Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus empat puluh empat


__ADS_3

Rara terbangun saat mendengar suara tangis putrinya, ia menoleh ke arah boks berwarna putih, ada suaminya yang sedang menimang-nimang Arana.


"Kayaknya Arana haus deh, tadi aku ganti diaper, tapi masih nangis terus,"ujar Fernando saat melihat istrinya Terbangun.


Rara menjulurkan tangannya, agar suaminya memberikan putrinya padanya, "kamu mandi lalu shalat di masjid sana, udah mau azan,"ujarnya saat putrinya sudah berada dalam gendongannya.


Fernando memasuki kamar mandi, sementara Rara mulai menyusui Arana, terlihat bayi berumur tiga bulan itu, menghisap sumber makanannya kuat, sepertinya putrinya benar-benar kehausan.


Tak lama Fernando keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, lelaki itu mengambil baju Koko berwarna putih yang tergantung didalam lemari kayu, tak lupa sarung bermotif kotak berwarna cokelat.


Rara melihat semua aktifitas yang dilakukan suaminya, hingga tanpa sadar bibirnya berucap, "kamu ganteng banget kalau pake baju Koko gitu, aku suka,"


Pujian yang jarang keluar dari mulut istrinya, membuat telinganya memerah, lelaki itu tersenyum, "memangnya biasanya aku nggak ganteng?"tanyanya.


"Ganteng sih, tapi kalau pake baju Koko terus kena air wudhu, kegantengannya berkali-kali lipat, seger gitu lihatnya,"


Fernando sampai tersipu malu, seumur-umur baru kali ini dirinya sangat senang ketika dipuji, apa karena istrinya sendiri yang memujinya.


"Muka kamu merah tuh,"ledek Rara.


"Istri aku sendiri jarang muji aku, ya tentu saja aku seneng sekaligus malu,"


Rara menahan tawanya, "udah sana berangkat, nanti terlambat,"


Fernando pergi keluar dari kamar, sementara Rara membaringkan putrinya di boks, wanita itu akan mandi lalu beribadah.


Karena tidak ada yang bisa dimasak tentu saja, ingin keluar rumah membeli sarapan, tapi ia ingat jika semalam, dompet miliknya belum dikembalikan oleh suaminya.


Mau memandikan Arana, ini masih terlalu pagi, akhirnya ia memutuskan untuk membuka laptopnya memeriksa foto-foto yang akan dipostingnya di toko online miliknya.


Hingga suaminya baru datang saat waktu menunjukan pukul enam pagi.


"Kamu nggak beli sarapan?"tanya Rara yang melihat Fernando tak membawa apapun.


"Warungnya Mpok tutup, tukang bubur juga nggak jualan, ya udah aku nggak beli, apa kamu sudah lapar?"tanyanya sambil membuka baju Koko itu.


"Aku terbiasa sarapan pagi-pagi sekarang, aku mau masak tapi kulkas kosong, terus mau pesan online aku nggak ada handphone, dompet aku juga sama kamu,"jawab Rara cemberut, "emang tadi di masjid ada pengajian? Lama banget nggak pulang-pulang,"


"Tadi aku ngobrol sama pak RT, nanyain rumah yang ada dibelakang sama disamping, kayaknya ada tulisan dijual, jadi rencananya aku mau beli, gimana menurut Kamu?"


"Kenapa tiba-tiba ingin beli rumah? Emang rumah ini kenapa?"tanya Rara balik.


"Rara sayang, sebentar lagi Nicholas masuk SMA, rumah ini terlalu kecil untuk kita berempat, dan umi tidak mengizinkan jika kita membeli rumah lagi, umi minta rumah ini di renovasi, sementara tanahnya kurang luas, memang bisa dibuat sampai tiga atau empat lantai, tapi aku ingin punya lahan yang luas, agar anak-anak kita bisa main di halaman belakang rumah, kalau bisa ada kolam renangnya,"


"Terus kalau rumah ini di renovasi, kita tinggal dimana?"


"Apartemen,"


"Apa yang dulu?"


"Ya nggak lah, sesuai saran kamu, aku udah jual apartemen itu, jadi kita beli baru, dengan tiga kamar tidur,"


"Bukannya harus keluar uang banyak ya! Beli rumah, bongkar terus bangun dan sekarang mau beli Apartemen yang besar,"


"Ra, pembongkaran dan pembangunan nggak tau memakan waktu berapa lama, nggak mungkin kamu pindah ke tempat umi bukan, Nicholas mungkin sekitar empat atau lima bulan lagi pindah ke sini, jadi aku putuskan kita pindah ke apartemen,"

__ADS_1


"Kenapa nggak ngontrak rumah biasa aja?"


"Aku nggak mau,"


"Alasannya?"


"Nggak ada alasan khusus,"


Rara berdecak, sejujurnya ia tidak suka tinggal di tempat yang tak mengenal tetangga, "terserah kamu, yang jelas aku minta tempat yang dekat dengan rumah lama aku,"


"Memangnya kenapa?"


"Tidak ada alasan khusus,"


"Amara kenapa mulai lagi sih? Apa kamu tidak lelah berdebat dengan suami kamu?"


"Siapa yang berdebat sih?"


"Sekarang mana dompet aku,"ujarnya sambil menyodorkan tangannya.


"Buat apaan sih Ra?"


"Aku mau ke pasar belanja sayur, aku butuh dompet aku, dan kamu jaga Arana,"


"Ada suami kamu yang bisa kasih kamu uang sebanyak apapun yang kamu minta, mulai sekarang dompet aku sita, aku nggak mau kamu pergi dari aku,"


"Aku nggak akan pergi kemanapun, kemarin aku pergi, karena kamu nggak pulang-pulang, udah gitu nggak ada kabar, sekarang kan kamu udah disini, jadi aku nggak akan pergi, jadi mana dompet aku?"


"Di jok motor,"


"Ya udah aku ke pasar dulu,"


Terpaksa Rara duduk kembali, ia menutup laptopnya, "jadi apa rencana kamu hari ini?"


"Aku janji sama Aileen buat ke sana nanti siang,"


"Ya udah aku ikut,"


"Kamu mau nengok Ayu,"


"Nggak, aku mau ketemu mbak Asha,"


"Kenapa nggak nengok Ayu sekalian?"


"Terus aku disuruh liat kamu pelukan dan cium kening sahabat aku sendiri gitu, lagian memangnya Dia udah tau kalau kita udah nikah?"


"Kamu cemburu?"


"Memangnya aku nggak boleh cemburu?"


"Tumben, biasanya dorong aku buat sama perempuan lain, kenapa giliran Ayu kamu cemburu, dia sahabat kamu dan istri sahabat aku,"


"Kamu lupa mas Ben sudah menjatuhkan talak untuk Dia, berarti sekarang Dia janda,"


Fernando menggeleng, tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya, "ya nggak mungkin aku sama Ayu, lagian aku yakin Ben nggak benar-benar menceraikan Ayu, Ben itu licik Amara,"

__ADS_1


"Terserahlah, aku nggak peduli, yang jelas tolong kabari mbak Asha kalau aku mau ketemu,"


"Mau ngapain? Jangan bilang kamu hamil lagi? Kita belum melakukannya sejak kamu melahirkan,"


"Hamil dari mana sih mas, aku mau konsultasi tentang kontrasepsi,"


"Oh.. memangnya kamu nggak masalah kalau pakai kontrasepsi?"


"Kayaknya nggak, memangnya kamu mau jika melakukannya pakai pengaman?"


"Ya nggak sih, kan kamu istri aku, buat apa aku pakai pengaman, kalau punya anak lagi juga nggak masalah,"


"Iya nggak masalah, tapi kasihan Arana, masih belum puas dapat kasih sayang orang tuanya, seenggaknya kasih jeda, nanti lah aku umur tiga puluh tahun aku baru mau punya anak lagi,"


"Oke nggak masalah, asal kamu nyaman, sekalian nanti beli handphone buat kamu, sama belanja keperluan rumah,"


Tak lama, mbak Narti datang membawakan sarapan pesanan Fernando.


Pagi menjelang siang, Fernando mengajak istri dan anaknya menuju pusat perbelanjaan, untuk membeli ponsel untuk Rara, juga keperluan rumah.


Sempat terjadi perdebatan antara suami istri itu, Rara yang berhemat, tentu memilih ponsel dengan harga relatif murah, namun Fernando menghendaki ponsel dengan merk yang sama dengannya.


Tentu sebagai istri yang baik, akhirnya Rara mengalah, menuruti kemauan suaminya.


"Mas, kamu masih hobi fotografi nggak?"tanya Rara saat keduanya baru keluar dari toko ponsel.


"Nggak ada waktu Ra, setahun ini aku sibuk banget, kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu?"


Keduanya berjalan menuju supermarket dilantai paling bawah, "kemarin-kemarin aku foto produk pakai kamera ponsel, tapi kayaknya kurang bagus hasilnya, makanya aku nanya,"


"Aku bisa ajarin kamu, tapi tidak dengan aku yang jadi fotografernya ya, aku bisa menebak apa yang ada dipikiran kamu, ingat Amara, dia itu mantan aku, oke kalau aku nggak ada rasa sama dia, tetapi bagaimana dengan dia? Kamu ingat bukan beberapa kali dia meminta balikan sama aku,"


Rara menahan tawa, "aku cuman minta ajarin kok, tapi kalau kamu yang jadi fotografernya, terima kasih banyak,"


"Tidak terima kasih, mending aku main sama Arana, dari pada nyari mati,"


"Kok gitu sih?"


Mereka sudah sampai di supermarket, Fernando mengambil troli besar, lalu mendorongnya menuju istrinya.


"Sekarang coba kamu pikir, yang namanya fotografer sama model harus berkomunikasi dengan baik supaya dapat hasil sempurna, masalahnya model yang kamu ajukan itu mantan aku, yang masih ngarep sama aku, terus nanti kamu tuduh aku selingkuh dan ninggalin aku,"


"Ya kan ada aku,"


Fernando mengambil beberapa ball tisu gulung dan tisu wajah, "sekali enggak ya enggak,"


Rara memanyunkan bibirnya.


"Kamu minta aku cium disini? Nggak usah manyun gitu,"


Troli penuh dengan belanjaan setelah beberapa saat, tadi Fernando juga sempat mengambil beberapa cokelat kesukaan Aileen.


Dari pusat perbelanjaan, mereka menuju rumah sakit, Fernando terlebih dahulu mengantarkan istrinya menuju ruangan Natasha untuk berkonsultasi alat kontrasepsi.


Ada raut terkejut dari dokter kandungan itu, ketika Fernando datang bersama dengan istrinya,

__ADS_1


Urusan dengan Natasha selesai, Fernando naik ke lantai atas menemui Aileen, tentu tanpa Istrinya.


Sementara Rara bersama Natasha menuju ruangan Oscar.


__ADS_2