Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus dua puluh


__ADS_3

Natasha terkejut dengan kedatangan istri dari sahabatnya bersama lelaki lain.


Sebagaimana pada pasien pada umumnya Natasha bertanya hal yang sama pada Rara, karena tak ada Fernando, mode profesionalnya berlaku.


Natasha mempersilahkan Rara untuk berbaring di ranjang, Pradikta menuntun sahabatnya hingga berbaring dengan nyaman, lalu kembali duduk,


Natasha bersama asistennya nutup tirai berwarna biru muda, lalu mulai mengoleskan gel diatas perut buncit itu,


Sang asisten membisikan sesuatu pada Natasha, dokter kandungan itu menganggukkan kepalanya,


"Udah mules ya nyonya Fernando? Kenapa nggak ke UGD malah kesini? Atau telpon saya nyonya? Nanti tuan bule ngamuk kepada saya karena saya tidak mengurus istrinya dengan baik,"ucap dokter kandungan itu.


Rara meringis, "aku kangen pengen ketemu dokter Natasha dulu,"jawabnya konyol.


"Sejak kapan pertama kali mules?"tanya Natasha.


"Mungkin sekitar dua atau tiga jam yang lalu,"jawab Rara.


Natasha meminta Asistennya membuka celana legging dan dalaman milik pasiennya, lalu mengecek dengan jari tangannya yang sedari tadi terbungkus sarung tangan karet.


Wanita itu melebarkan matanya,


"Amara udah pembukaan enam,"


Dokter kandungan itu meminta asistennya menelpon ruangan bersalin untuk segera bersiap juga mengambil kursi roda.


"Kok kayak nggak ada tegang-tegangnya sih Ra?"tanya Natasha sambil membantu Rara bangun,


"Kata mbak Asha nggak boleh stres dan tegang, supaya tekanan darah aku nggak naik, aku ingin melahirkan normal,"jawab Rara yang sudah duduk di kursi.


"Jangan bilang Nando belum dikasih tau,"


Rara meringis, "kasihan mas Nando baru sampai Lembang terus balik lagi kesini, pasti capek,"


"Diantara sahabat aku, yang paling nggak sabaran dan emosian itu Nando Ra, kalau sampai kamu nggak dapat pelayanan baik dari rumah sakit ini, bisa-bisa suami kamu melakukan hal yang nekad, biarpun seneng bercanda kalau udah ngamuk paling serem,"


"Aku udah pernah lihat mbak, nih korbannya,"tunjuk Rara pada Pradikta yang berdiri dibelakangnya.


Natasha terkejut, lalu menatap lelaki itu, ada beberapa bekas lebam yang mulai memudar diwajahnya.


"Terus kenapa Dateng kesini sama korbannya Nando? Bisa tambah bonyok nanti,"


"Cuman Dikta sahabat aku satu-satunya, Ayudia kan belum bangun, sementara keluarga aku jauh,"


Obrolan mereka terhenti ketika ponsel Natasha berdering, tertera nama Nando dilayar,


Dokter kandungan itu menunjukan layar ponselnya, "lihat kan, abis deh aku Ra,"


"Sini aku yang ngomong,"tangan Rara menengadah,


Natasha menggeleng, "tambah ngamuk dia Ra, aku angkat dulu,"


"Ya do, kenapa?"


"......."


Natasha sampai menjauhkan ponselnya,


"Iya, Lo tenang aja do, Rara lagi sama gue, ini lagi nunggu ruang bersalin siap,"


"...."


"Jangan gitulah do, ini kami juga lagi usahain, lagian masih pembukaan enam, jadi santai aja,"ujar Natasha mencoba menenangkannya sahabatnya.


"....."

__ADS_1


"Iya do, gue tutup ya, gue mau ke atas dulu,"


Natasha mengakhiri panggilannya,


"Mas Nando marah mbak?"tanya Rara.


"Ya gitu Ra, katanya dia lagi nunggu heli kirimannya Ben, aku ngeri ribut lagi itu orang berdua,"


"Maaf ya mbak, aku buat kacau, aku nggak bermaksud ngerepotin,"


"Iya tapi kalau ada apapun tolong kasih tau suami kamu dulu, kamu udah tau watak Nando kan?"


Rara mengangguk,


Karena masih ada beberapa pasien lagi, akhirnya Suster dan Pradikta yang mengantar Rara ke ruang bersalin.


Rara menyadari jika sedari tadi ponselnya bergetar di tas ransel miliknya, ia tau pasti itu suaminya.


Sedang menunggu lift, mbak Narti datang mengantarkan koper, sebagai rasa terima kasih, Rara mengambilkan uang merah sebanyak dua lembar dari dompet miliknya.


Didalam lift, Pradikta berjongkok didepan sahabatnya, ia memegang tangan itu lalu mengecupnya, "Amara sahabatnya dikta yang paling baik, kamu harus kuat ya, bayangin sesuatu yang menyenangkan supaya kamu nggak tegang,"pesannya.


Pintu lift terbuka, tepat didepan lift sudah ada beberapa staf bidan dan perawat menunggunya.


Ada Oscar, Benedict dan Rama juga.


"Apa mulasnya sudah sering Amara?"tanya Oscar menghampiri istri dari sahabatnya,


Rara mengangguk, wanita hamil itu memegang tangan Pradikta yang ada dipundaknya.


Ketiganya saling pandang, entah apa yang dibicarakan ketiganya, Rara tak begitu jelas mendengarnya karena Pradikta keburu mengikuti arahan suster untuk segera membawanya masuk setelah meminta ijin pada ketiga lelaki itu.


Rara dibantu suster berganti baju berwarna biru dengan beberapa tali dibelakangnya,


Wanita itu sempat menghentikan kegiatannya, karena mulas itu kembali datang, ia meminta perawat memanggilkan Pradikta.


Saat Pradikta menghampirinya, Rara langsung memeluk Pradikta, "Ta, perut aku sakit banget, pinggang aku panas,"keluhnya.


Pradikta yang peka, mengelus pinggang sahabatnya, "yang kuat Ra, nikmatin rasa sakitnya, bayangin bentar lagi akan ketemu bayi kamu,"


Rara meminta minum, rasanya tenggorokannya kering, salah satu bidan segera memberikannya,


Setelah dirasa tenang, Pradikta menuntun sahabatnya menuju Ranjang bersalin.


Rara berbaring dengan posisi miring, berhadapan dengan Pradikta yang duduk di kursi disebelah ranjang,


Melihat wajah pucat sahabatnya, rasanya tak tega, namun Pradikta berusaha kuat agar bisa menghibur Rara, ia melanjutkan ceritanya tadi, berharap agar wanita itu lupa akan rasa sakitnya.


"Ra, tau nggak bu Resti itu dijodohin sama orang tuanya,"ujarnya tiba-tiba.


Melihat raut wajah tertarik dari sahabatnya, Pradikta tersenyum dan melanjutkan ceritanya.


"Beliau cerita sama aku, awalnya Bu Resti menyetujui jika dijodohkan, namun beberapa bulan setelah bertunangan, beliau baru mengetahui jika tunangannya mengkhianatinya,"


"Beliau mengadukan hal itu pada orang tuanya, tetapi mereka malah memakinya, dan menyalahkannya karena tidak melayani tunangannya dengan baik, kamu mengerti maksud dari melayani kan?"


Rara mengangguk.


"Akhirnya, dengan terpaksa beliau merelakan mahkotanya pada tunangannya, berharap agar lelaki itu tidak berselingkuh, tapi itu hanya bertahan beberapa bulan, setelahnya ada seseorang yang mengiriminya video syur   tunangannya dengan wanita berbeda,"


Rara tercengang mendengar pengakuan Pradikta.


"Jadi beliau berhubungan sama kamu, berarti udah nggak perawan dong?"


"Ya gitu Ra, tapi aku nggak masalah,"

__ADS_1


Rara kembali meringis, menyadari hal itu, Pradikta kembali mengelus punggung sahabatnya,


"Lanjut nggak Ra?"tanyanya.


Rara mengangguk,


"Dimalam terakhir kami bersama, sebelum kami melakukannya, beliau menanyakan padaku, tentang perasaan aku untuk kamu dan Ayu,"


Rara mulai berkeringat, Pradikta yang peka, meminta tisu pada bidan yang berjaga, lelaki itu menyeka dahi sahabatnya,


"Lalu jawaban kamu apa?"tanya Rara.


"Aku jawab jujur Ra, kalau aku sangat mencintai Ayu, karena dia  cinta pertama aku, dan tentang kamu, aku jawab bahwa aku menyayangimu kamu,"


"Memang bedanya sayang dan cinta menurut kamu apa?"


"Kalau cinta aku ke Ayu, karena aku berdebar setiap dekat dengan dia,"


"Kalau kamu cinta ke Dia, kenapa kamu seolah tidak berhasrat sama Dia?"


"Aku tidak bisa merusak Ayu, bagi aku Ayu itu seperti permata yang berharga,"


"Lalu kalau aku?"


"Aku sayang kamu, em... Aku tuh selalu ingin jagain kamu, ingin melindungi kamu, aku percaya, aku nyaman dan selalu peduli apapun tentang kamu,"


Rara tersenyum lebar, "tapi kamu nggak berhasrat sama aku kan?"


"Ya nggak lah Ra, sama sekali, mungkin kalau kamu telanjang depan aku, dia nggak bakal bangun, aku ngeliat kamu kayak apa ya? mungkin lebih ke saudara ya,"


Rara berucap syukur, "kalau dulu kita jadi nikah, mungkin kamu nggak akan berhubungan badan sama aku kali ya Ta,"


Pradikta tertawa terbahak-bahak, "bisa jadi Ra, kayaknya kita bakal ngobrol sepanjang malam diatas kasur,"


"Berarti Tante Arini nggak bakal punya cucu ya!"


"Bisa Ra, tapi program bayi tabung,"ujar Pradikta masih saja tertawa karena obrolan mereka.


Rara juga ikut tertawa sambil  membayangkan kehidupan jika dulu ia jadi menikah dengan Pradikta.


Masih dengan tawanya, Rara bertanya, "terus sama Bu guru kita gimana perasaan kamu?"


Pradikta seketika diam, terdengar helaan nafas, " bisa dibilang beliau adalah penyembuh, kamu ingat kejadian di gudang kan?"


Rara mengangguk.


"Bu Resti sabar membujuk aku supaya mengikhlaskan kejadian itu, awalnya berat banget Ra, tapi karena kelembutan dan kesabarannya akhirnya aku bisa menerima keadaan aku,"


"Mungkin karena merasa nyaman dan beliau juga yang ada di mimpi aku, sehingga muncul benih cinta diiring hasrat yang besar , rasanya saat dengar dia menikah, aku gila Ra, aku sampai seminggu mengurung diri dikamar, itu lebih parah sakitnya dibandingkan saat aku dilecehkan,"


"Kenapa saat itu kamu nggak cerita sama aku? Kamu memendamnya sendiri selama bertahun-tahun,"


"Ya kali aku bongkar aib sendiri, nanti jadi judulnya Aku bercinta dengan guruku, kan nggak lucu Ra,"


"Sekarang kamu lagi cerita Ta,"


"Udah lewat jauh Ra,"


"Lalu bagaimana perasaan kamu sekarang sama beliau?"


"Aku benci banget sekaligus kangen,"


"Dikta, aku berharap kamu bisa berdamai dengan masa lalu juga diri kamu sendiri, ikhlaskan beliau Ta,"nasehat Rara.


"Aku coba Ra, tapi nggak janji,"

__ADS_1


Pembicaraan mereka terhenti karena Dokter Natasha datang untuk memeriksa pasiennya.


__ADS_2