
Pengantin baru itu terlambat sarapan bersama keluarga dikarenakan kegiatan olahraga pagi yang dilakukannya setelah shalat subuh tadi.
Salah satu keponakan Rara menanyakan kenapa dirinya datang terlambat,
"Tante Rara lagi buat sepupu untuk kamu,"Fernando menjawab frontal.
Hal itu membuat Rara mencubit perut suaminya, dan fernando hanya bisa mengaduh.
Rencananya keluarga Rara akan berwisata di private beach yang ada di resort, anak-anak antusias menyambutnya, mereka bisa berenang di pantai dengan pasir putih bersih itu.
"Mbak nggak nyangka, suami kamu sampai punya resort kayak gini dek,"ujar Laras yang duduk di kursi putih panjang.
"Mas Nando hanya mengelola saja mbak, ini punya sahabatnya yang orang Amerika,"Rara menjelaskan.
"Pantesan ngasih maharnya gede banget dek, memangnya kamu mintanya segitu?"kali ini Anisa yang angkat bicara.
Rara menggeleng, "aku nggak minta segitu mbak, mas Nando nggak nanya ke aku,"
"Ya nggak mungkin nanya ke kamu dek, palingan kamu minta seratus ribu doang kan?"ujar Laras.
"Kok tau mbak, kan yang penting sah,"
"Dek, emang kamu udah hamil ya?," Anisa bertanya.
"Gimana mau hamil sih mbak, ketemu aja belum sampai seminggu yang lalu, itu juga gara-gara ternyata mas Nando itu sahabat suaminya teman aku,"jawab Rara.
"Sia-sia tiga tahun kamu ngumpet dek,"ujar istri dari Andi.
"Gimana ya mbak, aku juga nggak nyangka, kalau ternyata dunia sempit sekali,"
"Terus dek, apa rencana kamu soal usaha jualan sama Fitri?"tanya Laras.
"Rencananya, sepulang dari sini, aku mau ke tempat Mbah Sarmi,"
Jawab Rara yang mengenakan jilbab berwarna pastel.
"Emang boleh sama suami kamu dek, kayaknya suami kamu posesif banget deh, kata mas Dika, kemarin pas jemput kamu di stasiun, dia ngotot minta bareng kamu kan?"
"Mudah-mudahan boleh mbak,"
"Kok bisa ya dek, umi Fatimah yang pensiunan guru agama punya anak yang kayak gitu, mbak kayak nggak percaya, waktu Laras cerita tiga tahun lalu, Sampai mendiang bapak meragukan apakah benar suami kamu itu anak kandung Umi Fatimah, dari fisik aja lain banget,"
"Dulu waktu aku dikenalkan sama Umi Fatimah pertama kali juga kayak mbak Anisa, tapi memang mas Nando itu dominan ikut ke vater nya yang orang Jerman,"
"Apa bapaknya udah meninggal?"tanya Laras.
"Kalau kata Umi, Vater nya meninggal saat mas Nando umur dua belas tahun kalau nggak salah, cuman meninggalnya di negara asalnya, kalau mas Nando nggak pernah cerita masalah vater nya ke aku,"
Obrolan mereka terhenti karena kedatangan orang yang dibicarakan.
"Sayang aku mau ke Ubud, mau ikut nggak? Ada kerjaan mendesak di sana?"tanya Fernando yang duduk di samping istrinya sambil merangkulnya.
__ADS_1
"Apa memang aku harus ikut?"tanya Rara.
"Aku kayaknya pulangnya bakal malam, jadi kalau kamu ikut aku seneng malah, kita bisa menginap di sana semalam, paginya kita ketemu di monkey forest sama kakak-kakak kamu, nanti supir resort yang akan mengantar mereka,"
Rara melihat kedua kakak iparnya, "ikut aja dek,"ucap Laras, yang disetujui oleh Anisa.
"Oke, kalau gitu aku siap-siap dulu ya mbak, tolong bilangin mas ya!" pamit Rara sambil berlalu.
Rara hanya mengambil tas ranselnya yang terisi beberapa potong bajunya, setelah siap dengan digandeng suaminya, ia menuju parkiran.
"Mobil kamu ganti?"tanya Rara saat keduanya berada didalam mobil SUV mewah milik Fernando.
"Baru sekitar setahun kayaknya,"jawab lelaki itu mulai melajukan mobilnya.
"Terus yang lama?"
"Ada, kadang dipakai juga, kenapa emang?"
"Nggak dijual?"
"Buat apaan?"
"Ya biar dapat uang lah,"
"Kan terkadang aku pakai Ra,"
"Gitu ya! Boleh aku tanya mas?"
"Setelah ini, aku tinggal dimana? Kamu kan kerjanya pindah-pindah," pertanyaan yang sedari tadi pagi mengganggunya.
"Kamu ikut aku kemana aku pergi Ra,"jawabnya.
"Memangnya aku nggak bisa menetap tinggal dimana gitu, mungkin di rumah aku di Jakarta,"
"Kan kamu istri aku, bukannya kewajiban istri mengikuti kemanapun suaminya pergi?"
"Ya iya sih, aku kan hanya tanya aja mas,"
Setelahnya hanya obrolan ringan soal pekerjaan yang akan diurus atau sekedar tempat yang mereka lewati.
Sesampainya di tempat tujuan, Fernando langsung rapat dengan manajemen resort, ada beberapa hal yang dibahas, Rara hanya diam duduk disebelah suaminya.
Rapat memakan waktu hingga satu jam lamanya, setelahnya sebagian orang-orang keluar hanya tersisa dua orang yang merupakan manager dan asistennya.
Rara memohon ijin untuk menuju restoran yang masih ada dalam area resort, perutnya lapar.
Namun sebelum menuju restoran, ia pergi ke toilet terlebih dahulu, sepertinya ia butuh mengosongkan kandung kemihnya.
Saat sedang berada dibalik bilik toilet, terdengar pembicaraan dari beberapa orang wanita.
"Yang tadi Dateng sama bos itu siapa?"
__ADS_1
"Mungkin asistennya kali,"
"Kayaknya nggak mungkin deh, kalau asisten harusnya pegang laptop atau tab atau catatan kan, kok dia cuman diam disebelah bos,"
"Kalau adiknya nggak mungkin, secara bos kan anak tunggal,"
"Apa pacarnya?"
"Nggak mungkin banget kalau pacarnya, tau kan selera bos kita kayak apa?"
"Iya juga ya, bos kita kan sukanya cewek seksi, bahenol beberapa kali kan si bos pernah bawa ceweknya kesini,"
"Kali aja selera bos berubah,"
"Nggak mungkin banget, orang berubah dalam sekejap, kalian nggak tau ya, bulan kemarin aja bos masih sempat bawa cewek seksi Kemari? Mana diem di kamar sehari semalam nggak keluar-keluar, makanan aja diantar,"
"Masa sih?"
"Bener, aku yang antar makanannya kok, itu perempuan masih tidur, terus bos abis mandi, ya ampun badannya bos bagus banget ya!"
"Coba bos melirik kita ya!"
"Jangan halu ah, udah yuk kerja lagi,"
Mendengar itu, luruh sudah air mata di pipi perempuan berjilbab yang masih berada didalam bilik toilet, ia tidak menyangka, suaminya belum berubah.
Rasanya sakit sekali, Rara memutuskan diam di toilet untuk menangis sepuasnya, melampiaskan kesedihannya.
Ada tanya dalam dirinya, apa yang harus dilakukannya sekarang? Kenapa hidupnya seperti ini? Baru beberapa hari menikah ia sudah mendengar hal seperti ini, apa ia akan sanggup menjalani kehidupan bersama lelaki itu kedepannya?
Hampir tiga puluh menit, Rara habiskan waktu untuk menangis, ponselnya bergetar, ada panggilan masuk dari lelaki itu, rasa kecewa yang melingkupinya membuatnya mengurungkan untuk mengangkat panggilan itu.
Berkali-kali ia mencoba mengatur nafasnya, ia juga berbicara kepada dirinya sendiri, agar berhenti menangis, jangan bersedih lagi, akhirnya setelah lima belas menit kemudian pintu bilik di ketuk,
"Rara sayang, kamu sedang apa didalam? Apa kamu baik-baik saja? Tolong buka pintunya,"ucap Fernando mengetuk bilik pintu toilet itu.
Rara mendongak, agar air matanya berhenti mengalir, namun tetap tidak mau berhenti, rasanya sesak sekali.
"Ra, kamu kenapa sih? Kamu baik-baik aja kan?"tanya Fernando khawatir.
Setelah beberapa kali menarik nafas dan menghembuskan perlahan juga menghapus air matanya, Rara memutuskan untuk keluar dari bilik toilet,
Tanpa menatap dan berbicara dengan suaminya, Rara berlalu pergi dari sana.
Perempuan itu berjalan menuju lobby resort, sepertinya ia harus meninggalkan tempat ini.
"Kamu mau kemana Ra? Katanya kamu lapar, kita ke resto yuk,"ucap Fernando mengikuti istrinya.
Tak ada jawaban dari wanita itu, Fernando yang tak sabar, menahan tangan istrinya, ia menggandeng tangan wanita itu agar mengikutinya.
Rara hanya pasrah ketika lelaki itu membawanya menuju restoran.
__ADS_1