
Segala interior didalam unit apartemen itu masih sama, saksi bisu betapa hubungan kedua sejoli itu sangat mesra, meski tak berlangsung lama.
Fernando baru melepaskan genggaman tangannya, setelah mempersilahkan Rara duduk di sofa ruang tamu.
Rara teringat pernah bercinta di sofa hitam itu dengan panasnya.
Saat sedang melamun memikirkan masa lalu, Fernando memberikan botol air mineral yang ia letakkan di meja kaca.
Lelaki itu duduk berseberangan dengan Rara, ia menatapnya tajam, wanita yang paling ia cintai setelah uminya.
Ditatap tajam seperti itu, Rara menjadi gugup, ia lebih memilih meminum air mineral yang ada dihadapannya, namun kebiasaan jeleknya, yang tak pernah bisa membuka segel botol air mineral, membuatnya semakin salah tingkah.
Peka terhadap kebiasaan wanita itu, Fernando bangkit dan membantu membukakan botol air mineral itu lalu memberikannya kepada Rara.
Dengan pelan hampir tak terdengar, Rara berucap terima kasih.
Segala tingkah wanita itu tak luput dari mata hijau milik Fernando.
Cukup lama keduanya terdiam, Rara lebih memilih menunduk sedangkan lelaki itu lebih memilih menatap wanita yang ia rindukan selama ini.
Hingga terdengar helaan nafas dari wanita itu, "kalau kamu cuma mau diam, aku mau pulang aja,"ucapnya sambil menatap Fernando.
Lelaki itu menyunggingkan senyumannya, "apa aku harus meniduri kamu, seperti kebiasaan aku dulu ketika hanya berdua sama kamu? Apa lagi aku sudah tiga tahun tidak melakukannya,"ujarnya frontal.
Rara melotot kaget, ia menggelengkan kepalanya, "aku tidak akan melakukan dosa itu lagi,"
Mendengar ucapan wanita itu, Fernando tertawa, "lalu apa yang harus kita lakukan menurut kamu?"
"Aku mau pulang,"
"Ini tempat tinggal kamu sayang,"
"Apa kamu tuli, tadi dibawah aku sudah bilang, kalau hubungan kita sudah berakhir?"
"Tidak semudah itu Ra, tiga tahun aku nungguin kamu, dan setelah kita bertemu, kamu memutuskan hubungan ini, menurut kamu apa aku akan melepaskan kamu begitu saja?"ungkapnya diakhiri dengan senyuman sinis.
"Tapi aku akan menikah dalam waktu dekat dengan lelaki lain, kami sudah menjalani ta'aruf," tak sepenuhnya berdusta, karena sebelum kembali ke ibu kota, Mbah Sarmi berniat memperkenalkan seorang lelaki Soleh yang sedang mencari istri,
Rara terpaksa mengatakan itu, ia tak punya pilihan lain, ia datang ke apartemen lelaki itu untuk mengakhiri hubungan, ia tidak ingin berurusan dengan lelaki player itu.
Mendengar itu Fernando mengepalkan tangannya, buku jarinya memutih, sekarang ini ia benar-benar marah.
Hingga ponsel milik lelaki itu berbunyi, tertera nama bos sekaligus sahabatnya, ia tau apa yang akan dikatakan Benedict.
"Halo," sapa Fernando.
"......."
"Ben Lo tau mau gue kan?"
"......."
"Gue nggak mau tau Ben, Lo tau kan selain kerjaan gue nggak pernah minta apapun sama Lo, gue cuman minta Amara bisa kerja bareng gue, itu doang,"
"......."
"Sayangnya gue nggak tau mereka dimana, gue cuman pinjem hape sama kalung dan anting bini Lo,"
"......."
"Biarin aja sih Ben, entar juga balik, kali aja Ayu lagi ketemu sama cinta pertamanya,"
Berbagai cacian yang dilontarkan sahabatnya, namun Fernando memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Rara yang berada di sana tak menyangka, Fernando berbuat nekad seperti itu,
__ADS_1
"Apa kamu sengaja melakukan itu?"tanyanya penasaran.
Fernando mengangkat bahunya, "salah sendiri Ben malah memberikan kamu pekerjaan di tempat Oscar, padahal dari awal aku minta supaya kamu bareng sama aku, tapi bukankah ijazah kamu masih sama umi aku?"
"Aku meminta pekerjaan kepada Dia,"
"Dunia sempit ya? Aku nggak nyangka, Amara yang diceritakan oleh Ayu, itu kamu, berarti Pradikta, lelaki yang kita temui di Surabaya itu, cinta pertamanya Ayu?"
Rara mengangguk, "dan sesuai ucapan kamu, Dia sekarang berada di rumah Dikta bersama si kembar,"
"Wah, bakal ribut besar kali ini, apa yang akan dilakukan Ben pada istrinya? Kita tinggal tunggu waktunya kan? Dan bom... Meledak,"ucapnya dengan tawa terlihat mengerikan di mata Rara.
"Kenapa kamu lakuin itu sama mereka? Bukankah kamu sahabat mereka? Kenapa kamu jahat sekali?"tanya Rara tak habis pikir.
"Ini kan gara-gara kamu,"jawab lelaki itu santai.
"Kok aku! Apa hubungannya?"tanya wanita itu kesal.
"Coba waktu kita ketemu lagi, kamu tidak usah berpura-pura tidak kenal aku, mungkin sahabat kamu dan sahabat aku tidak akan bertengkar,"
"Asal kamu tau Rara sayang, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,"
Rara menggelengkan kepalanya, "aku nggak menyangka kamu seperti ini, kamu jahat, aku menyesal pernah kenal sama kamu,"
"Amara sayang, aku senang malah bertemu kamu, tapi apa kamu tau, apa yang Ben lakukan dua tahun yang lalu sama aku?"
Fernando menghela nafas, "dua kali aku membujuk Ayu, supaya tidak berpisah dengan Ben, dua kali aku yang membawanya kembali pada Ben, tapi apa balasan Ben pada aku? Hanya karena cemburu aku dekat dengan Ayu, aku di buang ke salah satu pulau pribadinya di selatan Pasifik, bahkan itu pulau tak berpenghuni, bisa kamu bayangkan tersiksanya aku saat itu, bahkan saat aku sedang mencari kamu kemana-mana, rasanya saat itu aku mau gila, aku marah, tapi aku masih berharap suatu saat kita bisa bersama setelah aku menjalani hukuman yang ben berikan, tapi dia malah membiarkan kamu bekerja di tempat Oscar, apa menurut kamu, aku salah membalas perbuatannya?"ungkapnya penuh emosional.
"Dan setelah sekian lama aku menunggu, kamu memutuskan hubungan kita begitu saja? Aku bahkan mempertaruhkan pekerjaan aku untuk memperjuangkan kamu, bisa saja setelah ini, Ben akan memecat aku, dan membuat aku jadi gembel di jalanan, karena perbuatan yang aku lakukan, tapi aku tak peduli, bagi aku, kamu yang utama, aku hanya ingin bersama kamu,"
Rara tercengang mendengar pengakuan lelaki itu,
Fernando menghampiri Rara, ia duduk di meja kaca tepat didepan wanita itu, ia memegang kedua tangan wanita yang ia cintai, ia mencium punggung tangan itu.
Rara yang memang masih menyimpan rasa untuk lelaki itu menjadi iba, mata bulatnya berkaca-kaca.
"Maaf mas, gara-gara aku kamu kesulitan,"ungkap Rara dengan Air mata yang mulai mengalir, wanita itu merasa bersalah.
Fernando berusaha menenangkan, ia menghapus air mata itu dengan ibu jarinya, lalu memeluk wanitanya, namun dibalik itu, ia menyunggingkan senyumannya, "mudah sekali menipu Rara," ucapnya dalam hati.
Walau ia tidak bekerja dengan Benedict, ia akan tetap memiliki kekayaan berlimpah.
Cukup licik memang, Fernando tak ubahnya seperti Benedict, keduanya akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya dan memegang erat apa yang jadi miliknya.
Lelaki itu langsung mengubah ekspresinya ketika ia melepaskan pelukan itu, Fernando terlihat sedih,
"Berarti setelah ini kamu benar-benar akan meninggalkan aku? Lalu siapa laki-laki yang sudah melakukan ta'aruf sama kamu?"tanyanya sambil mengelus kepala yang tertutup pasmina berwarna nude itu.
Rara gugup mendapatkan pertanyaan seperti itu, bahkan wanita itu tak berani menatap Fernando,
"Kenapa kamu terlihat gugup? Apa kamu membohongi aku?"tebak lelaki itu.
Rara bangkit, ia berjalan menuju jendela kaca, dari balik kaca, ia bisa melihat pemandangan ibu kota, ia menghela nafas, setelah merasa tenang, ia berbalik namun betapa terkejutnya wanita itu mendapati Fernando tepat dihadapannya.
"Kaget aku, kenapa nggak kedengaran langkahnya sih?"protesnya.
"Lagian kamu ditanya bukannya jawab malah tinggalin aku, ya aku ikutin kamu lah,"
Rara melihat ponselnya, "mas, aku pulang dulu ya! Udah siang,"
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Mau pulang aja, semalem kan aku menginap di rumah Dia, jadi aku kemarin belum sempat beres-beres rumah,"
"Kenapa nggak suruh orang aja?"
__ADS_1
Rara menghela nafas, "mas, rumah aku nggak gede, aku juga tinggal sendiri, jadi semua masih bisa aku handle,"
"Aku belum dapat jawaban dari Oscar, jadi kamu mesti disini dulu sama aku, setidaknya kamu bertanggung jawab sudah membuat bayi aku nggak ada,"
"Tapi bukan mau aku, kamu nggak tau kan betapa aku merasa sangat bersalah saat itu, aku juga hancur, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah jalannya, aku belum dipercaya memiliki anak,"teriak Rara marah.
"Kenapa kamu nggak kasih tau aku? Kenapa kamu malah menghilang? Tiga tahun Ra, aku cari kamu, bagaimanapun aku ayahnya, aku berhak tau apa yang sebenarnya terjadi sama bayi kita,"
Rara menghapus air matanya, "udah lewat mas, dia udah nggak ada, mungkin ini hukuman buat kita, karena berkali-kali melakukan dosa,"
"Tapi setidaknya kasih tau aku, kenapa dia tidak bisa lahir? Apa alasannya? Aku berhak tau Amara,"
Rara menggeleng, "aku pulang mas," bukannya menjawab ucapan Fernando, wanita itu berjalan menuju pintu keluar.
Belum sampai pintu, tubuh Rara dipeluk dari belakang, "jangan tinggalkan aku lagi Amara, aku mohon, apapun akan aku lakukan asal kita bisa bersama, aku mau menikahi kamu, please Ra,"mohonnya.
Rara berusaha memberontak, namun pelukan itu semakin erat, "Ra, kamu ingat cincin ini kan, ini yang dulu kamu pasangkan ke jari manis aku, kamu lihat, aku bahkan tak pernah melepaskannya," ujar Fernando menunjukan jari manisnya.
Rara memegang dadanya, dibalik pasmina serta gamisnya ada cincin pemberian lelaki itu yang ia jadikan bandul kalung.
"Ra, jangan buat aku berbuat lebih jahat dari ini, apa kamu mau aku melukai orang-orang yang ada di sekeliling kamu?"ancam lelaki itu.
"Kamu mengancam aku?"
"Iya aku mengancam kamu, apapun akan aku lakukan agar kita bisa bersama, apa perlu aku menghamili kamu lagi?"
"Jangan kamu lakukan lagi, sudah cukup dulu kita berbuat dosa, aku nggak mau melakukan kesalahan yang sama,"
"Kalau gitu, kamu harus menikah dengan aku,"
"Kenapa kamu ngotot banget sih? Bukankah kamu punya banyak wanita?"
"Tapi aku nggak cinta mereka, aku cintanya sama kamu dan umi merestui aku bersama kamu,"
"Lepaskan tangan kamu, kita nggak boleh seperti ini mas, dosa,"
Fernando melepaskan lilitan tangannya, dan Rara berbalik menatapnya,
"Mas, kakak aku nggak bakal setuju aku kembali sama kamu,"
"Apa alasannya?"
"Karena kamu yang merusak masa depan adik bungsunya,"
"Kalau gitu aku yang akan memperbaikinya,"
"Mas..."
"Amara sayang, aku tau kamu juga mencintai aku kan?"
Rara mengangkat bahunya, ia kembali duduk di sofa, pegal juga berdiri lama-lama.
Fernando mendapatkan telpon dari Oscar, sahabatnya menyuruhnya membuka email yang dikirimkannya.
Lelaki itu membuka email-nya, lalu membacanya, matanya berkaca-kaca, tak menyangka ini alasan dirinya kehilangan calon bayinya.
Setelah selesai membaca, ia berjalan menghampiri wanita yang tengah duduk di sofa, ia memeluk Rara erat, ia bisikan kata maaf,
Rara bingung dengan perlakuan lelaki itu, "kamu kenapa sih mas?"
Tak menjawab, Fernando semakin mengeratkan pelukannya,
"Ra, kita ke rumah sakit ya, tunggu aku bersiap,"
Setelah mengatakan itu, Fernando melepaskan pelukan itu dan bergegas memasuki kamarnya.
__ADS_1