Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus sembilan


__ADS_3

Meski hanya membuka mata tanpa bersuara setidaknya keluarga dan para sahabatnya bersyukur, Ayudia menunjukan perkembangan yang berarti.


Rara mendengar dokter menjelaskan kondisi sahabatnya itu.


Dokter juga menyarankan untuk sesering mungkin mengajak pasien untuk berbicara.


Di luar langit telah berubah warna, ketika Fernando mengajak istrinya untuk pulang ke rumah umi Fatimah, karena mulai besok, keduanya akan berbelanja segala keperluan bayi.


Fernando menyuruh istrinya untuk menunggu di lobby sementara dirinya akan mengambil mobil di parkiran.


Saat sedang menunggu suaminya, Pradikta baru saja turun dari lantai atas dimana Ayudia dirawat.


"Aku pikir kamu udah pulang Ra?"tanya Pradikta.


Rara menatap sahabatnya, "ini lagi nunggu mas Nando ambil mobil, terus kamu pulang naik apa?"tanyanya.


"Aku naik ojol, tadi kesini aku dijemput mas Rama di kantor,"


"Ya udah kamu nebeng aku aja, rumah kamu kan searah sama rumah mertua aku,"


Lelaki dengan kemeja biru itu mengangguk, "oh ya, aku kok nggak bisa menghubungi kamu, ganti nomor atau bagaimana?"tanyanya.


Rara berusaha menyembunyikan fakta yang sebenarnya, "handphone aku restart, nomornya lupa aku save, aku minta lagi deh nomor kamu,"ujarnya sambil memberikan ponsel miliknya.


Pradikta mengetikan beberapa digit nomornya, lalu memberikan kembali pada sahabatnya, "Ra, kata suaminya Ayu, aku disuruh sering-sering kesini, ajak Ayu ngobrol, emang nggak apa-apa ya? Kok aku merasa bersalah gitu ya!"


"Oh tadi sebenarnya dokter yang suruh, karena berkat kamu Dia bisa membuka matanya, mudah-mudahan dengan begitu Dia bisa cepat pulih,"


Obrolan mereka terhenti, ketika ponsel milik Rara berdering, Suaminya menghubunginya, memberitahukan jika lelaki itu sudah ada di depan lobby.


Terlihat raut terkejut dari Fernando ketika melihat istrinya datang bersama Pradikta.


Rara menjelaskan jika dirinya mengajak sahabatnya untuk pulang bersamanya, sebab tempat tujuan mereka searah.


Mau tak mau Fernando menyetujuinya.


Pradikta duduk jok belakang, sementara Rara duduk di samping kemudi.


Fernando mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit milik sahabatnya.


"Ra, kemarin mama buat kue kesukaan kamu, katanya bikin buat kamu sama mbak Sinta, nanti dibawa sekalian ya!"ucap Pradikta di jok belakang.


Rara miring menghadap ke sahabatnya, "wah, boleh banget tuh, nanti aku mampir bentar deh, kangen sama Tante Arini,"


"Ngomong-ngomong Ra, rencananya mau lahiran dimana?"tanya lelaki berkemeja biru itu.

__ADS_1


"Disini ta, jangan lupa siapin hadiah bagus buat keponakan baru,"jawab wanita hamil itu.


"Emang cewek atau cowok? Waktu terakhir periksa bareng mama, kamu nggak mau tau jenis kelaminnya kan?"


"Cewek ta,"


"Yah nggak bisa jadi besanan kita,"


Rara mengernyit bingung, "besanan gimana sih Ta, kamu aja belum nemu istri, anak dari mana Pradikta, jangan ngadi-ngadi kamu,"


"Entar beberapa tahun lagi aku mau punya anak perempuan,"


"Aamiin, ia aku doain, tapi nikah dulu baru punya anak,"


"Aku nggak mau nikah ta, yang mau aku nikahi kan udah pada sold out, kecuali kalau mereka jadi janda,"ujar Pradikta diakhiri dengan tawa.


Mendengar hal itu, Fernando mengerem mendadak, hal itu membuat kedua penumpangnya terkejut.


"Kamu apa-apaan si? Kalau kita kecelakaan gimana? Untung jalanan lagi sepi,"protes Rara kesal.


Fernando mencengkram stir mobilnya, ia menatap tajam istrinya, nafasnya memburu, giginya beradu, ia marah, ia cemburu.


Lelaki itu melajukan mobilnya kembali, ia tak menanggapi protes istrinya.


Fernando yang menyadarinya, semakin mengeratkan cengkraman pada kemudi yang tidak bersalah itu, jika pencahayaan terang, mungkin terlihat urat-urat ditangannya, lelaki itu marah besar.


Tak lama mobil berhenti tepat di depan pagar rumah orang tua Pradikta.


Lelaki berkemeja biru itu mengucapkan terima kasih pada suami Rara, karena mau mengantarkan pulang drke rumahnya.


Fernando menanggapinya hanya dengan anggukan tanpa melihat sahabat istrinya.


"Aku turun sebentar,"ucap Rara meminta ijin, tanpa menunggu jawaban dari suaminya, wanita hamil itu keluar dari mobil milik Fernando.


Sudah lima belas menit berlalu, tetapi Rara tak kunjung menunjukan batang hidungnya, Fernando yang tak sabar akhirnya turun dari mobil dan memasuki halaman rumah orang tua Pradikta.


Fernando bisa melihat betapa akrabnya istrinya dengan mama dari Pradikta, bahkan wanita paruh baya itu mengelus perut Rara yang membuncit.


Mereka seperti mertua dan menantu yang akur, Fernando cemburu melihat kedekatan keduanya.


Fernando berdiri didekat mobil yang terparkir di carport, mungkin lebih dari lima menit lelaki itu hanya diam melihat interaksi kedua wanita berbeda generasi itu.


Hingga ia dikejutkan oleh tindakan Pradikta yang tanpa sungkan, memeluk dan mencium kening Rara, saat wanita itu berpamitan untuk pulang setelah menerima paper bag yang diberikan olehnya.


Tangan Fernando mengepal kuat, nafasnya memburu, giginya beradu didalam mulutnya, lelaki itu marah besar.

__ADS_1


Fernando menghampiri istrinya yang masih bisa tersenyum lebar disaat, dirinya tengah diselimuti amarah yang besar.


Dan tanpa banyak bicara lelaki blasteran itu, menghampiri Pradikta dan mencengkram kerah kemeja biru milik sahabat istrinya.


"Gue dari tadi udah nahan buat nggak mukul Lo b*ngsat, Ben mungkin bisa sabar waktu Lo dengan santainya meluk Ayu didepan dia, tapi sorry gue bukan orang yang sabar,"usai mengatakannya, Fernando memberikan sebuah pukulan tepat di wajah Pradikta.


Fernando seolah tak mempedulikan teriakan Rara juga Arini,  ia memukuli bahkan menendang Pradikta, entah setan mana yang menempeli lelaki blasteran itu hingga berbuat hal itu.


Irwan yang baru saja pulang terkejut mendengar teriakan Arini, lelaki tua itu berlari, dan alangkah terkejutnya ia ketika putra semata wayangnya sedang dipukuli lelaki berkaos abu di teras rumahnya.


Irwan segera melerai perkelahian yang tak seimbang itu.


Fernando masih mencaci maki Pradikta dengan berbagai umpatan dan masih berusaha menyerang Pradikta yang terkapar tak berdaya di lantai teras itu.


Irwan menghalangi suami dari Rara, dan berusaha membujuknya untuk tetap tenang.


"Brengs*ek Amara bini gue, jangan sentuh dia sedikitpun, dia milik gue *njing, sekali lagi Lo sentuh Amara gue bunuh Lo," teriak Fernando yang masih dikuasai amarah.


Rara diam mematung mendengar teriakan suaminya, ia tak menyangka Fernando mengucapkan kata-kata yang menurutnya menakutkan.


Mata wanita hamil itu berkaca-kaca, Arini yang menyadari hal itu memeluk Rara, mencoba menenangkannya.


Sedangkan Irwan menolong Pradikta dan memapahnya masuk ke dalam rumah.


Fernando masih saja diselimuti amarah, meskipun telah membuat Pradikta babak belur, dan seperti belum puas melampiaskan amarahnya, lelaki itu memukul tembok yang ada dihadapannya, bukan hanya sekali, mungkin dua atau tiga kali, hingga punggung tangannya berdarah.


Melihat hal dilakukan suaminya Rara bangkit, ia berjalan sambil terisak menuju suaminya yang masih saja memukuli tembok rumah milik orang tua Pradikta.


Rara tak berani terlalu dekat, Fernando masih diselimuti amarah,


Dan ucapan permintaan maaf Rara juga isakan wanita hamil itu menghentikan amukan lelaki berkaos abu itu.


Fernando menatap tajam istrinya, tatapan amarah, tak ada cinta dan kasih sayang di mata hijau itu.


"Aku minta maaf, aku salah, tolong hentikan, kalau kamu marah, kamu pukul aku aja, mungkin dengan kamu memukul aku, bisa meredam amarah kamu, tapi tolong jangan lukai diri kamu,"pinta Rara berlinang air mata.


Fernando tak bersuara, hanya menatap istrinya tajam, tatapan amarah sekaligus kecewa atas tindakan wanita yang ia cintai, ia cemburu, ia tak rela wanitanya di sentuh oleh lelaki lain.


Arini mendekat, dan merangkul wanita hamil itu, "Tante ambilkan obat untuk mengobati tangan suami kamu,"ujarnya.


"Anda tidak perlu melakukan hal itu,"ucap Fernando,


Lelaki itu mengambil dompet di saku belakang celananya, lalu memberikan kartu nama sahabatnya, "silahkan ajukan tuntutan, tolong hubungi pengacara saya, maaf telah membuat kekacauan di rumah anda,"


Usai mengatakannya, Fernando pergi dari hadapan Arini, tak lupa menggandeng tangan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2