Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus sepuluh


__ADS_3

Fernando menggandeng istrinya menuju mobil miliknya, ia membukakan pintu juga memasangkan seat belt, lalu beralih mengitari mobil menuju sisi kemudi.


saat hendak melajukan mobilnya, istrinya memegang tangan miliknya, wanita hamil itu mengambil sapu tangan yang ada di Sling bag berwarna cokelat itu, lalu mengikatkannya pada punggung tangannya yang terluka.


Fernando diam tak bersuara, ia bahkan mengalihkan pandangannya menatap ke depan, hingga istrinya selesai mengikat punggung tangan miliknya, ia mulai melajukan mobilnya.


Baru keluar dari gerbang komplek, suara istrinya membuatnya melirik sekilas,


"Kita ke rumah sakit ya! Obati luka kamu,"


Fernando tak menanggapi, ia terus melajukan mobilnya.


Kembali hening tak bersuara, tak sampai sepuluh menit, mobil telah sampai di depan rumah milik umi Fatimah,


Fernando turun terlebih dahulu, membuka pintu gerbang, ia kembali untuk memarkirkan mobil miliknya di carport.


"Kenapa nggak ke rumah sakit, punggung tangan kamu harus diobati, kalau nggak nanti infeksi,"Rara memperingati suaminya.


Tak mau menanggapi, Fernando keluar dari mobil dan berjalan menuju sisi yang lain untuk istrinya.


Lelaki itu diam seribu bahasa bahkan hingga keduanya masuk ke dalam rumah.


Keadaan rumah yang lama tidak dihuni tampak bersih dan rapih, karena dua hari sekali ada orang belakang komplek suruhan umi, membersihkan rumah itu.


Rara menuju dapur, mengambil air dari dispenser yang ada di sana, kejadian beberapa saat yang lalu membuat tenggorokannya kering.


Ia mengambil satu gelas penuh air mineral lalu membawanya ke meja makan yang menyatu dengan area dapur, ia duduk di kursi, wanita hamil itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, entah mengapa tiba-tiba kepalanya pusing.


Rara berfikir mungkin efek tadi ia menangis, atau tertekan, ia tak menyangka suaminya akan se-brutal itu, apa ini maksud perkataan lelaki itu saat memintanya untuk pulang tempo hari.


Apa seperti tadi wajah asli suaminya?


Apa ada hal yang ia tidak ketahui tentang suaminya?


Lalu setelah ini apa lagi yang akan lelaki itu tunjukan padanya?


Dan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya semakin pusing sendiri.


Ada sedikit rasa takut yang terlintas dipikirannya, apa seandainya jika ia benar-benar mengetahui wajah asli suaminya, ia masih bisa bertahan disisi lelaki itu.


Sejujurnya seumur hidupnya, sekalipun ia tak pernah berurusan dengan tindakan kekerasan semacam tadi.

__ADS_1


Ia anak bungsu yang dijaga oleh orang tua dan kedua kakak laki-lakinya dengan baik, walau sempat tinggal di lingkungan pada penduduk ibukota, namun di sana, tetangganya tak pernah berkonflik seperti halnya pemukiman padat lainnya.


Di Malang juga sama, tetangga sekitar juga hidup dengan rukun dan damai.


Di sekolah dan di kampus juga, lingkungannya sehat jauh dari konflik, bisa dibilang hidupnya selama dua puluh tujuh tahun iniĀ  selalu damai.


Rara hanya melihat orang berkelahi saling memukul saat dirinya melihat sinetron, drama atau film di televisi maupun video yang ada di ponsel.


Baru beberapa menit yang lalu didepan matanya sendiri ia melihat bagaimana sahabatnya dipukul dan ditendang oleh suaminya sendiri, dan selama ini ia pikir lelaki itu orang yang lembut, tidak kasar seperti tadi.


Rara meminum air itu hingga tandas, rasanya satu gelas saja tidak cukup untuk membuat kerongkongannya lega, ia bangkit lagi untuk mengambil air mineral di dispenser.


Bahkan wanita hamil itu sampai duduk di lantai, untuk lebih mudah mengambilnya, agar kerongkongannya tak lagi kering.


Dua setengah gelas Rara habiskan untuk menuntaskan dahaganya, tapi masih belum sepenuhnya kerongkongannya lega, ia jadi teringat saat ia gelisah menunggu sidang skripsi dulu, ia melakukan hal yang sama dengan saat ini.


Saat dirinya gelisah, merasa takut dan tak tenang, ia menjadi banyak minum, untuk meredakan rasa yang menghinggapinya.


Apakah saat ini ia merasa ketakutan?


Apa ia merasa gelisah?


Apa ia sedang tak tenang?


Rara memutuskan mengambil air satu gelas lagi, ia tau mungkin setelah ini dirinya akan bolak-balik ke kamar mandi, namun ia tak perduli, baginya yang terpenting, bagaimana caranya ia menghilangkan dahaga ini.


Cukup lama Rara duduk didepan dispenser, entah berapa menit,


"Kamu ngapain disitu? Apa kamu baik-baik saja?"tanya Fernando.


Rara yang merasa di ruangan itu hanya dirinya, menoleh melihat ke arah suara, terlihat suaminya yang sudah mandi mendekatinya.


Dengan susah payah, Rara berusaha bangkit dan melangkah, meskipun rasanya tak nyaman, tetapi ia berusaha menjauh dari sana.


Entah mengapa ia sedikit merasa takut dengan lelaki itu.


Tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya, Rara memilih masuk ke kamar yang biasa digunakannya.


Sepertinya berendam air hangat, akan membuat pikirannya lebih rileks, Rara putuskan memasuki kamar mandi yang ada disalah satu sudut kamar itu.


Tak lupa ia mengambil baju daster untuknya berganti nanti usai mandi.

__ADS_1


Ia mengunci kamar mandi, ia mulai membuka hijab, Ciput, gamis, celana legging, kaos kaki serta dalaman miliknya.


Di dalam bathtub sudah tersedia air mandi yang sepertinya disiapkan oleh lelaki itu.


Tercium aroma favoritnya, Rara memulai merendam tubuh polosnya di dalam sana, ah... Rasanya nyaman sekali.


Ia mulai bersandar disalah satu sisi bathub, ia mulai menghirup aroma yang membuatnya tenang.


Rasa lelah itu perlahan berganti rasa nyaman, entah berapa lama ia memejamkan mata, hingga gedoran di pintu kamar mandi membuatnya terbangun.


Ah... Saking nyamannya ia sampai tertidur, ia menyahut mengatakan bahwa dirinya masih mandi, dan suara itu berhenti dengan sendirinya.


Air di bathtub tak lagi hangat, ia memilih untuk menyudahi acara berendam nya, ia memutuskan untuk membilasnya dibawah guyuran shower air hangat, sepertinya keramas akan membuat kepalanya yang tadi sempat pusing akan lebih nyaman.


Pertama-tama ia memilih mencuci rambutnya, ia tau air hangat tak bagus untuk wajahnya, namun kali ini ia tak peduli, yang ia pikirkan bagaimana ia nyaman.


Usai urusan mandi selesai, ia mengeringkan rambutnya yang sudah hampir satu tahun ini tak ia pangkas dengan handuk baru yang tersedia di bawah lemari wastafel.


Ia memakai daster selutut untuknya tidur, sebenarnya perutnya sedikit lapar, tapi terlalu malas untuk membuka mulut.


Berfikir soal makanan, ia jadi teringat kue yang diberikan Arini, sepertinya ia meninggalkannya di teras rumah milik wanita paruh baya itu.


Mendadak ia merasa kesal teringat kejadian tadi, bayangan menikmati kue nastar berisi selai strawberry buatan Arini, sirna sudah akibat perbuatan brutal suaminya.


Masih mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia juga teringat keadaan Pradikta, ia jadi merasa bersalah dengan lelaki itu juga kedua orangtuanya.


Apa sahabatnya baik-baik saja?


Apa harus sampai dibawa ke rumah sakit?


Ingin rasanya ia mengetahui keadaan Pradikta, tapi ia tak ingin menambahkan masalah untuk lelaki itu.


Merasa rambutnya tak terlalu basah, ia memutuskan untuk keluar dari sana.


Rara terkejut, suaminya berdiri dan bersandar disebelah pintu kamar mandi, apa lelaki itu menunggunya?


Wanita hamil itu berlalu menuju meja rias, ia duduk didepan cermin lalu mulai menyisir rambutnya yang masih sedikit basah,


Seperti sudah kebiasaan, tanpa diminta, lelaki itu mengambil hair dryer yang ada di kabinet disisi ranjang, lelaki dengan kaos polos berwarna putih itu mulai mengeringkan rambut istrinya.


Rara hanya diam tanpa suara, ia juga memilih menunduk menghindari kontak mata dengan suaminya, ia hanya melirik sekilas, punggung tangan yang telah di perban itu.

__ADS_1


Sepertinya lelaki itu mengobati lukanya sendiri.


__ADS_2