Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus dua puluh delapan


__ADS_3

Liburan sekolah tiba, umi Fatimah dan Nicholas datang berkunjung diantar mang Hendi.


Sudah satu setengah bulan berlalu Fernando sama sekali tidak menghubungi istrinya, namun Rara dengan pandai menyembunyikan kegundahan hatinya.


Umi Fatimah pernah menanyakan keberadaan putranya, dan Rara menjawab, jika Fernando sedang bekerja di luar negeri bersama Benedict.


Rara tidak mungkin memberitahukan kepada mertuanya tentang pekerjaan yang tengah dilakoni suaminya, ia tidak ingin perempuan paruh baya itu kepikiran.


Sejak ada mertuanya pekerjaan memasak dipegang sepenuhnya oleh umi Fatimah, sedangkan Rara benar-benar fokus hanya mengurus Arana yang sudah bisa tengkurap sendri.


Nicholas yang awalnya dingin pada adiknya, sekarang mulai mau mendekati bayi dengan mata yang sama dengannya, walaupun untuk menggendong, remaja itu belum berani.


Sejak ada mertuanya, Rara belanja kebutuhan dapur langsung di pasar tak jauh dari rumah, ia juga mulai bisa bergaul dengan lingkungan sekitar.


Baru kemarin ia diajak oleh ibu RT untuk menimbang Arana di posyandu diantar oleh umi Fatimah.


Selain ditimbang Arana juga diimunisasi, beruntung bayi itu tidak menangis.


Saat perjalanan pulang ke rumah umi Fatimah bertanya, "Ra, kenapa nggak imunisasi di rumah sakit aja?"


"Kata bidannya vaksinnya sama, ya udah sekalian aja, aku belum kemana-mana mi,"jawabnya.


"Tapi kalau suamimu sudah pulang lebih baik imunisasinya di rumah sakit,"


Rara mengangguk tanpa membantah ucapan mertuanya.


Baru seminggu, umi Fatimah kembali ke Sukabumi, entah apa alasannya, Rara tak banyak bertanya.


Nicholas ditinggal bersama dengan ibu sambungnya, katanya masih ingin liburan di ibukota, padahal faktanya, remaja itu hanya main game online di ponsel miliknya.


Hanya sesekali ia membantu ibu sambungnya menjaga adik bayinya.


Siang itu Rara mengajak anak sambungnya berbelanja disalah satu mall.


Meski ada mobil terparkir di carport, Rara belum bisa mengemudikannya, akhirnya ia memilih menaiki taksi online, Arana juga turut serta diajak.


Dengan mengenakan stroller pemberian Natasha, Rara bersama anak-anaknya berkeliling mall.


Perempuan dengan hijab berwarna nude itu, mengajak Nicholas masuk ke salah satu toko dari brand ternama.


Rara membiarkan putranya memilih sepatu sesuai keinginannya, sementara ia duduk di kursi yang disediakan untuk mencoba sepatu, sedangkan Arana tertidur pulas di stroller.


Rara memperhatikan dari jauh putranya dalam memilih sepatu, ada dua warna berbeda yang ada ditangan remaja itu, sepertinya ia tengah kebingungan.


Rara bangkit mendorong Stroller, menghampiri putranya, "apa kamu bingung dengan pilihan itu?"tanyanya.

__ADS_1


Nicholas melirik sekilas ibu sambungnya, "aku ingin membelikan sahabat dekat aku, tapi harganya sangat mahal, kebetulan dia menyukai model seperti ini, di sana tidak ada yang menjual model ini, tapi kami melihatnya di internet,"jawabnya.


"Kalau gitu ambil saja keduanya lalu bayar beres bukan?"


"Tapi harganya,"


"Uma yang belikan bagaimana?"


Senyum mengembang menghiasi wajah remaja itu.


Rara memanggil pelayan toko, meminta diambilkan sesuai nomor sepatu putra dan sahabatnya.


Total harga dua sepatu itu lebih dari enam juta rupiah, tentu tak masalah untuk Rara, anggap saja ia membantu suaminya menghabiskan uang yang ada di tabungan.


Dari toko sepatu, Rara memasuki salah satu toko yang menjual pakaian untuk remaja laki-laki, dan brand ternama yang menjadi tujuannya.


Ia bermaksud menyenangkan hati anak sambungnya.


Dari toko pakaian, tiga paper bag ditenteng oleh Nicholas bergabung dengan satu paper bag dari brand sepatu yang tadi dibelinya.


Rara kembali memasuki toko jam tangan dengan merk ternama, awalnya Nicholas menolak, tapi remaja itu seolah tak berdaya, ketika ibu sambungnya memilihkan jam tangan berwarna hitam yang sangat cocok dikenakan dipergelangan tangannya.


Meskipun lahir dan besar diluar negeri, hidupnya biasa saja, mommy nya nyaris tak membelikannya barang-barang branded untuknya.


Dari toko jam tangan Rara hendak mengajak putranya masuk ke toko Tas khusus laki-laki, tapi Nicholas menolak, ia beralasan lapar.


Wanita itu meminta putranya, memilihkan rekomendasi makanan yang harus ia coba.


Tak seperti biasanya, kali ini Nicholas lebih cerewet dan terbuka pada ibu sambungnya, remaja itu bercerita beberapa gadis menyatakan cinta padanya.


"Lalu apa kamu menerima salah satu dari mereka?"tanya Rara.


Nicholas yang akan menyuapkan spaghetti dengan saus jamur itu, hanya menggeleng.


"Apa tidak ada yang kamu sukai?"


Nicholas mengangguk, remaja itu menelan makanan yang dikunyah nya lalu meminum ice Cokelat pesannya, "aku tidak ingin membuat kesalahan seperti Daddy dan mommy,"


Remaja itu lalu menceritakan pembicaraannya dengan daddy-nya, soal wanita.


Nicholas tak ingin menjalin hubungan dengan wanita sebelum ia bisa menghasilkan uang sendiri,


"Aku ingin menjalin hubungan dengan wanita yang nantinya akan aku jadikan sebagai istri, aku tidak ingin mengecewakan calon istriku kelak, jika aku memiliki hubungan dengan banyak wanita,"jelas remaja itu.


Rara sampai melongo mendengar penjelasan putra sambungnya, ia tak menyangka Remaja yang bahkan belum punya KTP bisa memiliki pemikiran sedewasa itu.

__ADS_1


"Kamu belajar dari mana pemikiran seperti itu?"tanya Rara heran.


"Daddy,"jawab remaja itu.


Rara melebarkan matanya, seolah tak percaya dengan jawaban Nicholas.


"Masa Daddy bilang begitu?"tanya Rara tak percaya.


"Daddy sempat bercerita tentang rasa malunya saat berhadapan dengan Tante, katanya Tante adalah perempuan baik-baik sementara Daddy adalah lelaki brengsek, tak ada yang dibanggakan dari diri Daddy,"


"Daddy benar-benar mencintai tante, tatapan yang hanya ditujukan untuk Tante, aku juga baru tau, jika mommy bukan cinta pertama Daddy, melainkan Tante lah cinta pertama Daddy, maka dari itu suatu saat aku ingin seperti Daddy yang mendapatkan pendamping hidup seperti Tante,"


Rara menutup mulutnya dengan tangannya, ia tertawa, tapi bukan mengejek, "Uma tidak sesempurna itu Nicho, kalau kata Daddy, Uma itu tukang ngambek, dan bermulut pedas,"ujarnya merendah diri.


"Tapi Tante tulus, tante mau menerima keadaan Daddy, bahkan setelah tau adanya aku, Daddy banyak bercerita tentang Tante,"


"Daddy kamu itu terlalu berlebihan,"


"Tapi setelah beberapa hari aku tinggal bersama Tante, aku jadi benar-benar tau, kenapa Daddy begitu mencintai Tante,"


"Tante, maafkan Nicho dulu pernah berfikir buruk,"


Rara tersenyum tulus, "ia Uma maafkan, jadi lebih baik sekarang kamu habiskan makanan dulu, karena setelah ini, kita harus belanja bulanan,"


Nicholas mengangguk dan keduanya menghabiskan makanan yang dipesannya.


Dari Restoran mereka beranjak menuju supermarket masih di mall yang sama.


Belum sampai di supermarket, Rara  bertemu Sandra dan putranya.


Mereka berjalan bersama menuju supermarket,


Rara mengenalkan Nicholas pada Sandra dan Xander,


"Ya ampun Ra, benar-benar foto kopiannya Nando ya!"ujar Sandra kagum, pada lelaki bermata hijau berambut cokelat itu.


"Kan anaknya mbak, masa nggak mirip?"sahut Rara.


Sandra tertawa, "maaf ya, aku belum sempat ke nengok Arana,"


"Nggak apa-apa mbak,"


Mereka belanja bersama, Rara dan Sandra mendorong troli belanjaan masing-masing, sementara kedua remaja itu dibelakang mendorong stroller milik Arana.


Sepertinya kedua remaja itu cukup nyambung meskipun berbeda setahun.

__ADS_1


Usai belanja Sandra menawari Rara tumpangan untuk mengantar hingga ke rumah menggunakan mobilnya.


__ADS_2