Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus empat belas


__ADS_3

Masalah diselesaikan secara damai, atas desakan Rara, Fernando akhirnya meminta maaf secara langsung kepada Pradikta, Irwan juga Arini.


Awalnya Fernando akan mengganti biaya pengobatan, tapi mereka menolak secara halus, ketiganya beralasan wajar jika lelaki blasteran itu sampai melakukan kekerasan dengan alasan cemburu.


Bahkan tadi sebelum pulang Irwan pernah bercerita, dulu saat muda, ia melakukan hal yang sama saat Arini berpelukan dengan lelaki lain, dan ternyata adalah paman Arini yang jarak umurnya berbeda tiga tahun.


Urusan dengan keluarga Pradikta selesai, Suami istri itu berangkat menuju pusat perbelanjaan  untuk membeli keperluan bayi.


Fernando mengajak Rara menuju toko perlengkapan bayi yang dulu ia kunjungi bersama Ayudia dan Anna.


Cukup lama keduanya berada di sana, melihat istrinya yang sepertinya mulai kelelahan, Fernando menyudahi berbelanja nya.


Sebelum pulang Rara meminta Martabak manis dengan toping selai strawberry dan keju yang melimpah,


"Rara sayang, kayaknya aku belum pernah dengar, martabak toping selai strawberry,"


"Tapi aku kepengen mas,"


Fernando yang sedang mengemudi, melirik sekilas istrinya,


"Kalau gitu kita mampir ke supermarket dulu, beli selai strawberry terus ke Abang martabaknya sesuai keinginan kamu,"


Senyum Rara mengembang, "makasih sayang,"ujarnya sambil mencium pipi suaminya.


Fernando yang sedang mengemudi, mengerem mendadak mobilnya, ia terkejut dengan perlakuan istrinya.


Rara yang terkejut langsung protes, "kamu kenapa sih? Aku kaget tau,"


Fernando kembali melajukan mobilnya, "kamu yang buat aku begini, tumben kamu cium aku duluan, biar cuman di pipi tapi aku seneng sih, makasih ya!"ujarnya sambil tersenyum.


Wajah Rara memerah, mendengar perkataan suaminya.


"Aku hanya ingin berterima kasih karena kamu mau menuruti mau aku,"


"Udah kewajiban aku sebagai suami yang mencintai istrinya, untuk memenuhi segala keinginan kamu,"


Mobil mulai memasuki parkiran supermarket tak jauh dari pusat perbelanjaan tadi.


Fernando menghentikan mobilnya, "nanti kita mampir ke rumah si kembar dulu ya!"


Rara mengangguk, "iya, sekalian belikan Ainsley martabak cokelat  dan Aileen martabak keju,"


"Oke, kita beli selai dulu, kamu mau ikut masuk?"


Rara melepas seat belt, lalu mengangguk, "aku ingin melihat buah-buahan,"


Suami istri itu berjalan masuk ke dalam supermarket.


Niat awal ingin membeli selai strawberry dan beberapa buah, menjadi belanja keperluan rumah, jadilah satu troli besar penuh.


Selesai memenuhi Troli, keduanya berjalan menuju kasir, antrian tidak terlalu panjang, Fernando mendorong troli, sementara Rara berjalan disisinya.

__ADS_1


Keduanya membicarakan tentang barang-barang yang ada di troli.


Hingga Rara menyapa seseorang,


"Hai Mbak Cristy, apa kabar?"sapa sekaligus bertanya.


Cristy yang sedang mengecek barang belanjaan menoleh, "hai Ra, aku baik,"jawabnya, pandangan wanita itu tertuju pada perut buncit istri dari mantan pacarnya, "udah berapa bulan Ra?"tanyanya.


"Tinggal nunggu mules mbak,"jawab Rara.


Hening diantara ketiganya, hingga Cristy menyebutkan total belanja yang harus suami istri itu bayar.


Fernando memberikan kartunya, Cristy menerimanya, terlihat tangannya yang bergetar menggesek kartu berwarna hitam itu ke mesin EDC, setelahnya wanita yang berprofesi sebagai kasir itu mengembalikan kartu sekaligus struk belanja.


Tanpa sepatah kata pun Fernando menerima lalu mengambil troli yang berisi belanjaan miliknya.


Rara bisa melihat sikap dingin suaminya, sementara Cristy dengan tatapan berkaca-kaca.


"Mbak, boleh minta nomor ponselnya nggak?"tanya Rara sambil menyodorkan ponsel miliknya.


Cristy yang ditanya sedikit terkejut dengan permintaan wanita hamil itu, tapi tetap mengambil ponsel itu lalu mengetikan beberapa digit angka.


"Kalau aku telpon atau kirim pesan, diangkat ya mbak,"pesan Rara, lalu meninggalkan mantan pacar suaminya.


Rara berjalan menuju suaminya yang sedari menunggunya, lelaki itu menatapnya seolah bertanya apa yang dilakukannya?


"Aku minta nomornya mbak Cristy,"


"Buat apaan sih Ra? Cari penyakit kamu,"


"Emang kalau mau ngobrol nggak boleh?"


"Tapi dia itu masa lalu aku, mantan pacar aku sebelum aku bertemu kamu, akan canggung seandainya kamu yang istri aku berhubungan sama dia,"


Mereka keluar dari supermarket menuju tempat parkiran dimana mobil Fernando terparkir.


Lelaki itu memasukan belanjaannya ke bagasi mobil, sementara Rara telah duduk di samping kursi kemudi sambil meminum yogurt rasa strawberry.


Tak lama, Fernando masuk dan mulai menjalankan mobilnya,


"Mas, yang berhubungan sama mbak Cristy cukup aku, sementara kamu nggak perlu,"ujar Rara.


"Buat apa sih Ra? Apa tujuan kamu begitu?"tanya lelaki itu heran.


"Nggak ada tujuan apapun, pengen aja,"jawab wanita hamil itu enteng.


"Aku udah pernah bilang ke kamu, aku akan marah besar kalau kamu, mendorong aku untuk wanita lain, aku nggak terima dengan alasan apapun,"


Fernando menghentikan mobilnya, ketika menemukan penjual martabak manis di pinggir jalan, ia melarang istrinya untuk ikut turun.


Rara menyetujuinya, wanita hamil itu lebih memilih memainkan ponselnya, ia juga mengirimi Cristy pesan.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu, Fernando kembali, membawa tiga bungkus martabak dengan toping berbeda.


Lelaki itu memberikan martabak dengan selai strawberry dengan potongan buah berwarna merah didalamnya, tentu ia membawanya sendiri selai dan toping itu.


Fernando tak langsung menjalankan mobilnya, ia memilih menikmati martabak itu bersama istrinya.


Sambil makan, ia mengajak istrinya berbicara, "kenapa sih Ra, kamu seperti nggak yakin sama aku? Memang mesti bukti apa lagi sih?"


Rara menelan terlebih dahulu makanan yang ada di dalam mulutnya, "aku yakin kok sama kamu, kalau aku nggak yakin buat apa aku nurut pulang waktu di rumah om Irwan,"


"Itu karena aku mengancam kamu,"


"Salah satunya itu sih, tapi saat itu aku pikir, kita nggak ada masalah apapun, yang bermasalah mbak Sinta dan mas Rama, jadi aku ikut kamu,"


Rara memasukkan lagi potongan martabak ke dalam mulutnya, mengunyahnya lalu menelannya.


"Kalau dipikir-pikir, dulu setelah aku kecelakaan, kamu cari aku lalu mengancam keluarga aku, dan kemarin kamu melakukan hal yang sama, kalau misalnya aku pergi, apa kamu akan memukuli mas Andi dan mas Dika, seperti yang kamu lakukan pada Dikta?"


Pradikta baru saja selesai meminum air mineral dari botol yang selalu tersedia di mobilnya,


"Kenapa kamu ingin tau?"


"Memangnya aku nggak boleh tau?"


"Bukannya nggak boleh tau, tapi buat apa?"


"Tinggal jawab aja apa susahnya sih,"ungkap Rara kesal.


"Aku akan buat kedua kakak kamu dipecat dari pekerjaannya dan tidak bisa bekerja lagi,"jawab Fernando jujur.


"Nggak mungkin sampai segitunya lah, mas Andi kerjanya di perusahaan besar, kalau mas Dika juga sama, kamu nih kayak yang ada di drama-drama,"


Fernando berdecak, ia sedikit kesal, istrinya meragukannya, "Ra, kalau aku cerita, kamu jangan mikir kalau aku sombong atau pamer ya!"


Rara mengangguk,


"Aku berinvestasi cukup besar di perusahaan dimana tempat Andi bekerja, otomatis pemilik perusahaan akan menuruti semua permintaan investor utama bukan, lalu pemilik perusahaan tempat Dika bekerja adalah kolega bisnis aku,"


Fernando menunggu reaksi dari istrinya, wanita itu hanya terdiam, lalu lelaki itu melanjutkan ceritanya, "Ra, pekerjaan utama aku memang membantu Ben tapi itu bukan satu-satunya pekerjaan yang aku tekuni, ada banyak pekerjaan yang aku lakoni, meski nggak turun langsung, nanti setelah anak kita lahir, kamu akan aku beritahukan nominal kekayaan punya aku, tapi itu hanya punya aku, bukan umi, kamu tau bukan kalau aku anak tunggal, otomatis semua yang umi punya juga punya aku,"


Rara masih terdiam mendengar pengakuan suaminya,


"Kenapa kamu diam? Kamu nggak percaya sama suami kamu?"


"Percaya kok mas, dari dulu aku percaya kalau kamu kaya raya, soalnya kalau nggak kaya raya, nggak mungkin dengan mudahnya kamu kasih uang lima ratus juta ke mantan pacar kamu,"


"Kenapa diungkit sih Ra? Aku nggak suka,"


"Nggak maksud mengungkit, aku cuman ingatkan,"


Fernando tak menanggapi lagi ucapan istrinya, ia lebih memilih melajukan mobilnya, menuju rumah Benedict.

__ADS_1


__ADS_2