Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
empat puluh lima


__ADS_3

Sambil menunggu gamis pesanan mereka datang, Rara lebih banyak menghabiskan waktu dengan membantu Mbah Sarmi di rumah atau di ladang.


Setiap hari antara magrib dan isya, ia akan belajar ngaji dibawah bimbingan Fitri, pernah beberapa kali Fitri mengajaknya untuk mendengar kajian ustadz yang biasa menyampaikan ceramahnya.


Baru kemarin ia mendengarkan tentang hukum zina, sesampainya dikamar yang ditempatinya, Rara terisak-isak, ia merasa ada beban m berat yang ada di kepalanya.


Merasa tidak bisa menahannya, malam harinya, Rara menggelar sajadahnya, ia meminta Ampunan kepada yang Maha Kuasa, dengan berlinangan air mata ia bertaubat juga berjanji tak akan mengulangi perbuatan keji itu,


Ia juga menghubungi mbak Anisa esok harinya setelah memastikan Mas Andi berangkat bekerja, selain ipar, Anisa juga teman curhat yang baik,


Kepada Anisa ia menceritakan semua yang ia lakukan juga alami, tak satupun terlewat, beberapa kali ceritanya terhenti karena isak nya.


Anisa lebih banyak diam, terkadang terdengar wanita itu beristigfar atau bertasbih.


Hingga Rara menyelesaikan ceritanya, baru Anisa menghela nafas, dari seberang sana ia berbicara, "Ra, mbak paham kenapa kamu bisa sampai nekad seperti itu, tapi itu semua sudah berlalu, benar kata mas Andi, kamu mulai semua dari awal, buka lembaran hidup kamu yang baru, yang sudah berlalu biarlah berlalu, tutup catatan hitam itu, walau tidak bisa mengembalikannya seperti semula, setidaknya kamu sudah berhenti, usahakan tutup semua komunikasi dengan lelaki itu, kami tau lelaki itu cukup berkuasa,"


Ucapan Anisa terhenti, terdengar helaan nafas dari seberang sana, seperti ada beban berat di sana,


"Jujur aja Ra, seminggu yang lalu lelaki itu mencari kamu hingga ke sini,"


Mendengar hal itu, Rara terkejut, ia menutup mulutnya sendiri, ia tak menyangka, lelaki itu Sampai seperti itu,


Anisa kembali menghela nafas, "bahkan mas Andi sempat memukuli lelaki itu hingga babak belur, dan aneh lelaki itu tak membalasnya, dia pasrah diperlakukan seperti itu, bahkan disela-sela itu, dia berterima kasih sama mas Andi, namun setelahnya,..."ada jeda beberapa detik.


Merasa tak sabar Rara bertanya, "setelahnya apa mbak?"


"Dia mengancam kami, jika kami  tidak memberitahukan keberadaan kamu, dia akan melaporkan mas Andi atas tuduhan penganiyaan, didepan kami dia bahkan menelpon pengacaranya,"


Lagi-lagi Terdengar helaan nafas di seberang sana, "bukan hanya kepada kami, bapak  dan Dika juga mendapatkan masalah yang sama,"


"Jadi bapak sudah tau masalah Rara?"

__ADS_1


Anisa berdehem, "ibu sempat sakit Ra, beliau tak menyangka kamu seperti itu, kata ibu, meskipun bapak diam, sebenarnya bapak menangis diam-diam memikirkan kamu, karena lelaki itu membongkar sendiri bagaimana hubungan kamu dengannya, bahkan lelaki itu membawa ibunya,"


Anisa menarik nafas, "ibunya bahkan mengiyakan jika kamu telah hamil anak lelaki itu, beliau menunjukan hasil USG punya kamu,"


"Jadi aku harus bagaimana mbak? Keluarga aku bahkan diancam,"tanya Rara bingung.


"Mas Andi sempat mengobrol sama bapak juga ibu, walau mereka tidak tau keberadaan kamu, mereka berharap kamu jangan sampai menikah dengan lelaki itu, mereka takut kamu tersakiti oleh sikap arogan lelaki itu, meskipun kata ibu, calon mertua kamu baik juga ramah,"


"Pokoknya Ra, saran mbak, mending kamu diam rumah ibu dulu, jangan sampai lelaki itu tau keberadaan kamu,"


"Iya mbak, Rara juga lebih tenang disini, Rara mulai belajar ngaji sama Fitri,"


"Masalah modal, mbak belum bisa transfer ke kamu, kata mas Andi, nanti akan meminta tolong kepada rekan kerjanya, untuk transfer ke kamu, kami tidak bisa menggunakan rekening kami, karena kami tau kami diawasi oleh lelaki itu, ini juga pakai nomor punya ART mbak,"


"Kok sampai segitunya ya mbak,"


"Ra, sepertinya lelaki itu benar-benar mencintai kamu,"


Obrolan mereka terus berlanjut hingga beberapa menit.


Sejak pembicaraan terakhirnya dengan Anisa, Rara semakin mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, bukan hanya mendengarkan ceramah ustadz bersama Fitri, ia juga mendengarkan ceramah ustadz melalui online.


Setelah sering mendengarkan Tausiyah, Rara memutuskan untuk berhijab secara permanen, tidak seperti kemarin-kemarin kalau pergi jauh saja,


Hatinya lebih tenang, ia juga sudah bisa menerima kenyataan, walau rasa bersalah kepada keluarganya masih mengganggu pikirannya.


Ia juga sering mendengarkan nasehat-nasehat dari Mbah Sarmi tentang bagaimana menjalani kehidupan.


Gamis pesannya mulai datang, atas saran Mbah Sarmi, ruang tamu miliknya dijadikan tempat untuk memulai berjualan secara online.


Bersama Fitri, ia memulai berjualan, awalnya masih menggunakan Facebook milik Fitri sebagai sarana jualan untuk sementara.

__ADS_1


Dengan uang modal itu, ia membeli laptop juga kamera juga alat-alat pendukung jualannya, seperti manekin, hanger juga menempeli sudut ruang tamu Mbah Sarmi dengan wallpaper untuk keperluan foto gamis atau jilbab yang akan dijual.


Mendapat respon yang bagus dari teman-teman Fitri di Facebook, keduanya mulai membuka akun di IG juga di market place online.


Semakin hari, usahanya semakin berkembang, di tahun kedua, Fitri mengajak beberapa tetangga untuk membantu membungkus produk yang dipesan oleh pelanggan.


Permintaan semakin membludak  mendekati bulan ramadhan, bukan hanya dari online, ada beberapa pelanggan yang mendatangi langsung rumah Mbah Sarmi, ada diskon untuk pelanggan yang datang langsung.


Meskipun sampai saat ini belum bisa memproduksi gamis sendiri, setidaknya, model yang dijual adalah rancangan dari Rara juga Fitri dibantu Nurul.


Sejak penjualan meningkat, tak lupa setiap hari Jum'at, keduanya menyisihkan keuntungan untuk sedekah, lebih sering memberikan makanan kepada jamaah shalat Jum'at atau anak-anak yang belajar di TPA.


Anak-anak dari Mbah Sarmi yang pulang saat menjelang lebaran, mendukung sepenuhnya usaha milik adik Andi itu,


Setidaknya ada yang menemani Mbah Sarmi, sehingga orang tua satu-satunya itu tidak kesepian.


Andi dan Anisa juga pulang bersama anak-anak mereka setelahnya sebelumnya pulang ke Malang terlebih dahulu.


Sebenar-benarnya Rara ada  keinginan untuk pulang ke Malang, tapi hal itu dilarang oleh Andi, katanya beberapa kali laki-laki itu masih menyambangi rumah orang tua mereka.


Sudah hampir dua tahun, Rara meninggalkan rumah, ia masih sibuk dengan jualannya bersama Fitri dan beberapa tetangga mereka yang sebagian besar ibu rumah tangga.


Siang itu saat Rara sedang sibuk didepan laptop, ponselnya berbunyi, tertera nama Mbak Anisa di layar ponselnya.


Setelah sebelumnya mengucapkan salam, terdengar nada panik dari seberang sana, "Ra, bapak sama ibu kecelakaan, sekarang lagi di rumah sakit, mbak sama mas sama anak-anak lagi mau ke bandara, kami mau pulang ke malang,"


"Aku pulang ya mbak,"ucap Rara dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Ra, tapi hati-hati ya!"


Usai mengakhiri panggilan itu, Rara bergegas menyiapkan diri, ia juga meminta ijin pada Mbah Sarmi untuk pulang ke Malang, sebenarnya beliau ingin melihat keadaan besannya, namun karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan sehingga beliau urung ikut, beliau mendoakan keselamatan untuk kedua besannya itu.

__ADS_1


Dengan diantarkan Fitri ke Stasiun, ia berangkat menuju kota kelahirannya.


__ADS_2