Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus lima belas


__ADS_3

Dua hari kemudian, umi Fatimah datang bersama dengan Nicholas diantar oleh mang Hendi.


Katanya mau membantu menantunya menyiapkan segala keperluan bayi dan ibu melahirkan.


"Semalam Nando cerita katanya kalian belanja keperluan bayi, cuman masih banyak yang kurang, makanya umi kesini,"ujarnya ketika mereka berkumpul di ruang tengah.


"Padahal beberapa pekan lalu, Rara bantuin mbak Sinta siapin keperluan bayi, tapi malah bingung buat anak Rara sendiri,"keluhnya.


"Udah nggak apa-apa, nanti umi bantu, lalu apa kakak kamu akan datang kesini?"tanya Umi Fatimah.


"Sepertinya untuk sekarang sulit mi, mas Andi lagi sibuk banget di tempat kerjanya, begitu juga mas Dika, mbak Laras juga mesti dampingi si bungsu ikut lomba di  Surabaya,"jelas wanita hamil itu.


Fernando yang sedang mengerjakan pekerjaannya di i-pad miliknya, menghentikan sementara kegiatannya, "mi, kayaknya besok pagi Nando harus ke Lembang, buat persiapan pembukaan villa, Nando titip Rara ya,"


"Memangnya Benedict tidak memberikan kamu cuti? Istri kamu mau melahirkan,"ucap Umi Fatimah.


"Nando cuman mau selesaikan tanggung jawab aja, lagian batas hari perkiraan lahirnya masih sepuluh hari lagi, Nando cuman tiga hari di sana,"


"Terserah kamu, lalu apa kamu mau mengajak Nicholas?"tanya wanita paruh baya itu.


Fernando melirik putranya yang sedari tadi diam mendengarkan, "kalau mau ikut, silahkan nggak masalah, jadi dia tau pekerjaan aku,"ucapnya sedikit ketus.


Rara mencubit paha suaminya, hingga Fernando mengaduh, "kenapa dicubit Rara sayang?"protesnya.


"Jangan ketus-ketus, Nicholas itu anak kamu,"ucap Rara kesal,


Wanita hamil itu menatap anak tirinya, "Nicho nggak usah dipikirin omongan Daddy, beliau memang kalau ngomong terkadang pedes banget,"


"Kok kamu belain dia, aku suami kamu Amara,"


"Iya aku tau kamu suami aku, dan Nicholas anak aku, emang salah aku belain anak aku?"


Perdebatan suami istri itu membuat Umi Fatimah dan mang Hendi menggelengkan kepalanya, sedangkan Nicholas melongo melihatnya.


"Jangan kaget Nicho, Daddy sama Uma memang begitu,"bisik mang Hendi yang duduk di samping remaja itu.


Nicholas mengangguk menanggapi bisikan aki kecilnya.


Keesokan paginya mang Hendi berpamitan untuk kembali ke Sukabumi.


Fernando dan Nicholas berangkat satu jam setelah kepergian mang Hendi.


Lelaki yang sebentar lagi genap berusia tiga puluh dua tahun itu, tersenyum secerah mentari pagi, sambil mengemudikan mobilnya, bahkan bersenandung lagu cinta yang populer saat remaja dulu.


Nicholas yang sedari tadi diam, sampai heran sendiri dengan sikap daddy-nya,


"Daddy kenapa? Bukankah harusnya Daddy sedih harus berpisah sementara dengan istrinya?"karena merasa penasaran, akhirnya remaja itu bertanya.


Fernando yang tengah mengemudi sambil bersenandung, melirik putranya, "nanti jika sudah saatnya, kamu akan mengerti,"ujarnya ambigu.

__ADS_1


Nicholas semakin dibuat bingung, "maksudnya apa Daddy? Apa tidak bisa beritahu saja?"tanyanya mulai tak sabar.


Fernando menyunggingkan senyumannya, putranya sepertinya mewarisi sifat tak sabar miliknya,


"Daddy sedang jatuh cinta,"jawab lelaki itu ambigu.


Nicholas terkejut mendengar jawaban daddy-nya.


"Apa Daddy akan mengkhianati aunty Rara?"tanya remaja itu.


"Itu tidak mungkin,"


"Lalu apa maksudnya Daddy sedang jatuh cinta?"


Fernando tersenyum lagi, "Daddy jatuh cinta setiap harinya pada wanita itu, Daddy tergila-gila padanya, segala tentang dia selalu membuat Daddy takjub,"jelasnya, "ah... Baru berapa menit berlalu, udah kangen aja,"celetuknya.


Penjelasan lelaki dewasa disebelahnya membuat Nicholas semakin bingung.


Fernando menyadari kebingungan putranya, tak ingin membuat remaja itu bingung, lelaki yang sedang menunggu kelahiran anak keduanya, akhirnya berkata, "Daddy jatuh cinta pada Amara, wanita itu luar biasa dalam hal apapun,"


"Apa segitu besarnya rasa cinta Daddy pada wanita itu? Lalu apa alasan Daddy mencintainya?"


"Son, apa kamu mau dengar kisah antara Daddy dan Amara?"


Nicholas mengangguk.


"Sekitar empat tahun lalu, Daddy pertama bertemu dengan Amara disalah satu trotoar di kota Malang, awalnya Daddy penasaran dengan gantungan strawberry yang ada di ransel seorang gadis tepat saat sedang mengambil sebuah objek foto, untuk pertama kalinya Daddy mengikuti seorang gadis, dan Daddy melihat senyuman itu, jantung Daddy berdebar kencang, sampai sesak rasanya, sejak itulah Daddy jatuh cinta pada Amara,"jelasnya.


Fernando melirik sekilas,


"Jawaban apa yang kamu inginkan?"tanyanya.


Remaja itu mengernyit bingung dengan pertanyaan Daddy-nya.


"Apa kamu siap jika Daddy bercerita tentang kisah masa lalu  dengan mommy kamu? Daddy tidak ingin kamu membenci salah satu dari orang tua kamu, dan apa mommy pernah bercerita tentang Daddy?"


"Mommy selalu bercerita tentang indahnya masa dimana kalian saling mencintai, bukankah mommy cinta pertama Daddy?"


"Tepatnya pacar pertama,"sangkal Fernando cepat.


"Maksudnya?"tanya Nicholas bingung.


"Maafkan Daddy, tapi sejujurnya masalah jatuh cinta, Daddy baru merasakannya setelah bertemu Amara, kenapa bisa berbeda, jadi begini, dulu saat Daddy dekat dengan wanita termasuk mommy kamu, Daddy hanya ada rasa suka tak ada keinginan untuk berjuang atau sejenisnya, tapi dengan Amara, hasrat ingin memiliki, menguasai dan keinginan agar selalu bersama begitu besar,"


"Apa seluar biasa itu istri Daddy?"


"Tentu saja, tiga tahun Daddy kehilangan Amara, rasanya nyaris gila, bukan hanya rasa cinta tapi Amara adalah partner terbaik dalam segala hal,"


Fernando tersenyum sendiri, "apa kamu tau, villa yang akan kita datangi? Itu adalah hasil pemikiran Amara, lalu villa milik Nini juga hasil pemikirannya,"

__ADS_1


"Apa suatu saat aku akan merasakan sama yang seperti Daddy rasakan?"


"Tentu saja Son, tapi saran Daddy kejar cita-cita kamu dulu, baru memikirkan perempuan,"


"Apa Daddy seperti itu?"


Mendapatkan pertanyaan dari putranya, Fernando terkekeh,


"Tentu saja tidak seperti itu, karena sedari muda, Daddy banyak uang,"


"Apa kalau Nicho banyak uang, Nicho bisa seperti Daddy?"


Fernando terkejut dengan pertanyaan putranya, "jangan lakukan itu son, nanti kamu menyesal, sejujurnya Daddy malu dengan masa kelam itu, setidaknya suatu saat kamu punya kebanggaan dari dalam diri kamu, jika kamu bertemu dengan cinta sejati yang akan menemani hingga tutup usia,"


Nicholas mengalihkan pandanganya ke samping melihat pemandangan sepanjang jalan tol Cipularang,


Fernando melirik sekilas putranya, "apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tidak percaya dengan ucapan Daddy?"tanyanya.


Remaja yang berusia lima belas tahun itu menatap lelaki yang begitu mirip dengannya, "Daddy kenapa mommy tidak pernah merasakan yang Daddy katakan, kenapa kisah cinta mommy selalu berakhir tragis, berkali-kali mommy tersakiti,"


Fernando menghela nafas, "Nicholas, tidak semua hubungan sesama manusia berakhir baik, ada beberapa konflik yang sering kali terjadi, bukan hanya tentang percintaan, apa pernah kamu berselisih dengan teman sekolah atau teman bermain?"


Nicholas mengangguk, "aku pernah diejek oleh salah satu teman sekelas, dia bilang aku tidak jelas asal usulnya karena mommy yang sering berganti pasangan,"


Mata remaja itu berkaca-kaca, "saat itu aku membenci keadaan kami, setiap mommy putus, mommy akan mendatangi club', pulang dalam keadaan mabuk bersama lelaki berbeda, aku bertanya mengapa bukan Daddy, aku iri dengan teman-temanku yang hanya mempunyai satu Daddy, sementara aku selalu berganti Daddy,"


"Maafkan Daddy, andai saat itu Daddy tau keberadaan kamu, tentu kamu tidak akan mengalami semua itu,"ungkap Fernando menyesal.


"Apa Daddy tidak bisa bersama mommy?"


"Maaf son, hal itu tidak akan terjadi, selain Daddy sudah memiliki Amara, Daddy dan mommy berbeda keyakinan,"


"Seandainya mommy ikut keyakinan Daddy, apa kalian bisa bersama?"


"Maaf son, Daddy tidak bisa berbagi cinta, Daddy tidak bisa menyakiti Amara, tapi satu hal yang kamu harus tau, kalau kami menyayangi kamu,"


Hening sejenak, hingga Fernando bersuara, "Nicholas boleh Daddy bertanya?"


Remaja itu mengangguk.


"Apa kamu belum bisa menerima keadaan saat ini?"


"Aku sedang menyesuaikan diri, jujur ini berat bagiku, pertama kalinya dalam waktu lama aku jauh dari mommy,"


"Apa tahun depan kamu mau tinggal dengan kami? Daddy menginginkan kita berkumpul, ada Amara juga adik kamu nantinya, kamu anak Daddy, sejujurnya Daddy merasa bersalah  mendengar pengakuan kamu tadi, masa sulit yang kamu lalui karena ketidaktahuan Daddy tentang keberadaan kamu,"


Ini kali pertama kalinya, Fernando berbicara lama dengan putranya,


Nicholas mengangguk,

__ADS_1


Keduanya terus berbicara sepanjang perjalanan, Nicholas jadi lebih terbuka dan mengekspresikan keinginannya.


Fernando berharap putranya bisa menerima keberadaan istri dan adik bayinya nanti.


__ADS_2