
mohon like dan vote juga follow diriku ya,
selamat membaca
Sore hari menjelang pulang bekerja, oleh-oleh yang kemarin dibeli oleh Rara baru saja tiba,
Wanita itu langsung membagikannya ke rekan-rekan kerjanya, tak lupa menitip pada Novia untuk teman-teman di kos, karena malam ini sepertinya Rara tidak akan pulang, tadi Fernando bilang ingin menjemputnya.
Dan lelaki itu telah menunggunya sambil bersandar di mobil SUV miliknya.
"Emang kita mau kemana mas?"tanya Rara sambil memakai seat belt.
"Ke apartemen kita,"jawab Fernando sambil mengemudikan mobilnya.
"Kita???? Kamu aja kali nggak pakai aku, kan aku nggak beli,"
"Ya kan aku beli buat kamu?"
"Tapi kayaknya aku nggak minta tuh,"
"Tapi aku pengin kasih ke kamu,"
"Kalau aku nggak mau gimana?"
"Kok gitu, bukannya perempuan paling suka dibelikan tempat tinggal ya!"
"Mas, aku bukan mantan-mantan kamu ya! Aku lebih suka sewa kos atau ngontrak di pemukiman warga, dibanding di apartemen yang nggak kenal sama tetangga,"
"Kok kamu kayak umi Fatimah sih,"
"Kenapa memangnya?"
"Umi lebih suka tinggal di rumah yang dibelikan vater, padahal hanya bisa dilalui satu mobil, kalau parkir susah juga,"
"Soalnya aku lebih suka bertetangga,"
"Iya Rara sayang, aku cuman minta kamu tinggal sama aku di apartemen Selama aku disini, Senin depan aku kan harus ke Malang lagi,"
"Iya deh biar cepat,"
Rara tak pernah membayangkan akan tinggal di unit apartemen, karena seumur-umur dirinya selalu tinggal di lingkungan padat penduduk.
Dan sekarang dirinya diajak tinggal bersama kekasihnya.
Jujur saja ada bisikan dalam hatinya, bahwa apa yang dia lakukan itu salah, bagaimanapun dirinya dan lelaki itu belum resmi menikah, dengan kata lain mereka kumpul kebo, sesuatu yang sebenarnya cukup tabu di mata keluarga Rara.
Mungkin jika orang tua dan kedua kakaknya tau bisa diseret dirinya untuk pulang ke Malang, atau dimasukan ke pondok pesantren.
Walau dirinya selalu menceritakan tentang harinya kepada kakak tertuanya, tapi dia tidak pernah menceritakan tentang hubungannya dengan lelaki blasteran itu.
Selama seminggu Fernando di Jakarta, lelaki itu mengantarkannya untuk bekerja, makan siang bersama dan menjemput kekasihnya saat pulang bekerja.
__ADS_1
Hubungan keduanya layaknya suami istri, hampir setiap malam atau pagi harinya, mereka melakukan hubungan intim, seperti sudah rutinitas bagi kedua sejoli itu.
Fernando juga seolah tak ada bosannya, lelaki itu benar-benar kecanduan dengan semua yang ada diri kekasihnya,
Jum'at sore Fernando bersama Rara mengunjungi rumah umi Fatimah, wanita paruh baya itu senang bisa bertemu lagi dengan calon menantunya.
Mereka bahkan tidur bersama dan melakukan pillow talk agar semakin akrab.
"Anak umi, paksa kamu buat melayani nafsunya ya Ra?"tanya umi Fatimah tiba-tiba.
Mendapatkan pertanyaan itu, Rara menunduk, ia malu sekali.
"Nggak apa Ra, umi ngerti, kamu sebenarnya keberatan sama gaya pacaran anak umi kan?"
Rara mengangguk, tanpa berani bertatap mata dengan umi Fatimah.
"Umi sebenarnya juga nggak suka sama tingkah anak umi, udah tau dosa masih aja dilakukan, Lalu kenapa kamu nggak mau menikah dengan anak umi, selain karena diragukan tentang kesetiaannya, pasti ada alasan lain kan?"
Rara terdiam, sebenarnya ada beban berat yang ia pikul soal ini,
Perlahan wanita muda itu menatap wajah umi Fatimah, "kalau Rara jujur, umi jangan marah ya!"
Umi Fatimah mengangguk.
"Sebenarnya sebelum Rara ketemu mas Nando, Rara dijodohkan sama anak dari teman bapak, yang ternyata diam-diam memiliki istri siri juga anak, saat itu Rara bingung, istri siri calon suami Rara memohon pada Rara agar membatalkan acara pernikahan itu, padahal undangan sudah disebar, Rara tidak berani bicara jujur sama bapak, karena Rara takut sama bapak,"
Rara menarik nafas, "karena calon suami Rara adalah anak dari sahabat bapak yang berjasa untuk kehidupan keluarga kami, karena itu untuk membalas kebaikan sahabatnya bapak memaksa Rara untuk menjadi istri orang itu,"
Umi menepuk punggung tangan calon menantunya itu, "Ra, setidaknya kamu jangan biarkan anak umi menjamah kamu, apa kamu lupa kalau hal itu berdosa,"
Rara mengangguk,
"UmiĀ berharap kamu yang jadi mantu umi, karena menurut umi, kamu bisa mengerem kebiasaan buruk anak umi, tapi disisi lain umi kasihan sama kamu, perempuan baik-baik seperti kamu di rusak oleh anak umi,"
"Sebenarnya Rara kasih waktu mas Nando buat berubah selama setahun mi, maksud Rara nggak usah ketemu dulu, kalau jodoh kan kita akan ketemu lagi, tapi masalahnya mas Nando malah ikutan kesini,"
"umi setuju kalau kamu mau kasih waktu buat Nando berubah, apa kamu mau tau caranya supaya bisa lepas dari anak umi?"
"Sebenarnya Rara sayang sama mas Nando, tapi kalau seandainya kami harus berpisah terlebih dahulu agar mas Nando bisa berubah, Rara rela ikhlas,"
Umi Fatimah membisikan rencananya kepada calon menantunya, dan Rara hanya mengangguk.
"Kamu ngerti maksud umi kan?"
"Iya umi, sepertinya baru bisa dua bulan lagi, sampai rekan kerja Rara selesai cuti melahirkan,"
"Apapun itu Rara, umi setuju,"
Sejak pembicaraan malam itu, Rara semakin akrab dengan umi Fatimah, keduanya memasak bersama atau membuat kue.
Bahkan atas permintaan Fernando, Rara tinggal bersama umi Fatimah, selama dirinya tidak ada di ibu kota.
__ADS_1
Mau tak mau Rara menuruti permintaan kekasihnya.
Sudah hampir tiga bulan Rara meninggalkan rumah, juga hampir dua bulan wanita itu tinggal bersama umi Fatimah, keduanya bagai anak dan ibu kandung.
Umi yang tidak punya anak perempuan tentu senang dengan kehadiran kekasih dari putra semata wayangnya.
Hingga suatu pagi saat keduanya masak bersama, Rara tiba-tiba muntah-muntah, umi dengan telaten memijit tengkuk wanita muda itu.
"Ra, umi perhatikan kamu selama tinggal disini, kamu nggak pernah libur shalatnya, apa kamu memang periode menstruasinya tidak teratur?"tanyanya sedikit curiga.
"Rara sudah tiga bulan tidak datang bulan mi,"jawabnya menunduk.
Umi terkejut mendengarnya, tapi berusaha untuk tetap tenang, "apa kamu sudah periksa ke dokter?"
Rara menggeleng, "Rara takut mi,"
"Tapi tetap harus periksa Ra,"
"Baik mi, besok hari Senin sepulang kantor, Rara datang ke dokter kandungan,"
"Mau umi temani?"
"Rara mau cari rumah sakit yang jauh dari kantor, "
Dan hari Senin sore terjawab sudah, ada janin dalam rahimnya, dokter memberitahukan jika bayinya sehat, tak lupa beberapa vitamin untuk wanita hamil itu konsumsi.
Malam harinya Rara memberitahukan hal itu pada umi Fatimah,
Antara terkejut, senang juga sedih, senang karena akan mempunyai cucu, sedih karena putranya belum resmi menikah dengan wanita ini.
Umi Fatimah mengajak Rara duduk di sofa, wanita tua itu memegang kedua tangan calon menantunya, "Ra, kamu tau status anak yang lahir diluar pernikahan sah?"
Rara mengangguk, "apa yang harus Rara lakukan mi?"
"Ra, kalau kamu menikah dengan Nando sekarang, pernikahan kalian tidak sah, karena ada bayi didalam kandungan kamu, meskipun itu cucu Umi, dan jika anak itu lahir, anak itu tidak bisa dinisbatkan kepada ayahnya, juga tidak berhak atas warisan ayahnya, jadi saran umi, sepertinya ini saatnya kamu meninggalkan putra umi untuk sementara waktu hingga cucu umi lahir, seperti yang pernah kita rencanakan sewaktu itu,"
Rara mengangguk paham, ia sadar akan resiko yang harus ia tanggung karena perbuatan dosanya, "sepertinya seminggu lagi rekan kerja Rara sudah mulai masuk kerja, mungkin setelahnya Rara akan pergi dari kota ini,"
"Umi setuju, kamu tau kan, pekan depan, Nando akan ikut sahabatnya ke Amerika?"
Rara mengangguk, "mi, sebelum pergi, Rara ingin bersama mas Nando selama beberapa hari,"
"Ra..."
"Rara mohon mi,"
"Baiklah, tapi tolong jangan sampai Nando tau kamu sedang hamil,"
"Makasih mi, selama Rara nggak ada, umi jaga kesehatan ya! Kalau sempat, saat Rara lahiran, umi dampingi Rara ya!"ujarnya sambil memeluk calon mertuanya.
Umi Fatimah balas memeluk wanita yang dicintai putranya, "kamu juga baik-baik di sana, jaga kandungan kamu baik-baik,"
__ADS_1