
nulis part ini, mata aku berkaca-kaca,
Malam harinya saat makan malam berlangsung, ponsel milik Fernando berdering, terlihat dilayar ada nomor asing yang menghubunginya.
Fernando menatap istrinya seolah meminta persetujuannya, namun Rara tak menatapnya balik, malah asik menikmati masakan mertuanya.
"Ra, apa perlu aku angkat? Sepertinya ini dari Tamara,"tanya lelaki itu meminta persetujuan istrinya.
"Itu kan ponsel kamu, kenapa kamu bertanya sama aku, hak kamu kan?"ucapnya tanpa menatap suaminya.
Fernando menatap umi fatimah namun umi menggeleng, seolah melarangnya,
Beberapa kali nomor yang sama terus menghubunginya hingga makanan yang lelaki itu makan telah habis.
Rara memilih membantu mertuanya membereskan meja makan dan mencuci piring di dapur.
"Ra, pada akhirnya, Nando memang harus menanggung dosa masa lalunya, sayangnya kamu sebagai istrinya terkena imbas dari perbuatan yang dilakukannya, bukannya umi membela anak kandung umi sendiri, hanya saja tolong dampingi suami kamu dalam menghadapinya hingga akhir, jangan tinggalkan dia lagi Ra, umi memohon dengan sangat,"
wanita paruh baya itu menghela nafas, "umi tau Nando terpuruk saat kamu meninggalkannya, walau mungkin orang lain melihat dia biasa saja, Nando benar-benar mencintai kamu Ra,"
dari sudut matanya, Umi Fatimah melirik reaksi dari menantunya, namun tak ada reaksi apapun, Rara masih sibuk membilas piring yang telah dicucinya, "masalah Tamara, mereka tak mungkin bersama, selain perbedaan keyakinan Sebenarnya dari dulu Nando tidak benar-benar mencintai Tamara, itu hanya euforia masa putih abu-abu, umi bisa jamin itu, sekali lagi tolong jangan tinggalkan anak umi ya,"pintanya sambil membantu mengeringkan piring yang telah dicuci menantunya.
Mata Rara berkaca-kaca, ia menatap mertuanya, "Mi, Rara butuh waktu untuk sendiri, Rara tidak akan meninggalkan mas Nando, kecuali jika mas Nando yang memintanya, tapi Rara butuh menerima semua ini dengan lapang dada, sejujurnya Rara sudah tau soal ini dari mbak Citra saat di cafe mas Rama, tapi Rara tak menyangka, waktunya secepat ini,"
Umi Fatimah terkejut mendengar pengakuan menantunya, "jadi kamu sudah tau?"tanyanya.
Rara mengangguk, "bahkan Rara pernah membahas hal ini dengan mas Nando, dan ucapan mas Nando sama dengan saat ini, mas Nando hanya bertanggung jawab sebatas anak itu, tidak dengan mantannya,"
"Lalu apa rencana kamu?"tanya Umi Fatimah.
"Rara akan kasih mas Nando waktu untuk menyelesaikan masalah ini, keputusan ada ditangan suami Rara mi,"jawabnya.
__ADS_1
Hingga Fernando datang menghampiri umi dan istrinya, ponselnya tengah berdering, ia sengaja mengangkatnya didepan kedua wanita yang ia cintai.
"Halo,"
"Halo Nando, ini aku Tamara, kamu dari tadi susah banget dihubungi sih?"tanya Tamara diseberang sana.
"Aku lagi makan sama umi dan istriku, ada apa Ta?"tanya balik Nando.
"Aku mau ketemu kamu sekarang bisa nggak? Kamu datang ke hotel tempat aku sama anak kita menginap,"jawab Tamara.
"Nggak bisa Ta, ini udah malam, tidak baik jika bertemu malam-malam, aku menjaga perasaan istri aku,"
"Bagaimana kalau besok?"
"Besok aku ada pekerjaan dari pagi sampai sore,"
"Nicho pengen ketemu daddy-nya do,"
Fernando terdiam, Ia menatap umi dan istrinya secara bergantian, seolah meminta pendapat.
Fernando akhirnya menyanggupi untuk bertemu dengan mantannya.
Malam menjelang tidur, tidak seperti malam-malam sebelumnya, yang diisi kegiatan berbagi peluh, kali ini Rara berbaring membelakangi suaminya.
Fernando tau istrinya tengah merajuk, lelaki itu memeluk istrinya dari belakang sembari meminta maaf dan membisikan kata cinta.
Rara yang diperlakukan seperti itu justru tak bisa menahannya lagi, punggungnya bergetar, akhirnya air matanya tumpah dihadapan suaminya.
Fernando makin mengeratkan pelukannya, kata maaf juga sesal ia bisikan ditelinga istrinya lagi dan lagi,
Rara belum juga bicara, wanita itu hanya menangis, seolah mengungkapkan rasa sedihnya menghadapi masalah kali ini, pikirannya buntu, ia bingung harus bagaimana.
__ADS_1
melihat istrinya yang masih menangis, Fernando membalikan tubuh istrinya, ia mengangkat dan menaruhnya tepat di atas tubuhnya, sehingga keduanya berhadapan, namun Rara hanya menunduk tak mau menunjukan wajahnya.
Fernando mengangkat dagu istrinya, agar bisa melihat mata bulat itu, dan dibawah cahaya remang-remang dari lampu tidur yang menempel di atas ranjang, terlihat air mata keluar dari kedua sudutnya.
Tatapan kesedihan sekaligus kekecewaan dari istrinya, membuat Fernando tersiksa batinnya, rasanya ungkapan maaf dan penyesalan yang ia lontarkan tak cukup untuk mengobati luka hati istrinya karena ulahnya.
Fernando memegang kedua sisi pipi istrinya, ia kecup dahi itu lembut, kedua mata bulat itu, hingga bibir bentuk hati yang membuatnya jatuh cinta pertama kalinya pada wanita ini,
Keduanya berciuman seolah mengungkapkan rasa cinta yang begitu besar diantara keduanya.
Hingga Rara lebih memilih menyudahi ciuman itu, ia menunduk setelah sebelumnya menatap suaminya.
Fernando kembali memegang dagu istrinya, ia mengecup bibir itu lagi lalu menatap mata bulat itu lembut, ada rasa cinta yang begitu besar untuk wanita ini,
"Rara sayang, kamu tau kan, aku sangat mencintai kamu, kita pernah membahas masalah ini beberapa waktu yang lalu, sesuai dengan apa yang aku ucapkan saat itu, aku hanya akan bertanggung jawab terhadap anak itu jika memang terbukti dia anak biologis aku, apa kamu setuju?"tanyanya.
Rara mengangguk tanda setuju.
"Mengenai Tamara, aku tidak mungkin berpaling ke dia, selain perbedaan keyakinan, aku juga tidak mencintainya, aku memang pernah bilang, dia cinta pertama aku, tapi itu hanya masa putih abu-abu, kalau bisa dibilang itu cinta monyet, aku memang berdebar saat itu, tapi rasa ingin memiliki tak sebesar saat aku menginginkan kamu,"
Fernando mengelus juga menepuk punggung istrinya lembut penuh kasih sayang, "Ra, tolong jangan pernah tinggalkan aku lagi, jika itu terjadi lebih baik sebelum kamu pergi, kamu bunuh aku dulu, karena seandainya kamu meninggalkan aku, rasanya hati aku mati, jiwaku tak lagi ada didalam diri aku, tiga tahun Ra, aku merasakan perasaan itu, aku nggak mau merasakannya lagi, aku tersiksa Ra,"ungkapnya dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Ra, aku dengar pembicaraan kamu sama umi tadi, jujur aku sedih banget kamu berfikir seperti itu, tapi kalau yang itu, aku nggak bisa Ra, maaf jika aku egois, tapi aku butuh kamu untuk selalu berada disisi aku, jangan pernah sedikitpun untuk pergi meninggalkan aku lagi Ra, kemanapun kamu pergi, aku akan selalu sama-sama kamu, aku mohon Ra,"pintanya dengan air mata mengalir di pipi.
Lelaki itu menangis, ia takut, istrinya akan meninggalkannya lagi.
Rara menghapus air mata dikedua sisi pipi suaminya, lalu mengecup dahi lelaki itu lembut, "aku bukannya mau ninggalin kamu, maksud aku ingin sendiri itu adalah aku butuh waktu untuk menerima kondisi saat ini, aku butuh merenung, bagaimanapun aku harus menyiapkan metal aku untuk menerima keberadaan anak kamu kan? Anak yang bukan lahir dari rahim aku, kamu mengerti kan mas?"
Fernando mengangguk, "Ra, oke aku kasih waktu, tapi kamu nggak boleh keluar dari rumah ini, kamu harus tetap disini, kamu harus tetap dalam jangkauan aku,"ujarnya.
Rara yang tadinya tengkurap di atas tubuh kekar suaminya, memilih bangkit, dan merebahkan diri di samping lelaki itu, keduanya menghadap ke langit-langit kamar, keduanya menghela nafas hampir bersamaan.
__ADS_1
Setelahnya keduanya saling bertatapan sambil memiringkan tubuh masing-masing dan berhadapan, Fernando mengelus rambut sebahu milik istrinya, "aku mencintai kamu Amara Cahyani,"ungkapnya lalu mengecup bibir yang menjadi candunya.
Rara juga mengucapkan kata yang sama, lalu keduanya saling berciuman seolah mengungkapkan ras cinta yang besar diantara mereka.