Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
29


__ADS_3

Rara sibuk menjalani harinya dengan bekerja, setiap malam, Fernando akan video call dengannya hingga dirinya tertidur, atau sekedar mengirim pesan atau foto makanan yang hendak Rara makan.


Tak terasa sudah sebulan Rara lari dari rumah, setibanya di ibukota, ia langsung mengganti nomornya, Fernando sempat bertanya alasannya, tapi ia mengatakan jika ingin mengganti provider saja.


Yang mengetahui nomornya hanya Fernando, mas Andi, Lani dan rekan kerja barunya.


Rara berkata pada Andi, kakak pertamanya, ia mengatakan jika dirinya telah bekerja di Jakarta dan tinggal di kos-kosan.


Dari Andi, Rara jadi tau, kalau bapaknya marah besar padanya karena telah membuat keluarga malu, Andi yang mengetahui kejadian sebenarnya hanya diam tak berkomentar,


Andi menyemangati adik bungsunya, ia juga menanyakan apakah ia punya uang untuk hidup di ibukota atau tidak, tentu saja Rara mengatakan dirinya mempunyai tabungan yang cukup, hingga ia menerima gaji, ia juga bercerita jika dirinya lebih bahagia menjalani hidup yang sekarang, tanpa tekanan dari bapaknya.


Rara menjalani hidup yang ia inginkan, ia juga jadi lebih berani untuk sekedar mengutarakan apa yang ada dipikirannya.


Hingga saat Fernando memberitahukan padanya jika lelaki itu akan segera memulai proyeknya di kota Malang pekan depan,


Rara memutar otak, bagaimana caranya untuk menemui lelaki itu, sementara ia harus bekerja di ibukota, ia mengecek salah satu aplikasi pemesanan tiket pesawat, ada pemberangkatan jumat malam pukul tujuh, ia segera memesan tiket pesawat menuju Surabaya, ia juga pesan tiket pulang menuju ke Jakarta, di hari Senin pagi, karena Fernando mengatakan, ia ada pekerjaan di Surabaya terlebih dahulu.


Jumat sore sepulang bekerja, ia memberitahukan kepada Novia jika dirinya akan pulang kampung juga ijin ke mbak Maya akan datang terlambat di hari Senin.


Sekitar jam sembilan malam, Rara sudah tiba di kota Surabaya, ia tidak memberitahu kedatangannya kepada lelaki itu.


Ia hanya mengirimi pesan, menanyakan keberadaan Fernando, bukan hanya dikirimi dimana lelaki itu berada, Rara bahkan dikirimi foto saat lelaki itu bersama rekan bisnisnya.


Rara sampai di hotel, tempat dimana Fernando melakukan pertemuan, wanita itu memilih menunggu di lobby,


Ia mengenakan Hoodie hitam juga masker dan menggendong ransel di punggungnya.


Tiga puluh menit berlalu, Rara tak melihat keberadaan lelaki itu,  akhirnya ia menelpon untuk menanyakan keberadaan lelaki itu,


"Aku baru selesai meeting Rara sayang, ini aku mau antar pak Michael ke lobby,"ujarnya.


"Oh ya udah,"jawab Rara langsung mengakhiri panggilannya.


Tak lama kemudian, Rara bisa melihat sosok yang sebulan ini hanya berkomunikasi lewat ponsel saja, sedang berbicara dengan seorang pria yang mungkin seumuran dengan pria itu.

__ADS_1


Rara diam saja melihat lelaki itu melewatinya, wanita itu bangkit mengikuti dari belakang.


Baru beberapa langkah terdengar seorang wanita memanggil Fernando,


Rara mencari sumber suara, terlihat seorang wanita mengenakan dress hitam berpotongan dada rendah juga dengan panjang setengah paha, melihat hal itu, Rara hanya bisa memutar bola matanya malas, ini wanita keempat yang ia lihat dekat dengan Fernando, ia melihat penampilannya sendiri, jauh sekali dengan wanita itu.


Rara berdiri hanya berjarak tiga meter saja dari dua orang yang sedang melakukan reuni dadakan itu.


Rara mencuri dengar pembicaraan kedua orang itu, dari yang ia dengar, nama perempuan itu adalah Felicia,


Mereka terlihat akrab bahkan sepertinya Fernando tidak keberatan Felicia bergelayut manja padanya.


Wanita dengan dress hitam itu, mengajak Fernando ke club' malam yang masih berada di area hotel berbintang lima itu, dan yang membuat Rara menggelengkan kepalanya, lelaki itu menyetujui ajakan Felicia.


Rara menyunggingkan senyuman miris, bodoh sekali dirinya berusaha percaya dengan lelaki player itu, sekali player tetap player.


Rara menghubungi lelaki itu, terlihat dari jarak tiga meter, Fernando melihat ponselnya tapi memasukkannya lagi ke kantong jas bagian dalam,  hal itu semakin membuat wanita itu kesal.


Rara memfoto kedua orang itu, dari belakang lalu mengirimkannya ke lelaki itu, setelahnya ia beranjak dari sana, menuju keluar area lobby.


My strawberry


Pantesan nggak mau angkat telpon aku, ternyata lagi nostalgia sama Felicia ya, sia-sia aku jauh-jauh ke Surabaya.


Fernando membulatkan matanya, ia melepaskan tangan Felicia dan segera berlari, ke arah pintu keluar lobby, ia panik bukan main,


Tepat didepan lobby hotel ia melihat tas ransel yang dikenalnya sedang berada di gendongan seorang yang mengenakan Hoodie hitam kebesaran, ia tau itu siapa, dengan sekuat tenaga ia berlari mengejarnya.


Saat ada taksi yang melintas Rara menghentikannya, namun saat dirinya hendak masuk ke dalam taksi, pintu taksi itu ditahan,


"Ra, kamu mau kemana?"tanya Fernando panik.


Rara menatap lelaki itu tajam, dan memerintahkan supir taksi itu untuk jalan, tapi dengan sigap Fernando ikut masuk kedalam taksi dan duduk disamping wanita itu.


Fernando memegang pergelangan tangan wanita itu, "kamu mau kemana Ra?"tanya lelaki itu lagi.

__ADS_1


Rara diam saja tak menanggapi, hingga beberapa menit berlalu  supir taksi menanyakan arah tujuannya,


"Ke terminal pak,"jawab Rara.


Sementara Fernando membulatkan matanya, "nggak pak, kita kembali ke hotel tadi, saya akan kasih bayaran banyak asal bapak bawa kami ke hotel tadi,"perintahnya, sambil mengeluarkan dompetnya memberikan lima lembar uang merah.


"Ra, aku bisa jelasin yang tadi, aku nggak seperti yang ada dipikiran kamu,"


Rara diam, wanita itu lebih memilih melihat ke pemandangan kota yang dilewati.


"Ra, aku akui aku salah, tapi jangan tinggalkan aku Ra, kita udah sebulan nggak ketemu, aku mohon Ra, jangan kayak gini, tadi aku cuma iseng, aku nggak mungkin menduakan kamu, please Ra, jangan marah ya!"


Rara tersenyum miris, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar, rasanya sesak sekali.


Semangat untuk bertemu dengan lelaki itu, rasanya turun drastis ke level sangat malas, ia bahkan menyesali kedatangannya ke kota ini, mengorbankan waktu juga uang tabungannya, tapi setelah sampai di kota ini, ia mendapati kenyataan, lelaki itu belum berubah, masih sama saja.


Taksi sampai kembali ke hotel, Fernando menggandeng tangan Rara , namun saat berada di pintu masuk menuju lobby, Rara melepas paksa tangan besar lelaki itu.


"Ra, kamu ikut aku,"ujar Fernando mulai gusar karena pemberontakan yang dilakukan wanitanya.


Rara semakin kesal, ia mendorong kuat, tubuh kekar lelaki itu, hingga mundur beberapa langkah kebelakang, sedangkan Rara berlari sekuat tenaganya dari sana,


Tak tinggal diam, Fernando mengejar wanitanya, langkahnya yang lebar membuatnya dengan mudahnya meraih ransel dipunggung wanita itu, sehingga otomatis Rara terhenti, keduanya berada di pinggir jalan besar.


"Amara, kalau kamu nggak mau ikut aku? Jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar,"ancam lelaki itu.


Rara melotot ke arah Fernando, dan plak.... Wanita itu menampar kencang lelaki itu, "itu yang namanya berbuat kasar, lalu kamu akan melakukan hal yang sama dengan aku, sini tampar atau pukul aku kalau perlu,"bentaknya seolah tidak peduli dimana mereka berada.


Rara menyunggingkan senyumnya, "nyesel aku jauh-jauh kesini, niat mau ngasih kejutan, ternyata aku yang terkejut, kamu belum berubah, ini baru sebulan kamu udah begini, bodoh banget aku, ngasih kesempatan buat kamu, sekali player tetap player, nggak usah tunggu setahun, sekarang juga kita akhiri hubungan ini, aku muak sama kamu,"entah dapat keberanian dari mana, Rara mengungkapkan isi hatinya.


Sementara Fernando menggelengkan kepalanya, "itu nggak akan terjadi Amara, apapun yang terjadi hubungan ini tidak akan berakhir, kamu milik aku,"


Males berbicara, Rara lebih memilih beranjak dari sana, melihat wanitanya meninggalkannya, tak banyak bicara, lelaki itu menggendong wanita itu layaknya karung beras.


Tentu Rara tetap memberontak, namun hal itu tak berpengaruh untuk lelaki kekar itu.

__ADS_1


__ADS_2