Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tiga puluh empat


__ADS_3

Fernando kesal setengah mati pada sahabat sekaligus bosnya, niat hati dirinya ingin segera menemui istrinya, ia malah harus mengikuti Benedict ke Bali, dengan alasan, sudah lama tidak memantau langsung resort yang ada di sana.


Benedict tak memberinya pilihan, bagaimana tidak, semua barang penting miliknya disita, ponsel, dompet hingga laptop juga iPad miliknya, hanya koper berisi baju yang ada padanya.


Bahkan sepanjang perjalanan dari bandara I Gusti Ngurah Rai menuju resort yang ada selatan Bali, tak henti Fernando mengumpat, beruntung ada Troy yang berada ditengah-tengah keduanya.


Seandainya tidak ada Troy mungkin keduanya sudah baku hantam.


Sementara Benedict hanya tertawa mengejek setiap sahabatnya mengumpat pada dirinya.


Sehari di sana Bagus dibuat kerepotan, oleh kedatangan dua orang itu.


Mereka melakukan audit keuangan juga pemerikasaan pelayanan resort.


Hari berikutnya, mereka menuju Ubud, hal yang sama.


Begitu juga resort di bagian Utara pulau itu,


Belum cukup sibuk selama tiga hari, Benedict mengajaknya menuju lombok, lagi-lagi mereka melakukan hal yang sama, dan ada sedikit masalah di sana, sehingga harus tertahan selama tiga hari.


Saking kesalnya, Fernando yang sudah tak bisa menahan amarahnya, sampai menghajar salah satu karyawan yang terbukti melakukan penggelapan dana.


Nyaris saja karyawan itu sekarat jika Troy tak menghentikannya, sementara Benedict hanya menertawakan kelakuan Fernando yang masih saja tak sabaran.


Urusan di Lombok selesai, belum cukup bagi Benedict menjahili sahabatnya, sesampainya di Jakarta,


Fernando harus menyaksikan bagaimana, Benedict menjatuhkan talak pada Ayudia yang saat itu belum sadar sepenuhnya.


Sebuah drama diantara dua sejoli yang membuatnya muak, belum lagi usai Benedict pergi ,Ayudia tersadar dan menanyakan keberadaan suaminya.


Mau tak mau, Fernando harus repot menenangkan Ayudia yang menangis histeris, belum lagi Aileen, balita itu tak mau lepas darinya, setelah kepergian ayahnya.


Benar kata Ayudia dulu, walaupun Benedict melepaskannya, ia tak akan mau bersama Pradikta, terbukti saat lelaki itu mendekatinya, Ayudia menolaknya dan malah meminta Fernando mendekat.


Ayudia menangis dalam pelukannya, meminta maaf, menyebut nama Benedict berkali-kali, saking sedihnya, wanita itu bahkan pingsan.


Dalam hati Fernando mengumpat lagi pada Benedict, benar-benar sahabatnya yang satu itu sungguh merepotkan dirinya, setelah membuatnya sibuk hampir dua Minggu dengan urusan pekerjaan, sekarang ia harus direpotkan dengan mengurusi Ayudia dan si kembar.


Sementara sahabat Benedict yang lain tak banyak membantu, seolah mereka hanya menonton drama keluarga di televisi.


Tiga hari Fernando tak bisa kemana-mana, ia tertahan di rumah sakit, bahkan ponselnya entah kemana, karena Benedict dan Troy belum memberikannya, sebelum keduanya pergi.


Di hari keempat Ayudia sudah mulai tenang, tak lagi menangis, wanita itu terlihat sudah mau menerima kenyataan.


Karena koma cukup lama, fisiknya tak bisa berfungsi secara normal sepenuhnya, Ayudia harus menjalani terapi fisik di rumah sakit, dan mau tak mau Fernando mendampinginya.


Meskipun Samsul bisa sesekali datang, tapi kakak sepupu dari Ayudia itu harus berkerja, sementara Arya dan Aryo sudah kembali ke pondok pesantren, lalu Anindia disibukkan dengan pembuatan skripsi di kampusnya.


Fernando dan Anna saling bekerja sama mengurus Ayudia juga si kembar.


Benar-benar melelahkan,


Tak ada satupun sahabatnya yang datang menjenguk Ayudia, menanyakan tentang Rara pada Fernando, seolah wanita itu tak pernah singgah di kehidupan mereka.

__ADS_1


Entah apa alasannya.


Fernando tidak lupa dan tak akan lupa tentang Amara Cahyani, wanita paling dicintainya setelah umi Fatimah, tapi keadaan memaksanya untuk melupakan kepentingan pribadinya sejenak.


Lelaki itu berfikir, bahwa Rara adalah wanita mandiri yang kuat, pikirnya saat dulu tak bersamanya selama tiga tahun, Rara baik-baik saja, tak kekurangan apapun.


Bukankah beberapa bulan yang lalu saat mereka terakhir bersama, wanita itu meminta pada dirinya untuk berpisah,


Sekali lagi, Fernando hanya ingin memberi wanita itu waktu.


Mungkin jika nanti keduanya bertemu, tak akan ada lagi kalimat perpisahan keluar dari mulut wanita itu.


Masalah kebutuhan hidup, Fernando tau istrinya tak mungkin kekurangan, kartu debit miliknya, ada pada wanita itu, yang saldonya otot akan bertambah setiap bulannya.


istrinya itu super hemat, masalah makan saja sehari tak sampai lima puluh ribu, sementara kebutuhan pribadinya selama sebulan tak sampai lima ratus ribu.


Bahkan apa yang dipakai oleh istrinya bukan barang-barang branded.


Malam itu saat Ayudia dan si kembar tertidur nyenyak, Fernando meminta ijin pada Anna yang masih terjaga, untuk keluar sebentar mencari angin.


Di dekat gerbang rumah sakit, dirinya yang tak membawa dompet, sampai meminjam uang lima puluh ribu pada sekuriti, dan meminta dipesankan ojek online menuju kantor Alex.


Fernando tau, jika barang pribadi miliknya ada pada pengacara itu, Oscar yang memberitahunya.


Kantor sudah gelap hanya ada sekuriti yang berjaga, juga beberapa anggota keamanan yang memang menempati mess di gedung itu.


Tau siapa yang datang, sekuriti mempersilahkannya masuk begitu saja.


Benar-benar miskin sekali dirinya saat ini, uang dikantong celananya hanya tersisa dua puluh lima ribu, kembalian dari ojek online yang tadi mengantarkannya.


Fernando menaiki lift menuju ruangan dimana sahabatnya berada.


Dirinya tau betul, Alex jarang pulang ke rumah, lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor.


Dan Fernando datang disaat yang tidak tepat, sudah kebiasaan baginya untuk masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu jika itu ruangan milik sahabat-sahabatnya.


Dan pemandangan yang ia lihat dengan matanya sendiri, membuatnya mengumpat keras, membuat kedua orang yang tengah melakukan hubungan badan di sofa ruangan itu terhenti.


Meskipun hanya ada pencahayaan yang minim tapi Fernando bisa tau, siapa yang sedang berperang peluh, itu Alex dan Sandra.


Posisi Alex yang duduk bersandar di sofa sementara Sandra ada dipangku,


Bahkan Fernando bisa melihat, bagian bawah mereka yang tengah menyatu.


Umpatan Alex, yang menyuruhnya keluar dari ruangannya, disambut umpatan juga oleh Fernando yang lebih memilih menutup pintu itu kembali, tidak rapat, sehingga masih terdengar ******* dari kedua orang itu, yang sialnya malah melanjutkan kegiatan panas mereka hingga terdengar lenguhan panjang saling bersahutan.


Hanya beberapa menit, Alex membuka pintu, lelaki itu hanya mengenakan celana bokser nya.


"Ngapain Lo malem-malem kesini? Sumpah ganggu banget,"ujar Alex sambil memakai kemejanya yang kusut.


"Gue mau ambil titipan Ben, gila ya, saking miskinnya gue sampai pinjem duit ke sekuriti rumah sakit, sama minta rokok sebatang sama sekuriti dibawah,"


Alex tertawa, lalu mengintip kedalam ruangannya, lalu ia mempersilahkan Fernando untuk masuk.

__ADS_1


Bukan duduk di sofa, Fernando memilih duduk di kursi kebesaran milik Alex.


"Ngapain duduk disitu?"tanya Alex kesal.


"Dih najis, bau eju,"jawab Fernando dengan ekspresi jijik.


Alex mengumpat,


Sedangkan Fernando tertawa keras,


"Mana sini barang-barang gue, buruan, waktu gue nggak banyak,"


Alex berjalan menuju salah satu lemari, ia memberikan tas ransel hitam berisi barang-barang Fernando yang dititipkan Benedict.


Fernando mengecek barang miliknya satu persatu, lalu mengaktifkan ponselnya.


Banyak pesan masuk setelah beberapa saat ponsel itu aktif.


Ia mencari pesan dari istrinya, ia membukanya, ada banyak foto Arana yang Rara kirimkan padanya, ia scroll kebawah pesan itu, hingga foto terakhir adalah foto saat Arana memakai kaos bergambar Strawberry juga bando dengan sebuah strawberry di atasnya, bayi itu tersenyum, manis sekali, seperti senyuman milik uma-nya.


Foto itu dikirimkan sekitar satu bulan yang lalu, dan setelahnya tak ada pesan yang dikirimkan istrinya.


Fernando mengecek m-banking yang menunjukkan segala transaksi kartu yang dipegang oleh istrinya, dan kecurigaannya semakin menjadi, ketika ia melihat jika transaksi terakhir itu dihari yang sama saat Rara mengirim pesan terakhir.


Wanita itu menarik uang tunai di ATM sebanyak tiga juta rupiah.


Jarang sekali wanita itu menarik uang cas.


Fernando menghubungi nomor istrinya, tapi tidak aktif, beberapa kali mencoba tapi tak kunjung aktif, terlihat di nama kontak Rara, bahwa nomor itu terakhir aktif tiga hari dari terakhir wanita itu mengirim pesan.


"Lex, Lo terakhir ketemu Rara kapan?" Tanyanya tanpa melihat sahabatnya.


"Sebelum tahun baru, jemput Xander yang nginep di rumah Lo, kenapa emang?"tanya Alex.


Belum sempat menjawab, Sandra keluar dari kamar pribadi milik Alex dengan penampilan lebih segar.


"Sandra, terakhir kapan wa Rara?"tanya Fernando.


Sandra terdiam, lalu mengambil ponselnya, ia mengutak-atik ponselnya.


"Terakhir waktu tahun baru, kenapa emang?"tanya balik Sandra.


"Terus selama itu kalian nggak ada yang main ke tempat gue gitu?"


"Kerjaan kantor abis tahun baru banyak Do, gue kan bantuin Rama handel kerjaan Lo, kenapa sih?"


"Lex, kayaknya gue mau cuti lagi, nomor Rara, terakhir aktif sebulan yang lalu,"


"Coba Lo balik dulu, Lo cek di rumah, kali aja, Rara ganti nomor,"


Fernando bangkit lalu pamit pada sahabatnya, ia turun kebawah, menemui sekuriti yang tadi memberinya Rokok, ia meminta dipesankan ojek online, tak lupa memberinya uang sebagai tanda jasa.


Ia pergi ke rumah sakit, untuk mengambil kopernya dan berpamitan pada Anna, tak lupa membayar hutangnya pada sekuriti tadi.

__ADS_1


__ADS_2