Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus dua puluh satu


__ADS_3

Ponsel Fernando berdering, saat lelaki itu sedang berbicara dengan manajer villa yang baru beberapa hari ditunjuk, Edwin namanya,


Lelaki blasteran itu meminta ijin menjawab panggilan telepon dari Benedict.


"Ya Ben, ada apa?"tanya Fernando.


"Do, balik ke Jakarta sekarang, gue sama Rama udah kirim heli kesitu, Lo tunggu aja,"jawab Benedict diseberang sana.


"Nggak usah ngadi-ngadi Lo, yang nyuruh gue kemari buru-buru siapa?"ujarnya mulai kesal.


"Sorry do, gue nggak tau bakal kayak gini, udah nggak usah banyak tanya, Lo tinggal tunggu heli Dateng jemput Lo,"


"Ribet Lo, terus urusan villa gimana?"


"Biar Rama sama Alex yang opening, Lo disini aja sama gue,"


"Tinggal bilang alasannya apa salahnya sih Ben, Lo seenaknya sendiri ya!"


"Do, Lo tinggal balik kemari naik heli yang gue kirim, nggak usah banyak tanya, jangan sampai Lo nyesel,"


Rasanya Fernando ingin memaki sahabat sekaligus bosnya, tetapi Benedict keburu mengakhiri panggilannya.


Lelaki dengan kaos berwarna hitam itu menghampiri Edwin yang sedang berdiskusi dengan beberapa pegawai villa,


"Ed, gue balik dulu ke Jakarta, si Ben yang minta, terus buat opening, Rama sama Alex yang Dateng,"ujarnya.


Edwin yang merupakan teman kuliah Rama mengernyit heran, "emang ada apaan bos?"tanyanya.


"Nggak tau ini sih bule kawe, udah nyuruh gue buru-buru kesini, sekarang malah tiba-tiba disuruh balik ke sana, terus mobil gue tolong suruh orang antar ke Jakarta,"


"Terus Lo naik apa baliknya kalau mobil ditinggal?"


"Ben kirim Heli,"


"Berarti ada yang darurat bos,"


Entah mengapa Fernando jadi teringat istrinya, tapi satu sisi pikirannya menyangkalnya, bukankah hari perkiraan lahir masih sepuluh hari lagi,


Saat sedang melamun, Edwin menepuk lengan Fernando, "bos gue rasa, bini Lo mau lahiran deh, soalnya bini gue juga gitu, anak gue lahir jauh lebih cepat dari hari perkiraan yang dokter bilang,"


"Masa begitu sih?"


"Coba telpon bini Lo,"


Fernando mengambil ponselnya, ia menghubungi nomor Rara, tetapi tidak diangkat, ia juga mengirimi pesan, tapi tak kunjung dibaca dan dibalas, pikirannya makin kalut.


Lelaki itu menghubungi Umi Fatimah,


Setelah mengucapkan salam, Fernando menanyakan keberadaannya,


"Umi lagi jenguk Rayan sama si kembar, ada apa do?"

__ADS_1


"Kok Rara ditinggal mi,"


"Rara sama mbak Narti di rumah, tapi tadi mantu umi telpon, katanya lagi makan soto diluar,"


Fernando menghela nafas, rasanya ia makin kesal, namun ia berusaha untuk tidak emosi, karena mau bagaimanapun, umi adalah perempuan yang telah melahirkannya,


"Barusan Ben telpon, dia kirim heli ke sini, nyuruh aku pulang sekarang juga, kalau nggak darurat, nggak mungkin dia suruh aku balik tiba-tiba,"


"Kamu udah telpon Rara?" tanya Umi Fatimah,


"Udah mi, tapi nggak diangkat,"


"Ya udah umi telpon mbak Narti dulu,"


Mereka mengakhiri panggilannya.


Sambil menunggu heli datang Fernando menghampiri putranya yang sedang bersama mang Ujang di kebun.


Ia berjalan beriringan dengan Edwin masih membahas soal opening villa, serta strategi marketing yang akan digunakan untuk menarik minat pengunjung.


Terlihat dari kejauhan remaja berambut cokelat itu, tengah diam mengamati bibit tanaman yang ada di ruangan khusus.


Fernando memanggil putranya, merasa namanya dipanggil, Nicholas menoleh dan menghampiri ayahnya.


"Son, kita harus kembali ke Jakarta sekarang,"ungkap lelaki hampir tiga puluh dua tahun itu.


"Kita baru sampai Dad, apa Tante Rara mau melahirkan?"tanya remaja itu.


"Apa Daddy tidak lelah?"tanya Nicholas khawatir.


"Kita tidak naik mobil, Ben mengirimi kita heli,"jawab Fernando.


Ada raut terkejut di wajah remaja itu.


Nicholas mengikuti Fernando berjalan menuju mobil, masih dengan Edwin dan beberapa staf yang mengikutinya untuk membahas masalah pekerjaan.


Nicholas mengeluarkan dua koper dari bagasi, lalu mereka menuju helipad yang ada di belakang villa.


Sewaktu mengajukan ide merenovasi villa, Benedict meminta untuk menambahkan helipad di sana, entah apa alasannya.


Hal itu sempat ditertawakan oleh Alex yang turut serta dalam meeting saat itu,


"Kalau disini bikin helipad buat apa Ben? Helikopternya aja nggak ada,"ejek pengacara itu.


"Kali aja bakal butuh, Lex," ujar Ben.


Fernando teringat pembicaraan itu dan paham kenapa sahabatnya meminta disediakan helipad.


Sambil menunggu helikopter datang, Fernando menghubungi Natasha,


"......"

__ADS_1


"Sha, Rara lagi Sama Lo?"tanyanya.


"......"


"Kenapa nggak ada yang ngasih tau gue? Bini gue mau lahiran, gue malah jauh disini, Awas aja kalau sampai Rara kenapa-kenapa, gue acak-acak itu rumah sakit,"


"......."


"Gue nggak peduli Sha, bisa-bisanya ya kalian begitu sama gue, dan gue minta tangani Rara dengan baik, kasih pelayanan terbaik,"


"....."


Fernando mengakhiri panggilannya.


Ada rasa takut dalam dirinya, disaat Rara membutuhkannya, ia malah tidak ada disampingnya.


Ponselnya berdering, tertera nama umi Fatimah di layar, Fernando mengangkat dan mengucapkan salam,


"Do, kata mbak Narti, Rara minta koper merah yang di kamar diantar ke rumah sakit, apa mantu umi mau melahirkan?"


Sebenarnya ada rasa kesal dalam diri Fernando pada uminya, dua kali Uminya tidak bisa menjaga wanita yang ia cintai disaat ia tidak ada di sana.


"Baru aja, Nando telpon Asha dan Rara udah mau naik ke ruang bersalin, katanya udah pembukaan enam,"jelasnya.


"Ya udah umi ke Rumah sakit bareng tante Anna, umi siap-siap dulu, kita ketemu di sana,"


Setelah mengucapkan salam, Fernando mengakhiri panggilannya.


Nicholas menghampiri daddy-nya yang sedari tadi terlihat tak tenang,


"Apa benar Tante Rara mau melahirkan?"tanya remaja itu


Fernando mengangguk,


"Dua kali Daddy tidak berada disampingnya son, dua kali dia kesakitan karena Daddy tidak menjaganya dengan baik, bagaimana jika kali ini dia benar-benar meninggalkan Daddy?"ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.


Perbedaan tinggi membuat Nicholas tak bisa menjadi tempat bersandar untuk ayahnya, remaja itu hanya bisa menepuk punggung lebar itu.


"Daddy takut kehilangannya son, sudah cukup kehilangan anak kami yang dulu, dia bahkan meninggalkan Daddy selama tiga tahun, rasanya sangat tersiksa, bahkan setiap malam Daddy susah tidur,"


Ayah dan anak itu hanya berdua tak jauh dari helipad, sementara Edwin dan staf telah meninggalkan tempat itu Beberapa menit yang lalu,


"Apa begitu besar rasa cinta Daddy pada Tante Amara?"tanya Nicholas.


"Tentu saja son, Daddy sangat mencintai dia, semua yang ada pada dirinya membuat Daddy jatuh cinta, kamu akan merasakannya nanti,"jawabnya sambil menyeka sudut matanya.


"Dad, tapi aku tidak akan jatuh cinta sebelum mommy bahagia,"


"Itu hak kamu, tapi tolong jangan minta Daddy untuk kembali pada mommy, tanpa Daddy, mommy bisa melalui hidup ini dengan baik, terbukti dia berhasil membesarkan kamu dengan baik,"


Tak lama terdengar suara helikopter mendekat, dan mendarat tepat di tulisan huruf H berwarna putih dan berwarna dasar hijau.

__ADS_1


__ADS_2