
Fernando seolah tak merasa cukup hanya sekali, semalam ia melakukannya sampai dua kali, sedangkan pagi ini, lagi-lagi ia memintanya lagi, seolah lelaki itu ketagihan dengan kegiatan yang menurutnya menyenangkan itu.
Tadi usai sarapan ada designer perhiasan datang, ada beberapa contoh gambar yang disodorkan pada Rara, namun wanita itu malah menyerahkan semua keputusan pada Fernando.
Untuk cincin akan dibuat terlebih dahulu, sedangkan perhiasan untuk mas kawin mengambil yang sudah tersedia, saat diam-diam Rara menanyakan harganya, wanita itu tercengang, setelah tau dana yang dikeluarkan oleh lelaki itu, hanya untuk satu set perhiasan juga cincin pernikahan.
Tak berani protes, Rara hanya diam saja.
Jam makan siang, Fernando pamit, katanya akan mengunjungi salah satu resort yang ada di Bali bagian tengah.
Sepeninggal Lelaki itu, Rara memutuskan keluar kamar, ada beberapa pegawai resort yang mengenalnya menunduk hormat,
Tadi pagi, Fernando mengumpulkan karyawan resort yang bertugas, untuk memperkenalkan calon istrinya.
Rara memilih untuk turun jalan-jalan dipinggir pantai, hanya pengunjung resort yang berada di pinggir pantai berpasir putih itu.
Hingga seorang wanita dengan pakaian minim menghampirinya dan mengajaknya untuk berbicara.
Rara ingat, wanita ini mantan kekasih Fernando, mereka menaiki tangga menuju resort,
Cristy mantan pacar Fernando mengajak untuk duduk di salah satu kursi yang menghadap samudra.
"Perkenalkan aku Cristy, pacar Fernando seminggu yang lalu,"ucapnya membuka pembicaraan.
"Aku Rara, ada apa ya mbak?"tanyanya.
"Apa Nando pernah bercerita tentang aku?"tanyanya balik.
"mas Nando hanya menceritakan, kalau sekitar seminggu lalu hubungan kalian berakhir, karena perbedaan keyakinan, sebatas itu saja,"
Jawabnya.
"Apa kamu bisa menyimpulkan, jika seandainya aku berkeyakinan yang sama dengan Nando, hubungan kami tidak akan berakhir,"
"Lalu, maksud mbak Cristy ngomong begitu sama aku, apa ya?"tanya Rara bingung.
"Ya intinya, sebenarnya Nando masih cinta sama aku, bisa saja kamu hanya pelarian buat dia kan? Apa kamu sudah lama mengenalnya?"
"Kenapa Mbak ingin tau? bukankah ini bukan urusan mbak lagi?"
Tak kehabisan akal Cristy mengalihkan ucapannya, "Ra, bisa aku minta kamu lepaskan Nando, sepertinya aku lebih butuh Nando dibandingkan kamu,"mohonnya.
"Apa alasannya? Kenapa aku harus melepaskannya?"
"Karena kami masih saling mencintai, hanya aku yang paling mengerti Nando, juga aku sangat membutuhkannya, jika tidak ada dia di samping aku, lebih baik aku mati saja, toh tidak ada gunanya aku hidup,"
__ADS_1
"Kenapa mbak ngomong begitu? Bukankah mbak cantik, kenapa tidak memilih bersama lelaki lain? Dunia luas mbak, jangan berharap hanya kepada satu lelaki, aku percaya banyak lelaki yang menyukai mbak,"
"Tapi tidak sebaik dan selembut Nando, mereka kasar dan hanya menginginkan tubuhku,"
"Bukankah mas Nando sama saja, dia menjadikan mbak Cristy hanya sebagai pelepas hasratnya kan,?"
Cristy terdiam, seolah membenarkan hal itu, tapi dengan segera, ia menyangkal, "kamu tau, bahkan Nando berani melawan uminya demi aku, kalau dia tidak mencintai aku, tidak mungkin kan, dia berani melawan orang tua satu-satunya,"
Rara terdiam, ia jadi teringat soal obrolannya semalam,
"Ra, tolong lepaskan Nando, Aku sangat mencintainya, dia sudah seperti nyawa bagi aku,"
Cristy bahkan bersimpuh duduk dihadapan Rara, dengan berlinang air mata, "Ra, kalau sampai Nando meninggalkan aku, lebih baik aku mati, di dunia ini hanya Nando yang tulus mencintai aku, bahkan ibu kandung aku, tega menjual anaknya sendiri, hanya bersama Nando aku dihargai sebagai wanita, karena Nando adalah penyelamat aku dari lembah kehinaan, aku mohon Ra, kasih Nando ke aku, kamu masih bisa dapat lelaki manapun, sedangkan aku, hanya Nando yang mau menerima aku apa adanya,"mohonnya.
Rara merasa tak enak sendiri, sudah dua kali ada wanita yang bersimpuh padanya memohon hal sama tentang laki-laki yang mereka cintai.
Ada istri siri calon suaminya, dan sekarang mantan pacar dari lelaki yang akan melamarnya,
Rara terdiam, dalam hati ia bertanya, kenapa hidupnya selalu dikelilingi oleh lelaki yang bermasalah dengan perempuan lain, tentang kesetiaan, seingatnya dirinya bukan perempuan yang memiliki hobi mempermainkan laki-laki, seumur-umur baru tiga kali ia dekat dengan laki-laki, yang pertama teman kuliah yang gagal menikah karena menghamili perempuan lain, yang kedua calon suami pilihan bapaknya yang ternyata sudah beristri walau siri dan yang terakhir mantan pacar laki-laki yang berniat melamarnya.
Rara menatap mantan pacar Fernando yang masih menunduk bersimpuh tepat didepan lututnya, ia memegang kedua lengan Cristy dan memintanya untuk bangkit serta duduk disebelahnya,
"Mbak, semua keputusan kembali ke tangan mas Nando, misalnya aku melepaskannya sekalipun, kalau mas Nando tidak mau kembali pada mbak Cristy, setidaknya lanjutkan hidup mbak, jangan hanya memikirkan laki-laki yang sudah menyia-nyiakan kamu, mbak terlalu berharga, buktikan setidaknya untuk
Masa depan mbak sendiri,"
Wanita itu mengambil Sling bag nya, ia berencana ingin berkeliling seorang diri, tadi sebelum ke kamar, ia sempat menemui resepsionis, untuk menyewakan sebuah motor.
Resepsionis yang tau jika Rara adalah calon istri CEO mereka, tentu melayani dengan ramah.
Dan disinilah Rara sekarang, wanita itu tengah menaiki motor matic yang kata resepsionis adalah fasilitas dari resort, entahlah Rara tidak peduli, baginya ia bisa berkeliling menikmati udara pulau yang terkenal akan pariwisatanya.
Ia tak punya tujuan, hanya ingin keluar sambil berfikir apa yang akan ia lakukan untuk hidupnya kedepannya.
Sejujurnya ia tak ingin menikah, tapi bapaknya mendesak untuk segera mengakhiri masa lajangnya, bahkan sampai mencarikannya jodoh.
Sebenarnya ia masih merasa sakit hati saat tau, calon suami pertamanya mengkhianatinya menjelang pernikahannya.
Saat itu rasanya hancur sekali hatinya, hanya saja ia tak menunjukannya dihadapan orang-orang termasuk keluarganya.
Rara adalah tipe orang yang lebih suka memendam masalah apalagi didepan keluarganya, karena ia tak ingin membebani mereka.
Mungkin mereka melihat senyum juga tawa bahagia di diriĀ wanita berusia dua puluh empat tahun itu, tetapi mereka tidak tau isi hatinya seperti apa.
Setelah menempuh perjalanan hingga dua puluh menit, sampailah ia di sebuah pantai,
__ADS_1
Ia sempat membeli susu rasa strawberry juga wafer dan biskuit dengan rasa yang sama,
Ia duduk di atas pasir menghadap pantai yang hanya ada beberapa orang saja.
Pikirannya menerawang jauh, berkali-kali ia menghela nafas, sejujurnya ia sedang bingung, tentang nasibnya.
Ia tau tidak semudah itu, ia bisa membatalkan pernikahan yang akan digelar beberapa hari lagi, sedari pagi, ibu juga kakak keduanya mengirimi pesan untuk segera kembali ke rumah.
Tapi ia tak ingin menikah, teringat betapa ibanya ia pada istri siri calon suaminya yang menangis dihadapannya sambil bersimpuh dengan balita perempuan berada dalam pangkuannya.
Ia tau betul watak bapaknya yang keras, tak mungkin ia bisa melawan keputusan lelaki paruh baya itu.
Dan masalah baru yang ia buat menambah daftar kerumitan dalam hidupnya, ia bertemu juga berhubungan dengan lelaki asing, bahkan dengan bodohnya ia memberikan mahkotanya yang berharga, dan lelaki itu berniat mengajak ibunya untuk menemui bapaknya.
Ia tau, akan ada kekacauan besar di rumah keluarganya nanti,
Rara menjambak rambutnya sendiri, ia pusing sekali, terlintas dalam benaknya, apa ia lari saja ya dari mereka dan menjalani hidup sendiri, semau yang ia inginkan.
Tapi kemana?
Hingga ada notifikasi yang masuk melalui ponselnya, ia melihatnya, ada pesan dari mantan rekan kerjanya menawarkan pekerjaan.
Beberapa saat ia membalas pesan itu, dan senyum mengembang menghiasi wajahnya.
Wanita itu memutuskan untuk kembali ke resort.
Hari sudah senja saat ia beranjak dari sana, ia kembali menyusuri jalanan yang tadi ia lewati.
Ditengah perjalanan pulang, Rara mampir disalah satu penjual nasi joger khas Bali, ia memesan banyak jenis makanan yang tersedia, hingga ia merasa kenyang sekali.
Kemudian ia melanjutkan perjalannya kembali, sekitar setengah sembilan malam, ia baru tiba di resort.
Ia memasuki lobby sambil memutar-mutar kunci motor, bahkan beberapa kali karyawan yang menyapanya, ia balas dengan sapaan plus senyuman khasnya.
Hingga saat dirinya tiba di resepsionis untuk mengembalikan kunci motor, ada suara yang memanggilnya, terdengar khawatir.
Rara berbalik dan greb... Tubuhnya dipeluk erat oleh lelaki blasteran itu.
"Kamu kemana aja sih? Kenapa baru kembali? Aku telpon kamu nggak diangkat, aku khawatir kamu kenapa-kenapa,"ungkap Fernando yang membuat pekerja resort melongo melihat tingkah CEO mereka.
Fernando memang seorang player, tapi ia terkenal dingin juga ketus juga arogan, ini pertama kalinya mereka melihat Ceo-nya terlihat khawatir kepada seorang wanita.
Rara membalas pelukan itu, "aku cuman berkeliling mas, mumpung disini,"
"Rara sayang, setelah kita menikah, kamu akan tinggal disini jadi kamu bisa sepuasnya untuk berkeliling,"
__ADS_1
"Maaf ya, tadi aku nggak sempat ijin sama kamu,"
Fernando melepaskan pelukan itu, dan merangkul wanitanya menuju kamar mereka.