
Mata bulat itu terbuka, ia melihat ke sekeliling ruangan dirinya berada, tempat yang asing baginya.
Ia meraba kepala juga tubuhnya, tudung Hoodie yang semalam menutupi rambutnya tak ada, ia telah berganti baju.
Bath Rob berwarna putih, yang menjadi pakaiannya.
Bingung tentu saja, teringat semalam, ia lari sambil menangis karena kecewa melihat kelakuan suaminya, yang tanpa beban berinteraksi dengan Kelly, perempuan yang menyebabkan dirinya bertengkar dengan lelaki itu.
Rasa kecewa, membuatnya tak bisa berpikir logis, ia malah lari keluar resort, tanpa membawa apapun, hanya pakaian yang menempel ditubuhnya.
Hingga hujan mengguyur, membuatnya tersadar, akan tindakannya yang salah, entah seberapa jauh ia berlari.
Sayangnya ia baru sadar jika dirinya telah tersesat, suasana disekitarnya sepi, tak ada seorangpun, padahal ini malam pergantian tahun, harusnya ramai.
Akibat hujan juga kelelahan karena berlari saat dini hari, pusing menyerang kepalanya, hingga ia pun pingsan tak sadarkan diri.
Sapaan dari suara yang dulu pernah mengisi harinya, membuatnya tersadar dari lamunannya.
Itu Bimo pacar pertama sekaligus mantan calon suami yang pernah mengkhianatinya.
"Gimana keadaan kamu Ra? apa masih pusing?"Tanya lelaki itu.
"kok aku bisa disini Bim? terus baju aku?"tanya Rara balik.
Bimo meletakan mangkok bubur dan segelas air putih diatas kabinet didekat ranjang, lalu duduk disisi ranjang yang kosong, lelaki itu tersenyum, senyum yang pernah membuatnya bahagia.
"semalam sepulang aku dari menghadiri acara kantor, aku menemukan seseorang pingsan di pinggir jalan, aku nggak nyangka itu kamu, dan tenang aja yang gantiin baju kamu, petugas villa cewek kok, jadi jangan khawatir,"jelasnya.
"kamu makan bubur dulu ya, mumpung hangat, lalu minum obat, kayaknya kamu demam,"lanjutnya.
Rara menuruti perkataan Bimo, awalnya lelaki itu hendak menyuapinya, namun dengan halus Rara menolak, ia menyuapi dirinya sendiri.
"kamu jarang pulang ke Malang ya Ra? aku dengar kamu ikut suami kamu,"ucap Bimo.
Rara mengangguk, "kamu tau dari mana?"tanyanya.
"aku pernah nggak sengaja ketemu mbak Laras, beliau cerita soal kamu,"
Rara tak menanggapinya, ia lebih memilih memakan bubur itu.
"Apa kamu bahagia Ra?"tanya Bimo setelah beberapa saat terdiam.
Lagi-lagi Rara terdiam hingga bubur itu tandas dan Bimo memberikan minum juga obat penurun panas.
"lebih baik kamu istirahat dulu disini, hingga demam kamu turun, aku ada di kamar sebelah, ada pekerjaan yang harus aku tangani,"
Rara mengangguk, Bimo menyelimutinya, lalu meninggalkannya.
Sepeninggal Bimo, Rara teringat putrinya, mungkin sekarang Arana tengah menangis mencarinya, tapi kondisinya tak memungkinkan untuk kembali, kepalanya terasa berat, sepertinya ia harus mengikuti saran mantan calon suaminya, untuk istirahat sejenak.
Sebuah panggilan juga tepukan ditangannya, membuat Rara membuka mata, ia menggeliat sambil mengedarkan pandangannya, masih ditempat yang sama.
Bimo tersenyum, "bangun putri tidur, makan siang dulu yuk! apa mau mandi dulu? aku bisa siapkan air hangat,"ujarnya.
"Jam berapa Bim?"tanya Rara.
Bimo melihat pergelangan tangannya, "jam dua lewat,"jawabnya.
"aku tidur lama banget, kenapa nggak bangunin sih?"
"kamu lagi sakit Amara, mana tega aku bangunin, kamu kalau lagi sakit, nggak pernah berubah ya, dari dulu sama, tidurnya lama banget,"
__ADS_1
Rara tersenyum tidak enak, "Bim, aku mau ke toilet,"
"aku papah ya!"tawarnya.
Rara menggeleng, "kepala aku udah nggak pusing, aku sendiri aja, terus baju aku mana?"tanyanya.
Bimo menunjuk plastik bening berisi baju milik Rara, sepertinya itu dari laundry.
Rara beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi, tak lupa membawa baju miliknya.
Sekitar lima belas menit Rara baru keluar dari kamar mandi dengan baju lengkap juga handuk yang membungkus rambut panjangnya,
Bimo menawarinya untuk mengeringkan rambut wanita itu, terpaksa Rara menerima, sebenarnya ia tak boleh seperti ini.
Setelah rambut miliknya kering, Rara menutupi kepalanya dengan Hoodie lalu mengikat tali dibawah dagunya, seperti semalam.
Bimo mengajaknya makan bersama di teras kamar, sepertinya ini Villa, terdapat kolam renang mini di tepi teras.
Ada nasi campur khas Bali tersaji di meja, juga jus strawberry dan botol air mineral.
Keduanya mulai menikmati makan siang yang terlambat, diselingi obrolan.
"Semalam kamu lagi ada acara kantor?"tanya Rara.
"Iya, sebenarnya aku malas ikut, kamu tau kan aku benci keramaian, cuman bos aku mewajibkannya ikut,"jawabnya.
"bukankah kamu kerja di Malang?"
"aku udah pindah hampir dua tahun kesini,"
Rara mengangguk, sambil menikmati makanannya,
"bukannya dari waktu kuliah kamu emang ingin kerja disini?"
Bimo menggeleng, "aku pindah biar bisa ketemu kamu, tapi setelah pertemuan kita yang terakhir, kamu menghilang, kamu juga blokir nomor aku,"
Rara diam tak menanggapi, ia menghabiskan makanannya.
"Aku merasa hidupku sulit karena dosa aku ke kamu, aku nyesel banget Ra, kamu tau, setelah aku mengkhianati kamu, hubungan aku dengan beberapa wanita tak pernah berjalan lancar, mereka tak setulus kamu saat mencintai aku,"
Rara meminum jus strawberry-nya sedikit, lalu melirik ke arah lelaki yang sempat mengisi hari-harinya.
"aku udah maafin kamu Bim, aku udah ikhlas, jadi kamu nggak perlu merasa bersalah, dan mungkin memang kamu belum menemukan wanita yang pas saja, lalu bagaimana dengan Ranti?"
"Ranti sudah menikah dengan pacarnya, kamu ingat bukan siapa dia,"
Rara mengangguk, "apa putri Kalian ikut dengan Ranti?"tanyanya.
Bimo menggeleng, "Ranti tidak mau mengurus putri kami, sehingga Aya diurus oleh mama aku,"
"jadi nama anak kamu Aya?"
"Aku yang kasih nama Ra, Cahaya, sama seperti nama belakang kamu,"
"jangan bilang Ranti marah gara-gara itu,"
"aku nggak peduli, toh dia hanya mengandung dan melahirkan benih aku, apa masalahnya, dia bahkan nggak mau menyusui putri kami, sejak lahir,"
"kamu cari masalah ya Bim,"
"bukan hanya aku, Ranti juga sama, dia bahkan masih berhubungan dengan pacarnya, padahal statusnya sudah jadi istri aku, dia mengkhianati aku Ra, bukan hanya sekali, dia membawa pacarnya ke rumah kontrakan kami, saat aku bekerja, dia bahkan tidur dengan pacarnya, padahal dia lagi hamil anak aku,"
__ADS_1
Rara menutup mulutnya tak percaya dengan pengakuan Bimo,
"aku membenci Ranti, padahal setelah menikah, aku berusaha menerima dia, meskipun aku belum bisa melupakan kamu,"
"udah jalannya Bim,"
"kamu tau Amara, hingga detik ini, aku masih belum bisa melupakan kamu,"
Rara bingung menangapi ucapan lelaki itu, ia memilih diam.
"oh ya Ra, apa kamu sedang ada masalah? kamu kehujanan, kamu menangis hingga pingsan, ada apa Ra?"
"Apa ada yang menyakiti kamu?"
"Andai kamu ingin menyerah, ada aku yang akan menerima kamu dengan tangan terbuka, mama pasti seneng kalau bisa ketemu kamu lagi,"
Rara menghela nafas, "aku bahagia Bim,"
Bimo mengangguk, "dari dulu selalu sama, kamu paling bisa menutupi masalah, dan menyimpannya sendiri,"
"setidaknya kalau kamu bercerita kamu akan lebih lega,"
Rara diam tak menanggapi, ia lebih memilih memainkan sedotan yang ada di gelas berisi juz favoritnya.
"Ra kamu mau ketemu mama sama aya nggak? kebetulan nanti sore mereka datang kesini,"
Tak bisa menolak akhirnya Rara mengangguk.
Sore menjelang malam Murni dan Cahaya datang, Bimo menjemput mereka di bandara.
Benar kata Bimo, Murni mama dari lelaki itu senang bertemu dengannya, bahkan meski sudah bertahun-tahun berlalu, wanita paruh baya itu memintanya menggunakan panggilan seperti dulu.
Cahaya, gadis kecil yang sedang bersekolah di taman kanak-kanak juga senang dengan keberadaanya.
bahkan memanggilnya bunda.
Tadinya Rara berniat berpamitan, namun cahaya merengek dan memintanya untuk tinggal.
Menjelang tidur, Rara tidur bersama Murni dan Cahaya.
bocah kecil itu memeluknya erat.
Pagi harinya, usai shalat subuh bersama, ketiga perempuan berbeda usia itu berbincang di atas ranjang.
Lebih banyak Cahaya yang mendominasi obrolan, sedangkan Rara dan Murni hanya mendengarnya.
"Bun, besok kalau pulang ke Malang, bunda ikut ya, Aya mau pamer sama temen-temen, kalau bunda Aya itu cantik,"pinta bocah berumur enam tahun itu.
"Ya nggak bisa gitu Aya, bunda juga ada kesibukan,"ucap Murni.
Terlihat raut kekecewaan, dari wajah bocah perempuan itu.
"Gini deh, nanti kalau bunda main ke Malang, bunda mampir ke tempat Aya gimana? bunda harus bekerja sayang,"jelas Rara berusaha menenangkan bocah itu.
Meski masih terlihat raut kekecewaan, tetapi bocah itu mengangguk sambil menunjukan jari kelingkingnya.
"Kamu dari dulu selalu baik, sayangnya kamu nggak berjodoh sama Bimo,"tutur Murni.
"Udah jalannya ma,"
Mereka bercerita hingga waktu sarapan tiba, Bimo baru bergabung dengan ketiganya.
__ADS_1