
Fernando tidak menemukan keberadaan Rara juga umi Fatimah, saat dirinya baru saja pulang dari villa.
Lelaki itu menelpon istrinya, wanita itu mengaku sedang makan bakso didepan apotek tak jauh dari rumah.
Fernando memutuskan menyusul istrinya, lelaki itu belum sepenuhnya percaya jika istrinya tidak akan lari darinya lagi, ia jadi teringat cerita dari Rama soal pengakuan Sinta soal Rara yang menawarinya tempat untuk melarikan diri.
Baru sehari Fernando menitipkan Rara pada uminya, wanita itu justru keluar rumah sendiri,
Saat mulai memasuki mobil, uminya datang, wanita paruh baya itu mengaku baru saja dari toko kelontong membeli Sesuatu.
Entah mengapa Fernando gelisah, ia takut istrinya akan lari darinya, tak lama kemudian mobil ia parkir kan dipinggir jalan tepat didepan apotek,
Dari dalam kursi kemudi, Fernando bisa melihat wanita berhijab hitam tengah berjalan menunduk, tentu ia sangat mengenali istrinya, cara berjalan juga bentuk tubuh yang tertutup gamis dikenalnya.
Fernando memutuskan menghampiri istrinya, namun sepertinya wanita itu tak menyadari keberadaannya, hingga Rara malah menabrak dada bidangnya.
Lelaki itu terkejut saat istrinya mendongak menatapnya, dengan mata berkaca-kaca, wajah Rara terlihat panik, wanita itu mengajaknya pulang, namun sebuah suara memanggil namanya.
Seorang perempuan mengenakan blouse maroon dengan celana jeans menggandeng remaja lelaki yang wajahnya mirip dengannya.
"Akhirnya aku bisa ketemu kamu, aku cari kamu selama seminggu disini,"ujar wanita itu melepas paksa tautan tangan Fernando dan Rara, lalu memeluk lelaki itu erat, tak lupa berjinjit mencium pipinya.
Fernando terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini, itu cinta pertamanya, Tamara Permana, wanita yang jadi pacar pertamanya saat masa putih abu-abu.
Tamara memegangi kedua sisi pipi lelaki blasteran itu, "kenapa diam aja Do, kamu nggak balas pelukan aku sih? Kamu nggak kangen sama aku?"tanyanya.
Fernando merasa ada yang salah, ia langsung tersadar, ia menatap ke sekelilingnya, ia tak menemukan keberadaan istrinya.
"Sorry Ta, aku harus pergi,"jawaban yang mungkin tidak diharapkan oleh Tamara, tapi ia tak peduli, istrinya pergi entah kemana, rasanya cepat sekali.
Tangannya ditahan oleh Tamara, "do, kenapa kamu malah pergi, setelah susah payah aku cari kamu, aku nggak akan biarkan kamu pergi gitu aja, aku juga cari kamu sama anak kita, apa kamu tidak lihat remaja yang mirip sama kamu?"
__ADS_1
Fernando menoleh lalu menatap remaja itu, namun ia segera tersadar soal istrinya, "maaf Ta, aku mau cari istri aku dulu, urusan kita nanti aja ya,"ujarnya sambil memberikan kartu nama miliknya, "kamu bisa telpon aku nanti,"lanjutnya.
Lelaki itu langsung beranjak menuju mobil hitam miliknya, ia menelpon istrinya, namun tak diangkat, Fernando panik bukan main, ia melajukan mobilnya mencari keberadaan istrinya.
Pikiran-pikiran buruk membayanginya, rasa takut ditinggalkan oleh istrinya semakin membuatnya tak tenang,
Bagaimana jika Rara meninggalkannya lagi?
Bagaimana jika Rara menceraikannya?
Bagaimana jika Rara menghilang lagi?
Ia tak bisa membayangkan bagaimana ia melalui harinya jika ditinggalkan oleh wanita paling berharga setelah uminya.
Meski tiga tahun kebelakang, ia terlihat baik-baik saja, namun hampir setiap hendak tidur ia pasti akan meneteskan air mata karena tersiksa merindukan wanita itu, bahkan selama itu, ketika hendak tidur, ia butuh obat agar bisa tidur dengan nyenyak.
Saat itu rasanya mau gila, tak ada yang tau jika hendak tidur ia akan menciumi piyama milik wanita itu, ia akan memeluk erat piyama itu dan mengendusnya seolah ia tengah memeluk wanita itu.
Fernando memarkirkan mobilnya di carport begitu sampai rumah, ada uminya yang sedang menunggunya di teras.
Umi menjelaskan kondisi Rara saat pulang tadi, Fernando menceritakan tentang kembalinya Tamara dan remaja yang katanya adalah anaknya dengan wanita itu.
Umi terkejut, tak menyangka akan seperti ini, tentu saja menantunya menangis mengetahui kenyataan pahit menimpa rumah tangga yang baru dibina seumur jagung itu.
Rasanya wanita paruh baya itu ingin memarahi putranya, tapi sepertinya itu percuma, tidak ada gunanya juga.
"Fernando, ingat perkataan Umi baik-baik, menantu Umi hanya Amara Cahyani, umi bisa menerima anak dari Tamara tapi tidak dengan wanita itu, Umi tidak akan ridho sampai kapanpun,"umi menegaskan lalu berjalan masuk menuju rumah.
Namun apa yang dilihat oleh Umi dan Fernando ketika memasuki rumah, membuat mereka terkejut, Rara yang sudah berganti baju keluar dari dapur membawa toples kue kering sambil tersenyum,
"Umi, nastar isi selai strawberry enak juga, wah nanti kalau ini habis kita bikin lagi ya mi,"ucap Rara,
__ADS_1
"Oh mas kamu udah pulang, udah selesai urusannya? Buruan cuci tangan sana, cobain kue buatan umi sama aku, ini enak banget, nanti aku abisin loh,"lanjutnya dengan senyuman khasnya yang membuat Fernando terpana.
Rara duduk di sofa sambil memangku toples kue kering itu, sambil memainkan ponselnya.
Umi dan Fernando saling pandang, seolah saling menanyakan apa yang terjadi.
Keduanya duduk mengapit Rara yang berada ditengah-tengah,
Umi memeluk menantunya dari samping, lalu berkata, "Ra, umi hanya ridho kamu yang jadi menantu satu-satunya umi, ingat baik-baik sayangnya Umi,"mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca.
Rara hanya menanggapi dengan senyuman ucapan umi Fatimah, hingga wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya, dengan Santai Rara memakan lagi kue kering itu.
Fernando duduk berlutut, ia memegangi lutut istrinya,"Ra, aku minta maaf, aku menyesal, aku nggak nyangka dia kembali, dan aku pastikan hanya kamu istri aku satu-satunya,"ujarnya mencoba meyakinkan wanita itu.
Rara hanya tersenyum miris, "bangun mas, ngapain kamu disitu, duduk sini disebelah aku, kita makan kue nih, masih hangat loh,"
Terpaksa Fernando menuruti permintaan istrinya, namun rasanya sulit untuk menelan kue kering itu, rasa khawatirnya belum mereda, ia tau Rara tengah marah padanya.
"Ra, aku tau kamu marah sama aku, terserah kamu mau apakan aku, tapi jangan pernah tinggalkan aku,"ungkapnya.
Rara yang sedang mengunyah kue, menghentikan kunyahan nya, "siapa yang marah mas? Kan udah biasa yang begini, udah berapa kali kan? Aku yang harusnya siap mental ketika menerima kamu jadi suami aku,"ujarnya menohok.
"Ra, aku pastikan, aku tidak akan mempunyai hubungan apapun sama dia, dan jika memang remaja itu anak aku, dengan bukti tes DNA, aku hanya akan bertanggungjawab sebatas anak itu tidak lebih, seandainya aku harus menemuinya, aku akan mengajak kamu,"tutur Fernando berusaha meyakinkan istrinya.
"Itu urusan kamu mas, aku nggak peduli, jika memang kamu ingin kembali sama dia sekalipun, aku nggak masalah, cuman ya gitu, karena aku belum siap mental untuk berbagi, jadi sebelum kamu membentuk keluarga kecil nan bahagia bareng dia, sebaiknya kamu melepaskan aku sekarang, jadi aku nggak terlalu sakit hati nantinya,"Rara berbicara sambil memakan kue, tidak sopan memang, tapi ini cara dirinya agar terlihat tidak gelisah dihadapan suami dan mertuanya.
"Umi nggak akan biarkan putra umi bersama dia, hanya Amara Cahyani menantu umi, nggak akan umi restui,"sela Umi Fatimah.
"Itu nggak akan terjadi Ra, hanya kamu istri aku, dengan kamu, aku akan mempunyai keluarga, tidak dengan wanita lain, kamu mengerti,"
"Oh, ya udah kalau mau kamu gitu,"setelah mengatakan itu, Rara menutup toples kaca berisi kue kering dan meletakkannya di meja, lalu ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya setelah berpamitan pada mertuanya.
__ADS_1