
Fernando sedang mengawasi pekerja disalah satu bangunan villa yang sedang memasuki tahap finishing, ketika pesan masuk ke ponselnya dari istrinya.
Karena terlalu serius mengawasi lelaki itu tak menyadari ada notifikasi yang masuk.
Tak lama, mang Ujang memberitahukan padanya jika petani yang akan mulai menggarap lahan untuk keperluan argo wisata telah datang,
Fernando bergegas menuju tempat yang dimaksud oleh mang Ujang.
Pembicaraan diantara Fernando dengan para petani berlangsung hingga lewat jam makan siang,
Saking sibuknya, Fernando tidak sempat memeriksa ponsel miliknya,
Pertemuan berakhir dan mereka bersepakat untuk melakukan kerja sama pembuatan kebun untuk keperluan argo wisata, yang masih dalam area villa.
Fernando baru memegang ponselnya, ketika umi menelponnya membicarakan soal Nicholas.
Ada berbagai notifikasi menumpuk, sehingga ia tak menyadari istrinya telah mengiriminya pesan,
Sore harinya usai selesai mengawasi para pekerja, Fernando pulang ke rumah, sepi sunyi, tak ada istri yang biasanya menyambutnya di teras sambil tersenyum.
Mendadak ia merindukan isterinya, padahal baru tadi pagi keduanya bertemu di rumah milik Ayudia dan Benedict.
Awalnya ia keberatan dengan permintaan istrinya, namun untuk menebus kesalahannya telah membohongi wanita itu terkait keadaan Ayudia, akhirnya terpaksa ia mengizinkan.
Namun saat melihat pesan yang di kirim oleh istrinya siang tadi, membuat Fernando terkejut bukan main,
Ia menghubungi kembali istrinya, namun nomor ponsel milik istrinya sudah tidak aktif.
Fernando masih berusaha berfikir positif, mungkin istrinya hanya mengerjainya, ia pun menghubungi Anna dan benar saja istrinya sudah pergi sedari pukul sebelas siang, hingga sekarang belum kembali.
Lelaki itu menghubungi Alex, untuk melacak keberadaan Rara,
Tak lama Alex memberitahukan jika Rara terakhir berada di minimarket bersama Sinta, setelahnya Alex kehilangan jejak kedua wanita itu,
Tanpa pikir panjang Fernando kembali menuju ibukota, lelaki itu bahkan mengemudi dalam kecepatan tinggi, seolah tak peduli apapun.
Belum sampai sehari ia berusaha percaya pada istrinya tak akan meninggalkannya, tapi nyatanya ini malah terang-terangan meminta ijin padanya untuk pergi.
Rasanya kesal sekali apalagi alasan yang membuat Rara pergi karena masalah orang lain,
Tempat pertama kali yang ia tuju, tentu saja cafe dimana Rama berada,
Tak ada sapaan atau candaan untuk Satria dari Fernando, ia bahkan langsung menuju ke lantai atas, hal itu membuat heran lelaki tiga anak itu.
Seperti sudah kebiasaannya ia tak akan mengetuk atau basa basi menyapa sahabatnya yang sedang bersama mantan pacarnya.
Tanpa banyak bicara, Fernando memukul Rama yang duduk di sofa bersebelahan dengan citra.
__ADS_1
Berbagai cacian terlontar dari mulut Fernando.
Rama yang mendapat serangan tiba-tiba tak bisa melawan lelaki blasteran itu, selain perbedaan tinggi juga kekuatan, Rama hanya bisa pasrah wajahnya babak belur,
Satria dan Alex datang secara bersamaan begitu terdengar suara keributan dari lantai atas.
Kedua lelaki itu berusaha memegangi Fernando yang sedang mengamuk,
"Tenang do, dengan Lo mukulin Rama, bini Lo nggak bakal langsung balik,"ucap Alex berusaha menasehati sahabatnya.
Fernando masih berusaha menyerang Rama, kalau saja Alex dan Satria tidak memeganginya dengan kuat.
"Gue nggak tau apa masalah Lo sama Rama, tapi setidaknya bicarakan baik-baik, jangan kayak gini do, ingat kalian udah sahabat lama banget,"ujar Satria masih berusaha memegangi tubuh Fernando.
"Temen Lo nih bang, gobl*k nya minta ampun, masih aja di tipu sama lont* macam dia,"maki Fernando sambil menunjuk Citra yang terlihat ketakutan karena amukan lelaki blasteran itu.
Rama yang terkapar, berusaha bangkit, dari hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah, pipinya juga mulai terlihat lebam, "maksud Lo apaan sih do? Gue bikin salah apa sama Lo, tau-tau Lo bikin gue babak belur kayak gini,"ucapnya dengan susah payah.
"Anj*Ng gara-gara Lo balik Sama si lont* ini, Sinta kabur dan Lo tau, dia kabur bawa bini gue anj*Ng, kalau sampai terjadi apa-apa sama bini gue Lo berdua gue abisin,"tunjuk Fernando pada Rama dan citra.
Rama diam menunduk, ia menyadari kesalahannya,
"Lo yakin dia hamil anak Lo, dari dulu masih g*blok aja Lo jadi orang, jelas-jelas udah dapet Sinta kenapa Lo balik lagi sama l*nte ini sih?"
"Lo nggak tau kan? Dua bulan yang lalu mami kasih tau ke gue kalau nih l*nte mabok di club' dan digilir rame-rame, otak Lo di pake Anj*ng, apa perlu gue minta mami kirim videonya ke Lo,"
Fernando menghampiri citra yang mulai terisak, "eh l*nte, kalau punya mulut dijaga, gue belum bikin perhitungan sama Lo, maksud Lo apaan nyuruh Tamara balik kesini? Lo mau buat rumah tangga gue hancur? Adanya keluarga Lo yang gue bikin jadi gembel, Lo liat dalam seminggu, gue pastikan keluarga Lo bangkrut, ini peringatan dari gue, jangan pernah ngurusin hidup gue, ngerti Lo Anj*ing,"
Usai memprovokasi Citra, Fernando beralih ke Alex,
"Lex, jangan pernah bantu Rama, meskipun dia wakilnya Ben, nggak usah takut dia mecat kit, sampai Lo bantu dia, Lo berurusan sama gue,"
"Sorry bang, tapi tolong urus cowok g*blok ini,"ujarnya pada satria agar membantu mengurus Rama dengan keadaan yang babak belur.
Fernando diikuti Alex meninggalkan ruangan itu,
Keduanya pergi ke kantor sekaligus markas milik pengacara itu.
Alex menawarkan wine pada sahabatnya ketika mereka baru sampai di ruang kantor miliknya.
Seolah tak ada pilihan lain, Fernando mengambil gelas berkaki yang diberikan oleh sahabatnya, keduanya duduk di sofa sambil berhadapan.
"Emang Lo masih komunikasi sama mami, setelah Lo nikah?"tanya Alex usai menyesap sedikit wine miliknya.
Fernando mulai menyalakan pemantik untuk membakar ujung rokok yang ia pegang, "Sekitar lima tahun lalu, gue akusisi club' punya mami, makanya dia masih sering ngabarin gue soal tingkah Lo pada sekaligus kasih tau laporan keuangan club',"jelasnya.
Alex tersedak mendengar pengakuan sahabatnya, ia terkejut dan tak menyangka Fernando sampai mempunyai bisnis yang kalau kata umi Fatimah penuh maksiat alias haram.
__ADS_1
"Biasa aja Lex, gitu aja kaget, tapi tenang aja, gue ngelakuin itu buat ngawasin Lo pada dan gue bisa pakai buat mengancam orang yang macem-macem sama gue,"ujarnya sambil menyesap rokok yang ia jepit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Kalau sampai Rara sama umi tau gimana do?"tanya Alex.
"Ya jangan sampai tau, baru Lo nih yang tau, kalau sampai bocor, berarti itu elo,"
"Terus duit hasilnya Lo kemanain?"
"Yang jelas nggak gue pake buat makan,"
"Terus selama Lo nikah, pernah Lo main sama anak buah mami?"tanya Alex penasaran.
"Sejak gue pertama kali perawanin Rara, gue udah nggak ada nafsu liat cewek lain, enek malah kalau dideketin mereka,"
"Lalu apa rencana Lo soal Rara yang pergi bareng Sinta?"
"Itu kewajiban Lo buat bantu gue lah, sampai Rara ketemu dan dalam keadaan baik-baik aja, gue bakal bantu Lo buat balik sama Sandra,"
"Emang Lo bisa?"tanya Alex tak yakin.
"Bisalah, walau sahabat kita harus saling memberikan keuntungan bukan?"
"Kok gue kayak nggak yakin ya, Lo bakal bikin Sandra mau balik sama gue,"
"Serah Lo sih, percaya syukur, enggak ya udah,"
Alex menenggak habis sisa wine dari gelas berkaki itu, "gue ngerasa banyak hal yang Lo sembunyikan dari gue tentang Lo, sebenernya Lo masih anggap gue sahabat nggak sih do?"
Fernando bangkit dan berjalan menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari sambil menghisap rokok lalu menyembulkan asapnya ke udara, lalu berbalik menatap sahabatnya, "Lex, Lo cukup tau apa yang gue kasih lihat ke Lo, jangan coba cari tau tentang gue, atau Lo akan tau akibatnya,"ancamnya.
Alex menggeleng tak percaya, selain pengacara ia juga diam-diam berprofesi sebagai detektif yang handal, tapi ia bahkan tak tau banyak soal lelaki blasteran itu.
"Oh ya Lex, coba mulai besok Lo suruh orang buat awasi pergerakan keluarganya Tamara, gue rasa abis dia sembuh, mereka bakal buat ulah sama gue,"
"Maksudnya?"tanya Alex bingung.
"Tamara masih minta balikan sama gue, setelah tau keadaan keuangan gue, begitu juga keluarganya, maka dari itu gue sama umi sengaja buat Nicholas menjauh dari mereka, Lo tau kan keluarganya Tamara pailit,"
"Oke, terus masalah Rara, Lo nggak bisa tanya ke kakak-kakaknya?"
"Gue rasa nggak bisa deh, jangan sampai mereka tau, yang ada gue disuruh pisah sama Rara lagi,"
"Coba besok gue tanya Sandra, kayaknya dia pernah bahas soal tempat persembunyian Rara waktu dia ngilang selama tiga tahun,"
"Boleh tuh,"
Keduanya terus mengobrol hingga dini hari.
__ADS_1