
Fernando dibantu Alex masih mencari keberadaan Rara, waktu berlalu, keduanya masih belum bisa menemukan keberadaan wanita itu.
Walau terlihat baik-baik saja, Fernando sebenarnya sangat terpuruk dengan kepergian istrinya,
setiap akhir pekan, Fernando akan kembali ke ibu kota, masih dengan usahanya mencari keberadaan istrinya.
Villa di Lembang hampir rampung, kalau tidak ada halangan, bulan depan villa itu sudah mulai beroperasi.
Sesuai permintaan Benedict, sebelum lelaki itu kembali renovasi villa itu harus sudah selesai,
Fernando yang tengah galau ditinggal istri tetap berusaha profesional dalam bekerja,
Termasuk soal komunikasinya dengan Rama, hanya sebatas pekerjaan yang keduanya bicarakan.
Fernando masih marah dengan salah satu sahabatnya itu.
Rama menyadari kesalahannya, tapi tak bisa berbuat banyak, istrinya meninggalkannya, mantan yang sudah mentah-mentah menipunya, hanya penyesalan yang menggerogoti hati dan pikirannya.
Alex juga hanya berkomunikasi soal pekerjaan saja, tentu pengacara itu lebih memihak Fernando, sedari dulu ia paling dekat dengan lelaki blasteran itu, dibandingkan yang lain.
Sementara Oscar tak punya banyak waktu untuk menemani kegalauan Rama,
Sedangkan Natasha yang tau kebodohan Rama, hanya bisa mencaci maki lelaki itu, bahkan dokter kandungan itu memblokir nomor Rama.
Hari itu, Jum'at malam usai pulang dari cafe, Rama mendatangi kantor Alex, pikiran lelaki itu buntu setelah siang tadi mendapatkan undangan dari pengadilan agama,
Alex yang sedang bersama Fernando di ruangan pengacara itu, terkejut dengan kedatangan Rama dengan penampilan mengenaskan.
Rama yang biasa rapih dalam setiap keadaan sekarang terlihat dengan penampilan yang bertolak belakang dari biasanya, kemeja lusuh, wajah pucat, kantong mata menghitam, dan rambut acak-acakan.
Tak banyak bicara, tanpa ijin, Rama mengambil beberapa botol bir yang ada di kulkas ruangan milik Alex,
Lelaki itu duduk berseberangan dengan kedua sahabatnya, tak banyak bicara, ia menenggak satu botol bir yang mengandung alcohol hingga menyisakan seperempat botol.
"Lex, Sinta udah masukin gugatan ke pengadilan, tadi siang gue baru dapet suratnya, gue harus gimana lex? Dia benar-benar serius mau pisah sama gue,"ungkapnya,
Alex dan Fernando saling pandang, keduanya terkejut mendengar ucapan Rama, tapi tak berkomentar.
"Sinta mau ninggalin gue lex, gue bodoh banget, gue nyesel, apa yang harus gue lakuin?"
Rama meminum kembali sisa bir yang ada di botol hingga tandas, "bahkan gue belum bisa lihat bayinya, gue tau dia udah lahiran, tolong bantuin gue lex, apapun akan gue lakuin, agar Sinta batalin niatnya, gue janji nggak akan ngelakuin hal itu lagi, gue kapok,"
"Do, tolong bantu gue, bini Lo pasti masih sama Sinta, Lo mau hajar gue lagi, silahkan Lo bikin gue babak belur juga boleh, tapi tolong bantuin gue,"pinta Rama sambil menundukkan kepalanya, punggungnya bergetar dan terdengar isakan keluar dari mulutnya.
Alex melirik Fernando seolah meminta persetujuan, dan dijawab anggukan oleh lelaki blasteran itu.
__ADS_1
"Oke gue bantu, tapi hanya sebatas ketemu Sinta, untuk masalah niat Sinta mau ninggalin elo, gue rasa itu pantas dia lakuin setelah apa yang lo perbuat,"ucap pengacara itu.
Tak ada pilihan lain, Rama menyetujuinya.
Entah bagaimana cara kerja anak buah Alex dalam melacak keberadaan Sinta, yang jelas keesokan siangnya, ketiga sahabat itu berada di depan sebuah rumah dengan model minimalis disalah satu komplek perumahan di selatan Ibu kota.
Alex memencet bel yang tersedia di sudut pintu gerbang berwarna hitam itu, hingga tak lama seorang lelaki paruh baya keluar membukakan pintu gerbang.
Irwan masih dengan celana training dan kaos oblong, bertanya tentang maksud kedatangan ketiga laki-laki itu.
"Maaf pak, apa benar ini rumah bapak Irwan?"tanya Alex,
"Iya betul, bisa saya bantu?"tanya balik Irwan.
"Boleh saya bertemu dengan Sinta, saya adalah pengacara dari suaminya, ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan beliau,"jawab Alex sambil menyodorkan kartu namanya.
Irwan menerima kartu nama itu lalu membacanya, lelaki paruh baya itu menganggukkan kepalanya, seraya mempersilahkan masuk ketiga tamunya dan menyuruhnya duduk di kursi yang tersedia di teras rumahnya.
Irwan masuk ke dalam rumah untuk memanggil Sinta,
Tak lama kemudian seorang perempuan paruh baya keluar dengan membawa nampan berisi minuman juga kudapan untuk ketiga lelaki itu.
Arini masih berbasa-basi berbicara dengan mereka saat Sinta datang, wanita itu mengenakan daster batik dengan jilbab instan berwarna kuning kunyit.
Rama yang melihat kedatangan istrinya langsung bangkit dan menghampiri Sinta lalu memeluk wanita itu seraya meminta maaf atas perbuatannya, namun dengan tegas Sinta menolak bahkan memberontak dan mendorong lelaki itu.
Sempat terjadi keributan diantara kedua suami istri itu, Rama bahkan berlutut meminta pengampunan istrinya.
"Aku maafin kamu tapi kita akan tetap berpisah, aku nggak bisa lagi hidup Sama kamu,"ucap Sinta menegaskan.
"Sayang maafkan aku, apa yang harus aku lakukan supaya kamu membatalkan niat kamu untuk berpisah dari aku,"
"Kamu hanya perlu setuju untuk berpisah dari aku, dan silahkan kembali ke wanita yang kamu cintai itu, aku tidak Sudi kembali sama penghianat macam kamu,"
"Sayang tolong pikirkan anak kita, dia butuh aku ayahnya, please batalkan niat kamu untuk berpisah dari aku,"
Sinta melirik Arini yang sedari tadi berdiri memegang nampan melihat perdebatan dirinya dengan suaminya, sebenarnya Sinta tak enak dengan ibu dari Pradikta itu.
"Mending kamu pulang, jangan buat aku malu,"usirnya.
Rama yang masih berlutut, memeluk kedua kaki istrinya, ia menggeleng tanda menolak, "kamu pulang sama aku sayang, bagaimanapun aku suami kamu, kemanapun aku pergi kamu harus ikut sama aku,"
"Tapi aku nggak mau, apalagi ke rumah yang pernah jadi tepat mesum kamu sama perempuan gila itu, aku disini aja, aku udah ajukan gugatan cerai, kamu cukup menyetujuinya,"
Rama bangkit ia memegang kedua bahu istrinya, "aku masih suami kamu, aku berhak atas kamu dan bayi kita, sekarang aku minta kamu pulang sama aku,"ucapnya mulai tak sabar, Rama yang biasa sabar, mulai gusar karena penolakan berkali-kali dari istrinya.
__ADS_1
Melihat hal yang mulai panas Alex mencoba menasehati Rama dan Sinta untuk duduk.
Sinta meminta maaf kepada Arini karena telah membuat keributan di rumahnya, tapi wanita paruh baya itu mengatakan tak masalah.
Irwan yang sudah berganti baju, menggendong bayi diikuti Rara dibelakangnya,
Fernando yang melihat kedatangan istrinya langsung bangkit dan menghampiri wanita berhijab maroon itu, ia memeluknya erat,
"Aku kangen kamu Ra,"
Rara terkejut dengan perbuatan suaminya dan hanya bisa pasrah dan melirik kepada Irwan dan Arini.
"Lepas, malu diliatin orang,"tolak Rara.
Fernando menuruti istrinya,
Irwan mempersilahkan tamunya untuk duduk di ruang tamu, agar lebih nyaman.
Untuk pertama kalinya Rama menggendong putranya, mata ayah baru itu berkaca-kaca melihat bayi itu,
Alex dan Fernando juga mendekati Rama untuk melihat bagaimana menggemaskannya bayi laki-laki itu.
Fernando yang selama beberapa waktu mendiamkan Rama akhirnya mulai melemparkan candaan begitu juga dengan Alex.
Sinta dan Rara hanya diam melihat tingkah ketiga laki-laki itu, sementara Irwan juga Arini ikut bahagia melihat tawa yang menghiasi para lelaki itu.
Karena diusik oleh ketiga pria dewasa itu, baby R menangis, wajahnya memerah, tangisannya keras sekali,
Sinta mengambil alih bayinya dan membawanya masuk ke dalam kamar untuk disusui.
Awalnya Rama akan mengikuti istrinya, tapi dengan tegas Sinta menolak.
Melihat hal itu Irwan angkat bicara, "nak Rama, lebih baik untuk sementara Sinta disini dulu, setidaknya supaya pikirannya lebih tenang, ada istri saya yang membantu merawat bayi kalian,"
Alex membisikan sesuatu ke telinga Rama, sehingga ayah baru itu menyetujui usul dari Irwan.
"Saya akan mengganti semua biaya hidup selama istri dan anak saya menumpang disini om,"ungkap Rama.
"Tidak perlu nak Rama, kami ikhlas menolong Sinta, kami sudah menganggap Sinta sebagai putri kami sendiri sama seperti Amara,"giliran Arini yang berbicara.
"Saya meminta tolong pada Tante dan om, agar membujuk istri saya untuk membatalkan gugatan cerai itu, saya akui saya salah, saya khilaf, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi, nanti kalau Sinta sudah tenang, saya akan menjemputnya disini, maaf merepotkan,"ujar Rama.
Pembicaraan tentang permasalahan Sinta dan Rama usai, giliran Fernando yang meminta Rara untuk pulang bersamanya, awalnya wanita hamil itu menolak, dengan alasan ingin menemani Sinta, namun sebuah bisikan dari Fernando membuat Rara menegang,
Tak mau mengambil resiko dengan perbuatan nekad suaminya, Rara lebih memilih pulang bersama lelaki itu.
__ADS_1