
Seminggu kemudian, Benedict dan Rama datang, keduanya secara langsung akan memilih para pekerja bersama Fernando.
Sudah dua pekan ke belakang, iklan penerimaan lowongan pekerjaan terpasang di salah satu web pencari kerja.
Untuk kali ini Fernando tidak melibatkan istrinya, mengingat wanita itu tengah hamil besar.
Banyak peminat yang ingin bekerja di villa itu, ketiga lelaki itu berdiskusi untuk menyaring para pekerja, juga tentang gaji yang didapat untuk para pekerja.
Ketiganya juga membentuk manajemen yang akan menangani urusan villa, dikarenakan Fernando tak mungkin selalu berada di sana.
Selama hampir seminggu ketiganya mengurusi hal itu.
Selain urusan pekerja, Benedict juga menilai hasil kerja sahabatnya,
"Keren juga ide Lo do, nggak nyangka saingan gue ternyata bisa bikin villa kek gini, boleh nih gue rekomendasiin ke kolega gue di luar,"ujar Benedict saat meninjau langsung salah satu kamar di villa itu.
"Nggak perlu dan terima kasih buat pujiannya tapi sekarang gue udah berkeluarga, gue nggak mau jauh dari bini gue,"tolak Fernando tanpa pikir panjang.
"Nolak rejeki, emang Lo nggak pengin punya privat jet sama pulau apa? Kan enak kalau ajak keluarga liburan,"Rama angkat bicara.
"Kalau cuman kayak gitu gue juga mampu beli kali,"celetuk lelaki bermata hijau itu.
Rama terkejut mendengar pengakuan anak dari umi Fatimah.
"Maksudnya?"tanya Rama.
Merasa ada yang salah, Fernando melambaikan tangannya, "becanda Ram, lagian Rara mau lahiran, otomatis gue mau punya bayi kan? Gue mau jadi suami sekaligus ayah yang siaga, Jadi gue mau menetap di satu tempat, mumpung ada Lo nih Ben, kelar urusan villa ini, gue mau mengundurkan diri,"
Benedict dan Rama dibuat terkejut oleh perkataan lelaki blasteran Jerman-Indonesia itu.
"Ya nggak bisa gitu do, Lo lupa udah tanda tangan perjanjian dulu,"Benedict mengingatkan.
"Gue bayar pinaltinya Ben, gue cuman pengin menetap di satu tempat bareng keluarga kecil gue,"Fernando memberi alasan.
"Jangan nyari-nyari deh do, lagi damai gini, Lo malah ngajak ribut,"Rama mengingatkan.
"Kali ini gue serius Ben, gue mau mengundurkan diri, silahkan Lo berdua cari orang lain buat gantiin gue, tapi tenang aja gue kasih waktu tiga bulan dari Sekarang sebelum gue benar-benar mengundurkan diri,"
__ADS_1
"Emang bonus yang gue kasih kurang do, Lo tinggal sebut berapa yang lo minta, gue kasih berapapun itu, asal Lo tetep ngurus ini semua, Lo tau kan gue nggak mungkin selalu disini, Rama juga nggak bisa, kerjaannya udah banyak, apalagi Alex,"Benedict mencoba bersabar.
Fernando membelakangi kedua sahabatnya, ia menatap pemandangan luar dari balik kaca, "gue cuman pengin menetap di satu tempat, Nicholas nggak mungkin selamanya ikut umi, dia harus gue urus sendiri, begitu juga Rara yang sebentar lagi melahirkan, gue mau ada disampingnya, sementara kerjaan gue keliling terus, nggak menetap di satu tempat, beda pulau juga, Lo ngerti maksudnya kan Ben?"
Benedict bangkit, mensejajarkan diri dengan Fernando, ia menepuk pundak sahabatnya, "do, kerjaan gue juga sama, Lo tau sendiri kan, Ayu sering gue tinggal, selama Lo disini, kerjaan ditempat lain masih bisa dihandle kan? Sesekali Lo bisa cek langsung, Lo ngerti cara kerja gue bukan?"
"Tapi gue nggak mau, kalau misal Rara tau-tau kabur, dua kali Ben, baru gue tinggal nggak nyampe sehari, dia udah ngilang, bisa gila beneran gue, kalau sampai dia pergi lagi, nggak usah gue jelasin Lo ngerti kan, Lo juga gitu sama Ayu,"
"Gue ngerti do, masalahnya jaman sekarang susah nyari orang yang bisa dipercaya, nggak mungkin juga itu resort gue jual, Lo nggak kasihan sama karyawan di sana, mereka seneng punya bos kayak kita,"
"Tapi Ben,"
Benedict menghadap Rama, "Ram, tolong bilang ke mang Ujang, kalau gue kangen masakan istrinya, masakin yang banyak, terus bawa ke tempat camping yang tadi, gue pengin makan siang di sana bareng-bareng,"
Rama mengangguk sambil menunjukan jempolnya, lelaki yang baru saja menjadi ayah, berlalu dari sana.
Setelah memastikan hanya ada keduanya, dengan suara pelan, Benedict berucap, "do, gue tau duit Lo banyak, Lo nggak butuh kerjaan dari gue, tapi kira-kira Amara tau aslinya Lo gimana nggak? Kalau gue kasih tau, apa ya reaksinya?"
Fernando melebarkan matanya, lalu mencengkram kerah kemeja sahabatnya, "Lo ngancem gue brengsek?"
Benedict menyunggingkan senyumannya, "Lo yang buat gue pengin ngancem Lo, jadi gimana?"
Benedict bangkit, ia menatap tajam mata hijau itu, "maka dari itu do, kita saling jaga kartu As masing-masing, biar sama-sama enak,"
Fernando terdiam berfikir, ia menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya tak ada pilihan lain untuknya, "oke gue akan tetap kerja, tapi gue nggak bisa sering mantau langsung, gue mau menetap di satu tempat,"
"Dari tadi kek do, kerah kemeja gue jadi kusut,"
"Diem Lo brengsek,"
"Kita sama-sama brengsek do, ngomong-ngomong Lo udah terima email dari Troy belum?"
Fernando mengangguk.
"Terus Lo terima nggak?"
"Gue nggak bisa Ben, Rara mau lahiran, nggak bisa gue tinggal lama,"
__ADS_1
"Cuman tiga hari do, masa nggak bisa,"
"Bukannya nggak bisa, ngerti nggak sih Lo, lagian Lo nggak nungguin Ayu, tau kan Dikta udah balik, kalau Ayu bangun terus balikan sama Dikta Lo mau?"
"Ya nggak lah, jadi tolak aja nih, lumayan duitnya buat beli Lamborghini,"
"Kalau gue jadi Lo, jelas gue lebih milih bini gue, dah lah Ben, kita berhenti aja, gue takut kalau sampai istri kita tau, kerjaan sampingan kita,"
"Ya nggak mungkin tau lah,"
"Kali aja Lo keceplosan,"
"Adanya Lo,"
"Dari tadi gue pengen menghajar Lo sumpah, cuman gue nggak mau Rara khawatir,"
"Bangsat adanya gue yang menghajar Lo duluan,"
Keduanya tertawa dengan kekonyolan mereka.
"Ngomong-ngomong do, kenapa kita bisa bertekuk lutut sama mereka ya? Kemarin gue di pulau, kerjanya gila-gilaan saking pengennya ketemu Ayu,"
"Sama aja Ben, gue hampir dua bulan nggak ketemu Rara, tuh gara-gara temen sialan Lo,"
"Itu perbuatan Lo kan?"
Fernando lagi-lagi menyunggingkan senyumannya, "dia udah bikin Tamara balik kesini, dan ganggu ketenangan rumah tangga gue, ya gue bales, ada yang salah?"
"Tapi kan Lo jadi tau, kalau ternyata Lo punya anak, ya jangan sekejam itulah, anak orang itu,"
"Kayak Lo nggak aja Ben, kita tuh sama, udah untung dia nggak mati,"
Benedict tertawa, "Lo sama aja membunuh dia pelan-pelan tau, setidaknya Lo kasih keringanan,"
"Wah Ben peduli ya sama temen Deket mantan pacarnya, kalau Lo simpati sama dia, sana Lo tolongin,"
"Dih ngapain, maaf gue sibuk,"
__ADS_1
Keduanya masih melanjutkan obrolan hingga Rama datang memberitahukan jika makanan hampir siap.
Fernando undur diri untuk menjemput istrinya terlebih dahulu, agar bisa makan siang bersama-sama.