Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tujuh puluh satu


__ADS_3

Sudah hampir sebulan, Fernando tak kunjung kembali, beberapa kali Rara menanyakan pada Richard, tetapi lelaki itu mengaku tak tau menahu soal urusan Fernando dengan Troy.


Selama sebulan di negara itu, Beberapa kali Nicholas mengajaknya berkeliling ke beberapa tempat wisata yang ada di sana.


Senang sih, tapi terasa ada yang kurang, bagaimanapun tujuannya kesini, untuk bertemu dengan suaminya, bukan untuk jalan-jalan.


Kecewa sekaligus khawatir, sama seperti saat dulu, suaminya melakukan misi bersama Benedict, tak ada kabar apapun dari lelaki itu.


Apa lelaki itu masih hidup atau sudah mati?


Beberapa pikiran buruk terlintas dalam benaknya, walau suaminya bilang misi kali ini tak terlalu berbahaya, tetapi tetap saja, ini sudah hampir dua setengah bulan berlalu.


Malam itu, usai makan bersama kedua anaknya, Rara mengajak putranya berbicara.


"Nicho, bagaimana kalau kita kembali ke Indo? kamu sudah terlalu lama tidak masuk sekolah, walau kamu setiap hari belajar secara daring, tapi apa kamu tidak merindukan teman-teman kamu?"ujarnya membuka pembicaraan.


"Tapi Uma, bukankah Daddy berpesan, jika Uma harus disini terlebih dahulu, hingga daddy kembali?"


"Tapi ini terlalu lama dari waktu yang ditentukan, bahkan kita tidak tau Daddy bagaimana keadaannya,"


"Apa Uma tau apa yang Daddy lakukan?"


Rara mengangguk,


"Kalau begitu jika sampai seminggu lagi, Daddy tidak datang, lebih baik kita kembali,"usul remaja itu.


Rara menyetujui usul dari putranya.


Saat tengah malam, ada sesuatu yang basah dan kenyal menyentuh bibirnya, Rara yang tengah tertidur terkejut lalu terbangun,


Secara reflek, Rara mendorong seseorang yang tengah menciumnya.


Namun mendadak ia teringat dengan aroma yang sangat ia kenali.


Rara hendak menyalakan lampu dari remote yang ada di kabinet sebelah ranjang,


Namun suara berat itu melarangnya,


Rara mengenali suara itu, suara milik suaminya,


Lelaki itu juga melarangnya bertanya dan mengatakan cukup menuruti apapun yang dikatakannya.


Rara berdehem pelan, tanda setuju, dan setelahnya benda kenyal nan basah itu, kembali menyentuh bibirnya.


Rasa yang sudah beberapa waktu ini tak lagi ia rasakan, ia merindukannya, sangat merindukannya.


Keduanya bercumbu melampiaskan rasa rindu yang membara,


Dan permintaan maaf juga ungkapan cinta lelaki itu, terdengar pelan ditelinga milik Rara.

__ADS_1


Seperti sebuah kebiasaan jika keduanya baru bertemu setelah sekian lama, maka tidak cukup hanya sekali dua kali, maka pasangan suami istri itu akan mengulanginya berkali-kali,


Entah berapa kali, yang jelas saking lelahnya, Rara baru tertidur menjelang subuh.


Bahkan untuk membuka matanya Rara tak sanggup, alhasil wanita itu tak sadar melewatkan kewajibannya.


Panggilan dari putranya membangunkannya dari tidur,


Perlahan Rara membuka matanya, saat sinar matahari masuk melalui jendela kaca yang dibuka tirainya oleh putranya.


"jam berapa sekarang?"tanya Rara dengan suara serak khas bangun tidur.


Nicholas yang sedang menggendong adik perempuannya, melihat pergelangan tangan kirinya, "jam dua belas,"jawabnya.


Rara terkejut, ini kali pertama dirinya bangun sampai siang.


"kenapa kamu nggak bangunkan Uma? bahkan Uma melewatkan waktu subuh,"


"Aku tak berani Uma, tapi Uma tenang saja, aku sudah mengurus Rana dengan baik, jadi silahkan Uma membersihkan diri dulu, aku dan Rana tunggu di meja makan,"ucap remaja itu sambil berlalu dari kamar ibu sambungnya.


Sepeninggal kedua anaknya, Rara memegangi kepalanya, lalu melihat ke dirinya sendiri, ia bertanya dalam hati, bukankah harusnya ia tak memakai piyama? semalam ia bercinta dengan suaminya hingga menjelang pagi.


Apa semalam ia bermimpi?


Tapi terasa nyata?


Rara merasakan sedikit rasa tidak nyaman di bagian vitalnya, ia berjalan tertatih menuju kamar mandi.


Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati sekujur dada perut hingga pahanya terdapat banyak tanda merah keunguan, itu tanda yang biasa dibuat suaminya.


Apa benar semalam ia tidak bermimpi?


Tapi dimana suaminya sekarang, kenapa tidak ada disebelahnya, bahkan tadi saat terbangun ia masih memakai piyama lengkap.


Tak mau membuat anaknya menunggu lama, Rara bergegas mandi, lalu memakai Hoodie kebesaran milik suaminya, juga celana kulot hitam senada.


Di ruang makan, Nicholas sedang membersihkan mulut adiknya dengan tisu, balita itu mulai terbiasa makan dengan tangannya sendiri.


"Aku memasak Spaghetti dengan bahan seadanya,"ujar Nicholas.


Rara mengangguk, lalu mulai menikmati masakan buatan putranya.


Berbeda dengan daddy-nya, Nicholas rajin membereskan rumah atau membantunya memasak di dapur.


Sambil menyantap makan siangnya, Rara mengedarkan matanya ke seluruh penjuru Penthouse.


"Uma kenapa? apa masakan aku tidak enak? apa perlu kita makan di luar?"tanya remaja itu heran dengan tingkah uma-nya.


"Daddy mana? kok nggak makan siang bareng kita?"tanya Rara balik.

__ADS_1


Nicholas mengernyit heran, "Daddy?"


Rara mengangguk, "iya Daddy kamu mana? kok nggak ada? bukankah Daddy sudah kembali?"


"Daddy belum kembali Uma, apa segitunya, uma merindukan Daddy? bahkan Uma memakai Hoodie milik Daddy,"


"Daddy sudah kembali Nicho, semalam Uma berbicara dengan Daddy,"


"Tapi Daddy tidak ada Uma,"


Rara terdiam, Putranya tak mungkin membohonginya, lalu yang semalam itu apa?


Ia bahkan masih ingat bagaimana suaminya mencumbuinya, wangi tubuh semalam, bisikannya, bahkan lenguhannya, Rara tak mungkin salah mengenali lelaki itu.


Belum lagi, beberapa bekas luka ditubuh lelaki itu, walau pencahayaannya nyaris tak ada.


Rara jadi teringat dengan ucapan lelaki itu sebelum keduanya bercinta, suara berat itu menyuruhnya supaya tak banyak bertanya dan hanya menurutinya.


Ada pertanyaan dalam benaknya, Apa Lelaki itu tengah dalam bahaya? apa sekarang lelaki itu baik-baik saja?


Tak mau ambil pusing, Rara memilih menyibukkan diri pergi keluar bersama kedua anaknya.


Walau hanya untuk berbelanja di supermarket tak jauh dari tempat tinggalnya.


Ia butuh mengisi kulkas dengan stok bahan makanan maupun camilan untuk anak-anaknya.


Selama di negara ini, ia menggunakan kartu hitam milik suaminya yang diberikan oleh Richard.


Rara dan kedua anaknya baru kembali ke Penthouse menjelang sore.


Ia bekerja sama dengan putranya, mengatur isi kulkas supaya lebih rapih, juga jadwal masakan dan camilan yang dibuatnya beberapa hari kedepannya.


Kebiasaannya ketika mulai tinggal bersama remaja itu, ia ingin mengajarkan pada putranya supaya hidup lebih teratur.


Alhasil remaja itu sudah terbiasa membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, dari bersih-bersih hingga memasak.


Usai makan malam, Rara memeriksa usaha jualannya bersama kedua sahabatnya melalui laptopnya.


Beberapa kali, ia mengajari putranya tentang pekerjaannya, berharap nantinya akan berguna untuk remaja itu.


Sama seperti malam sebelumnya, lagi-lagi ada sesosok lelaki yang ia yakini sebagai suaminya datang.


Mereka kembali bercinta hingga menjelang pagi.


Sama juga seperti kemarin, Rara kembali bangun kesiangan dengan bagian bawah yang terasa kebas juga tanda cinta baru yang lebih banyak dari kemarin.


Dan lagi-lagi ia berdebat dengan putranya tentang kedatangan Fernando, yang nyatanya saat hari terang lelaki itu tidak ada.


Kejadian berulang kali terjadi hingga hampir seminggu lamanya.

__ADS_1


Rara yang sangat penasaran, sengaja tidak tidur, untuk menunggu kedatangan lelaki itu, namun hingga dini hari, yang ditunggu tak kunjung mendatanginya.


__ADS_2