Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tujuh puluh empat


__ADS_3

Rara berusaha menerima keadaan yang mengharuskannya hidup di negara asing ini.


Karena sudah beberapa bulan disini, ia mulai terbiasa dengan lingkungan sekitar tempat tinggalnya.


Ia sudah bisa berbelanja sendiri ke supermarket bersama Arana, sedangkan putranya, selain belajar secara daring, remaja itu juga sering mengikuti daddy-nya bekerja.


Awalnya Rara keberatan, bagaimanapun putranya masih muda, baru tahun ini menginjak umur tujuh belas tahun, bagaimana mungkin harus berkerja, seperti orang yang kekurangan uang saja, namun Fernando memberikan pengertian, jika Putranya harus mulai belajar mandiri, toh di agama yang dianut Rara dan Fernando, anak lelaki yang sudah Akil baligh sudah seharusnya bertanggung jawab pada dirinya sendiri.


Karena itulah, sekarang ini Rara menjalani aktivitas hanya bersama Arana, baik berbelanja atau berjalan-jalan disekitar taman di pusat kota itu.


Beberapa kali Rara bersama dengan Mariah keluar, tapi perempuan paruh baya itu juga cukup sibuk dengan kehidupan pribadinya.


Rara mulai bergaul dengan sesama perantau yang berasal dari Indo.


Setidaknya dengan memiliki teman dari negara sama, cukup untuk menghiburnya.


Evita namanya, seorang ibu rumah tangga beranak satu yang seusia dengannya.


Wanita asli Surabaya yang sudah merantau sejak tiga tahun lalu karena mengikuti suaminya yang bekerja disalah satu perusahaan terkemuka.


Evita memiliki seorang putri yang seumuran dengan Arana bernama Zivanna.


Kedua ibu rumah tangga itu sering menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan atau sekedar piknik di taman.


Hingga musim panas usai, berganti musim gugur, Fernando tak kunjung memberi kejelasan tentang kepulangan mereka ke negaranya.


Meski rasanya seperti dibohongi, tapi Rara tak memiliki pilihan lain, sebagai istri yang baik, ia hanya bisa mengikuti kemauan suaminya.


Udara mulai dingin, baginya yang biasa hidup di negara tropis, tentu cukup membuatnya sedikit terkejut dengan perubahan cuaca.


Datang saat musim semi dimulai, melewati musim panas dan sekarang mulai musim gugur, walau tak bisa dipungkiri, pemandangan musim gugur begitu indah, pengalaman yang baru untuknya.


Selama musim gugur, Rara hanya keluar saat belanja ke supermarket saja, cuaca yang lebih dingin membuatnya malas untuk beraktivitas diluar ruangan.


Seharian ia hanya bermain bersama putrinya di dalam Penthouse, meskipun bosan tapi tak ada pilihan lain.


Saat pagi usai sarapan, putranya akan berangkat menuju perusahaan dimana Fernando tengah bekerja.


Terkadang putranya baru pulang saat hari telah gelap, bahkan beberapa kali remaja itu tak pulang, meskipun ia selalu dikabari, tetap saja Rara khawatir.

__ADS_1


Selain bermain dengan putrinya, Rara mulai belajar bahasa Jerman, tempat kelahiran suaminya, dengan mengandalkan internet atau sesekali saat suaminya datang, ia akan bertanya langsung.


Musim gugur berganti musim dingin, dibalik kaca Penthouse, ia bisa melihat salju pertama turun.


Indah dilihat, namun tidak enak dirasakan, suhu semakin dingin, beruntung ada pemanas ruangan di Penthouse.


Musim salju, membuat Rara nyaris tak keluar dari tempat tinggalnya, untuk urusan keperluan sehari-hari Mariah yang


akan membawakannya.


Mendekati akhir tahun, suami dan putranya juga semakin sibuk dan jarang pulang, rasanya Rara semakin bosan dibuatnya, namun tak ada yang bisa ia perbuat, ia hanya pasrah menerima keadaan.


Dan akhirnya di malam bergantinya tahun, Suami dan putranya berkumpul bersama dengannya, tak ada perayaan khusus, keluarga kecil itu hanya menghabiskan waktu menunggu tengah malam, dimana akan ada banyak kembang api yang bertaburan.


Tempat tinggal dilantai teratas membuat mereka tak perlu keluar rumah jika ingin menikmati suasana pergantian tahun.


Hingga Rara angkat bicara, "Usai tahun baru dengan atau tanpa persetujuan kamu, aku dan Arana akan pulang ke Indo, kalau Nicho mau ikut, silahkan tapi jika tidak, terserah,"


Kedua Lelaki yang berwajah nyaris sama itu menoleh secara bersamaan,


"Kenapa hal itu disinggung lagi sih Ra? kan lebih nyaman disini,"ujar Fernando.


Rara tak menanggapi ucapan suaminya, ia lebih memilih menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca.


Rara bangkit menuju kamarnya, karena ia tau ujungnya akan seperti apa.


Ini bukan kali pertama ia meminta kembali ke Indo, suaminya selalu berhasil mempengaruhinya agar tetap disini.


Rara duduk di sofa panjang sambil melihat pemandangan kota dari ketinggian,


Terkadang ia bisa menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk memandangi megahnya kota yang dijuluki sebagai pusat bisnis itu.


Kecupan lembut di keningnya menyadarkannya,


"Kalau kamu ingin membujuk aku untuk tetap tinggal, maaf kali ini aku tidak bisa,"Tutur Rara seakan tau apa yang akan dikatakan oleh suaminya.


"Ra, aku tanya, misal kamu kembali ke Indo apa yang akan kamu lakukan?"tanya Fernando.


"Banyak mas, salah satunya mengurus usaha punya aku,"jawabnya tanpa menatap suaminya.

__ADS_1


"Memang uang yang aku kasih kurang? sehingga kamu lebih memilih usaha itu dibandingkan suami kamu sendiri?"tanya Fernando lagi.


"aku jenuh disini, tidak banyak kegiatan yang aku lakukan, belum lagi cuaca yang dingin luar biasa,"


"Ra, di seluruh ruangan Penthouse ini ada penghangat ruangan, jadi itu bukan jadi alasan, setiap harinya kamu juga sibuk mengurus Arana, aku cuman minta kamu tetap disini,"


Merasa tak ada guna mengemukakan pendapatnya, Rara memilih bangkit dan berjalan menuju ranjang tanpa menanggapi perkataan dari suaminya.


Fernando yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas.


Sepeninggal suaminya, Rara menangis, bukan untuk meratapi nasib, ia bersyukur dengan apa yang dimilikinya, hanya saja ia ingin kembali ke tanah kelahirannya.


Hal yang ia sadari sejauh ini membina rumah tangga dengan lelaki itu, bahwa uang berlimpah serta wajah yang rupawan juga cinta dari suaminya, tak menjamin hatinya bahagia.


Kesibukan suaminya, jarangnya waktu luang untuk sekedar bersenda gurau membuat dirinya merasa kesepian.


Ia hanya bertemu suaminya saat tengah malam, itupun hanya sekedar berhubungan intim, tak ada candaan atau pembicaraan tak penting diantara mereka.


Harusnya sedari awal dirinya sadar, suaminya gila kerja, sebagian besar waktu lelaki itu hanya untuk bekerja.


Selama ini, ketika suaminya mengajaknya berpergian itu hanya untuk bekerja, bisa dihitung pakai jari, ia dan suaminya berpergian tanpa ada embel-embel pekerjaan.


Lama-lama bosan juga seperti ini,


Dulu dalam bayangannya kehidupan rumah tangga seperti kedua kakaknya, Andi berangkat pagi dan pulang sore, begitu juga dengan Dika, saat weekend mereka bisa berkumpul bersama keluarga di rumah atau berjalan-jalan di taman.


Sementara dirinya? bahkan saat weekend dan menjelang akhir tahun, tak ada libur untuk suaminya.


Yang lebih parah tentu lebaran, bahkan di Hari raya, suaminya masih bekerja.


Memikirkan hal itu hanya membuat kepala pusing, puas menangis, Rara tertidur dengan sendirinya.


Usai beribadah di waktu subuh, Rara terbiasa menyiapkan sarapan sendiri, lagi-lagi ia tak mendapati suaminya.


Selesai menyiapkan sarapan, Putranya keluar dari kamar,


"Apa Uma menangis semalam?"tanya Nicholas setelah duduk di kursi ruang makan.


Rara tak menanggapi pertanyaan putranya, remaja itu sama saja dengan daddy-nya.

__ADS_1


Merasa tak ditanggapi, Nicholas kembali bertanya, "Uma marah sama aku juga?"


Rara hanya menaikan bahunya, ia lebih memilih memulai sarapannya bersama putrinya.


__ADS_2