Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
lima puluh tujuh


__ADS_3

Usai menyelesaikan makannya dan mencuci tangannya, fernando menelpon umi Fatimah, memberitahukan pada orang tua satu-satunya untuk segera bersiap.


Diam-diam ia mengirim pesan pada Andi juga Dika, menceritakan tentang kejadian yang menimpa dirinya dan Rara.


"Ra, besok sore kita pulang ke Malang,"ucap lelaki itu tiba-tiba.


"Ngapain?"tanya Rara heran.


"Nikah lah, mau apa lagi,"jawab Fernando.


"Kan aku bilang tunggu tiga hari lagi,"


"Kita tadi melakukannya Ra, apa kamu lupa, aku tidak memakai pengaman, kamu mau hamil diluar nikah lagi,"


"Kamu sengaja ya!"


"Silahkan kamu siapkan barang-barang kamu, aku udah kirim pesan ke Dika untuk mengurus surat-suratnya,"


Mau tak mau Rara membereskan barang-barangnya, tak lupa ia menitipkan kunci kepada tetangga sebelahnya yang masih sepupu mendiang ibunya.


"Lalu kita kemana sekarang?"tanya Rara ketika Fernando mulai melajukan mobilnya.


"Ke rumah Ben dulu, lalu meminta surat numpang nikah,"


"Kenapa kamu nggak diskusi dulu sama aku?"


"Kamu pasti jawabannya tidak Ra, aku tau isi kepala kamu,"


"Bukannya aku nggak mau mas, hanya memikirkannya matang-matang,"


"Aku udah nggak bisa menahannya Ra, kamu mau buat dosa lagi sama aku setiap hari,"


"Ya kita nggak usah ketemu,"


"Kalau itu nggak bisa, aku mau bareng kamu terus,"


"Terserah kamu mas,"


Tak lama, mobil SUV itu memasuki gerbang rumah milik Benedict, "kamu nggak usah turun, tunggu sini, aku cuman mau balikin ponsel sama perhiasan punya Ayu,"


Sudah lima belas menit berlalu, tapi Fernando tak kunjung memunculkan batang hidungnya.


Di ruang kerja Benedict, Fernando sedang menangkis pukulan sahabatnya, "pukul gue, entar aja Ben, tunggu seminggu lagi,"


"Bangsat, gara-gara Lo Ayu bisa berduaan sama Dikta, sahabat macam apa Lo!"


Tadi Fernando mengembalikan barang milik Ayudia pada Benedict, sekaligus menceritakan keberadaan istri sahabatnya itu, tentu saja ayah dua anak itu emosi, tapi dengan sigap Fernando menghindari serangan lelaki itu.


"Entar juga balik Ben, bini Lo setia kok, gue yakin,"


"Apa jaminan jika bini gue nggak macem-macem sama cinta pertamanya?"


"Kerjaan gue Ben, Lo bisa pecat gue,"

__ADS_1


"Terlalu sepele Do, gue kebiri aja Lo ya!"


"Nggak bisa, sini Lo yang gue kebiri, enak aja, Lo enak udah punya anak, gue belum ogeb,"


"Gue nggak peduli,"


"Ben, Lo macem-macem sama gue, beneran Lo bakal kehilangan Ayu, gue nggak main-main sama omongan gue,"


"Lo ngancem gue do?"


"Kalau iya kenapa? Dan jangan ganggu gue beberapa hari ke depan, gue ada urusan penting, yang gara-gara Lo, urusan yang harusnya gue selesaikan tiga tahun yang lalu, tertunda sampai sekarang, jadi biar kita impas aja, gue kerjain Lo bos,"


Benedict mengepalkan tangannya, namun ia juga merasa bersalah dengan Fernando, karena dirinya yang menyuruh  mengikutinya ke Amerika, Fernando kehilangan calon istrinya yang tengah hamil.


Bahkan tiga tahun yang lalu, keduanya sempat baku hantam gara-gara masalah ini.


Tanpa berpamitan Fernando pergi dari rumah kerja sahabatnya.


"Kamu berantem sama suaminya Dia ya?"tanya Rara ketika Fernando baru saja memasuki mobil dan memasang seat belt.


"Tentu saja aku menghindar, masa aku mau nikah, wajah tampan aku babak belur, kan nggak keren banget,"jawabnya sambil tersenyum.


"Kenapa sih kamu mesti ngelakuin hal itu? Bisa aja kan bakal berakibat fatal,"


"Kamu nggak tau sih, gara-gara Ben nyuruh aku ke Amerika, aku jadi kehilangan kamu sama bayi kita, gantian lah,"ujar Fernando sambil memulai mengemudikan mobilnya.


"Itu udah takdir mas,"


"Setidaknya biar Ben ngerasain apa yang aku rasain, betapa tersiksanya aku merindukan kamu, bahkan saat di buang ke pulau, seminggu pertama, aku kayak Tarzan tau nggak, makan daun-daunan sama ikan yang aku tangkap di laut, hanya karena dia cemburu istrinya lebih nurut sama aku,"


Fernando mengangkat bahunya, "entahlah, mungkin karena dia nyaman kalau aku ajak ngobrol, dulu sewaktu Ayu baru kerja di cafe, aku yang pertama deketin dia, niatnya sih cuman iseng, abis Ayu manis banget, ada lesung pipinya, terus nyambung juga kalau diajak ngobrol, tapi gara-gara dia suka banget cokelat aku jadi mundur, males juga, debat gara-gara makanan, terus aku juga jarang di Jakarta,"


"Untung Dia nggak baper sama kamu,"


"Kamu tau nggak sih, sebenarnya Ayu nggak mau menjalin hubungan sama lelaki, tapi karena Ben aja yang maksa, mau nggak mau, Ayu nggak bisa nolak, Ben itu lebih agresif dari aku,"


"aku juga nggak nyangka Dia malah nikah sama orang lain bukan sama Dikta, tapi asal kamu tau, dulu aku pernah berandai-andai sama Dia waktu SMA, kita pengen punya gebetan bule, biar bisa memperbaiki keturunan, tau kan hidung kita berdua biasa aja, ya walaupun misalnya nggak bisa nikah sama bule setidaknya ada Dikta yang tampan, karena sesuai perjanjian, misal Dia nggak bisa nikah sama Dikta, aku yang akan menikah sama Dikta,"ujar Rara polos.


"Jadi kamu berniat nikah sama Dikta? Memangnya kamu cinta sama Dikta?"tanya Fernando kesal.


"Cinta sih belum, cuman nyaman aja terus Dikta juga belum pernah pacaran sama sekali tau, dia itu anti cewek selain Tante Arini, Dia sama aku,"


"Oh ya aku lupa, tadi pagi kan kita ngebahas hal ini, bahkan kami berencana akan menikah kalau aku belum ketemu jodoh, dan kamu tau, dia mau terima keadaan aku loh,"


Fernando mendadak mengerem mobilnya, untung saja kepala Rara tidak sampai terantuk dasboard.


"Kamu apa-apaan si? Aku kaget tau,"protes Rara kesal.


"Amara Cahyani, jadi kamu berniat akan menikah dengan pradikta begitu? Itu nggak akan terjadi sampai kapanpun, kamu hanya akan menikah sama aku,"ungkap lelaki itu marah.


Fernando kembali melajukan mobilnya, setelahnya tak ada pembicaraan apapun diantara keduanya, hingga mobil memasuki carport rumah Umi Fatimah.


Fernando mengambil alih tas ransel milik Rara, "tas aku mau dikemanakan?"tanyanya.

__ADS_1


Tak menjawab, Fernando memilih memasuki kamar uminya, ia mengambil beberapa berkas, lalu keluar rumah meninggalkan Rara sendirian.


Setelah magrib, Fernando baru kembali, ia membawa beberapa kantong plastik berisi makanan.


Saat memasuki rumah, ia tidak mendapati wanita itu di ruang tamu ataupun ruang tengah, namun begitu membuka pintu kamarnya, ia mendapatinya sedang tertidur di atas ranjangnya.


Fernando sengaja tak membangunkannya, lelaki itu memilih untuk melepaskan pakaiannya menyisakan bokser nya, Lalu bergabung dengan wanita yang tengah tertidur pulas itu.


Fernando memeluk Rara dari belakang, wanita itu masih mengenakan pasmina juga gamisnya, dengan pelan-pelan, lelaki itu melepaskan kain yang menutup kepalanya, juga kain yang menempel ditubuh Rara.


Ia tersenyum, membayangkan wajah kesal wanita itu saat terbangun dengan kondisi berbeda.


Tak lama kemudian Rara membuka mata, melihat sekelilingnya gelap, hanya ada cahaya masuk dari penerangan lampu taman melalui celah gorden.


Ia teringat tadi ia beristirahat di kamar milik Fernando, kamar yang tiga tahun lalu ia tempati, seperti sudah biasa tanpa meminta ijin si empunya kamar, ia malah tertidur di sana.


Sepertinya hari sudah malam, saat hendak bangun, ada sesuatu yang melilit di perutnya, ia melihat kebawah, dibalik selimut tebal itu, tangan yang sangat dikenalnya, berada di atas pinggang yang tak tertutupi apapun, tunggu tak tertutupi apapun, seingatnya tadi ia tidur masih mengenakan gamis juga pasmina, ia meraba kepalanya, benar kepalanya tak tertutup apapun, kapan ia membuka semua ini?


"Sudah bangun sayang?"suara serak khas bangun tidur yang biasa Rara dengar tiga tahun lalu.


Wanita itu menoleh mendapati dada kekar milik Fernando, Rara membulatkan matanya, "apa yang kamu lakukan? Kenapa nggak pakai baju? Terus gamis sama pasmina aku kemana?"tanyanya seraya bangkit dan duduk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan bh dan celana legging.


Fernando ikut duduk bersandar di head board ranjangnya, "kamu  sepertinya tidak nyaman tidur dengan pakaian tertutup, jadi aku bantu membukanya,"jawabnya santai sambil menutupi mulutnya yang menguap lebar.


"Kamu kok lancang sih, kita nggak boleh kayak gini, dosa,"ucap Rara kesal.


"Iya aku tau, bahkan tadi siang kita melakukan lebih dari..."


Rara menutup mulut lelaki itu, "nggak usah dilanjutkan,"


Fernando sengaja menjilat telapak tangan yang menutupi mulutnya, membuat Rara terkejut, dan hampir terjengkang jika lelaki itu tidak sigap menangkap pinggangnya.


"Kamu apa-apaan sih?"protes wanita itu kesal.


Fernando tersenyum lalu menarik pinggang wanita itu agar duduk di pangkuannya, "Rara sayang, kenapa mesti terkejut, kita biasa melakukannya bukan,"


"Itu dulu, sekarang aku nggak mau, minggir aku mau bangun,"


Ucapnya sambil bangkit, namun ditahan oleh lelaki itu.


"Rara sayang, aku menginginkan kamu sekarang, bisakah kita melakukannya sekali saja, please," mohonnya berbisik.


"Aku nggak mau, kita nggak boleh melakukan itu mas, dosa, kita belum menikah,"


"Tapi aku menginginkannya sekarang,"


"Aku nggak mau,"tolak Rara tegas.


Fernando menghela nafas, kepalang tanggung, hasratnya sudah bangkit, apalagi posisi mereka yang membuat gairahnya semakin meningkat, ia butuh melampiaskan hasratnya.


Tak peduli protes dari wanitanya, Fernando mulai melancarkan aksinya, seolah tak peduli dimana ia melakukannya.


Suasana semakin panas, Fernando yang memang sudah pro membuat Rara tak berkutik dan hanya pasrah menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh lelaki itu.

__ADS_1


Seolah tengah melepaskan rindu yang keduanya tahan selama tiga tahun ini, bukan hanya sekali, seolah tak lelah, mereka melakukannya lagi setelah beristirahat sejenak.


Kegiatan itu terhenti setelah terdengar bunyi perut dari wanita itu.


__ADS_2