Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
dua puluh satu


__ADS_3

Fernando masih mengikuti Rara, entah kemana wanita itu akan pergi.


Rara menghentikan langkahnya, dan berbalik, "kamu ngapain ngikutin aku?"tanyanya kesal.


"Kamu kan calon istri aku, jadi aku akan mengikuti kamu,"


Rara menghembuskan nafasnya kasar, "mas Nando yang tampan, bisakah kamu biarkan aku sendiri, aku butuh waktu,"


Dengan tatapan memohon Fernando berucap, "sayang maafkan aku, please!"


"Kan aku sudah bilang nggak perlu ada yang dimaafkan, kamu nggak salah, aku hanya butuh waktu sendiri dulu, aku sedang menyiapkan mental untuk menghadapi kemungkinan terburuk, kalau seandainya suatu saat ada perempuan yang mengaku punya anak dari kamu, atau tiba-tiba kamu berciuman dengan wanita lain ditempat umum,"ujar Rara dengan mata mulai berkaca-kaca.


Fernando memegang tangan calon istrinya, "itu nggak akan terjadi Ra, aku hanya akan punya anak dari kamu, aku bisa pastikan itu, tolong maafkan aku,"tuturnya sambil menciumi tangan wanita itu.


"Mas, tolong biarkan aku sendiri dulu, aku mohon,"ungkapnya mengiba, "bukankah kamu akan berkerja, kamu tenang aja, aku akan baik-baik saja, nanti aku akan kembali ke resort di sore hari, aku janji, tolong kasih aku waktu,"


Fernando menggeleng, "bagaimana aku bisa bekerja, sementara calon istri aku sedang merajuk,"


"Harus bagaimana aku, supaya kamu membiarkan aku sendiri dulu,"


Merasa kalah, Fernando akhirnya merelakan calon istrinya berjalan sendiri, namun tidak sepenuhnya sendiri, lelaki itu mengikutinya dari belakang.


Langkah Rara membawanya ke pinggir salah satu  pantai yang terkenal dengan sunrise-nya.


Wanita itu duduk di atas pasir, pandangannya menerawang jauh menuju lautan, banyak yang ia pikirkan.


Banyak tanya yang ada dibenaknya, apa ia sanggup berdampingan dengan lelaki yang memiliki reputasi buruk, sudah dua wanita yang datang, memiliki hubungan cukup dekat dengan Fernando, ia akui ia cemburu, ia tak rela, bahkan ia takut saat membayangkan bagaimana lelaki itu menjamah tubuh wanita-wanita itu dulu, meskipun sudah berlalu, ia tetap merasa tidak rela.


Rasanya perutnya mual, ia jijik, ia muak, berkali-kali ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir berbagai pikiran buruk itu.


Mengapa ia harus mengalami hal ini?


Langit hari itu terlihat biru, tak ada awan sedikitpun yang menghiasi dan matahari menyinari wanita itu, merasa sudah terlalu panas, Rara beranjak ia memutuskan untuk kembali ke resort,


Namun saat ia berjalan menuju jalan besar, ia mendapati Fernando sedang menunggunya di samping mobil sport merah milik lelaki itu.


Fernando membukakan pintu mobil untuknya, mau tidak mau, Rara akhirnya masuk dan duduk di samping kursi kemudi.


Mobil melaju menjauhi selatan pulau itu menuju bagian tengah, tak ada yang bersuara, keduanya memilih diam, hanya suara deru mobil sport itu yang menemani perjalanan kali ini.


Setelah sejam lebih mobil memasuki kawasan resort dengan pemandangan persawahan yang berundak-undak, menyejukkan mata yang melihatnya, indah sekali.


Di sana kedua sejoli itu makan siang yang sedikit terlambat, hidangan khas Bali tersaji dihadapan mereka.


Lagi-lagi keduanya terdiam, tidak ada yang bersuara, hanya suara sendok yang beradu diantara keduanya, belum ada pembicaraan apapun setelah kejadian tadi.

__ADS_1


Hingga pelukan dari seorang wanita yang menghampiri Fernando memecah keheningan diantara kedua sepasang kekasih itu.


"Halo Nando, apa kabar? Aku pikir tadi bukan kamu loh,"ujar wanita dengan dress berwarna kuning, sambil mencium pipi lelaki itu.


Fernando yang sedang makan, terkejut, mendapatkan perlakuan mendadak itu, ia tak sempat mengelak, ia menatap reaksi kekasihnya, namun wanita itu masih asyik dengan makanan yang ada dihadapannya.


Lelaki itu melepaskan pelukan dari wanita dengan dress kuning itu, "hai, kabarku baik, kamu apa kabar?"tanyanya ramah.


"Aku lagi liburan sama keluarga aku, itu mereka,"tunjuknya kepada sekumpulan keluarga disalah satu meja tak jauh dari Fernando duduk.


Lelaki itu melambaikan tangannya ke sekumpulan keluarga itu, mereka bangkit menghampiri Fernando,


Mereka saling bersalaman, dan menanyakan kabar, terlihat akrab sekali, sedangkan wanita dress kuning itu, sedari tadi bergelayut manja pada Fernando.


Melihat hal itu, diam-diam Rara meninggalkan Fernando yang tengah sibuk bercengkrama dengan keluarga bahagia itu.


Tiga wanita yang ia tau pernah berhubungan dekat dengan lelaki itu, beberapa kali Rara menarik nafasnya kasar, rasanya dadanya mulai sesak. Ia kesal sekali,


Beberapa kali juga ia mendongak, ia tidak ingin air matanya tumpah, tapi dadanya semakin sesak, bahkan ia menepuk dadanya berharap rasa sesak yang memenuhi dadanya segera pergi, namun beberapa kali ia melakukan itu, tak ada efek apapun, dadanya masih terasa sesak.


Rasanya ia ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokannya, menyakitkan sekali rasanya.


Rara berjongkok, ia menunduk dalam, dan punggungnya mulai bergetar, terdengar isakan tangis keluar dari mulutnya.


Dalam hati ia bertanya, setelah ini apalagi, apa ia bisa menghadapinya?


Lama ia terisak, namun air matanya tak kunjung berhenti,


Hingga ada pelukan hangat memenuhi tubuhnya, ada bisikan kata maaf yang ia dengar, juga usapan lembut di punggungnya.


Rara mendongak, tatapannya bertemu dengan tatapan rasa bersalah milik lelaki itu.


Lelaki yang lagi-lagi membuatnya kecewa,


"Aku kayak orang bodoh ya! Nangis nggak jelas gini,"ujarnya dengan mata sembab juga hidung memerah.


"Sayang maafkan aku, sekali lagi tanpa sadar aku menyakiti kamu,"ungkap Fernando merasa bersalah.


Tanpa menanggapi ucapan lelaki itu, Rara bangkit ia berjalan menuju toilet tak jauh dari sana.


Ia butuh air untuk menyegarkan wajahnya yang sembab, ia menatap wajahnya sendiri didepan cermin, ia merasa dirinya jelek sekali dengan tampang seperti ini.


Rara keluar dari toilet, dan lelaki itu tengah menunggunya di pintu masuk toilet untuk wanita.


"Bukankah kamu harusnya bekerja, kenapa malah disini?"tanyanya.

__ADS_1


"Aku nggak bisa kerja dengan kondisi kita yang seperti ini,"


Rara menghela nafas, "yuk, aku temani kerja,"ajaknya sambil menggandeng tangan lelaki itu.


Fernando mengajaknya ke ruang kerja miliknya yang ada di resort itu, ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Rara duduk di sofa, sambil memainkan ponselnya.


Beberapa bawahannya melaporkan tentang pekerjaan mereka, Fernando beberapa kali memberikan komentarnya,


Kurang lebih satu jam mereka berdiskusi tentang pekerjaan.


Hingga Rara bosan sendiri dan tertidur dengan sendirinya.


Wanita itu membuka matanya dan bangkit, ia melihat sekeliling tempat dimana ia berada


Terlihat dirinya ada disebuah kamar dengan interior serba kayu, serta ranjang dengan kelambu berwarna putih yang terikat dibeberapa sisinya.


Ia melihat ke arah jendela, dari atas ranjang ia bisa melihat matahari mulai terbenam dengan cahaya oranye yang menimpa kolam renang tak jauh dari kamar yang ia tempati, indah sekali pemandangan yang ia lihat.


Rara memutuskan untuk bangkit, karena ia merasa kandung kemihnya telah penuh dan harus segera ia keluarkan.


Usai menyelesaikan hajatnya, juga mencuci muka, ia beranjak keluar dari kamar yang ia tempati.


Beberapa kali pekerja resort menyapanya ramah,


Hingga ia tiba di sebuah taman didekat restoran, tempatnya tadi makan siang.


Dan dengan mata kepalanya sendiri ia melihat lelaki yang katanya calon suaminya itu tengah berciuman dengan wanita dengan dress kuning.


Rasanya sesak sekali, tapi ia harus menguatkan dirinya sendiri,


"Mas,"panggilnya.


Hal itu membuat lelaki yang tak lain adalah Fernando, reflek menghentikan kegiatannya, bahkan ia mendorong wanita dengan dress kuning itu.


"Ra, aku bisa jelasin,"ujarnya dengan tatapan penyesalan.


"Nando kamu apa-apaan sih, kenapa kamu kasar sekali sih? Aku kaget tau,"keluh wanita dengan dress kuning itu.


"Maaf Kelly, bisa kamu pergi sekarang juga dari sini,"pintanya.


"Oke, tapi tolong angkat telpon dari aku,"ujarnya berlalu sambil berjinjit mencium pipi Fernando.


Rara menyunggingkan senyumannya, "mas, aku mau pulang,"ujarnya.


"Ra, kita menginap disini malam ini, aku masih ada pekerjaan nanti malam,"

__ADS_1


"Oke kalau begitu,"usai mengatakan itu, Rara beranjak pergi, ia berjalan cepat menuju kamar yang tadi ia tempati, bahkan sapaan dari para pekerja, ia abaikan.


Memasuki kamar ia mencari dimana keberadaan Sling bag miliknya.


__ADS_2