbelanja kebutuhan bayi, tertunda sementara dikarenakan, Rara mengajak suaminya mengunjungi rumah Pradikta dan keluarganya.
Sepanjang jalan, Fernando diam, lelaki itu bahkan memanyunkan bibirnya, merajuk tentu saja, demi Istri tercinta ia meminta maaf pada orang yang kemarin ia hajar habis-habisan.
Dulu sewaktu sekolah menengah akhir ia sering berkelahi dengan Ben, tapi tidak ada istilah maaf-memaafkan diantara keduanya, meski mereka bersahabat dekat.
Hal itu hanya terjadi jika keduanya dipanggil oleh guru bimbingan konseling disekolah.
Kemarin berkelahi hingga babak belur, keesokan harinya mereka kembali seperti biasanya seolah tak ada yang terjadi kemarin.
Tetapi sekarang ini, demi wanita yang ia cintai, ia melakukan hal diluar kebiasaannya.
"Amara,"panggilnya pada sang istri yang sedari tadi memainkan ponsel dengan softcase strawberry itu.
"Hem..."sahutnya tanpa memandang suaminya.
"Hadap sini Amara, suami kamu mau bicara,"
Masih fokus dengan ponselnya, Rara menjawab, "bentar mas, nanggung, aku balas email dari Fitri,"
Fernando mengernyit, "sepertinya aku baru dengar nama Fitri, siapa dia?"tanyanya.
Rara yang masih fokus, hanya menjawab, "anak dari sepupunya mbak Anisa, ini dia lagi laporan soal pembayaran ke produsen,"
Setelah mengatakannya, Rara baru tersadar ada yang salah, ia membulatkan matanya, lalu menutup mulutnya sendiri, ia kelepasan bicara, tentang usaha yang ia jalankan secara diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya,
Fernando memberhentikan laju mobilnya tepat dipinggir jalan didekat gerbang masuk komplek perumahan dari Pradikta.
Lelaki itu menghadap istrinya, "jadi selama tiga tahun kamu pergi dari aku, mbak Anisa tau keberadaan kamu?" Tanyanya sambil tersenyum miris, "hebat banget mereka dalam menyembunyikan keberadaan kamu, jadi selama itu mbak Anisa menipu aku, dasar gila, aku bodoh banget percaya sama wajah polos kakak ipar kamu,"
Rara menggeleng, "itu aku yang minta, jangan marahi mbak Anisa, saat itu aku nggak berani ketemu kamu, karena gara-gara peristiwa kecelakaan itu membuat aku kehilangan bayi kita, aku merasa bersalah sama kamu dan umi, maka dari itu aku memohon dengan sangat kepada mbak Anisa, bahkan aku mengancam akan kabur lagi jika mereka memberitahukan keberadaan aku ke kamu,"dustanya.
Fernando menghembuskan nafasnya kasar, "hal kayak gitu nggak akan mengurangi rasa cinta aku ke kamu Ra, aku juga sedih saat tau anak kita tidak bisa diselamatkan, tapi aku lebih takut jika harus kehilangan kamu,"
"Mas, saat itu kita baru menjalani hubungan beberapa bulan bukan? Kita juga belum menikah, jadi aku belum yakin sama kamu,"
"Oke, aku terima alasan kamu, tapi kamu harus cerita ke aku, dimana selama tiga tahun kamu nggak ada disisi aku?"
"Buat apa kamu mau tau sih? Lagian aku sekarang ada di samping kamu, lagi menunggu lahiran pula,"
__ADS_1
"Tinggal jawab apa susahnya sih ra," ujar Fernando mulai tak sabar.
"Pokoknya naik kereta dari sini sekitar lima sampai enam jam, naik mobil pribadi sekitar tujuh jam,"
"Ra, aku orang paling nggak sabaran, nggak usah kasih teka-teki, aku nggak sesabar itu,"
Merasa terpojok akhirnya Rara mengaku dan menyebutkan alamat rumah Mbah Sarmi beserta usaha yang ia lakoni bersama Fitri.
Fernando tersenyum, "gitu dong, tinggal jawab aja, kan enak kalau kayak gitu,"
Rara merutuki dirinya sendiri, kenapa dengan gampangnya ia mengatakan tempat rahasianya.
Fernando kembali melajukan mobilnya menuju rumah Pradikta.
Tak berapa lama, keduanya telah tiba di tempat tujuan.
Irwan dan Arini menyambut kedatangan tamunya dengan tangan terbuka.
Rara memberitahukan jika ia ingin menjenguk Pradikta, sekaligus meminta maaf.
Wanita hamil itu tau betul sifat pasangan paruh baya itu, keduanya pemaaf, mulia sekali hati mereka, dengan ikhlas memaafkan ulah Fernando yang membuat putra semata wayangnya babak belur.
Di sana Pradikta sedang duduk bersandar di head board ranjangnya, dengan laptop yang berada di pangkuannya.
"Hai Ta,"sapa Rara dengan senyumannya,
Mendengar suara sahabatnya, Pradikta menoleh dan tersenyum tetapi senyuman itu hilang ketika melihat siapa yang ada dibelakang Rara.
"Hai Ra,"sapanya balik dengan senyum kecutnya,
Rara menarik kursi beroda yang berada tak jauh dari ranjang, wanita itu duduk di kursi lalu mempersilahkan suaminya duduk di sisi ranjang yang kosong.
"Ta, maaf soal semalam,"ungkap Rara.
Pradikta menutup laptopnya, "nggak apa-apa Ra, harusnya aku menghilangkan kebiasaan itu, wajar suami kamu melakukan hal itu,"
"Ya nggak bisa gitu Ta, aku merasa bersalah sama kamu,"
"Serius nggak apa-apa Ra,"
__ADS_1
Rara melirik suaminya, seolah menyuruh lelaki itu untuk meminta maaf.
Dengan terpaksa Fernando meminta maaf pada Pradikta dan lelaki dengan beberapa lebam di wajahnya, memaafkan suami dari Rara itu.
Setelahnya, Rara kembali mengobrol dengan Pradikta sementara Fernando melihat ke sekeliling kamar Pradikta, terlihat ada foto ketika remaja di pigura yang diletakan di meja belajar disalah satu sudut kamar.
Lelaki itu mendekat, lalu mengambil foto itu, terlihat Pradikta berada ditengah diapit oleh Ayudia dan Rara, sepertinya ketiganya sedang menjalani masa orientasi siswa yang mewajibkan para siswa mengenakan aksesoris aneh.
Rara dan Ayudia yang rambutnya di kuncir dengan tali rafia berbeda warna, lalu dileher ketiga sahabat itu terdapat dot bayi yang dikalungkan dengan seutas tali rafia, mereka tersenyum lebar menghadap kamera.
Fernando menyadari sedari dulu senyuman dan Tawa Rara selalu sama hingga saat ini, bentuk hati dari bibir merah muda itu, membuatnya terpesona.
"Apa aku boleh mengambil foto milik istriku?"tanya Fernando tiba-tiba, tanpa menghadap kedua sahabat yang sedang mengobrol.
Rara menghampiri suaminya yang tengah memegang pigura, lalu melihat foto yang ada di sana, "ini aku juga punya, tapi disini aku lagi jelek banget, lihat aja muka dekil aku,"
"Aslinya Amara nggak gitu kok, itu wajahnya memang sengaja dibuat gelap, suruhan kakak kelas kami, aslinya yang kayak sekarang, nggak berubah sama sekali, beda sama aku dan Ayudia,"celetuk Pradikta menimpali,
"Apaan sih Ta, aku dekil dulu," sangkal Rara.
"Kalau mas Nando nggak percaya tanya aja sama mama aku, nanti juga dikasih lihat, album foto masa remaja kami bertiga,"
Rara menggeleng, "jangan, aku malu, aku jelek banget dulu,"
"Bohong mas, Amara dari dulu itu cantik, banyak cowok yang suka sama dia, tapi dia pemalu dan cuek, udah gitu Ayudia ketus sama cowok-cowok yang pedekate sama Amara, jadi ya pada mundur,"jelas Pradikta mengenang masa lalu.
"Kamu berlebihan Pradikta,"ujar Rara dengan wajah memerah.
"Aku ingat, selesai Masa orientasi siswa, kamu ditembak sama ketua OSIS kan didekat lapangan basket, cuman kamu tolak, malah ngaku kalau aku pacar kamu kan?"
"Aku nggak boleh pacaran Dikta sama Bapak, makanya aku tolak,"
"Bapak kamu kan protektif banget sama anak bungsunya, temen cowok satu-satunya Amara selama tiga tahun yang dibawa ke rumah hanya aku, maka dari itu kami sudah seperti keluarga,"
"Mas Nando, aku minta maaf, karena kebiasaan kami yang selalu seperti itu ketika kami bertemu dan berpisah, jadi aku harap Mas Nando tidak marah karena kedekatan kami, dan soal rencana menikah, itu memang sudah perjanjian diantara kami bertiga, aku harap mas Nando mengerti,"jelas Pradikta panjang lebar.
Fernando mengangguk,
Rara dan Pradikta bernafas lega telah menjelaskan kedekatan keduanya.
__ADS_1