
Fernando menarik kopernya menuju parkiran bawah tanah, ia memasukan kopernya pada bagasi, lalu lelaki itu memasuki mobilnya dan mengemudikannya.
Waktu menunjukan pukul tiga pagi, entah kemana dia pergi saat ini, tak mungkin ia pergi ke rumah uminya, walaupun ia tau, di jam segini, uminya biasanya sedang shalat juga mengaji.
Tak mungkin juga mengganggu sahabatnya, yang kemungkinan besar masih terlelap, akhirnya ia melajukan mobilnya menuju ke bandara, sepertinya lebih baik ia kembali bekerja, untuk meringankan beban pikirannya.
Mungkin bagi sebagian orang bekerja itu adalah beban, tetapi tidak bagi Fernando, baginya bekerja adalah sebuah hiburan juga liburan.
Sejak lulus kuliah hampir delapan tahun lalu, Fernando mulai menggeluti usaha penyewaan villa atau resort, tentu modalnya dari big bosnya sekaligus teman masa SMA nya, Benedict Wright.
Sedari kecil lelaki penyuka rasa Strawberry itu, mempunyai hobi traveling atau sekedar berpetualang, sama seperti mendiang Vater yang berkewarganegaraan Jerman,
Vater nya adalah seorang peselancar, entah bagaimana ceritanya, vater nya bisa bertemu dengan uminya yang pekerjaannya adalah seorang guru Agama di sekolah SMA Negeri favorit di ibu kota.
Fernando tak pernah bertanya, tak penting juga menurutnya, toh dari hubungan kedua orang tuanya yang sangat bertolak belakang itu ia lahir dan tumbuh dengan baik hingga detik ini.
Perjalanan menuju bandara, sangat lancar, mengingat ini masih gelap, tak sampai tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Fernando memasuki parkiran bandara internasional di bagian barat ibu kota.
Mobilnya akan dititipkan di parkiran, yang nantinya akan diambil oleh orang suruhan Alex.
Fernando membeli tiket pesawat, bukan kembali ke Bali, melainkan ke tempat dimana resort atau villa yang ia kelola belum ada di sana.
Lelaki itu memutuskan menuju kota batu Malang, sebenarnya ia ada rencana untuk bertemu makelar tanah, yang akan menjual lahan di kota itu, tapi baru pekan depan, sepertinya ia akan mempercepat pertemuannya dan berjalan-jalan di sekitaran kota itu sebelumnya.
Jadwal pemberangkatan pesawat baru ada jam tujuh pagi, Fernando memutuskan untuk tidur terlebih dahulu di ruang tunggu.
Hingga pukul tujuh kurang tiga puluh menit petugas bandara membangunkannya, memberitahukan jika pesawat akan berangkat.
Fernando membeli tiket kelas bisnis, meskipun hanya sebentar, setidaknya ia akan melanjutkan tidurnya dengan nyaman.
Sekitar pukul delapan lewat tiga puluh lima menit, pesawat yang ditumpangi oleh Fernando mendarat dengan selamat di bandara Abdurachman saleh.
Lelaki itu memilih menaiki taksi, menuju hotel yang berada di pusat kota Malang.
Fernando berencana akan tidur seharian, dan akan mulai berpetualang ke sekitar kota Malang juga Batu keesokan harinya.
Keesokan paginya Fernando terbangun, lelaki itu membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memulai pertulangannya dihari yang cerah.
Ia mengenakan celana pendek selutut berwarna hitam dan Hoodie berwarna Army, lelaki itu memilih menyewa motor matic untuk berkeliling, tak lupa kamera yang dikalungkan ke lehernya.
Meskipun liburan dadakan, kemanapun Fernando pergi, kameranya tak pernah ia tinggalkan.
Tempat yang pertama ia tuju adalah warung nasi Madura, dengan lauk dendeng juga telur kuah kari, meskipun blasteran, lidahnya lebih suka masakan lokal.
Di warung makan itu, ada beberapa perempuan memperhatikan lelaki tampan itu namun Fernando tak mempedulikannya, ia tetap melanjutkan sarapannya.
Usai sarapan Fernando melanjutkan jalan-jalannya menggunakan motor berkeliling kota, mengunjungi beberapa museum yang menjadi objek jepretan kameranya,
Hingga jam makan siang tiba, Fernando masih sibuk berkeliling, seolah lelaki itu tidak kenal lelah,
Kalau dipikir-pikir, bukankah harusnya ia sedang patah hati? Tapi seolah tidak terjadi apa-apa kemarin, lelaki itu menjalani harinya dengan bahagia,
Mungkin karena sudah terbiasa seolah perempuan-perempuan yang sempat singgah hanya dianggap angin lalu, meskipun dengan Cristy adalah rekor hubungannya terlama, tapi dirinya tak terlihat sedih sedikitpun.
Walaupun ia tau sedari kemarin Cristy menghubungi dirinya terus menerus, baik menelpon ataupun mengirim pesan,
Fernando tak sedikitpun berniat untuk kembali, bagi lelaki itu, sekalinya sudah putus berarti sudah selesai, tak ada di kamus hidupnya balikan dengan mantan, toh dia pikir ia sudah memberikan kompensasi yang cukup untuk mantan-mantannya karena selama menjalin hubungan dengannya wanita-wanita itu melayani hasratnya.
Brengsek memang lelaki seperti Fernando, tapi setidaknya ia masih mau memberi kompensasi bukan?
Sepertinya setelah ini, Fernando ingin sendiri dulu, selain karena menuruti nasehat uminya, ia juga berfikir agar hidupnya lebih tenang, tak ada yang sering meneleponnya hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting,
Mantan-mantannya terkadang menelponnya hanya ingin bercerita tentang sesuatu yang menurutnya tidak penting, entah tentang barang-barang branded, gosip-gosip atau apapun hal yang tidak ada hubungannya dengannya.
Jam makan siang sudah lewat tiga puluh menit yang lalu, tetapi lelaki itu masih sibuk membidik beberapa objek yang menurutnya menarik.
Hingga ada seorang gadis mengenakan cardigan maroon dengan tas ransel mini melintas dihadapannya yang menarik perhatiannya, bukan karena wajahnya, tetapi gantungan tas bermotif strawberry yang menurutnya unik juga susu UHT rasa strawberry yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
Gadis itu berjalan seorang diri, Fernando tertarik mengikutinya, hingga sekitar seratus meter, gadis itu masuk ke sebuah warung bakso sederhana.
Gadis itu duduk di kursi plastik sambil memainkan ponsel dengan softcase bergambar strawberry,
Fernando meliriknya sambil menyebutkan pesanan bakso juga minuman yang diinginkannya.
Lelaki itu sengaja duduk berbeda satu bangku plastik dengan gadis itu tepat disebelah nya, ia diam-diam mengamati apa saja yang dilakukannya.
Sambil pura-pura memainkan ponselnya, Fernando melirik sekilas gadis tak jauh darinya.
Dari penglihatannya, gadis itu sepertinya sedang mengirim pesan, entah untuk siapa, yang jelas saat gadis itu selesai mengirim pesan dan mengembalikan mode ponselnya ke layar utama, lagi-lagi ada Strawberry sebagai foto wallpaper ponselnya.
Fernando semakin tertarik dengan gadis itu, hingga bakso pesanannya tersaji membuat kegiatannya mengamati gadis itu terhenti sejenak.
Mendadak Fernando jadi kesal sendiri, bahkan lelaki itu mengumpat dalam hati.
Seumur hidupnya baru kali ini, Fernando menguntit seorang gadis hanya karena buah dan aroma kesukaannya.
Dirinya bahkan tak percaya, bisa-bisanya player macam dirinya melakukan perbuatan diluar kebiasaannya, kalau sampai sahabatnya tau bisa jadi bulan-bulanan mereka terutama Alex, partnernya berburu wanita seksi.
Entah mengapa ia tertarik dengan gadis itu,
Gadis itu tidak terlalu cantik dibanding wanita yang sempat mampir mengisi harinya, tapi entah karena strawberry atau karena apa, yang jelas ia tertarik dengan gadis itu.
Gadis itu, wajahnya bahkan tanpa make up, mata bulat, hidungnya standar, bibir merah jambunya merekah, tadi sempat ia melihat gadis itu tertawa memperlihatkan bentuk hati, bibirnya juga ada belahan ditengahnya, seksi sekali.
Sempat terlintas dalam otak mesum Fernando bagaimana nikmatnya saat bibir itu ia kecup juga cium, sepertinya akan sangat nikmat dan membuatnya ketagihan.
Membayangkan itu, membuat Fernando menelan ludahnya, lelaki itu menggelengkan kepalanya, untuk mengusir pikiran kotornya.
Tak sengaja, pandangan mereka bertemu, dan deg.... Jantung Fernando mendadak berdetak lebih cepat, apalagi saat gadis itu tersenyum manis padanya memperlihatkan bentuk hati bibir seksi itu, membuat lelaki itu terpana.
"Mas..."gadis itu memanggilnya sambil melambaikan tangannya.
Merasa tertangkap basah, Fernando menjadi salah tingkah, "maaf mbak, ada apa?,"ujarnya tak enak.
"Nggak apa-apa mas, silahkan lanjutkan makannya,"ucap gadis itu ramah.
"Saya lagi nunggu orang, mas nya sendirian aja?"tanya gadis itu balik.
"Iya, saya lagi jalan-jalan di kota ini, mbak asli orang sini?" Tanyanya lagi.
"Iya mas, tapi ngomong-ngomong kayaknya, bahasa Indonesianya fasih banget ya!"
"Saya warga negara Indonesia mbak, hanya saja ayah saya yang orang bule,"
"Wah blasteran ya mas, pantesan,"
"Kenapa mbak?"
Gadis itu menggeleng, "Nggak kenapa-kenapa mas, silahkan dilanjutkan makannya,"
Mau tak mau Fernando melanjutkan memakan bakso yang ada dihadapannya,
"Lebih enak makan pakai lontong mas, biar kenyang,"celetuk gadis itu memberi saran.
Fernando menuruti apa yang gadis itu katakan, "enak juga ya, kalau makan bakso pakai lontong,"ujarnya setelah mengunyah potongan lontong dengan kuah bakso.
"Kalau di Malang ya gitu mas, udah gitu disini murah lagi,"
"Mbak punya rekomendasi buat kuliner malam disini nggak?"
Gadis itu menyebutkan beberapa tempat rekomendasi untuk makan malam yang enak di kota ini.
"Banyak juga ya mbak, tapi makasih loh, sebenarnya besok saya harus ke Batu, ada pekerjaan di sana,"
"Mas fotografer ya!"
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu,"jawab Fernando ambigu.
Belum sempat menanggapi ucapan Fernando ponsel gadis itu berbunyi,
Gadis itu memohon ijin berbicara di tempat lain, namun masih terlihat dalam jangkauan mata Fernando,
Dari kejauhan terlihat raut kecewa di wajah gadis itu.
Usai mengakhiri panggilannya, gadis itu menuju penjual bakso, entah apa yang dilakukannya, Fernando hanya memperhatikannya.
Gadis itu duduk kembali di sampingnya sembari menghela nafas,
"Kenapa mbak?" Tanya Fernando penasaran.
"Saya nggak jadi ketemuan,"jawab gadis itu kecewa.
Fernando hanya mengangguk sembari memakan baksonya.
Tak lama, bakso yang dipesan gadis itu tersaji dihadapannya.
Gadis itu mulai meraciknya, menambahkan saus, sambal lumayan banyak tak lupa cuka dan kecap, Fernando sampai melongo melihat banyaknya sambal yang ditambahkan.
"Mbak nggak sakit perut?"tanya Fernando khawatir.
"Nggak mas, saya lagi kesel jadi butuh pelampiasan,"jawabnya kesal.
Gadis itu memakan baksonya dengan lahap, Fernando memandangnya bahkan sampai menopang dagunya dengan satu tangannya.
Mulai merasa risih, gadis itu menatap balik lelaki di sampingnya.
"Mas ngapain liatin saya terus? Kalau saya keselek gimana?"
"Nggak ada hubungannya mbak, saya cuman khawatir, kalau mbak nya tiba-tiba pingsan, nanti orang-orang sangka gara-gara saya lagi,"
"Mana ada mas gara-gara makan bakso orang bisa pingsan,"sanggah gadis itu.
"Makan baksonya nggak buat pingsan tapi sambelnya itu loh mbak,"
"Tenang aja mas, saya nggak bakal pingsan hanya karena makan sambel,"
"Iya deh mbak, saya percaya, silahkan dilanjutkan, jangan lupa pake lontong biar kenyang,"ujar Fernando sambil memberikan lontong yang dibungkus daun pisang.
Gadis itu menerimanya dengan raut wajah kesal.
Fernando masih melihat gadis itu,
"Mas jangan liatin saya terus kenapa sih? Saya risih lama-lama,"ujar gadis itu mulai kesal.
"Masa liatin nggak boleh mbak, kok pelit mbak nya,"
"Laki-laki harus menundukkan pandangannya mas, supaya nggak zina mata,"ujar gadis itu mengingatkan.
Tapi sepertinya Fernando tak peduli, tak bosan ia memandangi gadis yang tengah memasukan potongan bakso ke dalam mulutnya.
Lagi-lagi gara-gara melihat bibir itu, Fernando menelan ludahnya, bahkan lidahnya ia keluarkan sedikit untuk membasahi bibirnya.
"Mas.. mas nya kenapa sih? Liatin saya sampai segitunya, memang mas mau makan bakso lagi, silahkan pesan lagi, nanti saya bantu meraciknya,"ucap gadis itu mulai merasa risih.
Fernando menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pikiran mesumnya.
"Saya sudah kenyang mbak,"ujarnya, "setelah ini, mbak mau kemana? Sibuk nggak?"tanya Fernando.
"Saya nggak kemana-mana, memangnya kenapa mas?"Tanya balik gadis itu.
"Saya baru pertama kali ke Malang, bisa nggak kalau mbak jadi guide saya sampai sore saja, nanti saya kasih imbalan, terserah mbak maunya berapa? Saya lagi mengumpulkan objek foto sebanyak-banyaknya,"tawar lelaki itu.
Gadis itu diam berfikir, hingga "oke, sampai sore aja kan?"
__ADS_1
Fernando mengangguk antusias, dalam hati ia berteriak kegirangan, sepertinya kesempatannya lebih dekat dengan gadis itu terbuka lebar, tentu ia tak akan menyia-nyiakannya.
Sepertinya jiwa player lelaki itu sudah mendarah daging, baru beberapa saat yang lalu ia akan berhenti bermain wanita, sekarang bisa dilihat bagaimana seorang Fernando melancarkan aksinya.