Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus empat puluh delapan


__ADS_3

Pagi harinya saat Sarapan.


"Mas, kamu libur sampai kapan?"tanya Rara sambil memakan sandwich buatan suaminya.


"Kenapa memangnya?"tanya Fernando.


"Nanya aja, memangnya nggak boleh ya?"


"Ya boleh lah, kamu kan istri aku, jadi berhak tau semua kegiatan aku,"


"Ya udah dijawab dong,"


Fernando menghabiskan sepotong sandwich lalu meminum seperempat gelas susu miliknya,


"Lusa kita ke Lembang, mungkin dua hari di sana, abis itu ke Sukabumi nengok Nicholas, terus sebelum balik lagi kesini, mampir dulu ke tempat Tante Anna, kalau udah disini lagi, aku mau nego sama yang punya rumah belakang dan samping, mungkin tiga harian, abis itu kita ke Bali deh,"jelasnya panjang lebar.


Rara yang sedang menggigit sandwich, sampai menghentikan gigitannya, mendengar penjelasan suaminya.


"Hei... Kenapa diam?"tanya Fernando heran.


Rara memasukan semua sandwich yang ada ditangannya ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya cepat,


"Kenapa kita?"tanyanya heran.


"Ya kita lah, Aku, kamu dan Arana, memang siapa lagi?"


"Kok kita, kenapa nggak kamu aja yang keliling? Aku sama Arana di rumah aja,"


"Amara ini masih pagi, aku nggak mau berdebat, jadi sebagai istri yang baik, kemanapun suami kamu pergi, kamu harus ikut, aku tidak terima penolakan, kamu mengerti istriku?"setelah mengatakannya, Fernando membawa piring dan bekas makan miliknya lalu menaruhnya di kitchen sink.


Rara mengikuti suaminya, "tapi Arana masih kecil, kasihan kalau diajak keliling gitu,"


Lelaki itu menunju ruang tengah untuk melanjutkan pekerjaannya, seolah tak mempedulikan ucapan istrinya.


Rara mempercepat kegiatan mencuci piring, ia harus segera membujuk suaminya agar  lelaki itu membatalkan niatnya untuk mengajaknya berkeliling, pekerjaannya bersama Cristy belum selesai.


Wanita itu mengambil smoothies strawberry yang dibuatnya tadi pagi dan membawanya ke ruang tengah menuju suaminya.


Belum duduk suaminya sudah memperingatinya, "jangan rayu aku untuk membatalkan niat aku untuk mengajak kamu berkeliling, itu tidak akan aku kabulkan, lalu jangan jadikan Arana sebagai alasan, kamu nggak ingat kemarin kamu pergi membawa Arana tanpa ijin aku,"ujarnya.


Rara yang baru saja akan meletakan gelas kaca berisi smoothies dan  berniat duduk disebelah suaminya, tak jadi melakukannya, dirinya kembali berdiri menatap suaminya heran.


"Kamu kayak bisa baca pikiran aku sih, lagian mas, kerjaan aku belum selesai kalau lusa berangkatnya, memangnya nggak bisa diundur, atau kamu aja yang jalan sendiri,"

__ADS_1


Fernando diam tak menanggapi ucapan istrinya ia lebih memilih sibuk dengan laptop di pangkuannya.


Rara seketika kesal dengan sikap suaminya, ia meletakan gelas berisi smoothies sedikit kasar, "nih minum,"ujarnya lalu berlalu meninggalkan suaminya menuju kamar.


Melihat hal itu, Fernando hanya menggelengkan kepalanya.


Sedang fokus pada i-pad miliknya, ponselnya berbunyi, tertera ID Tante Anna melakukan panggilan video.


"Iya princess-nya papa,"sapanya saat melihat siapa yang memenuhi layar ponselnya.


"Papa kapan kesini lagi, Aileen kangen,"rengek balita itu.


"Mungkin seminggu lagi, papa harus bantu bunda buat cari uang, bukankah Aileen ingin punya mainan dan makan cokelat sepuasnya? Papa harus bekerja untuk membeli itu semua,"


Terlihat mata biru itu berkaca-kaca, "tapi Ai kangen papa, apa tidak bisa dipelcepat?"


"Papa usahakan ya!"


Aileen menunjukkan jari kelingkingnya, dan Fernando melakukan hal yang sama.


Terlihat balita itu memberikan ponsel milik Anna pada bundanya.


"Maaf ya A, jadi repot,"ujar Ayudia.


"Nggak apa-apa Ayu, oh ya, mungkin seminggu lagi aku kesitu, sekalian kamu ikut aku  ke Jakarta, Mr. William dan Troy akan datang,"


Baru saja meletakan ponselnya, istrinya datang dengan menggendong Arana, wanita itu duduk disebelahnya.


"Mas, aku sama Arana nggak usah ikut ya!"


Fernando tak menanggapinya, ia melanjutkan pekerjaannya lagi,


Melihat diamnya suaminya, membuat Rara berdecak kesal, "aku dari tadi ngomong dicuekin,"


Lelaki itu melirik sekilas, "aku tidak menerima penolakan Amara,"ujarnya.


"Tapi mas,"


Fernando meletakan i-pad miliknya, "Ra, bisa tidak kamu menuruti aku, jadi kita tidak usah berdebat, kamu mengerti?"


Merasa usahanya sia-sia, Rara kembali ke kamar membawa putrinya.


Dua hari berlalu, dengan memanyunkan bibirnya, akhirnya Rara terpaksa mengikuti keinginan suaminya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju Lembang, tak ada pembicaraan berarti, hanya seperlunya saja, Rara lebih banyak diam sambil menjaga Arana di kursi belakang mobil.


Sedangkan Fernando yang dasarnya pendiam, juga lebih memilih tak bersuara, ia fokus mengemudikan mobilnya.


Mereka baru sampai setelah lewat tengah hari, ini kali pertama Rara mengunjungi tempat ini, villa hasil pemikirannya dan suaminya, walau bukan milik keduanya.


Di sana mereka disambut oleh Edwin dan beberapa staf, lelaki yang berprofesi sebagai manager itu menunjukan sendiri kamar khusus yang akan ditempati Fernando.


Villa dengan konsep masing-masing kamar terpisah, dimana keluarga kecil itu akan menghabiskan waktu dua hari ke depan.


Setelah memastikan istri dan anaknya beristirahat dengan nyaman di kamar, Fernando pamit, dirinya mengatakan akan meeting dengan staf villa, juga berpesan sudah memesankan makan siang untuk Rara.


Kamar yang ditempati oleh Rara adalah kamar untuk pasangan berbulan madu, yang hanya ada satu di villa ini,


Setelah memastikan Arana tidur dengan nyaman di ranjang king size yang tepat dibelakangnya ada jendela kaca besar, Rara menuju kamar mandi, ia butuh toilet untuk mengosongkan kandung kemihnya.


Namun alangkah terkejutnya dirinya, ketika melihat jacuzzi yang menghadap jendela kaca dengan pemandangan indah.


Rara memang memberikan ide dalam pembangunan villa, ia juga yang memberi ide tentang fasilitas jacuzzi ini, tapi ia tak menyangka jika hasilnya diluar ekspektasinya.


Suara bel berbunyi menyudahi kekagumannya pada kamar mandi itu, ia bergegas kembali merapihkan penampilannya.


Ada pekerja yang mengantar makanan padanya, masakan khas Jawa Timur yang lama tak ia temui, Rawon Ah... Dirinya merindukan mendiang ibunya.


Sejak menikah dirinya belum mengunjungi kembali keluarganya di Malang, komunikasi juga sudah lama tidak ia lakukan.


Rara berterima kasih pada pekerja dan memberikan tip yang membuat mereka tersenyum mengembang.


Memastikan Arana masih tidur, Rara mulai menikmati Rawon plus nasi yang disediakan  pihak villa, sambil melakukan panggilan video pada Laras.


Bukan kakak iparnya yang mengangkat keponakannya,


Rara tersenyum mengucapkan salam, dan menyapa anak bungsu dari Dika lalu menanyakan keberadaan Laras.


"Ibu lagi pergi kondangan ke RT sebelah bira,"


"Ya udah bilangin ibu suruh baca chat dari Bira ya!"


Keponakannya hanya mengangguk, lalu menutup panggilan video itu.


Rara jadi ada keinginan untuk ke Malang, tapi mengingat pekerjaannya dengan Cristy belum selesai, sepertinya keinginannya harus tertunda dulu, belum lagi harus mengikuti suaminya.


Usai menyelesaikan makan siangnya seorang diri, Rara mengerjakan pekerjaannya, ia harus mengedit foto yang diambilnya beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Hingga pekerjaannya selesai, suaminya tak kunjung kembali, padahal ini sudah lebih satu jam, apakah ada masalah di villa?


Rara memilih berganti baju, agar lebih nyaman, ia akan tidur siang sejenak sambil menunggu lelaki itu.


__ADS_2