
Setelah kepergian Tamara dari Apartemen, kehidupan keluarga kecil itu berjalan seperti biasa.
Fernando Kembali bekerja esok lusanya, sementara Nicholas mulai menghadapi ujian pertamanya di sekolah menengah akhir.
Rara sebagai seorang ibu yang baik, menemani putranya belajar juga menyediakan kudapan, agar Nicholas lebih semangat.
wanita itu juga beberapa kali memberikan kuis usai putranya selesai belajar.
Seperti biasa, Rara akan mengantarkan putranya menuju sekolah tak lupa membawakan kotak bekal agar bisa dinikmati saat istirahat tiba.
Putranya mengaku, malas makan di kantin, karena akan jadi pusat perhatian murid seangkatan atau seniornya.
Tak jarang remaja itu bercerita, jika dirinya sering diberi hadiah oleh para gadis di sekolahnya, namun ia memberikan hadiah-hadiah itu untuk teman sekelasnya.
"ya nggak boleh begitu, nanti yang beri kamu hadiah, jadi tersinggung, kan kasihan mereka, coba kamu pikir, mungkin saja mereka merelakan uang jajannya demi memberikan kamu hadiah,"Rara menasehati putranya.
Nicholas yang duduk di jok belakang bersama adiknya berucap, "tapi kalau aku terima sama aja ngasih harapan,"Belanya.
"gini aja, kalau mereka kasih kamu, cukup kamu terima, lalu bawa pulang, kan ada Uma yang siap menampungnya,"canda Rara.
"memangnya uma mau cokelat? bukannya Uma sukanya strawberry?"
"Apa mereka semua memberikan kamu cokelat aja?"tanya Rara balik.
"Ya nggak sih, ada beberapa barang,"jawab remaja itu.
"Anaknya Daddy Nando, mulai sekarang Uma minta, hargai setiap pemberian orang lain, meskipun kamu tidak menyukainya, coba bayangin kalau kamu jadi mereka,"
Nicholas yang sedang memangku adiknya hanya mengiyakan sambil memanyunkan bibirnya.
Mobil berhenti tepat dipinggir jalan didepan sekolah, Rara menarik tuas rem, lalu menoleh kebelakang melihat putranya.
"Ingat pesan Uma, belajar menghargai pemberian orang lain, lalu bekal yang Uma bawakan kamu bisa membaginya dengan teman sebangku, mengerti putra Uma yang paling tampan, nanti kalau mau pulang, hubungi Uma, nanti Uma jemput,"
Nicholas mengangguk, remaja itu menyalami dan mencium tangan uma-nya, tak lupa mencium pipi chubby adik perempuannya.
Rara menghela nafas, sepeninggal putranya, hari ini, rencananya, ia akan mengunjungi Cristy.
Rara mulai melajukan mobilnya menuju rumah keluarganya dulu.
Sesampainya di jalan besar menuju gang masuk rumahnya, ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari minimarket.
Tadi ia telah memberitahukan tentang kedatangannya pada Cristy.
Sebelumnya ia membeli, bubur ayam pesanan sahabatnya, katanya wanita itu sedang tidak enak badan.
Usaha yang dijalankan bersama Cristy cukup lancar dan berkembang pesat, sama seperti saat bersama Fitri.
Ada beberapa tetangga yang membantu Cristy membungkus baju-baju pesanan pelanggan.
Wanita itu sudah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai kasir supermarket sekitar delapan bulan lalu, dengan alasan sudah banyak pesanan.
Selama ini, hubungan keduanya terjalin cukup baik, tak ada pembicaraan tentang Fernando, sepertinya Cristy cukup mengerti batasan, tidak menyinggung orang yang telah memberikan kehidupan tenang seperti sekarang.
__ADS_1
Beberapa kali Cristy berujar, jika kehidupan yang dijalaninya sekarang, lebih tenang, lebih menyenangkan, meskipun jauh dari kata mewah.
Asal bisa makan sehari tiga kali, tidak direpotkan dengan pembayaran sewa kontrakan, mempunyai tetangga yang baik dan peduli, itu membuatnya tenang.
Tentang maminya, Cristy sudah tidak peduli, dirinya mengganggap jika wanita yang melahirkannya telah mati.
Sebatang kara, itu yang sering wanita berumur tiga puluhan itu, namun ia memiliki Rara, Arana dan Fitri yang menjadi keluarganya.
Disela-sela Rara mengunjungi Cristy, terkadang, wanita itu menangis lalu meminta maaf, mungkin dulu, ia pernah menyakiti hati penolongnya itu, saat dulu meminta Rara untuk meninggalkan Fernando atau saat menemui lelaki itu, sembari memohon untuk kembali tepat dihadapan Rara.
Cristy mengaku malu mengingat semua itu, dan Rara hanya menanggapi, "yang lalu biarlah berlalu,"
Seperti saat sekarang, wanita berdarah Tionghoa itu sedang sakit, tidak parah, hanya masuk angin biasa.
Kemarin Cristy kehujanan saat mengirim paket yang tak terbawa Abang kurir yang biasa pickup barang-barang dagangannya.
"aku kerokin sini,"tawar Rara.
"udah tadi malem sama mbak Cici, salah aku juga Ra, kemarin aku lupa makan, mungkin asam lambung aku naik,"ujarnya.
"ya udah, mending buburnya dimakan dulu, abis itu minum obat lalu tidur,"nasehat Rara.
"tapi pesanannya lagi banyak Ra,"
"Ada aku mbak, aku disini sampai, jam pulang sekolahnya Nicholas, lagian Arana juga anteng ini,"
"Ya udah abis ini aku tidur, terus kalau udah jamnya jemput, kamu bangunin aku ya,"
"Ra, abis taun baru, bisa nggak close order dulu, aku sama Fitri mau jalan-jalan ke Jogja,"
"berdua doang?"tanya Rara.
Cristy yang sedang menyuapkan bubur ayam ke mulutnya mengangguk.
"oke, terus rencananya mbak mau naik apa?"
"kereta, nanti di Stasiun ditempat Fitri, dia ikut naik, jadi kita bisa barengan sampai,"
"udah pesan tiket,"
Cristy menggeleng, "baru rencana Ra, aku ijin ke kamu dulu, Fitri nggak berani ngomong, nggak enak katanya,"
Rara tertawa, "emang aku mukanya galak apa? si Fitri ada-ada aja,"
"bukannya galak, tapi Fitri nggak enak, katanya pasti entar kamu beliin dia tiket, booking hotel segala,"
"Memang kenapa, kan itu wujud terima kasih aku sama kalian,"
"tapi kan kami nggak mau terlalu ngerepotin kamu Ra, aku aja udah berterima kasih banget sama kamu, kehidupan aku yang sekarang, aku lebih tenang,"
"ya udah kalau gitu, aku bayarin hotelnya aja deh,"
"tapi jangan mahal-mahal Ra,"
__ADS_1
"iya mbak Cristy yang cantik, sekarang mending abisin buburnya, terus minum obat lalu tidur,"
"iya emaknya Amara yang baik hati dan tidak sombong,"
Setelahnya Rara mulai mengerjakan pekerjaan yang biasa di kerjakan oleh Cristy, tentu sambil menjaga Arana.
Hingga Putranya mengiriminya pesan, bahwa beberapa menit lagi, jam pulang sekolah akan tiba.
Rara berpesan pada Mbak Cici, salah satu yang membantu Cristy, untuk tidak membangunkan wanita itu.
Rara mendorong Stroller menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari rumah lamanya.
Sesampainya di sekolah putranya, didekat gerbang, Nicholas sedang menunggunya bersama sahabatnya yang bernama Lucky dan Dani.
Tentu Rara mengenal sahabat putranya, beberapa kali mereka menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan di restoran atau warung bakso sepulang sekolah.
Nicholas memasuki jok belakang, mengambil hand sanitizer yang ada tasnya, untuk tangannya.
"Perasaan tadi berangkat kamu nggak bawa kantong plastik deh, kok sekarang bawa?"tanya Rara heran sambil mulai mengemudikan mobilnya.
"sesuai perintah Uma, aku menerima semua hadiah yang diberikan gadis-gadis, dan ini hasilnya,"jawabannya sambil menunjukan kantong plastik itu.
"wah, banyak ya!"
"ya begitulah, lalu Uma, kata Dani dan Lucky, usai ujian ini, aku diajak camping, bolehkah?"tanyanya.
"bilang Daddy, kalau beliau mengijinkan, Uma bakal setuju,"jawab Rara.
"oke, cuman dua hari kok,"
"memangnya dimana?"
"kata Dani di Bogor ada Air terjun, di sana bisa buat camping,"
"kenapa nggak villa yang di Lembang, atau di tempat nini?"
"memangnya boleh?"
"tentu saja boleh, kenapa tidak, apa Nini dan Daddy tidak bilang jika villa punya Nini itu sudah berganti atas nama kamu, itu artinya, punya kamu,"
"aku tau, sebelum lulus SMP, Nini bersama pengacaranya menyuruh aku menandatangani surat pengalihan kepemilikan Villa,"
"nah, karena kamu udah tau, coba ajak sahabat kamu untuk berkunjung ke sana, sekalian kamu melihat keadaan sambil belajar mengamati pengelolaan villa itu, kamu mengerti maksud Uma bukan?"
"aku ngerti, tapi apa menurut Uma aku bisa?"
"tentu kamu bisa, Uma percaya, kamu kan pintar, apa kamu tau, sewaktu SMP, Daddy yang mendesign villa itu, ya walau masih belum terlalu bagus saat itu,"
"benarkah?"
"coba kamu tanya Nini dan aki Hendi,"
Setelahnya hanya obrolan sekitar villa dan kegiatan yang akan dilakukan Nicholas di sana bersama sahabat-sahabatnya.
__ADS_1