Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus delapan


__ADS_3

Urusan di villa beres Benedict dan Rama kembali ke ibu kota terlebih dahulu, rencananya Fernando akan menetap di Lembang hingga hari pembukaan villa.


Benedict yang tau jika Fernando berencana menetap di satu tempat, menawarkan rumahnya untuk ditinggali, katanya supaya rumah miliknya lebih ramai.


Fernando menolak dengan halus tawaran itu, ia mengatakan akan tinggal sementara di rumah milik umi Fatimah yang ada di ibukota.


Hanya untuk sementara, karena rencananya tahun depan saat Nicholas memasuki bangku sekolah menengah akhir, ia akan mengajak putranya untuk tinggal bersamanya, jadi mau tak mau, Fernando harus mencari rumah yang lebih besar.


Hal itu sudah ia bicarakan pada uminya, awalnya perempuan paruh baya itu keberatan, namun karena Fernando lebih berhak atas Nicholas, akhirnya umi Fatimah menyetujuinya.


Kehamilan yang semakin membesar membuat gerakan Rara jadi terbatas, kakinya sedikit bengkak, wanita hamil itu berkonsultasi kepada Natasha melalui panggilan video.


Dokter kandungan itu menyarankan Rara untuk segera memeriksakan diri.


Karena masalah itulah, Fernando membawa istrinya kembali ke ibukota terlebih dahulu.


Dan disinilah mereka sekarang, di ruang praktek milik Natasha, sedang dilakukan pemeriksaan terhadap wanita hamil itu.


Posisi bayi yang sudah pada tempatnya, tinggal menunggu mulas saja.


Rara menginginkan melahirkan secara normal,


"Kalau mau tetep normal, seenggaknya rajin-rajin berhubungan badan untuk memicu kontraksi, denger nggak sih do? Waktu Ayu periksa hamil, kan Lo udah tau, harusnya Lo udah pinter Dodo,"ujar Natasha, begitu mereka menyelesaikan pemeriksaan USG, mode sahabat kembali.


"Nggak tega gue sha, Rara kayak engap gitu, gue juga takut punya gue nyenggol kepala itu bayi, entar kalau kenapa-kenapa gimana?"ungkap Fernando khawatir.


"Ya nggak lah do, kan ada lapisan yang melindungi bayi Lo, pokoknya rajin-rajin berhubungan badan sama Amara, itu kalau Lo pengen istri Lo lahiran normal,"


Rara yang mendengar perdebatan dua sahabat itu hanya bisa menahan malu.


"Lo sha, kasih ceramah orang-orang bisa, kan Lo belum pernah ngerasain, main sana sama tuh dedek gemes, biar bisa Tek dung,"ejek lelaki blasteran itu.


"Diem Lo Dodo, pulang sana, ajakin Rara main, biar cepat lahiran, jangan lupa pesanan gue kalau Rara udah lahiran,"


Fernando tertawa dan mengajak istrinya keluar dari ruangan praktek sahabatnya,


Baru saja menutup pintu lelaki blasteran itu membukanya lagi, "sha, dedek gemes Lo gue kerjain dikit ya!"ucapnya sambil tertawa.

__ADS_1


"Awas aja Lo macem-macem, jangan rese Lo bule potan,"maki Natasha.


Fernando tertawa senang berhasil membuat sahabatnya kesal.


Rara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.


Keduanya berjalan menuju ruangan dimana Ayudia di rawat.


Tetapi saat hendak keluar dari lift, mereka bertemu dengan Oscar.


Dokter bedah itu mengajak Fernando untuk berbicara di ruangannya, sementara Rara berjalan sendiri menuju ruang rawat Ayudia.


Setelah menggunakan baju khusus Rara menemui sahabatnya yang masih betah memejamkan mata, wanita hamil itu menyentuh tangan ibu dua anak itu.


"Di, bentar lagi, gue lahiran, doain ya, biar gue bisa lahiran normal, Lo tau nggak di, gue agak takut, kalau pas gue lahiran gue nggak selamat, kata orang taruhannya nyawa, jujur gue takut banget, kalau gue lewat gimana?"ceritanya dengan mata berkaca-kaca.


"Kaki gue bengkak, tekanan darah gue agak tinggi, gue jadi khawatir Di, coba kalau Lo bangun, Lo kan bisa sharing pengalaman waktu ngelahirin si kembar,"


Gerakan tangan Ayudia membuat Rara tersenyum, karena sudah tau reaksi dari sahabatnya, jika ia bercerita tentang kehidupannya, ia tak perlu memberitahukan kepada perawat yang berjaga.


Rara melihat ke sekelilingnya, memastikan jika tidak ada suami dan sahabat lelaki itu.


Mendengar ada suara pintu dibuka Rara menghentikan bisikannya.


Entah kebetulan atau bagaimana, baru saja selesai ia membicarakan Pradikta, lelaki itu datang bersama Benedict dan Rama.


Seperti sudah kebiasaan, begitu Rara dan Pradikta bertemu keduanya berpelukan tak lupa mencium kening dari sahabatnya lembut.


"Kamu apa kabar Ra?"tanyanya usai melepaskan pelukannya.


"Seperti yang kamu lihat, aku lagi nunggu waktu buat lahiran, doain ya Ta, biar bisa lahiran normal kayak Dia,"pinta wanita hamil itu.


Pradikta mengelus perut buncit itu, lalu membisikan sesuatu,


"Udah aku bilangin ke anak kamu, bentar lagi juga keluar dia, kan dia sayang sama omnya,"canda Pradikta.


Rara tersenyum, "oh ya Ta, coba bangunin Dia, dari tadi aku bangunin nggak bangun-bangun," ujarnya sambil beralih kesamping sahabatnya.

__ADS_1


Pradikta melihat bagaimana Ayudia terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, ada beberapa selang yang menempel di tubuhnya,


Mata lelaki itu berkaca-kaca, hal itu disadari oleh Rara ia menepuk lengan Pradikta.


"Jangan nangis Ta, semoga saat dengar suara kamu, Dia membuka matanya, sekarang ayo sapa Dia,"saran Rara.


Pradikta mengangguk lalu mendekat kepada Ayudia, sementara Rara memilih berlalu dari sana, setelah memberitahukan pada Pradikta jika ia menunggunya di luar.


Semua hal yang dilakukan oleh Rara dan Pradikta disaksikan oleh Benedict juga Rama, keduanya tak percaya dengan yang dilihatnya.


"Itu kalau Dodo tau, kira-kira Dikta diapain ya Ben?"bisik Rama ketika Rara baru saja keluar dari ruangan itu.


"Minimal masuk ruangan dibawah ram,"jawab Benedict.


"Gue rasa bakal nemenin Ayu di ruangan sebelah, Dodo nggak jauh beda sama Lo, kalau udah ngamuk kayak apaan, gue kalau ingat kejadian yang lalu, rasa pukulannya kek masih berasa,"


Benedict menahan tawanya, "tadi kenapa nggak kita rekam aja ya ram, biar Dodo kebakaran jenggot,"


"Iya yah, gue lupa, kan seru,"


Pembicaraan keduanya terhenti ketika Pradikta memanggil dokter, dan memberitahukan jika Ayudia membuka matanya.


Di luar ruangan, Rara tersenyum  mengetahui sahabatnya telah membuka matanya.


Dalam hati Rara bersyukur sahabatnya menuruti perkataannya.


Wanita hamil itu menuju ruangan sebelah untuk memberitahukan jika Ayudia telah membuka mata kepada Anna dan si kembar yang tengah bermain.


Anna menitipkan si kembar padanya, sementara wanita paruh baya itu menuju ruangan sebelah.


Rara menemani kedua balita itu bermain,


Tak lama pintu terbuka, Fernando masuk dan Aileen langsung berdiri serta memeluk lelaki blasteran itu.


Balita perempuan itu begitu manja pada Fernando, seolah lelaki itu seperti ayah kandungnya.


Padahal menurut pengakuan Ainsley, saudara kembarnya tak seperti itu pada ayahnya sendiri.

__ADS_1


Hanya sekedar berbicara tanpa bersikap manja seperti pada Fernando.


Bahkan terkadang, Aileen memanggil lelaki itu dengan sebutan papa.


__ADS_2